
"Bagaimana dengan Lea? Kenapa dia tidak kesini?" Tanya Erlangga, pada putranya yang tengah menyuapi dirinya makan sore.
Reagan tersenyum tipis, dia kembali menyuapkan daddy nya itu. Sembari menunggu Diandra yang tengah bertemu dengan dokter.
"Lea sakit," ujar Reagan.
"Sakit? Kenapa kamu tidak bilang?! Dia pasti sakit karena mendonorkan banyak darah untuk daddy."
"Bukan itu." Sahut Reagan dengan cepat.
"Terus?"
Reagan menghela nafas pelan, dia menaruh piring yang sudah kosong itu ke atas nakas. Lalu, tatapannya beralih menatap raut wajah penasaran sang daddy.
"Dia hanya lemas saja, kurang nutrisi." Jawab Reagan, dia tahu apa yang terjadi sebenarnya. Hanya saja, dia memilih untuk menutupinya.
"Apa suaminya melukainya?" Tanya Erlangga.
"Mereka baik-baik saja, besok jika keadaan Lea sudah membaik. Dia akan datang bersama dengan suaminya." Jawab Reagan.
"Oh, syukurlah kalau begitu. Kalau sampai suaminya menyakitinya, daddy tidak akan tinggal diam."
"Kenapa daddy jadi cerewet sekali?" Heran Reagan. Sebab, setelah tahu Azalea putrinya. Pria setengah baya itu tak berhenti menanyakan tentang keadaan adik nya.
"Kenapa? Kamu keberatan?" Sewot Erlangga.
"Bukan gitu, maksudku ...."
Cklek!
Erlangga dan Reagan mengalihkan pandangannya ketika Diandra sudah kembali. Wanita itu tersenyum, menatap kedua cintanya.
"Bagaimana hasilnya mom?" Tanya Reagan.
"Baik semua, hanya saja terjadi keretakan di kepala." Jawab Diandra.
Reagan mengangguk paham, tak lama ponselnya berdering. Dia pun segera mengangkatnya saat tahu siapa yang menelponnya.
"Halo pak, bagaimana?" Tanya Reagan.
Seketika, Tatapan Erlangga dan Diandra mengarah pada putra mereka. Keduanya menatap Reagan dengan tatapan serius.
"Oh, pelaku sudah di temukan pak? Syukurlah kalau gitu, besok pagi saya akan ke polres untuk menemuinya."
"Baik, terima kasih pak."
Reagan mematikan sambungan telpon itu, dia menatap Erlangga dengan senyum mengembang. "Pelaku sudah tertangkap, besok aku akan ke sana untuk melihatnya."
"Mommy juga ikut." Seru Diandra.
"Jangan, mom jaga daddy aja. Biar Reagan yang urus semua nya."
"Tapi, mommy juga ingin lihat orang yang bertanggung jawab itu. Kenapa dia tega meninggalkan daddy kamu begitu saja. Untungnya ada yang menolongnya, jika tidak bagaimana." Seru Diandra dengan suara bergetar.
__ADS_1
Reagan merangkul ibunya itu, dia tahu apa yang Diandra rasakan saat ini. Istri mana yang tidak marah jika suaminya di celakai begitu saja tanpa bertanggung jawab. Walaupun itu tidak sengaja.
"Tenanglah, Reagan urus semuanya. Reagan pastikan, dia akan mendekam di penjara dalam waktu yang lama. Mommy lupa, jika anak mommy ini pengacara. Hm?"
"Mommy percaya sama Reagan kan?" Tanya Reagan.
Diandra mengangguk, walau dia ingin sekali ikut. Namun, perkataan Reagan juga ada benarnya. Dia harus menjaga suaminya.
"Oh ya, Lea gimana? Kenapa kamu gak bawa dia kesini?" Tanya Diandra.
"Lea sedang sakit, mungkin setelah sembuh dia akan mengunjungi kalian," ujar Reagan.
"Sakit? Sakit apa? Siapa yang rawat? Anak-anaknya bagaimana?" Tanya Diandra dengan perasaan cemas.
"Mommy lupa? Lea kan punya suami, suaminya lah yang ngurus dia dan anak-anaknya," ujar Reagan
Diandra terdiam, dia kembali mengingat sosok suami Azalea. Dia bisa menilai Alan, laki-laki itu tampaknya sangat melindungi Lea nya.
"Siapa suami Azalea?" Tanya Erlangga yang menang belum pernah tahu sosok suami putrinya.
"Alan, ALan Annovra." Jawab Diandra dengan tatapan lurus ke depan.
"Alan Annovra, Ceo muda yang terkenal itu yah. Yang tidak pernah tertarik dengan wanita, ternyata dia suami putriku."
Reagan mengangguk, begitu pun dengan Diandra. Raut wajah Erlangga terlihat begitu tenang.
"Tapi, bagaimana ceritanya saat itu dia terpisah dengan suaminya? Reagan, kamu tahu apa yang terjadi?"
