Kembar Genius Milik Ceo Galak

Kembar Genius Milik Ceo Galak
Calah apa aku lupana


__ADS_3

Elouise menangisi ikannya yang sudah mati, dia menguburkan ikan itu di bawah pohon mangga. Sesekali, bocah itu menghapus air matanya. Caramel merasa bersalah, sedari tadi dia tak berani berucap satu kata pun pada Elouise.


"Sudahlah El, besok papa belikan yang baru yah. Maafkan adikmu," ujar Alan yang berdiri di samping putranya itu.


Elouise berdiri, matanya menangkap Caramel yang tengah menatapnya. Melihat tatapan datar Elouise, Caramel pun menjadi takut. Dia langsung bersembunyi di balik tubuh Azalea.


"Caramel, minta maaf sama abang." Seru Alan dengan tegas. Sesayang apapun dia dengan putrinya, Alan tidak akan membedakan mereka. Salah tetap salah, biarpun itu anak terakhirnya.


Caramel keluar dari tempat persembunyiannya. Dia berjalan kecil menghampiri sang abang, tangannya sedari tadi saling meremas untuk menyalurkan rasa gugupnya.


"Abang, Calamel minta maap yah. Becok Calamel suluh Papa beli. Tapi abang jangan malah yah," ujar Caramel dengan sendu.


"Kamu yang salah, kenapa Papa yang minta maaf?" Ujar Elouise dengan datar.


Mendengar itu, Caramel kembali tertunduk. Otaknya berpikir keras dengan apa yang Elouise ucapkan.


"Cebental." Caramel berlari masuk ke dalam rumah, membuat tatapan mereka terlihat bingung.


Alexix menyenggol lengan Elouise dengan lengan nya. "Heh, kamu beneran marah padanya?" Tanya Alexix.


"Enggak lah, mana tega. Biar dia kapok aja." Jawab Elouise dengan enteng.


Mana tega dia memarahi adik kesayangannya itu, Elouise tak akan setega itu. Dia hanya membuat Caramel bertanggung jawab atas perbuatannya. Tak semena-mena hanya karena anak itu adalah anak kesayangan di rumah.


Tak lama, Caramel kembali dengan sebuah celengan kelinci. Dengan riangnya, dia memberikan celengan itu pada Elouise. Celengan itu adalah celengan kesayangan Caramel. Anak menggemaskan itu sudah menabung di celengan tersebut sejak umurnya tiga tahun. Jelas saja, jika Celengan itu sangat berarti untuknya.


"Nah abang, pecah kan caja. Buat beli ikan yang balu," ujar Caramel.


"Benarkah? Kemarikan celenganmu, biar abang hancurkan." Seru Elouise.


Dengan berat hati, Caramel memberikan celengannya pada Elouise. Dia menatap sedih celengannya yang mungkin sebentar lagi abangnya akan pecahkan. Sejenak, Caramel memejamkan matanya.


"Maapkan mamakmu ini my labbit, nanti mama beli anakmu yang balu yah. Hais ... calah apa aku lupana. Cedih kali pelacaanku." Batin Caramel.


"Nah."


Caramel membuka matanya saat dia mendengar suara Elouise yang sepertinya tengah menyodorkan sesuatu untuknya. Matanya mengerjap bingung saat melihat celengan kelincinya yang masih utuh. Lalu, tatapannya beralih menatap Elouise yang menatapnya dengan senyuman hangat nya.


"Abang nda pecahin celengan Calamel?" Tanya Caramel dengan tatapan tak percaya.


"Bukan di pecahin, uang celengannya di tambah lah itu." Celetuk Alexix.


Senyum Caramel mengembang, dia meraih celengannya dan mengintip. Benar saja, terlihat ada uang baru yang masuk. Tatapannya beralih pada Elouise, senyum manis anak itu masih bertahan.

__ADS_1


"Telimakacih abang! Abang baik hati kali! Cayang abang! Nda calah aku lupana." Pekik Caramel dengan senang.


Caramel berbalik, dia berniat akan mengembalikan celengannya ke dalam kamar. Namun, Caramel bukanlah anak yang kalem. Dia sangat ceroboh.


"CARAMEL!! JANGAN BERLARI!!" Teriak Alan saat melihat putrinya berlari.


Caramel menghiraukannya, dia tetap berlari menuju pintu kaca sembari memeluk celengannya. Naasnya, Caramel tak melihat ada batu. Kakinya tak sengaja tersandung batu hingga membuatnya dirinya terjatuh.


DUGHH!!


"ARGHH!!"


"CARAMEL!!" Pekik ke empat orang itu, dan langsung berlari menghampiri Caramel.


Alan langsung membangunkan putrinya, dia terkejut saat melihat lutut putrinya berdarah. Namun, Caramel justru terfokus pada celengannya yang rusak.


"Papa ...,"


"Ayo, papa obatin lukanya." Ujar ALan, berniat ingin menggendong putrinya.


"CELENGAN!! CELENGAN CALAAMEEEELL!!!" Teriak histeris anak itu.


