
Reagan tengah berhadapan dengan Liam, raut wajahnya terlihat sangat pucat. Kedua orang tuanya berada di belakangnya, begitu pun dengan keluarga Airin. Mereka semua berada di ruang tengah, menantikan Reagan yang akan mengucapkan ijab kabul.
Secara mendadak, Liam meminta Reagan menikahi Airin saat itu juga jika pria itu benar-benar mencintainya. Mau tak mau, Reagan harus menikahi Airin saat itu juga. Semuanya mendadak, bahkan tak ada hiasan apapun. Semua acara di lakukan di rumah. Di tambah, penghulu di datangkan secara mendadak. Beruntung, Liam mengenal penghulu yang dia panggil.
"Cepatlah! Mana mas kawin yang akan kamu berikan!" Sentak Liam dengan wajah garangnya.
Reagan membuka dompetnya, di sana hanya ada uang berwarna coklat. Dia menoleh pada sang daddy yang langsung membuang wajahnya.
"Ini Alan bener-bener gak mau ngirim gue duit apa. Mana kemarin baru beli rumah, jadi habis lah uangku." Batin Reagan.
"Cepat! Niat nikahin kok gak punya duit! Belagu sekali kamu mau menikahi adikku!" Kesal Liam.
"Kan nikahnya bukan sekarang bang." CIcit Reagan.
"Ya Sudahlah Liam, mulai saja acaranya. Yang penting nikah dulu sekarang, acaranya kan bisa di tunda." Sahut Arumi dengan lembut, dia mengelus tangan Airin yang duduk di sampingnya.
Sedangkan Airin, dia mencuri pandang pada Reagan. Perasaannya sungguh tak karuan, pernikahan yang akan di adakan dadakan ini membuatnya tak bisa berpikir jernih. Di bilang siap, Airin belum siap. Namun, abangnya memaksa keduanya untuk menikah.
"Yasudah, mana yang di jadikan mas kawin?" Tanya Liam pada Reagan.
Reagan beralih pada sang mommy. Jujur saja, Diandra terkejut saat di telpon Ragan jika putranya itu akan menikah. Di tambah, saat Diandra tahu calon istri anaknya itu adalah seorang wanita yang pernah dia kenal. Senang, tentu saja. Ada rasa senang di hati Diandra saat tahu Airin yang akan menikah dengan putranya.
"Mom, gimana." Cicit Reagan.
Diandra akan membuka tasnya, tetapi Erlangga justru menahannya. Raut wajah suaminya itu terlihat datar sekaligus dingin. Lalu, tatapannya beralih pada Reagan yang juga tengah menatapnya.
"Kamu berani menikahi anak orang, maka beranilah untuk memberikan mas kawin padanya. Tanpa bantuan kami," ujar Erlangga dengan tegas.
"Tapi Dad, aku sudah menguras tabunganku untuk membelikan Airin rumah. Suratnya masih proses, bagaimana aku bisa menjadikan itu sebagai mas kawinnya. Untuk saat ini aku hanya punya lima ribu saja." Rengek Reagan.
"Gak papa."
Semuanya langsung menoleh pada Airin, raut wajah mereka terlihat sangat kaget. Terlebih Reagan, dia tak percaya jika Airin menerima lima ribu yang tersisa. Wanita itu, bahkan menatap Liam sembari menganggukkan kepalanya.
"Dek, yang benar saja. Lima ribu? Beli es doger aja gak cukup." Seru Liam dengan tatapan kesal.
__ADS_1
"Gak papa bang, yang penting tulusnya Reagan." Terang Airin.
Liam menghela nafas pelan, dia beralih menatap Reagan. Pria yang mungkin sebentar lagi akan menjadi suami dari adiknya. Memang Reagan berasal dari keluarga kaya, Liam pun tak khawatir takut adiknya akan kesulitan bersama pria itu. Namun, masa iya mas kawinnya uang lima ribu.
"Bagaimana ini pak Liam?" Tanya penghulu itu.
"Lakukan saja pak, adek saya mau sama ... cowok gak modal kayak dia." Sinis Liam.
"Bang! AKu modal yah! Cuman ini nikahan dadakan, gimana kalau besok aja?" Saran Reagan.
