Kembar Genius Milik Ceo Galak

Kembar Genius Milik Ceo Galak
Mengejar


__ADS_3

Berdasarkan pembicaraan Reagan kemarin, pagi ini Alan datang mengantar putrinya. Dia tak sendiri, lima bodyguard dia bawa untuk menjaga putrinya. Walau dia tidak tahu, apakah pria itu mengincar Caramel ataupun Calandra.


"Napa lah papa ini bawa om penjaga juga! Mau pawai lupana huh?" Sewot Caramel, dia tak suka di jaga oleh bodyguard. Maka dari itu, selama ini Alan tak meminta bodyguard untuk berjaga di sekolah putrinya.


"Diamlah, kali ini menurutlah dengan papa." Titah Alan sambil fokus menyetir.


"Kapan Calamel nda nulut cama papa? Nda pelna loh!" Seru Caramel tak terima.


"Mau papa sebutkan semua bantahanmu huh?" Ujar Alan sembari melirik putrinya dengan sinis.


Caramel melipat bibirnya rapat-rapat, dia beralih menatap jalan dengan keadaan hati yang menggerutu.


"Galak kali, kayak mama kalau lagi datang bulan. Kalau ini, kalna datang macalah." Batin Caramel.


Tak terasa, mobil Alan terhenti di sekolah milik Caramel. Pria itu langsung turun dan berjalan menuju pintu putrinya. Dia membawa Caramel ke gendongannya.


"Papa, Calamel bica jalan cendili. Olang mau nunggu Cala juga!" Lekik Caramel dengan kesal.


"Calandra enggak masuk hari ini, kamu sekolah sendiri." Ujar Alan sembari menaiki tangga menuju gedung sekolah Caramel.


"Kok gitu?! Cala cakit? Telus, Calamel macuk ngapain? Olang Cala nda macuk kok ya!" Sewot Caramel tak terima.


"Kamu tetap sekolah, pulang sekolah baru main ke rumah Cala. Diam, dan menurutlah, atau papa kurung kamu di kamar nanti." Seru Alan dengan tegas.


CAramel merengut sebal, dia membiarkan Alan membawanya ke kelas. Tak di sangka, lagi-lagi mereka bertemu dengan Bu Rika yang sedang berada di kelas.


"Eh, selamat pagi tuan Alan. Tumben anda mengantar Caramel ke dalam kelas," ujar Bu Rika dengan ramah.


Alan menurunkan putrinya yang menatap Bu Rika dengan tatapan sinis.


"Sok aklab kali bu lik ini. Minta di kacih cabe lupana." Batin Caramel.


"Saya titip putri saya, jangan biarkan dia pulang sekolah sebelum saya menjemputnya. Dan maaf, untuk saat ini mungkin akan ada dua bodyguard yang berjaga di dalam kelas. Tiganya berjaga di luar. Karena satu dan lain hal, saya harap anda mengerti." Kata Alan


Bu Rika beralih menatap bodyguard yang berada di belakang Alan. Dia menatap takut bodyguard bertubuh besar itu, apalagi wajah mereka terlihat sangat menyeramkan.

__ADS_1


"Ba-baik. Saya juga sudah menganggap Caramel seperti putri saya sendiri. Tuan tidak perlu ...,"


"Nda pelu, mama Calamel ada banak. Tambah Bu lik jadi lubel nanti mama na Calamel. Anggep Calamel cucu Bu Lik aja, lela lahil batin Calamel," ujar CAramel yang mana membuat Bu Rika menahan malu.


"Caramel, tidak boleh seperti itu. Dia gurumu." Tegur Alan.


"Tidak papa tuan, mungkin dia meniru orang berbicara. Apalagi, ibu adalah sekolah pertama anaknya. Jadi ...,"


"Apa kamu mengira istri saya tak becus mengurus anak kami?" Tanya Alan dengan tatapan dingin.


Bu Rika meneguk kasar lud4hnya, dia terlalu banyak bicara. Jujur saja, dia menyukai Alan. Siapa yang tak suka dengan pria tampan dan mapan?


"Saya tekankan, jangan mencoba memancing kemarahan putri saya. Anda sebagai guru, berlaku lah selayaknya guru." Tekan Alan.


"Baik tuan, maafkan saya." Lirih Bu RIka.


Alan beralih menatap putrinya, "Papa ke kantor dulu. Jangan keluar sekolah tanpa bodyguard." Titah Alan.


Caramel mengangguk, dia melambaikan tangan saat melihat kepergian sang pala. Setelah sang papa pergi, Caramel beralih menatap Bu RIka yang menatap tajam padanya.


