Kembar Genius Milik Ceo Galak

Kembar Genius Milik Ceo Galak
Aku tidak bisa bersaing dengan papa dari anakmu


__ADS_3

Sedangkan di negara yang berbeda, tampak Reagan tengah frustasi karena Azalea lagi-lagi menolak panggilannya. Dia tidak bisa seperti ini terus, Reagan ingin buru-buru kembali ke negaranya untuk menemui pujaan hatinya secara langsung.


"Masalah pekerjaanku sudah selesai, nanti malam aku bisa kembali ke indonesia." Gumam Reagan sembari mengemasi kopernya.


Namun, pada saat dia tengah serius mengemasi kopernya. Ponselnya berdering, melihat siapa yang menelponnya. Tanpa berlama-lama lagi, Reagan segera mengangkatnya dengan senyum mengembang.


"Azalea, akhirnya kau menghubungiku! Aku sangat senang! Apa selama beberapa hari ku tinggal, kau dan Alexix baik-baik saja?" Seru Reagan dengan raut wajah cerianya.


"Reagan ...."


"Ya, Azalea? Kau tau, aku membawakan oleh-oleh untukmu dan Lexi. Setelah pulang nanti, mari kita bertemu. Aku tidak sabar membawamu kembali pada orang tuaku. Mereka akan sangat senang menyambutmu, aku juga sudah dapat restu dari mereka. Tinggal ...,"


"Lea, kau masih di sana?" Reagan bingung, karena sepertinya Azalea tak merespon segala yang dia katakan.


"Kembalilah cepat, aku ingin mengatakan sesuatu."


Perkataan Azalea, membuat senyum Reagan mengembang. Dia berpikir, jika Azalea akan jujur tentang perasaannya. Reagan yakin sekali jika wanita itu juga menyukainya.


"Baiklah! Besok kita bertemu, karena malam ini. Aku akan kem ...,"


"Kita akan bertemu di pekan depan, sebab saat ini aku ada di singapura menemani Elouise yang akan melangsungkan operasinya malam ini." Potong Azalea.


Reagan terdiam, senyumannya luntur seketika. Tatapan matanya menyendu, tubuhnya tiba-tiba terasa sangat lemas.


"Itu artinya, Alan telah mengetahui rencanamu?" Tanya Reagan dengan suara lirih.


Tak ada jawaban dari Azalea, diamnya wanita itu membuat Reagan membenarkan tuduhannya sendiri.


"Jika dia tidak menuntut mu ke pengadilan, itu artinya ... kalian kembali bersama?"


"Reagan aku ...,"


Reagan mendongakkan kepalanya sejenak, sembari tangan kanannya menekuk di pinggang. Reagan menghela nafas berat, dadanya terasa sangat sesak.


"Haaahh ... bukankah kamu setuju memberiku waktu satu bulan untuk membuatmu mencintaiku, Lea?"


Azalea yang terdiam, membuat Reagan tersenyum perih. Hatinya sangat sakit, secara tak langsung Azalea kembali memintanya untuk mundur.


"Belum setengah jalan, apa kau memintaku untuk mundur? Aku tahu, aku tak sehebat suamimu. Tapi, aku punya cinta yang tulus untukmu,"


"Hm, baiklah. Karena aku gagal membuatmu mencintaiku, aku tak akan mengganggumu lagi. Selamat kembali dengan keluarga kecilmu, jangan perdulikan aku. Aku baik-baik saja,"


"Reagan, maafkan aku, aku ...,"


Tuutt!!


Reagan mematikan sambungan telpon itu, lalu dia melempar ponselnya ke atas ranjang. Air matanya luruh, perjuangannya sia-sia sudah.


"Aku bisa bersaing dengan pria manapun, tapi aku tidak bisa bersaing dengan ayah dari anak-anakmu." Lirih Reagan.


.

__ADS_1


.


.


Sedangkan di posisi Azalea, dia sudah berada di rumah sakit Singapura. Dia tengah duduk di bangku taman rumah sakit, bersama dengan Alan yang duduk santai di sebelahnya. wanita itu merem4s kuat ponselnya, mata beningnya berkaca-kaca. Dia merasa sudah jahat pada Reagan. Azalea sangat merasa bersalah padanya, pria yang dengan setia menunggu pintu hatinya kembali terbuka.


"Masih ada waktu jika kamu memang ingin bersamanya Lea. Jika kita sudah sampai di kamar rawat Elouise, aku tidak akan memberimu kesempatan lagi."


Azalea memejamkan matanya, dia kembali mengingat tentang perkataan Alan sebelum dirinya sampai di negara ini.


"Jika kamu masih ingin bersama dengan anakmu, jauhi pria itu. Sekarang, pilihan ada di tanganmu. Kamu pilih kedua anak kita, atau pria itu?"


"Mas, apa aku tak berhak bahagia? Reagan mencintaiku! Aku hanya ingin di cintai! Apa aku salah?!" Seru Azalea dengan suara bergetar.


"Salah, setelah kamu menikah dengannya. Pergi lah dari kehidupan kedua putraku. Sehingga mereka akan tahu, mama yang sangat mereka sayangi ternyata lebih memilih pria baru dalam hidupnya dari pada mereka. Bersiaplah, untuk di benci putramu sendiri."


