
Azalea sedikit mengerti bagaimana perjuangan Alan untuk menahan emosinya. Rasa trauma yang pria itu alami, mengakibatkan emosi yang terkontrol dalam dirinya meningkat. Untuk saat ini, Azalea akan berada di samping suaminya. Memberikan penjelasan padanya, jika tak semua wanita sama seperti orang yang sudah menyakitinya.
Seperti saat ini, Azalea memberikan perhatian khusus untuk suaminya. Dia memanjakan Alan, menyiapkan kebutuhan Alan tampa pria itu minta. Memberikan pelukan dan juga ungkapan sayang. Merasakan kehangatan Azalea, Alan pun merasa suasana hatinya semakin membaik.
Namun, di malam hari. Setelah makan malam, raut wajah Alan berubah datar. Dia menatap ke arah putranya yang kini tertunduk sembari memainkan jari jemarinya.
"Katakan, kenapa kalian memakan jajanan yang tidak sehat itu?" Tanya Alan sambil bersedekap dada.
Elouise dan Alexix menatap Azalea, berharap sang mama menolong mereka. Namun, bukannya membantu Azalea malah sibuk menatap ke arah lain. Kali ini, dia tidak akan berpengaruh dengan tatapan memelas kedua putranya.
"Jawab!!"
Keduanya tersentak kaget, hingga bahu mereka bergetar. Keduanya semakin ketakutan, apalagi Elouise yang sudah akan bersiap menangis.
"Lexi, kamu tahu jika sejak dulu papa paling tidak suka di bantah kan?"
Alexix mengangguk cepat, dia tak lagi berbicara sebab saat ini sang papa sedang dalam mode serius.
"Lalu, kenapa kau melanggarnya?" Tanya Alan. Namun, Alexix tak kunjung menjawabnya.
"Udah gak bisa ngomong apa bagaimana huh?" Sindri Alan.
Alexix menarik nafas panjang, dan menghembuskannya. "Pengen aja, kan Lekci cuka. Napain beli kalau nda cuka, papa nih aneh aja tanya-tanya na." Jawaban Alexix, tentu membuat Alan semakin kesal.
"Udah berani kamu lawan papa yah!"
"Eh? Tadi papa yang culuh jawab, kok calah lagi." Pekik Alexix tak terima. Sedangkan Elouise, sedari tadi dia menarik tangan kembarannya, menyuruhnya untuk diam saja.
"Udah berani melawan?!" Seru Alan.
Alexix menghela nafas lelah, lagi-lagi salah. Jawab salah, diam salah. Tolong katakan, Alexix harus apa?
"Mas sudah." Lama-lama, Azalea tak tega melihat kedua putranya itu.
Alan menghiraukan istrinya, dia beralih menatap Elouise yang ketahuan mencuri pandang padanya.
"El juga, gak kapok kamu sakit hah?"
Glek!!
Elouise meneguk kasar lud4hnya, nyalinya semakin menciut.
"Kapok papa." Cicit Elouise.
"Terus, kenapa masih makan makanan seperti itu?" Tegur Alan.
__ADS_1
Elouise melirik ke arah Alexix, Alexix yang di lirik seperti itu pun melotot. "Apa? Bilang cana! Kenapa malah pelelok aku!" Pekik Alexix.
"El ...." Panggil Alan dengan suara beratnya.
Elouise kembali menatap Alan, bibirnya sudah melengkung ke bawah. Matanya sudah bersiap akan menumpahkan air matanya. Tatapannya beralih pada Azalea, melihat putranya yang seperti itu Azalea pun tak tega.
"Mas, sudah mas. Kasihan." Ujar Azalea.
"Ngapain kasihan? Bukan masalah biaya pengobatannya, tapi dia merasakan sakitnya. Gak kapok apa setahun lebih sakit, masih belum lupa rasa sakit bekas operasinya kan? Itu jahitan mu belum hilang loh bekasnya! Masih mau ngulang lagi?!" Omel Alan.
"El cuman ... hiks ... HUAAAA!!!"
Alexix menutup telinganya di saat Elouise menangis keras. Melihat putranya menangis, Azalea buru-buru menghampiri Elouise untuk menenangkannya.
Alan yang melihat Elouise menangis, hanya bisa terdiam. Memang dia tak tega melihat putranya menangis. Namun, kesehatan keduanya sangat penting. Lalu, tatapan Alan beralih pada Alexix yang tengah memperhatikan Elouise.
"Kamu juga mau nangis?" Tanya Alan dengan sinis.
Bibir Alexix terangkat dengan sinis, "Lebay kali, nda lah! Napain nanis." Serunya.
Azalea membawa Elouise ke gendongannya, putranya itu melilitkan tangannya di leher Azalea. Sementara kepalanya, dia tidurkan di bahu sang mama.
