
Alan beranjak dari duduknya, matanya terbelalak lebar. Begitu pun dengan Brandon, dia melirik pada Alan. Tampaknya, Alan sangat marah saat ini.
"Mungkin dia keluar sebentar," ujar Brandon.
Alan tak menanggapi perkataan Brandon, dia justru mengambil ponselnya. Lalu, menghubungi sang istri. Ponsel Azalea berdering, tapi wanita itu tak kunjung mengangkatnya.
"Bagaimana?" Tanya Brandon.
Alan menggeleng, dia sudah mencoba berkali-kali untuk menghubungi nya. Namun, tetap saja. Azalea tak kunjung mengangkatnya. Hingga, Bi Sari datang dengan sebuah ponsel di tangannya.
"Permisi tuan, ini dari tadi ponsel nyonya dering terus. Mungkin penting tuan, soalnya yang nelpon gak ada namanya," ujar Bi Sari. Alan yang mendengarnya pun bertambah jengkel.
"Kenapa dia tidak membawa ponselnya. Ck!" Alan hanya menyimpan nomor Azalea, tapi tidak dengan wanita itu. Karena keduanya terus bersama, sehingga tidak ada yang saling menelpon sebelumnya.
Alan bergegas beranjak keluar, Brandon yang melihat itu segera mengikutinya. Dengan tergesa-gesa, Alan menuruni tangga. Dia berjalan cepat hingga ke pintu utama.
"Kenapa kalian mengizinkan istriku pergi hah?!" Sentak Alan pada bodyguard yang berjaga.
"Tadi kami sudah tahan nyonya, tapi katanya mau jemput den kembar. Tuan juga sudah mengizinkan katanya," ujar bodyguard itu dengan takut.
"Aku tidak pernah mengizinkannya! Ck!" Tanpa berlama-lama lagi, Alan berlari kecil menuju mobilnya yang terparkir di halaman. Dia menaikinya dan menjalankan mobil itu dan melesat pergi.
Brandon terdiam, dia beralih menatap bodyguard yang memberi informasi tadi ada di sebelahnya. Ketiga bodyguard itu saling menyalahkan satu sama lain.
"Kamu si, kenapa diizinkan! Untungnya aku buru-buru kabarkan pada tuan Alan! Kalau tidak? Habis kita," Kesal bodyguard yang memberi informasi tadi.
"Ya mana aku tahu, kamu yang di gerbang kenapa gak cegat dulu baru lapor?" Pekik bodyguard penjaga.
Brandon memutuskan untuk pergi, dari pada menyaksikan keributan ketiga bodyguard itu. Dia memasuki mobilnya, dan membawanya keluar mansion menyusul Alan.
Sedangkan Azalea, wanita itu berjalan tak tentu arah. Tatapan matanya kosong, sedari tadi air matanya luruh tiada henti. Hatinya begitu sakit, lagi-lagi Alan mengecewakannya.
"Kenapa aku harus bodoh kembali bersamanya? Jika pada akhirnya aku harus kembali kecewa. Azalea ... kenapa kau harus jatuh cinta pada pria Sepertinya." Isak Azalea.
Azalea menghentikan langkahnya, dia sudah merasa lelah. Tak sadar, dia sudah berjalan jauh dari mansion Alan. Kakinya lumayan pegal, dia memilih untuk duduk di bahu jalan sembari memikirkan apa yang harus dia lakukan selanjutnya.
Saat dirinya tengah memikirkan masalahnya, mata Azalea menangkap sosok pria yang tengah menyebrang. Namun, sebuah truk dari lawan arah melaju sangat kencang ke arah pria tersebut. Mata Azalea terbelalak, kakinya langsung berdiri.
"PAAAAKK!! AWAAASS!!"
BRAK!!!
__ADS_1
Azalea tak dalat menolongnya, kejadiannya begitu cepat. Pria itu tertabrak hingga terguling di jalan raya. Tubuh Azalea mematung, kakinya terasa lemas seperti jelly.
Yang lebih parahnya lagi, truk itu kabur. Meninggalkan pria yang di tabrak olehnya terbaring di tengah jalan dengan luka yang parah di bagian kepala.
"Astaga." Azalea langsung berlari ke tengah jalan. Orang-orang di sekitar langsung bergerak untuk melihatnya. Namun, tak ada yang mau membantunya.
"Permisi, tolong." Azalea menyempil di antara kerumunan untuk melihat sang korban.
Saat berhasil melihat sang korban, betapa terkejutnya Azalea saat melihat siapa korban tersebut.
"Tuan Erlangga?!" Pekik Azalea.
"Mba mengenalnya?" Tanya seorang pria tua.