Air mata Azalea luruh, dia kembali membuka matanya. Kemudian, dia menghapus kasar air matanya menggunakan punggung tangannya. Saat Azalea akan beranjak, Alan menahan tangannya. Membuat wanita itu seketika menghentikan niatnya untuk pergi.


"Kau belum memberitahu tentang keputusanmu!" Seru Alan.


"Apa yang harus ku beritahu? Kau sudah tahu jawabannya mas." Selepas menjawabnya, Azalea menepis tangan Alan dari tangannya.


Alan terdiam, hatinya merasakan perasaan aneh. Antara bahagia dan kecewa atas sikap Azalea padanya.


"Apa dia sudah mencintai Reagan?" Gumam Alan.


Azalea menyusul Alexix yang sudah masuk ke dalam rumah sakit di temani oleh Kendrick. Langkah Azalea terhenti saat melihat Alexix yang duduk di kursi tunggu sembari menatap ke bawah. Sedangkan Kendrick, dia duduk menemani Alexix.


.


.


.


Elouise terlihat murung, dia rindu dengan sang papa dan mamanya. Dia ingin menelponnya, tetapi sedari tadi Alan tak juga mengangkat telponnya membuat Elouise sedih.


Cklek!


Terlihat, Dokter Aryan masuk ke dalam ruang rawat Elouise. Seperti biasa, dia menatap Elouise dengan senyum mengembang.


"Nak, sebentar lagi operasi akan segera di lakukan. Suster sudah memberitahukan padamu kan?" Elouise mengangguk lesu, membuat senyum Dokter Aryan luntur dan menatap Elouise dengan tatapan bingung.


"Kamu kenapa?" Tanya Dokter Aryan sembari duduk di tepi brankar Elouise.


"Papa ... apa nda datang." Lirih Elouise dengan suara bergetar.


Dokter Aryan pun paham, dia merangkul tubuh mungil Elouise. Dia bisa melihat, tatapan anak manis itu berkaca-kaca bersiap akan menangis.


"Kita video call sama oaoa saja, gimana?" Usul Dokter Aryan.


Hidung Elouise kembang kempis, bibirnya melengkung ke bawah. Sungguh, hatinya sangat sedih saat ini. Namun, Elouise berusaha kuat. Dia ingat janjinya dengan Alan, dia tidak ingin Alan membatalkan janjinya.

__ADS_1


"Jangan menangis, kau akan segera bertemu dengan papa mu." Sahut Dokter Aryan.


"Papa nda ...,"


Cklek!


Elouise mengalihkan pandangannya, tubuhnya mendadak kaku saat melihat siapa yang berdiri di ambang pintu.


"El."


"Ma-mama." Gumam Elouise.


Terlihat, Azalea berdiri di ambang pintu. Dia menatap Elouise dengan senyum lembutnya. Matanya berkaca-kaca, akhirnya dia kembali melihat putranya itu.


Tatapan Elouise beralih pada Dokter Aryan, melihat senyum dokter itu membuat Elouise tak sanggup menahan tangisnya.


"Mama hiks ... mama!" Seru Elouise. Dia berusaha ingin turun dari ranjang, tetapi Dokter Aryan mencegahnya.


"Biar mama yang kesitu!" Seru Azalea.


Elouise merentangkan tangannya. Dia menangis histeris saat melihat Azalea berjalan mendekatinya.


Brugh!!


Elouise memeluk erat tubuh Azalea, bahkan sampai menabraknya dengan keras. Namun, hal itu justru membuat Azalea terharu.


"Mama temani El, El takut. El takut hiks ... El takut." Isak Elouise.


"Mama dan papa akan menemanimu sayang," ujar Azalea.


Tangisan Elouise terhenti, dia menjauhkan dirinya dari Azalea. Ujung matanya melihat seseorang yang berdiri di ambang pintu. Seketika, kata Elouise terbelalak.


"Lekci dan papa, mama apa papa ...."


Alan datang menghampiri Elouise sembari membawa Alexix dalam gendongannya. Dia meletakkan Alexix di tepi brankar, agar dirinya bisa memeluk Elouise.


"Papa dan mama akan menemani El oprasi." Ujar Alan sembari meraih kepala Elouise dan meng3cupnya.


Mata Elouise membulat lucu, dia menatap Azalea dengan tatapan tak percaya. Jadi, saat Alan memanggilnya El saat itu. Dia tidak salah dengar, sang papa memanggilnya Elouise.


"Papa tahu kamu Elouise, bukan Alexix. Kau Elouise, putra hebat papa." Seru Alan sembari menangkup pipi tirus putranya.


Air mata Elouise luruh, dia menangis. Membuat Alexix geram.Lalu menepuk pah4 kembarannya itu.


"Nanis na nanti, cimpen dulu ail matamu."


"Lexi!" Tegur Alan.


"Haiss ... lanjutkan nanis na. Papa culuh kamu nanis, nanis lah." Seru Alexix dengan kesal, membuat kedua orang tuanya hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah anak itu.


____

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya🥰


__ADS_2