
2 minggu kemudian
Di sebuah gedung, tampak di dekor dengan sangat mewah. Banyak sekali balon dan hiasan lainnya yang turut meramaikan gedung itu. Banyak sekali anak-anak berlarian kesana dan kemari dengan membawa sebuah balon. Terlihat, seorang anak gembul menggemaskan dengan memakai gaun merah mudanya tampak tengah cemberut.
"Calamel, ayo. Katana mau makan kue na." Calandra datang, anak itu kini terlihat sangat tampan. Dengan memakai tuxedo hitam dan rambut yang di sisir rapih.
"Nda mau lah, Kecel kali aku." Kesal Caramel.
Alan datang menghampiri putrinya, dia sedikit menundukkan tubuhnya agar melihat putrinya lebih dekat. Matanya menatap lekat sang putri yang tengah membuang muka darinya.
"Anak Papa kenapa hm? Ini acara spesial kamu loh. Selamat yah, anak cantik Papa sudah berumur lima tahun sekarang. Semoga, tahun ini kamu bisa lancar ngomong R nya." Ujar Alan sembari mengusap rambut putrinya.
"Hadiahna mana? Papa kemalen bilang ada hadiahna. Ini, hadiahna gedung becal, adana balon doang." Kesal Caramel.
Mendengar itu, Alan tersenyum. Dia mengeluarkan sebuah ponsel dari saku jas nya. Lalu, dia menunjukkan sesuatu pada putrinya itu.
"Lihatlah." Unjuk ALan.
Caramel menatap dengan seksama sebuah video yang Alan berikan. Terlihat, sebuah kapal pesiar yang berlayar di laut lepas. Mata Caramel terbelalak lebar, dia langsung mengambil ponsel Alan untuk melihat nya lebih dekat.
"Woaaahh!! Kapal na becaall!!" Lekik Caramel.
"Kapalnya sudah ada di pelabuhan. Nanti malam kita akan lihat kapalnya." Ujar Alan
"Makcudna, kapal ini buat Calamel?" Tanya Caramel dengan wajah melongo.
Alan mengangguk, bibirnya melengkungkan senyuman lebar. Namun, senyum Caramel justru surut. Dia melirik ke arah Calandra dan berjalan mendekati sang Papa. Lalu, Caramel sedikit mendekatkan bibirnya pada telinga Alan.
"Ini halgana mahal kali, papa nda jual ginjal ci?" Bisik Caramel yang mana membuat mata Alan terbelalak lebar.
"Heh! Papamu ini kaya tau!" Lekik Alan.
"Iya kah?" Sewot Caramel dengan mata mendelik.
"Calamel nda ada di kacih uang jajan, Cala celalu di kacih cama Om Legan. Padahal om Legan kele." Seru Caramel.
Calandra memutar bola matanya jengah, ayah dan anak di hadapannya sangat aneh. Calandra pun memilih menjauh, dia mendekati meja cake yang tak jauh dari tempatnya berdiri tadi. Saat dia akan meraih kue itu, tiba-tiba saja ada seseorang yang mengambilkan untuknya.
"Nih." Seorang anak perempuan memberikan kue pada Calandra. Calandra menerimanya, tak lupa dia tersenyum pada anak itu.
__ADS_1
"Terima kacih." Ujar Calandra.
"Sama-sama, kau manis sekali." Ujar anak itu.
"Natasya."
Calandra terhenyak sejenak setelah mendengar suara itu, dia mengangkat pandangannya ke depan. Betapa terkejutnya dia saat melihat Arley yang berada di sana. Tatapan keduanya bertemu, Arley sama terkejutnya dengan Calandra. Walaupun Arley tahu, jika mereka pasti akan bertemu di acara Caramel.
"Hei nak." Sapa Arley.
Arley berlutut, dia meraih bahu Calandra. Hatinya menghangat, dia sangat bahagia kembali bertemu dengan Calandra. Setelah belakangan ini, dirinya sibuk dengan permasalahan putrinya dan mengurus pengajuan cerainya.
"Daddy?"
Deghh!!
Arley mengerjapkan matanya pelan, dia merasa ada yang salah dengan pendengarannya. Calandra memanggilnya daddy, dia merasa ini sebuah keajaiban
"Kau menyebut ku apa?" Tanya Arley dengan mata memerah menahan tangis.
