
Azalea memandang Alan dengan tatapan tak percaya, pria itu begitu penuh percaya dirinya mengatakan jika dia adalah istrinya. Menyadari keterkejutan Azalea, Alan bergegas mendekati wanita itu.
"Ayo pulang." Ajak Alan.
Tatapan mata Diandra mengarah tajam pada Azalea, "Kalau kalian belum bercerai, kenapa kamu memberikan kesempatan pada putraku hah?! Keterlaluan!!" Sentak Diandra dengan mata memerah.
Azalea menggeleng sembari menatapnya dengan mata berkaca-kaca, dia tak tahu menahu soal ini. Hanya Alan lah yang tahu tentang apa yang terjadi sebenarnya.
"Maaf nyonya, aku benar-benar ...."
Diandra betul-betul marah, dia buru-buru meraih tasnya yang berada di atas meja dan bergegas pergi. Meninggalkan Azalea yang mematung di tempatnya.
.
.
Alan dan Azalea sampai mansion. Keduanya masih sama-sama terdiam, tanpa berniat keluar dari dalam mobil. Tak ada pembicaraan keduanya selama perjalanan kembali. Azalea hanya terdiam dengan pemikirannya sendiri, sedangkan Alan memilih diam hingga wanita itu membuka suara.
"Kenapa?" Tanya Azalea dengan suara lirih, matanya menatap ke arah luar jendela mobil tanpa mau menatap Alan.
Alan menghela nafas pelan, jika di tanya alasannya apa. Pria itu tidak tahu, karena selama ini sebenarnya Alan ragu ingin menyerahkan berkas perceraian itu ke pengadilan.
"Kenapa kamu selalu mempermainkan ku seperti ini? Statusku, seenaknya kamu mainkan. Kamu pikir aku ini apa hah?" Tatapan Azalea beralih menatap Alan, air matanya terjatuh bebas di pipinya.
"Pantas saja, kamu tidak kunjung memberikan akta cerai. Aku pikir, kamu melarangku menikah karena si kembar. Ternyata, karena kamu belum menyelesaikan urusan kita." Lanjut Azalea.
Azalea memilih keluar dari mobil, meninggalkan Alan yang terdiam di tempatnya. Mata tajam pria itu hanya menatap punggung istrinya yang berjalan semakin menjauh.
"Aku sendiri pun tidak tahu mengapa aku melalukan itu." Gumam Alan. Lalu, pria itu menyandarkan tubuhnya pada jok mobil sembari memejamkan matanya.
Azalea memasuki mansion sembari menghapus kasar air matanya. Alexix yang baru saja dari dapur di buat terkejut dengan kedatangan mama nya itu.
"Mama tadi El ...." Alexix mematung saat Azalea melewatinya begitu saja. Bocah kecil itu terdiam dengan kebingungan.
"Mama kenapa?" Gumam Alexix. Tanpa berlama-lama lagi, Alexix bergegas menyusul sang mama yang sepertinya pergi ke kamarnya.
Saat sampai di kamarnya, Alexix tak menemukan keberadaan Azalea. Hanya ada Elouise yang tertidur sembari memeluk guling.
"Mama kemana?" Gumam Alexix.
BRAK!!
__ADS_1
Jantung Alexix terasa jatuh dari tempatnya saat dia mendengar ada pintu yang tertutup keras. Tanpa pikir panjang, Alexix langsung bergegas berlari ke asal suara.
"KAMU CARI APA HAH?!"
"DIMANA BERKASNYA!! DIMANA BERKAS PERCERAIANNYA!!"
Alexix mematung di depan pintu ruang kerja Alan, raut wajahnya terlihat tegang setelah mendengar teriakan sang mama dan papa nya yang lagi berdebat
DOR!!
DOR!!
"MAAAA!! HIKS ... PAPA!! BUKA PINTUNAAA!!"
Sedangkan di dalam, Azalea tengah menatap Alan dengan tatapan tajam. Walau begitu, air matanya terus luruh membasahi pipinya. Sama halnya dengan Alan, pria itu menatap Azalea dengan tatapan marah.
"Aku memang tidak memiliki kekuasaan seperti mu, bukan berarti kamu seenaknya memainkan statusku! Jika saat itu aku menikah lagi, bagaimana hah?! Apa kamu pernah berpikir ke sana?" Sentak Azalea dengan tatapan tajam.
Alan menghela nafas kasar, dia berkacak pinggang sembari menatap dingin istrinya.
"Kamu pikir, aku tidak akan bisa selayaknya wanita lain? Menikah dan mendapatkan pria yang mencintaiku? Membangun rumah tangga harmonis, bukan pernikahan saling menguntungkan seperti ini!!"
Alan terdiam, tatapannya menyendu. Hatinya terasa sakit melihat Azalea seperti ini. Alan terdiam membeku, dia bingung harus berkata apa.
"Haaahh ... sekarang katakan, tujuanmu menahanku agar tetap disisimu itu apa?" Tanya Azalea kembali menormalkan emosinya.
