
Cklek!
Tang!
Calandra terkejut saat Jessica datang dan melempar sebuah piring ke arahnya. Matanya menatap ke arah nampan makana yang wanita itu berikan untuknya. Bentuk makanan itu sangat aneh, seperti bubur yang di campur oleh sesuatu hingga membuat warnanya menjadi coklat.
"Apa ini? Makanan?" Tanya Calandra pada wanita itu.
"Ya! Aku tidak mau kau mati lebih cepat. Aku ingin kau dan ibumu merasakan kepedihanku karena pengkhianatan nya bersama suamiku." Ujar Jessica dengan nada tinggi.
"Memangna ayah Cala cuamina citu?" Tanya Calandra dengan tatapan sinis.
"Bukan bundamu! Tapi ibumu! Sudah ku bilang, kau hanya anak pungut mereka!" Sentak Jessica.
Calandra mengerjapkan matanya, "Kata ayah, janan pelcaya cama olang asing. Citu kan olang asing." Ujar Calandra dengan polosnya.
"KAU!!!"
Calandra merasakan tangannya di pegang oleg seseorang, dia menoleh pada sosok wanita yang satu sell dengannya.
"Nda ucah takut, Cala dicini." Ujar Calandra sembari mengusap tangan wanita itu.
Calandra kembali menatap Jessica, tatapannya menajam. Dia mengamati penampilan Jessica yang memakai pakaian serba hitam.
"Bental lagi Ayah cama Papa Alan akan datang celamatkan Cala," ujar Calandra.
Perkataan Calandra, tak membuat Jessica takut. Justru, wanita itu tertawa keras hingga membuat perutnya sakit.
"Dengar! Mereka tidak akan pernah tahu kamu ada disini. Kau tahu wanita di sebelahmu itu?" Unjuk Jessica pada wanita di sebelah Calandra.
"Dia adalah ibumu, Sherly. Wanita malang itu sudah bertahan disini selama tiga tahun lamanya. Dan sampai saat ini, dia belum di temukan juga oleh Lucian. Kau tahu apa artinya hm? Kau akan sama seperti nasibnya."
Wanita yang bersama Calandra yang tak lain dan tak bukan adalah Sherly. Jessica telah berhasil menahan wanita malang itu selama tiga tahun lamanya tanpa Lucian tahu keberadaannya. Nasib Sherly sangat mengenaskan, bahkan mentalnya terganggu lantaran siksaan yang Jessica berikan padanya.
"Nda, bunda Cala cuman bunda Ailin aja." Ujar Calandra, mengelak apa yang Jessica beritahukan padanya.
"Terserah kalau kamu tidak percaya! Dia adalah ibu kandungmu, kalian adalah perusak kehidupan serta putriku! Kalian penghancur kebahagiaan orang lain!"
Calandra menggeleng, dia melihat kearah Sherly yang menatap ke arahnya. Tatapan keduanya bertemu, Sherly menggelengkan kepalanya. Seakan memintanya untuk tak kembali melawan.
Tatapan Jessica jatuh pada gelang cantik yang ada di tangan kanan Calandra. Bibirnya melengkungkan senyum tipis, "Heh, anak laki-laki tapi memakai gelang anak perempuan." Gumamnya.
__ADS_1
DERTT!!
DERTT!!
Ponsel Jessica berbunyi, dia segera mengambil ponselnya yang ada di dalam saku jaketnya dan melihat siapa yang menelponnya. Senyumnya merekah saat melihat nama yang tertera. Lalu, Jessica pergi sembari menerima telpon itu.
"Halo paman, apa kau masih di ind0nesia?" Tanya Jessica sembari berjalan keluar dari ruang bawah tanah menuju lantai dua. Lalu, dia memilih untuk bersantai di pembatas balkon kediamannya itu sembari melihat hutan luas yang banyak di tumbuhi oleh pepohonan.
"Ya, aku sedang memantau seorang gadis kecil disini." Suara berat seseorang menerpa telinga Jessica.
Sebelah sudut bibir Jessica terangkat, dia penasaran dengan gadis kecil yang pamannya maksud.
"Siapa? Kau tertarik dengan gadis kecil siapa?" Tanya Jessica sembari melihat kuku lentiknya.
"Putri bungsu Alan Annovra."
Sontak, Jessica berhenti bergerak. Matanya mengerjap perlahan, dia mengangkat pandangannya ke depan.
"Putri Alan?" Tanya Jessica.
"Ya, dia gadis yang unik. Kau tahu, dengan berani dia menolong Calandra. Walau pada akhirnya, dia terluka karena terseret ketika mobil berjalan. Tapi lihat sekarang, dia kembali bermain di halaman mansion nya. Tak peduli luka yang terdapat di lengan dan kakinya. Anak itu sangat unik, aku jadi tertarik untuk ...,"
Terdengar, suara tawa nyaring dari sebrang. Membuat Jessica mengeritkan keningnya saat om nya itu tertawa lepas.
