Kembar Genius Milik Ceo Galak

Kembar Genius Milik Ceo Galak
Mual-mual


__ADS_3

Di mansion, Arumi sedang berkunjung. Dia berencana untuk memasak untuk menantunya karena Azalea lah yang memintanya.


"Aku mau udang asam manis buatan mama, seperti saat itu." Ujar Azalea sembari menatap mertuanya yang tengah menikmati secangkir teh hangat.


Mendengar itu, Arumi mengangguk. "Mama buatkan. Tapi, apakah bahannya sudah ada semua di kulkas?" Tanya Arumi.


Azalea tersenyum kecil, "Belum ada udangnya ma. Biar Azalea minta maid belikan." Ujar Azalea dengan tersenyum malu.


Arumi menggeleng sembari menaruh gelas cangkirnya kembali ke atas meja. "Gak usah, biar mama aja yang beli. Kamu di rumah aja. Mama ke supermarket aja belinya, sekalian cari buah." Seru Arumi.


"Gak ngerepotin ma?" Tanya Azalea dengan perasaan tidak enak.


"Enggak papa. Baru kali ini kamu kepengen banget masakan mama. Seperti Airin aja, dia ngidam masakan mertuanya," ujar Arumi.


Azalea hanya tersenyum tipis, menanggapi perkataan ucapan mertuanya itu. Tatapan keduanya beralih pada sosok bocah yang sedang memasuki ruang tamu sembari menggendong kucingnya.


"Ci Gemblot anak yang manis. Lebutan janda cama ci olen. Ci Gemblot lah yang memang. Kalna lebih danteng citu dali ci gembul." Celoteh Caramel.


Langkah Caramel terhenti saat matanya menangkap sosok Arumi yang tengah menatapnya dengan senyuman.


"OMAAA!!"


"MEONG!"


Caramel melempar kucingnya begitu saja, dia berlari menuju sang oma sembari merentangkan tangannya dengan tersenyum lebar.


"Cucu oma." Arumi memeluk Caramel, dia menciumi kepala bocah menggemaskan itu.


"Oma, oma datengna dali kapan?" Tanya Caramel.


"Dari tadi, Caramel sibuk main sama kucing baru." Ujar Arumi berpura-pura kesal.


Caramel menggaruk pipi bulatnya, hal itu tentu membuat Arumi di buat gemas.


"Solly ya oma, Calamel kacih makan ci gemblot dulu. Nanti dia kulus, nanti metong cebelum dapet janda cebelah." Terang Caramel.


Arumi terkekeh kecil, cucunya sangat menggemaskan. Dirinya ingat saat Caramel lahir, dia bahkan hampir setiap hari datang ke rumah anaknya. Hal itu ia lakukan agar dirinya mempunyai banyak waktu dengan cucu perempuannya.


"Yasudah, mama pergi sekarang yah Lea." Pamit Arumi.


Mendengar sang oma mau pergi, Caramel pun menyahut. "Oma mau pelgi kemana? Calamel boleh ikut?" Tanya Caramel dengan antusias.


"Oma mau beli udang, ayo kalau mau ikut." Ajak Arumi.

__ADS_1


Calamel melompat girang, dia meraih tangan Arumi dan menggenggamnya. Perbuatan anak itu sangat manis, seperti wajahnya. Berbeda dengan Azalea yang justru khawatir. Karena putrinya adalah anak yang aktif. Khawatir nantinya Arumi akan kewalahan.


"Ma, gak usah ajak Caramel. Biar Caramel di rumah, nanti papa nya nyariin." ALasan Azalea.


"Gak papa, nanti mama hubungi suamimu. Jarang-jarang mama bisa ajak cucu mama keluar." Ujar Arumi dengan tersenyum tipis.


"Tapi. ..,"


"Mamaaaa ... janan lah hacut oma. Nanti nda jadi pelgi Calamel. Papa cibuk kali kalau ajak pelgi, Calamel mau jalan cama omaaa!" Rengek Caramel.


Azalea menghela nafas pelan, "Baiklah, tapi ingat. Jangan menyusahkan oma." Peringat Azalea.


"Hem! Calamel anak yang baik. Nda pelnah nyucahin. Iya kan oma?" Ujar Caramel pada sang oma.


Arumi mengangguk, biarlah anak itu ingin berkata apa. Memang Caramel tak menyusahkannya, hanya sesekali membuatnya mengusap d4da sabar menghadapi tingkah laku cucunya.


.


.


.


Sore hari, Alan telah kembali dari kantornya. Raut wajahnya terlihat lelah, dia ingin langsung membersihkan dirinya dan istirahat. Dia memasuki mansion sembari melonggarkan dasinya. Seorang maid datang untuk mengambil tas kerjanya. Melihat itu, Alan mengerutkan keningnya.