"Kenapa kau diam saja? Jika karena anak, kita perebutkan saja hak asuh mereka di pengadilan." Sentak Azalea membuat Alan seketika menatapnya dengan mata menajam.
Alan melangkah mendekat, hingga keduanya tak ada jarak sedikit pun. Keduanya sama-sama mempertahankan egonya, tak ada yang mau mengalah.
"Mereka putraku, akan selamanya menjadi putraku. Kau tidak bisa merebutkan hak asuhnya sedikit pun," ujar Alan dengan tatapan tajam.
"Kalau begitu, mari kita perebutkan hak asuh mereka!" Tegas Azalea, kali ini dia tak gentar. Amarahnya sudah mencapai ubun-ubunya. Sama sekali, dalam hatinya tak ada rasa takut terhadap pria itu.
"Jadi, kau ingin tetap bercerai? Begitu?" Sentak Alan.
"YA!" Seru Azalea, matanya menatap lekat mata Alan. Keduanya saling melempar tatapan tajam.
DUGH!!
DUGH!!
__ADS_1
"BUKA PINTUNAAAAA!!!"
Seketika, Azalea mengalihkan tatapannya pada pintu. Sepertinya Alexix tengah menendang pintu, berusaha untuk membukanya. Khawatir kaki putranya sakit, Azalea pun berniat ingin menghampirinya. Namun, sebelum niatnya tersampaikan. Tangan Alan justru mencekalnya dengan erat.
"Kita tidak akan berpisah, mengerti?!" Tekan Alan.
"Kenapa? Kenapa kita tidak bisa berpisah?! Apa aku harus tinggal dengan pria seperti mu? Yang menganggap semua wanita sama jah4tnya hah?! Kenapa aku yang harus menjadi pelampiasan kekecewaanmu?! Aku bukan ibumu apalagi cinta pertamamu itu!! Cukup menjadikan aku pencetak anakmu, kalau sebagai istri sesungguhnya ... aku tidak ingin kembali memaksa diriku lagi untuk bertahan disisimu, mas." Narah Azalea.
Azalea menepis tangan Alan dengan kuat, hingga cekalan pria itu terlepas dari tangannya. Lalu, Azalea berjalan cepat menuju ke arah pintu. Dia akan membuka kunci pintu, berniat segera menemui putranya. Namun, belum saja kunci itu
terputar. Perkataan Alan membuat gerakan Azalea terhenti.
"BERI AKU WAKTU!"
Degh!!
Azalea mengerjapkan matanya, menghalau air mata yang akan kembali turun. Tubuhnya menegang saat mendengar langkah kaki Alan yang terdengar mendekat padanya.
"Beri aku waktu untuk sembuh dari traumaku. Bantu aku untuk meyakinkan diriku, jika tidak semua wanita sama seperti ibuku dan cinta pertama ku."
"Aku lelah berjuang untukmu, mas." Jawab Azalea dnegan lirih.
"Bukan untukku, tapi putra kembar kita. Mereka berhak mendapat kan keluarga yang utuh,"
Azalea menggenggam handle pintu dengan erat, matanya terpejam sembari air matanya yang turut mengalir. Isi hati dan pikirannya saling bertabrakan.
"Aku ingin, belajar mencintai kembali. Kali ini, aku ingin mencintaimu. Aku mohon, tetaplah disini."
Azalea kembali membuka matanya, tubuhnya bergetar kala merasakan sebuah tangan kekar memeluk perutnya. Bukan hanya itu saja, dia merasakan kepala Alan mendekat ke arah lehernya. Tersadar, Azalea menghela nafas pelan untuk menormalkan degup jantungnya yang berdebar kuat.
"Apa yang harus ku putuskan? Aku takut kembali di kecewakan. Tapi ... benar kata Mas Alan, putra kami butuh keluarga yang lengkap. Aku pernah merasakan bagaimana rasanya tumbuh dengan kekurangan kasih sayang. Sungguh tidaklah mudah." Batin Azalea.
Azalea memejamkan matanya sejenak, sembari menarik nafasnya perlahan. Lalu membuang nya. Dia kembali membuka matanya.
"Jujur saja, duku aku sangat mencintaimu. Bahkan, menganggapmu sebagai pahlawan bagi kehidupan ku. Namun, semuanya hancur saat kamu menganggapku sebagai pencetak anakmu. Tapi sekarang, rasa cinta itu sudah terkikis karena sikapmu." Lirih Azalea.
"Aku akan kembali membuatmu mencintaiku, beri aku kesempatan. Bantu aku untuk bangkit dari trauma yang aku alami. Tunjukkan padaku, arti cinta yang sebenarnya." Alan langsung mengeratkan pelukannya pada perut Azalea. Air mata pria itu pun menetes, hingga membasahi leher Azalea.
Merasakan lehernya basah, Azalea apun merasakan kesungguhan suaminya itu.
"Maaf, aku ...,"
__ADS_1