"Daddy, om Daddy na Cala ci? Ayah bilang begitu, apa Daddy nda tinggal baleng cama mommy?" Arley menghapus air matanya yang berada di sudut. Lalu, dia kembali menatap Calandra yang menatapnya dengan raut wajah yang bingung.
Arley menoleh pada putrinya, "Nata, dia adalah Calandra. Adikmu," ujar Arley.
"Anak mommy juga?" Tanya Natasya dengan raut wajah yang heran.
Arley menggeleng, "Bukan, nanti akan daddy jelaskan." Ujar Arley.
walau Natasya penasaran, tetapi dia memilih diam. Dia mengamati wajah Calandra yang benar-benar mirip dengan sang daddy.
Saat Arley akan beranjak, tiba-tiba dirinya melihat sepasang high heels berdiri di hadapannya. Kepalanya langsung mendongak, matanya menatap siapa yang datang menghampiri Calandra.
"Sherly." Lirih Arley.
Dengan segera, Arley berdiri. Bibirnya menyunggingkan senyum manis, matanya menatap teduh wanita yang dirinya cintai. Pria itu, seakan kembali merasakan jatuh cinta pada orang yang sama. Kini, keadaan Sherly bahkan jauh lebih baik. Dia sudah sehat dan bisa beraktifitas dengan normal.
"Tolong, jangan dekati putraku." Ujar Sherly sembari menarik Calandra menjauh.
"Dia juga putraku," Ujar Arley yang mana membuat Sherly menatapnya tajam.
__ADS_1
"Dia hanya putraku Arley! Semua yang terjadi, itu adalah ulahmu sendiri! Mungkin, di dalam darahnya terdapat DNA dirimu. Tapi, sampai kapanpun, tidak akan ku ijinkan dia untuk bersamamu!"
"Ayo Cala!" Sherly menarik tangan Calandra pergi.
Namun, baru beberapa langkah. Calandra menarik tangannya. Dia kemudian berbalik dan berlari menghampiri Arley. Seketika itu, Arely kembali berlutut. Dia merentangkan tangannya. Siapa sangka, jika Calandra benar-benar memeluknya. Sherly pun sangat terkejut atas apa yang Calandra lakukan.
"Janan cedih, kata ayah. Nanti kapan-kapan daddy boleh main cama Cala." Ujar Calandra.
"Terima kasih sayang, kau memang putra daddy yang terbaik." Ujar Arley sembari meng3cup pelipis putranya.
Sherly tak tinggal diam, dia menarik bahu Calandra. Tidak kasar, tetapi membuat Calandra mau melepaskan pelukannya. Setelah itu, Sherly menarik tangan Calandra untuk pergi.Namun, Calandra masih sempat-sempatnya berbisik di telinga Arley.
"Nanti Cala bantu lelehin hati na mommy lagi okay." Ujar Calandra sembari mengedipkan sebelah matanya.
Senyum Arley mengembang, hatinya sungguh menghangat dengan respon yang Calandra berikan. Setelah Calandra jauh, Arley beranjak berdiri. Dia mengamati kepergian Calandra dan Sherly dengan tatapan teduh.
"Daddy, ayo kita pulang." Ajak Natasya sembari memegang tangan Arley.
"Ayo." Sahut Arley
Arley membawa Natasya pergi. Tanpa Arley sadari, Sherly berbalik dan menatap kepergian Arley membawa putri angkatnya. Tatapan Sherly pada Arley masih sama, dia masih mencintai pria itu. Pria yang menjadi ayah untuk putranya.
Calandra mengamati apa yang Sherly tatap, dia bisa melihat dengan jelas jika Sherly masih memiliki rasa dengan Arley.
"Bohong itu nda boleh, apalagi bohong coal laca. Kata ayah, nanti dia na kebulu di ambil olang. Halus cat cet cat cet makana." Celoteh Calandra.
Sherly terkejut, dia menjadi salah tingkah atas perkataan yang Calandra lontarkan.
"Aish, tau apa kamu soal cinta boy." Ujar Sherly sembari mengacak gemas rambut Calandra.
"Cala tau, cinta itu ... cepelti Cala yang cuka Calamel." Ujar Calandra sembari menatap Caramel yang sedang berada di gendongan Alan.
Sherly terkejut, dia akan bertanya tentang perasaan putranya itu. Namun, kejadian heboh membuat mereka yang ada di sana mematung.
"BANG REAGAAANN!! ISTRINYA MAU LAHIRAN INI!!!"
___
Semoga lulus cepet, sudah lelah saya terus mengecek😓
__ADS_1