
Alan baru selesai mengganti infus, dia sedikit meringis saat merasakan sakit di tangannya. Azalea mengusap tangan Alan yang terlihat sedikit membengkak.
"Sudah aku bilang, aku mau pulang. Kenapa di ganti sama infus yang baru huh?!" KEsal Alan.
"Kan dokter beluk izinin kamu pulang mas, kepala kamu masih harus di cek besok. Khawatirnya ada pendarahan atau keretakan. Kamu sih, pake acara gak mau ke rumah sakit malam itu." Omel Azalea.
Alan merengut sebal, bibirnya dia majukan ke depan. Bukannya di manja, dia malah mendapat omelan dari istrinya itu.
"Di sayang kek, di peluk kek. Bukannya di omelin." Sebal Alan.
Azalea hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah suaminya yang terkadang seperti anak kecil. Azalea tak lagi menghiraukan rengekan Alan, dia justru mengambil buah jeruk dan mengupasnya untuk Alan.
Namun, saat itu. Entah mengapa Azalea jadi merindukan ketiga anaknya. Apalagi Caramel, bayi itu paling suka dengan buah jeruk.
"Ada apa?" Tanya Alan ketika mendapati ekspresi istrinya yang sedih.
"Aku kangen anak-anak." Lirih Azalea.
Mendengar hal itu, Alan pun menghela nafas pelan. Belum ada setengah hari, tapi istrinya itu sudah merindukan anak-anak mereka.
"Aku kerja seharian, kamu gak ada kangen aku."
Mendengar hal itu, tentu saja Azalea melongo di buatnya. Jika seharian dia merindukan Alan, bisa-bisa pria itu tak akan berangkat kerja.
"Kamu kan kerja," ujar Azalea.
"Ck, ada aja alasannya." Kesal Alan.
Cklek!!
Tatapan Azalea dan Alan beralih pada pintu, netra mereka membulat sama melihat siapa yang masuk.
"Mommy, daddy." Pekik Azalea.
Diandra dan Erlangga datang dengan membawa Caramel, keduanya tersenyum pafa putrinya yang menghampiri mereka.
Melihat kedatangan mertuanya, sontak ALan melihat pada jam dinding. Ini masih sore, kenapa putrinya di bawa kembali sekarang. Padahal, Alan berharap anak-anaknya kembali besok.
"Kok cepat banget dad?" Tanya Alan pada Erlangga yang membawa Caramel mendekat.
"Kenapa? Kayaknya kamu gak suka anakmu balik. Nah, daddy kembalikan. Di jaga, jangan semangat buatnya doang." Celetuk Erlangga, membuat raut wajah Alan menjadi datar.
__ADS_1
Sesampainya di pangkuan sang papa, Caramel justru menangis. Dia merentangkan tangannya pada sang kakek. Meminta untuk di gendongnya.
"Ekheee!! ekheee!!"
"Eh, itu papa." Seru Erlangga.
Caramel menggeleng, dia terus merentangkan tangannya. Melihat itu, tentu saja Erlangga tak tega. Dia pun mengambil kembali Caramel dari Alan.
"Tumben." Ujar Azalea menghampiri putrinya yang kembali anteng di gendongan sang opa.
"Kenapa gak mau sama papa?" Tanya Azalea pada putrinya yang tengah menatapnya.
"Papa bau ... bau ...," ujar Caramel dengan celotehannya.
Mendengar hal itu, sontak Alan menc1um aroma tubuhnya sendiri. Tak ada yang bau, hanya bau rumah sakit saja. Walau pun dirinya tidak mandi, tapi tubuhnya tidak bau.
"Heh! Sembarangan kamu yah! Papa gak mandi tiga hari aja kamu masih mau deket!" Pekik Alan tak terima.
"Hahaha anak bayi selalu jujur, kau lah yang berbohong." Seru Erlangga dengan bangga pada cucunya.
"Apa?!"
.
.
.
"Ma, makan yuk. Abis itu minum obat, biar kakinya enakan." Ujar Priska yang masuk ke dalam kamar membawa nampan makanan.
"Mama gak laper Pris, entar aja." Ujar Arumi dengan nada rendah.
Priska menghela nafas pelan, dia duduk di ujung tepi ranjang. Sembari menatap Airin yang masih memijat kaki sang mama.
"Ma, makan yah. Besok Airin janji, Airin akan temui anak kandung mama untuk menjelaskan semuanya." ujar Airin, berharap sang mama mau makan.
"Kamu mau bertemu Alan?" Tanya Arumi.