Tatapan Alexix beralih pada Elouise, seketika bibirnya melengkung ke bawah. Dia turun dari kursi sembari merentangkan tangannya pada sang mama.
"EKHEEE ... HUAAAA!!! MAMA NDA CAYANG LEKCI!! KOK EL DOANG YANG DI GENDONG HIKS ... TEGA KALIII HIKS ... HUAAA!!!"
"Dari tadi aku marahin abis-abisan, gak ada tuh nangis. Kok, ngeliat adiknya di gendong malah nangis." Batin Alan.
.
.
.
Hari ini Elouise dan Alexix kembali sekolah, keduanya sudah masuk ke dalam mobil. Begitu pun dengan Azalea. Seperti biasa, mereka di kawal dengan mobil bodyguard. Sebab hari ini, Alan akan kembali ke rumah sakit. Berjaga-jaga, khawatir ada awak media yang melihat keberadaannya. Apalagi, sejak kemarin dia keluar bersama Azalea.
"Bekalnya sudah ada di dalam tas, gak ada jajan sembarangan lagi. Paham Twins?"
"Paham mama." Ujar keduanya serentak.
Azalea tersenyum, dia bangun lagi-pagi hanya demi memasak menu sehat untuk kedua putranya.
Tak lama, mobil pun terhenti di halaman sekolah si kembar. Keduanya bersiap akan turun. Namun, sedetik kemudian keduanya terpekik.
"ACTAGAAAA. .. LUPAAA!!" Pekik Alexix.
__ADS_1
"Ekheee. .. lupa papa hiks ... di culuh panggil olang tua cama guluna." Seru Elouise yang sudah panik.
Bola mata Alan melebar, sontak dia menoleh pada kedua putranya yang menatapnya dengan ketakutan.
"Kok bisa?! Kalian ngelakuin apa? Atau jangan-jangan .... karena kalian panjat dinding kemarin itu ya!!"
Elouise dan Alexix sontak saling memeluk saat mendapat pelototan Alan.
"Nda kok, cebelum ya Lekci." Seru Elouise sembari menatap kembarannya.
"Lekci lupa." Ujar Alexix membuat Elouise melotot.
"Bicanaaa!! makana, ingatna janan cilol telus! Otakna dimana cih!"
"El, sudah-sudah. Ayo, mama akan bertemu guru kalian." Ajak Azalea menengahi perdebatan mereka.
Azalea mulai membuka pintu, melihat itu Alan berdecak sebal. Walau begitu, dia menurut keluar. Sementara si kembar, buru-buru turun menyusul sang mama. Keduanya memegang tangan Azalea, menatap waspada pada sang papa yang menatap keduanya dengan tajam.
"Mas." Tegur Azalea.
Alan menghembuskan nafasnya kasar, dia mengikuti sang istri dari belakang. Sementara kedua bodyguard, mengikuti sang tuan di belakang.
Sesampainya di ruang kepala sekolah, Azalea dan Alan masuk. BEgitu pun dengan si kembar. Dan bodyguard Alan memilih untuk berjaga di depan.
"Selamat pagi Nyonya, Tuan. Orang tua Alexix dan Elouise?" Sapa seorang wanita setengah baya dengan sopan.
"Iya, kami orang tua si kembar. Katanya, kami di suruh kesini." Sahut Azalea dengan lembut. Sementara Alan, dia memilih diam.
"Mari, silahkan duduk. Akan saya jelaskan, mengapa wali kelas mereka meminta kalian kesini." Pinta kepala sekolah.
Azalea dan Alan duduk bersebelahan, sementara si kembar berdiri di sebelah sang mama.
"Jadi begini, apakah sebelumnya putra kalian sudah pernah bersekolah di lain tempat?" Tanya kepala sekolah.
"Ya, Alexix home schooling." Sahut Alan. Lalu, tatapan Alan beralih pada Azalea.
"Elouise belajar di rumah, sebab saat itu dia tengah sakit-sakitan. Jadi, aku tidak bisa membiarkan nya sekolah." Jawab Azalea. Walaupun, itu bukanlah alasan sebenarnya.
Tampak, kepala sekolah menganggukkan kepalanya. Tatapannya jatuh pada bocah kembar identik itu.
"Tampaknya, memang penerus papa nya yah,"
"Maksudnya?" Sahut Azalea.
Kepala sekolah itu tersenyum, dia mematap Azalea yang tengah kebingungan. Tentu, dia tahu siapa Alan. CEO muda yang tengah ramai di bicarakan orang.
__ADS_1
"Maaf Nyonya, kami pihak sekolah menyarankan agar kedua putra anda keluar dari sekolah ini."
"Apa?!" Pekik Azalea.