"Sekarang atau cari janda lain saja." Ancam Liam
Senyum Reagan luntur, mendadak nyalinya menciut. "Janda ini aja bang." Cicit Reagan.
Liam pun menjabat tangan Reagan, raut wajah keduanya terlihat sangat serius. Mendadak, suasana menjadi hening. Bahkan si kembar yang biasanya cerewet pun ikut suasana menegangkan itu.
"Reagan Xaver, saya nikahkan engkau dengan adik saya Airin Renata dengan mas kawin ...." Liam menggantungkan ucapannya. Sejenak, dia memejamkan matanya. Lalu, menarik tangannya dari Reagan sembari kembali membuka matanya.
"Loh, kok berhenti?" Sahut Reagan dengan kening mengerut, padahal dia sudah serius tadi.
"Abang." Tegur Airin.
"Ck, yasudah. Ayo, kita ulang." Liam menarik tangan Reagan, dia kembali serius.
"Reagan Xaver, saya nikahkan engkau dengan adik saya Airin Renata. Dengan mas kawin, uang sebesar lima ribu rupiah. Di nayar tu-nai."
"Saya terima nikah dan kawinnya Airin Renata dengan mas kawin tersebut Tu-nai!" Seru Reagan dengan lantang tanpa ada kesalahan.
"Bagaimana para saksi? Sah?"
"SAAAHH!!" Seru semuanya dengan tersenyum haru.
Sementara itu, Alan baru saja sampai dengan koper yang dia bawa. Wajah pria itu terlihat lelah, langkahnya terhenti setelah sampai di ruang tengah. Dimana semua orang berkumpul.
"Reagan, ini uang lima M nya. Pinjam, dan balikin nya akhir bulan loh." Seru Alan sembari menyodorkan koper yang ternyata berisikan uang itu.
__ADS_1
Mendengar hal itu, Reagan buru-buru berdiri dan menghampiri Alan dengan tatapan kesal.
"Lama banget sih! Kan, gara-gara kamu mas kawinnya cuman lima ribu rupiah doang!" Omel Reagan.
Mendengar itu, Alan melongo. "Udah sah? Telat dong." Ujar Alan dengan lolosnya.
"Ya udah sah lah! Gak becus banget jadi adik ipar, kayaknya adek gue harus dapet suami yang ...,"
"Banyak omong dasar! Kamu pikir, cairin duit lima M kayak cairin duit lima juta huh? Gampang bener kalau ngomong. Nikah kok gak modal! Nanti pas akadnya bukan Tunai! Tapi ngutang!" Alan balik mengomeli Reagan.
Mendengar itu, Reagan pun salah tingkah. Dia menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal sembari menyengir lebar.
"Hehe iya juga. Begini saja, agar hubungan ipar kita bertambah erat. Uang Lima M ini, jadikan hadiah buat pernikahan abang iparmu ini saja yah." Bujuk Reagan sembari menarik koper yang tadi Alan bawa.
SRETT!!
"Enak aja! Mana kartu hitamku."
"Jadi, kartu hitam itu milik kamu Lan?!" Pekik Liam.
Reagan tertawa salting, dia menatap takut ke arah Liam yang menatapnya dengan tajam.
"Terus kamu modalnya apa Reagaaann!!" Frustasi Liam.
"Tadi punya Alan, punya ku di sita daddy. Nanti di minta balik kok bang. Tenang bang, aku anak laki-laki tunggal kaya raya." Ujar Reagan.
Reagan menatap sinis Alan, dia merutuki adik iparnya itu dalam hati. "Nyesel gue mudahin dia buat nikahin Azalea." Batin Reagan.
Sementara Diandra dan Erlangga melongo melihat kejadian di hadapan mereka saat ini. Keduanya tak habis pikir dengan tingkah Reagan dan Alan.
Diandra beralih menatap Airin yang sama terkejutnya seperti mereka. Dia langsung meraih tangan Airin dengan lembut, hingga membuat Airin menatapnya.
"Ai, maaf yah. Tapi jangan takut, Reagan kaya kok. Emang kadang anaknya nyaman jadi sederhana aja," ujar Diandra dengan tertawa hambar.
"Sangat di luar ekspektasi." Gumam Airin.
__ADS_1