"Nyonya lagi kurang sehat tuan, baru saja tadi mual-mual. Beliau lagi istirahat di kamarnya." Terang maid itu.


"Mual-mual?" Tanya Alan bingung.


"Iya, nyonya gak makan dari pagi. Dia ingin masakan nyonya Arumi. Tapi, sejak siang tadi. Nyonya Arumi belum kembali berbelanja."


Alan semakin bingung, dia tak ada di beritahu jika mama nya kesini. "Baiklah, terima kasih." Ujar Alan.


Alan pun berlalu pergi, dia memasuki kamarnya untuk melihat keadaan istrinya. Tumben sekali istrinya sakit, karena biasanya Azalea tak mudah sakit.


Cklek!


Saat memasuki kamar, Alan sudah di suguhkan oleh sang istri yang tertidur. Raut wajahnya terlihat pucat, istrinya itu tidur sambil memegangi perutnya.


"Sayang." Panggil Alan.


Mendengar suara sang suami, Azalea membuka matanya. Dia tersenyum ke arah Alan yang berjalan ke arahnya. Dia pun mendudukkan dirinya dengan susah payah.


"Tiduran saja." Titah Alan yang mana membuat Azalea terpaksa kembali merebahkan tubuhnya.

__ADS_1


Alan duduk di tepi ranjang, dia menempelkan punggung tangannya ke kening sang istri. Suhu tubuh istrinya tidak panas, bahkan keningnya berkeringat.


"Kata maid kamu muntah-muntah, kenapa gak mau makan?" Tanya Alan dengan lembut.


"Aku mual liat masakan rumah, aku mau makan masakan mama." Lirih Azalea.


"Kenapa harus masakan mama?" Heran Alan.


"Aku gak tau." Lirih Azalea.


Alan memindahkan tatapannya pada tangan Azalea yang memegang perut. Inisiatif, dia menggantikan istrinya untuk mengusap perut istrinya itu.


"Perutnya gak enak yah?" Tanya Alan dengan khawatir.


Azalea mengangguk, "Sedikit sakit," ujar Azalea.


"Mas panggil dokter aja yah." Bujuk Alan. Biasanya jika Azalea sakit, wanita itu tidak mau di periksa. Benar saja, Azalea langsung menggelengkan kepalanya.


"Nanti juga enakan mas," ujar Azalea.


"Enakan gimana? Muka kamu pucat, perut kamu sakit. Kalau kamu ada penyakit dalam gimana?" Tanya Alan dengan penuh penekanan.


Alan beranjak berdiri, dia melepas jasnya dan melemparnya ke sofa. Lalu, dia menggulung lengan kemeja putihnya hingga siku. Setelah itu, dia mengambil ponselnya yang berada di kantong celananya. Dia menghubungi dokter pribadinya tanpa meminta persetujuan dari istrinya.


"Mas, udah gak usah. Nanti juga sembuh, tadi aku sudah minum air hangat." Sahut Azalea.


"Kamu diam, aku mau menelpon dokter dulu." Alan beranjak pergi ke balkon, dia menghubungi dokter pribadinya itu.


Sementara Azalea, dia hanya bisa menghela nafas pelan. Jika Alan sudah mengambil tindakan, Azalea tak akan mampu lagi merubah tindakan suaminya itu.


Sementara Alan, dia menghubungi dokter pribadinya. Dia tak langsung meminta dokter itu, tapi dia bertanya lebih dulu tentang kondisi istrinya.


"Ehm iya dok, dari pagi dia gak makan. Karena katanya tidak nafsu makan makanan rumah. Justru, dia lebih memilih masakan mertuanya. Karena tak ada makanan yang masuk, dia mengalami muntah-muntah. Perutnya juga sedikit sakit." Terang Alan.


"Apa istri anda masih mengalami datang bulan?" Tanya dokter itu.


Kening Alan mengerut, dia menarik ponselnya dari telinganya. Lalu, dia melihat tanggal. Ada lingkaran mereka di tanggal delapan, dimana waktu itu seharusnya istrinya datang bulan. Tapi, kini sudah tanggal tiga puluh. Hal itu, tentu membuat Alan bertanya-tanya. Alan kembali menelpelkan ponselmya ke telinganya.


"Dok, istri saya seperti telat datang bulan. Malam kami masih berhubungan. Tapi, dia memakai KB IUD, tidak mungkin dia hamil," ujar Alan.


"Coba tuan tanyakan lagi, apa mungkin dia sudah melepas KB nya tanpa persetujuan anda?"


Degh!!

__ADS_1


__


__ADS_2