"Iya, saya kenal dia. Tolong telpon ambulans!" Seru Azalea.
"Saya sudah menelponnya, sebentar lagi akan datang." Seru seorang wanita muda.
Azalea duduk, dia tak tahu harus apa. Darah yang keluar dari kepala Erlangga sangatlah banyak.
"Berapa lama lagi ambulans nya datang?" Tanya Azalea dengan tatapan berkaca-kaca.
"Mungkin sebentar ... mba Ambulans nya datang!!" Seru wanita itu.
"Bisa ikut dengan kami, satu orang saja." Pinta petugas medis itu. Namun, sayangnya, semua orang tak ada yang mau ikut terkena masalah.
"Saya pak, saya yang ikut!" Seru Azalea.
Azalea pun ikut di mobil ambulans, mengantar Erlangga ke rumah sakit terdekat.
Baru saja ambulan yang Azalea tumpangi pergi, mobil Alan terhenti di dekat TKP. Pria itu turun dari mobilnya, dan berlari ke arah kerumunan.
"Maaf, ini ada apa yah?" Tanya Alan.
"Oh, tadi ada yang kecelakaan." Jawab seorang pria.
Alan melihat darah yang masih segar itu tampak di aspal, seketika tubuhnya melemas. Dia tengah mencari Azalea, dan di hadapan kan dengan kejadian ini. Tentu saja pikirannya langsung tertuju pada Azalea. Karena tak ingin menebak, Alan lebih memilih bertanya.
"Korbannya pria atau wanita?" Tanya Alan kembali.
"Pria." Jawaban utu membuat Alan menghela nafas lega.
__ADS_1
"Bukan Azalea ternyata, syukurlah. Mungkin dia sudah sampai di sekolah si kembar, lebih baik aku segera menyusulnya." Batin Alan dan kembali ke mobilnya.
.
.
Sesampainya di rumah sakit, Erlangga langsung di pindahkan ke UGD. Azalea hanya bisa menunggunya di bangku tunggu, sembari berharap dalam hatinya. Tiba-tiba, seorang suster mendatanginya dengan selebar kertas beserta papan di tangannya.
"Maaf nona, bisa tanda tangan atas tindakan yang akan kami lakukan?" Tanya Suster itu.
"Sus, beliau gak akan kenapa-napa kan?" Tanya Azalea dengan suara bergetar. Entah mengapa, hatinya terasa sangat cemas saat ini.
"Serahkan pada petugas medis, kami akan berusaha semaksimal mungkin." Ujar suster itu sembari memberikan papan beserta kertas pada Azalea.
Tanpa pikir panjang, Azalea menandatanganinya agar Erlangga cepat di tangani. Jika tidak, dia khawatir keadaan Erlangga memburuk.
"Terima kasih." Ujar suster itu setelah Azalea berhasil menandatanganinya.
Selang beberapa lama Asal menunggu, seorang dokter keluar. Sarung tangan karet berwarna putih itu sudah berubah warna menjadi merah karena terkena darah Erlangga.
"Nona, apa anda keluarganya?" Tanya Dokter itu.
"Bu-bukan dok, saya hanya orang luar. Mungkin pihak rumah sakit sedang menghubungi keluarganya, karena ponsel korban ada bersama mereka," ujar Azalea dengan suara rendah.
Terdengar helaan nafas dari dokter, dia menatap ke arah berbeda seakan sedang menantikan sesuatu. Tak lama, suster datang dengan wajah panik.
"Dok, kantung darah golongan A hanya tersisa satu. Kami sudah menghubungi rumah sakit lain, ternyata stok sedang kosong." Serunya dengan panik.
"Hubungi keluarganya suruh mereka cepat datang kesini. Keadaannya sangat kritis, kita tidak bisa menunggu lama lagi!" Tegas sang dokter.
mendengar hal itu, Azalea terdiam. Setelah kepergian suster tersebut, dia memberanikan diri untuk berbicara.
"Dok, apa pasien butuh golongan darah A?" Tanya Azalea.
"Iya, saya butuh dua kantung lagi." Jawab Dokter itu dengan frustasi.
"Ehm, golongan saya A. Kalau boleh, saya ingin mendonorkannya.
Kening Dokter itu mengerut, dia menatap Azalea dari ujung kaki hingga kepala. Walau tubuh Azalea tak sekurus sebelumnya, tapi Dokter itu terlihat ragu.
"Kami butuh dua kantung darah, bukan hanya satu. Apakah kau yakin dengan keputusanmu?" Ragu dokter itu.
__ADS_1
"Yakin dok!" Seru Azalea tanpa takut.
"Bukan saya mau meremehkannya, tapi saya takut dia malah yang kekurangan darah." Batin dokter itu.