Deghh!!
"Apa kau yakin sudah mencintai adikku? Kau sempat mengusirnya pergi menjauh, lalu kau datang kembali dengan dalih kau belum menceraikannya. Sebenarnya apa maumu?"
"Aku sangat yakin telah mencintai adikmu, dia pengobat rasa traumaku. Aku takut menjalin hubungan cinta dengan seorang wanita, karena masa laluku. Namun, Azalea menyadarkan ku. Bahwa, dia adalah penyembuh lukaku. Aku sangat mencintai Azalea, aku bisa gila jika kau menyuruh kami untuk berpisah."
"Jika iya, tolong jaga adikku. Akan ku simpan rapat masalah kalian berdua dari orang tuaku. Sebab, jika daddy ku sampai tahu. Aku yakin, detik itu juga. Kau dan Azalea tak akan bisa bersama."
"Reagan!"
Reagan tersadar dari keterbengongannya, dia menatap bingung kedua orang tuanya yang menatapnya dengan penasaran.
"Kamu mikirin apa sih!" Kesal Diandra.
"Enggak, cuman mikirin kerjaan aja." Jawab Reagan dengan santai. Dia beralih duduk di sofa. Dengan santainya, dia merebahkan dirinya di sana.
"Reagan, mommy belum selesai bicara." Kesal Diandra. Namun, Reagan malah menutup matanya. Yang mana membuat Diandra bertambah kesal.
"Reagan!! Ish, mommy mau tanya. Kamu, masih cinta sama Azalea?".
Degh!!
Reagan kembali membuka matanya, dia menatap langit-langit ruang rawat Erlangga dengan tatapan lurus.
"Reagan, mommy tahu ini berat untukmu. Tapi dia adikmu, kalian sedarah. Kamu tidak boleh menyimpan perasaan yang salah itu lebih lama lagi." Bujuk Diandra.
__ADS_1
Reagan menghela nafas pelan, "Mom, Reagan menerima tawaran kerja di Jerman."
"APA?! enggak ya! Mommy gak setuju!! KAmu gak ada izin sama mommy!!" Seru Diandra tak terima, matanya kini sudah menatap Regan dengan berkaca-kaca.
Reagan menoleh, dia menatap orang tuanya dengan senyum mengembang.
"Bagaimana aku bisa melupakan dia, kalau nantinya kami sering bertemu? Perasaan ini salah, aku tahu. Butuh waktu untuk menghapusnya."
"Reagan." Lirih Diandra dengan sedih.
"I'm fine mom."
.
.
.
Di mansion Alan, tampaknya Elouise sedang mengelilingi mansion. Dia sedang mencari keberadaan kucing nya.
"Lempeyeeekk!! Kamu dimana?? Ishh mana lagi itu kucing. Nyucahin babu na aja." Gumam Elouise dengan kesal.
Elouise yang sudah lelah mencari, akhirnya memutuskan untuk duduk di lantai. Dia mengibas-ngibas lehernya yang terasa gerah. Tak lama, Alexix datang dengan susu kotak di tangannya.
"Belum ketemu Lempeyekna?" Tanya Akexix.
"Belum." Melihat Alexix yang meminum susu dengan santai, membuat Elouise mendelik.
"Bantu cali napa! Janan makan telus keljanaa!!"
"Cetelah caya lah! Lempeyek kan punya kamu!" Pekik Alexix tak terima.
Karena kesal, Elouise membuang wajahnya. Namun, di saat itu pula dia menemukan kucingnya yang berada di sela lemari.
"LEMPEYEK!!"
Buru-buru Alexix mendatangi kucingnya itu. Kucing oren itu berada di samping lemari, dengan posisi kepala di bawah dan ekor di atas. Seakan dia berjalan di dinding. Namun, Elouise menangkap ada keanehan. Dimana dia melihat kucing itu tak bergerak. Hanya terdiam kaku. Tersadar, jika bagian bawah ekor kucing itu tersangkut hak angin pintu.
"Eh, itu bijina nyangkut yah?" Gumam Elouise. Tersadar, Elouise melengkungkan bibirnya ke bawah, bersiap untuk menangis.
"Ekheee!!! iya ... Bijina kecangkut. Napa kau dicituuu hiks ... nyangkutkan bijina hiks ... nanti m4ti gimanaaaa!! ekheee ... nda ada kali otakmu hiks ...."
Elouise berlari untuk mencari bantuan, anak itu berteriak sembari menangis histeris.
"PAPAAA HIKS .. HUAA!! LEMPEYEK BIJINA KECANGKUT. PAPAA HIKS ....,"
Sedangkan Alexix, dia menatap kucing yang tak bergerak itu.
"Kau gelak cedikit, habis lah bijimu." Celetuk Alexix.
"Lacakan! Nda bica cali janda cebelah kau." Sahutnya dan pergi meninggalkan kucing itu. Menyusul sang kembaran.
____
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya🥳🥳🥳