
Reagan turun dari mobilnya, sebuket bunga mawar merah sudah berada di pelukannya. Pria itu sudah tampan dengan pakaian kasualnya. Kaca kata hitamnya bertengger manis di hidung mancungnya.
"Masih di tolak juga, jangan menyerah hingga dia menjadi milikmu." Gumam Reagan
Reagan memasuki sebuah toko buah, dimana toko tersebut adalah miliki Airin. Terlihat, Airin tengah melayani costumer nya. Wanita cantik itu tampak bersemangat dalam melayani.
"Ini mangga yang di import langsung dari Korea, strawberry nya juga. Dia jamin fresh," ujar Airin.
"Saya mau dua kotak," ujar seorang wanita paruh baya.
Airin tersenyum, dia segera mentotalkan harganya. Setelah itu, dia memberikan barang belanjaan yang wanita paruh baya tadi beli.
"Terima kasih, semoga datang kembali," ujar Airin.
Airin menatap layar komputernya, dia belum menyadari kehadiran Reagan yang berdiri di hadapannya. Pria itu menatap Airin dengan senyum mengembang, sesekali ia menghirup aroma bunga yang ia bawa.
"Mau buah apa!" Tanya Airin tanpa menatap Reagan.
"Yang manis, cantik, lucu, dan ngangenin. Ada mbak?" Iseng Reagan.
Kening Airin mengerut, tentu suara Reagan tak asing baginya. Dia mendongakkan kepalanya. Benar saja, Reagan berdiri di hadapannya.
"Bunga lagi? Kamu gak ada bosannya kasih aku bunga?" Tanya Airin dengan memutar bola matanya malas.
Reagan tersenyum, dia menaruh bunga itu di atas meja kasir. Airin pun menerimanya dan mengecek keadaan bunga itu.
"Rose ini sangat mahal, jangan membuang uangmu demi hal tak berguna seperti ini," ijar Airin. Katanya beralih menatap Reagan yang tengah menatap lekat ke arahnya.
"Apa uang kamu sukai, sangat berguna untukku," ujar Reagan.
Airin menghela nafas pelan, "Pulanglah, aku sibuk." Ketus Airin.
Reagan menegakkan tubuhnya, matanya menatap ke sekitar dimana para pelanggan berada. Keadaan toko Airin sangatlah sepi, hanya beberapa pembeli yang sudah di tangani oleh karyawan wanita itu.
"Tidak ada yang perlu kamu sibukkan. Mendingan, kamu sibuk menentukan kapan kita menikah," ujar Reagan sembari mengedipkan sebelah matanya.
"Reagan, jangan bercanda." Omel Airin dengan wajah kesalnya.
"Siapa yang bercanda?" Tanya Reagan.
Reagan mengeluarkan sebuah kota berwarna biru, lalu ia membukanya dan menunjukkannya pada Airin. Sejenak, Airin mematung. Matanya terfokus pada cincin dengan permata di tengahnya.
"Airin, maukah kamu menikah denganku? Menjadi pendamping dam sahabat hidupku? Mnejadi ibu dari anak-anakku?"
Jantung Airin berdegup dengan kencang, tubuhnya gemetar. Sebelumnya, dia tidak pernah di lamar seperti ini. Bahkan dengan Farel. Reagan, benar-benar pria idaman para wanita.
"Reagan, aku tidak sempurna." Lirih Airin.
"AKu tahu, aku pun juga sama. Tidak ada yang sempurna di bumi ini Airin. Jika soal anak, aku menikahimu karena mencintaimu. Bukan karena anak. Sampai sini, apa kamu paham?"
Airin tetap bergeming, hal itu tentu membuat semangat Reagan menurun. Apa ia terlalu cepat mengungkapkan hal itu? Mungkin saja, Airin masih trauma dengan pernikahannya? Tiba-tiba saja, Reagan menjadi tak semangat.
__ADS_1
"Oke, tidak masalah. AKu bisa menunggumu setahun atau dua tahun atau ...,"
"Itu terlaku lama." Ujar Airin yang mana membuat Reagan terkejut.
"Ha? Maksudnya?" Seru Reagan.
Airin menahan senyum, dia menyodorkan tangan kanan nya pada pria di hadapannya. Para karyawannya sudah memekik heboh karema bos mereka di lamar oleh seorang oria.
"Siapa yang akan menolak pewaris tunggal kaya kaya raya. AKu tidak bodoh, cepat pasangkan cincinnya. AKu mau kaya tanpa bekerja." Seru Airin yang mana membuat senyum Reagan mengembang.
Reagan segera memasangkan cincin itu pada tangan Airin. Khawatirnya, wanita itu akan berubah pikiran dengan cepat. Setelah selesai, Airin menatap tangannya.
"Memang beda cincin dari orang kaya. Kau akan menyesal menikah dengan wanita matre seperti ku Reagan," ujar Airin dengan tersenyum haru.
"Ni problem, kamu matre hanya padaku. Sebagai istriku nanti, aku tidak akan mempermasalahkannya. Kecuali, kamu selingkuh."
Airin tertawa, mana mungkin dia selingkuh. Pengkhianatan yang di lakukan Farel sangat membekas di hatinya.
"Jadi kita ... tunangan?" Tanya Reagan dengan malu-malu.
Airin mengangguk pelan. Melihat itu, Reagan melompat senang. Dia akan memeluk Airin, tapi pekikan karyawan toko membuat Reagan menahan dir.
"Belum sah bos, tahan dulu. Halalin dulu dong, masa langsung nyosor aja kayak sapi." Celetuk karyawan pria.