Sementara Alan, dia mengamati sekitarnya. Tak ada yang aneh seperti perkataan Reagan. Pria itu langsung memutuskan untuk memasuki mobilnya.


"Mungkin cuman perasaan Reagan saja. Atau, orang itu salah mengenali Calandra." Gumam Alan.


"Sudahlah, aku ke kantor saja. Memang pria itu, tak pernah memberikan informasi yang benar. Bisa-bisanya dia menjadi pengacara. Bikin aku panik saja." Gerutu Alan sembari memasang sabuk pengamannya.


Di saat bersamaan, mata Alan menangkap mobil hitam yang terhenti di depannya. Kening ALan mengerut dalam, saat melihat seorang pria keluar dan mengamati sekitar.


"Dia memakai baju hitam, kaca mata hitam, masker hitam, serba hitam deh. Kayak orang melayat."


"Apa dia ...." Gumam Alan, ketika dia mengingat cerita Reagan tentang ciri-ciri pira itu.


Benar saja, pria itu bersembunyi di balik pohon. Sementara mobil itu, pergi menjauh dan terhenti di tempat yang tak terlihat. Alan mengamati pria yang berada di belakang pohon itu.


"Siapa dia?" Gumam Alan.

__ADS_1


Alan memutuskan untuk keluar, dia langsung berlari ke arah pria yang masih mengatai sekolah. Tapi, sayangnya. Belum sempat Alan sampai pada pria itu. Pria misterius tersebut menyadari kehadiran Alan. Dia langsung berlari, menjauh dari kejaran Alan.


"HEI!! TUNGGU!!" Teriak Alan.


Alan terus berlari, dia berusaha mengejar pria itu. Sampai mereka berlari hingga ke perempatan jalan besar, banyak mobil yang berlalu lalang. Namun, sebuah truk melaku dengan kecepatan kencang. Pria tersebut yang fokus menghindari Alan, tak sadar jika dia tengah berlari menuju sebuah truk yang melaju dengan kencang tersebut.


TIN!! TIN!!


"AAA!!"


BRAK!!


Akan menghentikan langkahnya, raut wajahnya menjadi pias saat melihat tubuh oria yang tadinya ia kejar tertabrak truk hingga terpental. Jantung Alan berdegup kencang, dia bahkan melihat bagaimana pria itu sekarat dengan tubuh yang berlumur darah. Kaca mata pria itu entah jatuh kemana, sementara maskernya masih stay menutupi setengah wajahnya.


"PANGGILKAN AMBULANS!!" teriak orang sekitar.


Alan tak mampu lagi mendengar apapun, dunianya terasa seperti berhenti berputar. Tubuhnya bergetar. Perlahan, Alan menghampiri pria yang sudah tak berdaya itu. Dia berjongkok di hadapan pria itu, dan membuka maskernya. Saat mengetahui siapa yang ada di balik masker, sayangnya Alan tak mengenalnya.


"Siapa pria ini?" Batin Alan


Alan mengambil ponselnya, dia memfoto orang misterius itu dan menyimpannya di galeri foto miliknya.


"Mungkin, aku harus menyelidikinya." Gumam Alan.


Alan beranjak berdiri, dia kembali berlari ke mobilnya. Sementara itu, setelah kepergian Alan. Lucian datang menghampiri anak buahnya yang sebelumnya dia tugasnya. Matanya menatap ke arah buahnya yang terbaring tak berdaya.


"Mereka mulai mencari tahu tentangku hh? Baiklah, kita akan bertemu di persidangan nanti. Kalian akan segera tahu, siapa aku sebenarnya." Batin Lucian.


Sementara Alan, dia langsung kembali ke mobilnya. Buru-buru, dia menjalankan mobilnya pergi meninggalkan sekolah putrinya.


Sepanjang perjalanan, Alan sibuk memikirkan. Siapa pria itu, mengapa pria itu mengawasi anak-anak. Alan tidak tahu, semuanya seperti teka-teki untuk nya.


"Aku telah memiliki fotonya, aku bisa menanyakannya pada Caramel. Apakah orang itu yang kemarin Caramel dan Calandra temui. Ataukah justru, orang itu hanyalah bawahannya saja." Gumam Alan dengan tatapan tajam ke depan.


"Hanya ada dua kemungkinan, orang itu mengincar Calandra karena asal usulnya. Atau, lawan klien Reagan yang membenci dirinya sehingga mengincar Calandra dan Caramel yang memiliki ikatan dengannya." Lanjut Alan. Tangannya mer3mas kuat setir dengan emosi yanng meningkat.

__ADS_1


__ADS_2