Tatapan mereka langsung beralih pada celengan yang sudah hancur itu. Keduanya terkejut saat melihat Caramel yang berjongkok dan mengambil serpihan pecahan itu.


"Nda bica ku melubah nacibmu." Lirih Caramel.


Hari ini, adalah hari pertama Caramel sekolah. Alan memasukkan putrinya itu ke dalam sekolah playgroup. Selain belajar, putrinya akan mengasah kemapuan berpikirnya sembari bermain. Alan berharap, putrinya akan bisa berkembang dan bersosialisasi bersama teman sebayanya.


"Masih sedih?" Tanya Alan ketika melihat putrinya yang masuk ke ruang makan dengan memakai seragam barunya.


"Macih, tapi nda papa. Nanti di ganti cama yang balu." Ujar Caramel dengan sendu.


Melihat kesedihan putrinya, Alan merasa kasihan. Dia mungkin bisa membeli baru, tapi celengan itu adalah celengan kesayangan putrinya.


"Ini bekal Caramel di sekolah, jangan jajan. Ingat," ujar Azalea yang datang dengan membawa tas beserta bekal Caramel.


"Kok dua?" Tanya Caramel saat melihat dua kotak makan


"Satunya buat Cala, satunya buat Caramel." Jawab Azalea.


mendengar nama Cala, senyum Caramel mengembang. itu Artinya, Calandra dan dia akan menempati satu sekolahan yang yang sama. Dia dan Calandra sangat dekat, dan sering bermain bersama.


"Calamel belangkat cama om Legan aja deh." Seru Caramel."

__ADS_1


"Hah?" Azalea terbengong saat putrinya meraih tasnya dan menggendongnya.


"Caramel, biar Papa yang antar." Seru Alan.


"NDA UCAAAHH!! MAU NAIK MOBILNA OM LEGAAN AJA!!" Seru Caramel, berlari keluar mansion.


Alan dan Azalea menatap putrinya dengan tatapan melongo. "Dia kenapa seneng banget sama si Cala sih!" Kesal Alan, dia begitu posesif dengan putrinya.


"Namanya juga tumbuh dari kecil, wajar jika dekat."


Benar, Reagan dan Airin memutuskan untuk membangun rumah di depan mansion Alan. Walau rumahnya tak sebesar dan semewah Alan. Tapi bisa di katakan, rumah Reagan sangat besar. Dia memilih tinggal di sana lantaran dia bisa dekat dengan adik serta keponakannya.


Caramel telah sampai di depan rumah Reagan, nafasnya terdengar memburu. Dia sangat lelah berlari dari mansionnya sampai ke rumah Reagan. Apalagi, jarak rumahnya yang lumayan jauh untuk anak seumurannya.


"Paman, panggilkan Om na Calamel. Culuh dia antal Calamel," ujar Caramel pada bodyguard yang berjaga."


"Siap non." Bodyguard itu langsung masuk ke dalam untuk memanggil sang tuan.


Sementara Caramel, dia beralih menatap bodyguard lain yang sedang istirahat di teras samping. Dia melangkah mendekat dan melihat apa yang sedang bodyguard itu lakukan.


"Widiihhh dapet es dali mana itu? Bagi dong. Nda belkah kalau nda bagi-bagi. mana gelasna, Calamel mau cegelas " Pekik Caramel.


Ketiga bodyguard itu tampak terkejut dengan kedatangan Caramel, salah satu dari mereka memberikan segelas es teh pada Caramel. Padahal hari kasih pagi, tapi para bodyguard itu sudah meminum es teh.


"Nah gitu, jadi tambah elat hubung kita. Nda calah aku lupana," ujar Caramel dengan senyum mengembang.


Sedangkan di ambang pintu, Reagan terlihat sedang berkacak pinggang sembari mencari keberadaan anak yang mencarinya.


"Mana? Kayanya ada si gula?" Tanya Reagan pada bodyguard.


"Tadi ada tuan, dia disi ... nah itu!!" Pekik bodyguard tersebut menunjuk Caramel yang sedang duduk bergabung dengan bodyguard yang sedang istirahat.


Melihat apa yang Caramel minum, membuat Reagan buru-buru menghampiri keponakannya itu.


"ASTAGAAA!! GULA! LU TUH KALAU DI RUMAH OM JANGAN CARI PENYAKIT NAPAAA!! NANTI BAPAK LO TUH NGAMUUUKK!!" Pekik Reagan sembari mengambil gelas es itu dari tangan Caramel.


Hal Itu, tentu membuat Caramel kesal. Kesayangannya di ganggu oleh om nya itu. Bocah itu pun berdiri, dna menatap Reagan dengan tatapan tajam.


"Pelit kali! Nanti celet lejekina, balu tau laca!" Pekik Caramel.


"Laca apa? Lacakan hatikuu huhuhu." Ledek Reagan sembari menggerakkan lehernya.


Wajah Caramel merah padam, dia sangat kesal Reagan meledek cara bicaranya.

__ADS_1


"OM NDA CADAL YAH!! ANAKNA OM JUGA KAYAK CALAMEL!! NDA NGACA DACAAAALL!! CALAH APA AKU LUPANA!!"


__ADS_2