"Mau saya pecat kamu hah?!" Ancam Reagan
"Eng-enggak bos. Langsung di bawa ke KUA aja. Takut saja rebut eh ... maksudnya takut berubah pikiran." Celetuk karyawan tadi.
"NIKAH SAMA PENGHULUNYA AJA SANA!! JANGAN SAMA AKU!! EMANG KAMU PIKIR NIKAH KAYAK KAWIN KUCING HAH?" Teriak Airin dengan kesal sembari menatap kesal ke arah mereka.
.
.
.
Malam hari, Alan serta keluarga kecilnya baru saja pulang dari resto. Mereka baru saja makan bersama untuk mengingat kelahiran Azalea. Si kembar yang duduk di kursi belakang sidah tidur. Begitu pun dengan Caramel yang tidur di pangkuan Alexix.
Sementara kedua orang tua mereka, asik berpacaran. Dimana Alan menggenggam tangan Azalea, sesekali ia mengecupnya dan terus mengucapkan kata aku cinta kamu.
"Sudah mas, gak bosen apa." Ujar Azalea yang mulai kesal dengan kelakuan Alan.
"Enggak," ujar Alan.
Azalea memutar bila matanya malas, tingkah suaminya semakin kesini seperti anak kecil. Bahkan, kelakuannya melebihi Caramel.
Namun, tiba-tiba saja Alan melepaskan tangannya. Pria itu menginjak rem dengan cukup kuat hingga membuat kepala Azalea terhantuk dashboard.
"Awss!!" Ringis Azalea.
"Kamu gak papa?" Alan segera memeriksa keadaan kening istrinya. Sementara Azalea, dia teringat dengan ketiga anaknya.
__ADS_1
"Mama." Elouise tampak panik, bocah itu langsung terbangun dan menatap kedua orang tuanya.
"Gak papa sayang, gak papa. El jangan takut yah," ujar Azalea menenangkan putranya itu
Sementara Alexix, dia juga terbangun. Namun, refleknya sangat bagus. Dia menahan tubuh Caramel agar tidur terlempar. Beruntung, adiknya itu tak terbangun.
"Kenapa sih mas, kok rem mendadak?! Hampir aja kita celaka!" Omel Azalea.
"Bentar sayang, tadi mas hampir nabrak sesuatu. Entah kucing atau apa." Ujar Alan sembari membuka sabuk pengamannya.
Alan memutuskan keluar dari mobil, begitu pun dengan Azalea. Keduanya langsung melihat ke atah depan mobil. Sesuatu yang aneh terbungkus rapih dalam selimut.
"Kucing mati kali yah mas? Kok di taruh di tengah jalan." Ujar Azalea.
"Mas gak tahu." Alan berjongkok, dia mengamati selimut berwarna biru tua itu. Tangannya terangkat, dan menyingkap selimut itu.
"Astaga! Bayi?!" Pekik Azalea.
Seorang bayi di temukan dalam balutan selimut itu. Bayi yang kemungkinan seumuran dengan Caramel. Tampak wajahnya membiru, tak ada tanda-tanda kehidupan dari bayi itu.
Saat Azalea akan mendekat, Alan justru menahannya.
"Mas! aku mau lihat dia, siapa tahu dia masih hidup!" Seru Azalea.
"Sebaiknya kita pergi dari sana." Ajak Alan.
"Mas!!" Azalea benar-benar tak habis pikir dengan jalan pikir suaminya.
Alan menangkup wajah Azalea, "Sayang, dengar. Kita tidak tahu ini ulah siapa. Jalan ini tidak ada CCTV nya. Nanti kita yang akan di curigai. Lebih baik, kita pergi dari sini. Sepertinya, bayi itu sudah tiada." Ujar Alan, dia tidak ingin mengambil resiko untuk keluarga kecilnya.
"Mas, kamu tega ninggalin dia sendirian? Bagaimana jika Caramel ada di posisi bayi itu? Kota belum mengeceknya." Ujar Azalea dengan mata berkaca-kaca.
Azalea segera berjongkok, hal itu tentu membuat Alan berdecak kesal. Istrinya terlalu baik dan Alan tidak suka.
Azalea segera membawa bayi itu ke pangkuannya, dia membuka baju yang bayi itu kenalan. Mulutnya terbuka saat melihat banyaknya lebam di tubuh bayi itu.
"Astaga." Tangan Azalea bergetar, dia meraba d4da bayi itu. Berharap, jika dirinya merasakan detak jantung dari si kecil.
Karena tak kunjung mendapatkannya, Azalea pun sedikit memompa d4da bayi itu. Sesekali, dia mendekatkan telinganya.
___
Dugh!! Dugh!!
Senyum Azalea mengembang, detak jantung bayi itu kembali terdengar. Dia bergegas menyelimutinya dengan erat, dan kembali berdiri.
"Mas! Ayo kita bawa dia ke rumah sakit!" Seru Azalea.
"Sayang, mas gak mau ambil resiko." Ujar Alan dengan penuh permohonan.
"Enggak akan. Aku lebih menyangkan nyawa bayi ini dari pada hukuman penjara mas. Ayo kita bawa dia, jika tidak. Aku akan di hantui rasa bersalah seumur hidupku." Ujar Azalea dengan mata nya yang berkaca-kaca.
__ADS_1
Alan menghela nafas kasar, "Baiklah." Pasrah Alan. Mungkin, Alan akan menghapus jejak mereka yang telah mengambil bayi itu. Alan pastikan, jika tidak ada jejak apapun yang nantinya akan mempersulit mereka.