"Kamu pikir, aku membantumu hanya karena keinginanmu? Aku membantumu karna ada keuntungannya disitu. Jadi, aku tak peduli apa yang kamu inginkan dan tidak kamu inginkan. Aku tetap, menginginkan putri Alan itu."
Jderr!!
"Maksud paman apa?" Pekik Jessica.
"Dengar ini Jessica. Kau menjanjikan separuh harta suamimu jika aku membantumu. Sekarang, aku telah membantumu. Madumu itu dan putranya, sudah ada dalam genggamanmu. Jadi, mana bagianku? Aku menunggu setengah harta milik suamimu," ujar paman Jessica yang mana membuat raut wajah Jessica berubah pias.
"Ingat Jessica, kamu juga lahir dari rahim seorang wanita simpanan. Mungkin, kamu sedang menerima k4rma dari apa yang di lakukan oleh ibumu." Lanjut paman jessica.
Mendengar itu, tangan Jessica mengepal cukup erat. Dia bahkan meremas ponselnya hingga kuku-kuku jarinya memutih. Matanya menatap tajam ke depan, jantungnya berdegup lebih kencang.
"Jaga mulut paman! Ibuku tidak seperti itu!" Sentak Jessica.
"Nyatanya? Ibumu berhasil membuat kakakku berselingkuh dari istrinya demi menikahi ibumu. Jessica ... Jessica ... lebih baik kamu terima saja perselingkuhan suamimu. Siapa lagi memang yang mau menerima wanita tidak sempurna seperti mu hm? Hidupmu sekarang sudah enak, kekayaan suamimu sangat melimpah." Ujar paman Jessica dengan suara rendah.
"Eits ... jangan lupa janjimu. Jika tidak, aku akan membocorkan semua rahasiamu pada Arley sekarang juga. Oh tidak, tidak hanya pada Arley, aku akan memberi tahu keberadaan Sherly pada Jendral Lucian."
__ADS_1
Jessica memejamkan matanya, dia menahan marah yang ingin dia lontarkan lewat mulutnya. Namun, dia menahannya karena dia masih membutuhkan bantuan sang paman.
"Oke! Aku akan memberikan apa yang paman mau." Putus Jessica.
"Good girl."
Jessica langsung memutuskan sambungan telpon itu, dia menjambak kuat rambutnya. Air matanya luruh, d4danya terasa sesak.
"Aku tidak salah apapun, tapi kenapa kesalahan ibuku harus aku yang menanggungnya. Apa aku tidak berhak untuk di cintai." Lirih Jessica.
Jessica menghapus kasar air matanya, perlahan dirinya mulai tenang. Dia akan segera berbalik masuk. Namun, ekor matanya justru malah mendapati sesuatu yang janggal. Dia kembali berbalik dan melihat ke arah hutan yang ada di hadapannya.
Terlihat, banyaknya mobil beriringan berjalan menuju ke arahnya. Jantung Jessica berdegup kencang, dia segera menelpon kembali pamannya dengan tergesa-gesa.
"Ada apa? Apa kau ingin memberikan separuh harta suamimu sekarang?" Tanya laman Jessica dengan enteng.
"Lupakan tentang perjanjian kita! Kau telah mengkhianati perjanjian itu! Kau telah memberitahu Jendral Lucian tentang keberadaan kita bukan?! Kau benar-benar tega paman!!" Lekik Jessica dengan kata memerah menahan amarah.
"Apa? AKu tidak ada membocorkan dengan siapapun. Mengapa Lucian bisa tau?" Bingung Paman Jessica.
Jessica tiba-tiba teringat dengan gelang yang Calandra pakai. Dia pun berlari menuju ke ruang bawah tanah dimana dia meny3kap Calandra. Sesampainya di sana, Jessica langsung masuk ke dalam sel dan menarik tangan Calandra dengan kasar.
"AWWW!!" Pekik Calandra.
Jessica menarik gelang itu dengan kasar, lalu dia menelisik gelang itu lebih dalam. Kemudian, Jessica mengambil batu yang ada di sana dan menghancurkan liontin gelang itu
BRAK!!
"JANGAAANN!! ITU GELANG PUNYA GULAAA!! KENAPA DI HANCULIN!!" Pekik Calandra, saat dia akan mendekat. Jessica malah mendorong kasar tubuhnya.
Sebuah cip terlihat, perlahan Jessica mengambil cip itu dan memeriksanya. Benar, itu adalah GPS yang di desain sangat kecil hingga membuat dirinya kec0l0ngan. Tatapan Jessica beralih menatap Calandra. Dengan penuh emosi, dia menc3kik leher Calandra dengan kuat.
"KURANG AJA4ARR!!"
"Ug*hh!!"
Calandra merasakan sesak nafas, dia tidak bisa menghirup oksigen. Terlihat, air mata di sudut matanya. Memperlihatkan, betapa sakit yang dia rasakan saat ini.
"Bunda." Lirih Calandra.
PRANG!!
__ADS_1