Airin mengangguk, "Iya, Airin yang bakalan ngomong langsung sama Alan. Airin bakalan bujuk dia untuk bicara sama mama, tapi sekarang mama makan dulu yah. Besok akan Airin usahakan," ujar Airin dengan yakin.
Mendengar hal itu, Arumi pun mau makan. Priska menyuapinya dengan telaten, sementara Airin hanya menatapnya saja.
__ADS_1
"Oh ya, mana suamimu? Apa dia masih sibuk di kantor?" Tanya Arumi, ketika dirinya baru menyadari. Jika Airin datang tanpa suaminya.
Priska dan Airin saling tatap, keduanya bingung ingin bicara apa. Apakah saat ini waktu yang tepat untuk membicarakan soal hubungannya dengan Farel yang kandas?
"Habiskan dulu makannya, nanti baru Airin jelaskan." Ujar Airin. Di saat keadaan hatinya sedang hancur, dia masih sempat untuk menenangkan Arumi.
Melihat mata Airin yang menatapnya berbeda, Arumi pun curiga. Dia meraih tangan putri nya itu, lalu menggenggamnya lembut.
"Ceritalah sama mama, apa kamu berantem dengan Farel nak? Apa soal anak lagi?" Tanya Arumi dengan lembut.
Airin menunduk, dia tak sanggup melihat tatapan Arumi. Baginya, Arumi sudah seperti ibunya sendiri. Saat Arumi berkata seperti itu, hatinya pun merasakan sentuhan sang ibu.
"Bukan bertengkar lagi ma, udah cerai mereka." Celetuk Priska.
Mendengar itu, mata Arumi terbelalak. Dia menatap Airin yang masih menundukkan kepalanya. Mata Arumi berkaca-kaca, dia merasa sedih atas apa yang menimpa putrinya.
"Airin, benar yang di bilang adekmu nak?" Tanya Arumi.
Airin mengangguk pelan, hal itu membuat Arumi menangis. Dia meraih tubuh Airin dan memeluknya dengan erat. Keduanya saling menjatuhkan air matanya, dengan isak tangis yang lirih.
"Kenapa kamu suka sekali memendam masalahmu hm? Kamu masih memiliki keluarga. Apa yang di lakukan suamimu, hingga kalian bercerai?" Tanya Arumi setelah pelukan mereka terlepas.
"Mas Farel menikah dengan sahabatku ma, mereka bahkan akan segera memiliki anak beberapa bulan lagi. Sedangkan Airin, Airin gak bisa kasih itu pada mas Farel. Pernikahan Mas Farel juga di dukung oleh mama Rina. Airin gak ada pembelaan apapun, karena semua kekurangannya ada pada Airin." Terang Airin.
"Airin gak sanggup di madu ma. Setiap hari, setiap saat. Airin harus melihat kemesraan mereka, Airin gak kuat. Maaf, kalau Airin mempermalukan keluarga ini." Lirih Airin, dadanya terasa sesak. Saat kembali mengingat pertengkarannya dengan sang suami.
"Syutt, kata siapa kamu mempermalukan kami hm? Kalau kamu gak kuat, mundur saja nak. Kehidupan kamu adalah milikmu, bukan orang lain." Ujar Arumi memberi kekuatan.
"Hiks ... Airin udah coba bertahan, tapi tetap gak bisa. Apalagi, saat Sindi menuntut pernikahan sah dari mas Farel. Airin dari awal sudah tidak mau di madu. Tapi keduanya hiks ...,"
Arumi mengelus bahu putrinya, dia membiarkan Airin menumpahkan tangisnya. Priska pun turut menangis, dia tak sanggup melihat kakak nya di sakiti.
"Sudah, mungkin jodohmu dan dia hanya cukup sampai disini. Bertahan pun percuma, kamu akan tetap sakit. Mama gak mau putri mama sakit." Ujar Arumi.
"Mama gak malu? Nanti apa kata tetangga kalau dengar Airin bercerai?" Tanya Airin dengan mata yang sembab.
"Tinggal bilang aja, jodoh mu yang sebenarnya akan datang. Begitu,"
"Ih mama!" Rengek Airin, membuat Arumi dan Priska terkekeh.
Sedangkan di luar kamar, tampak Liam tengah mengepalkan tangannya di sisi tubuhnya dengan erat. Sorot matanya menajam, dengan raut wajahnya yang terlihat dingin.
__ADS_1
"Farel, akan ku buat perhitungan denganmu karena sudah berani menyakiti adikku. Tunggu saja, kamu tidak akan lepas dariku." Batinnya.