Kembar Genius Milik Ceo Galak

Kembar Genius Milik Ceo Galak
Penyesalan yang tak berarti


__ADS_3

Airin berdiri di samping suaminya, Reagan pun langsung merangkul pinggang Airin dengan posesif. Wajahnya terlihat sombong, dia ingin menunjukkan pada Farel. Jika dirinya, berhasil menghamili Airin.


"Apakah anda pikir, seorang wanita yang memiliki rahim tidak bisa memiliki anak?" Tanya Reagan sembari menatap dalam mata Farel yang masih menatap mereka dengan mata melebar.


"Akan ada banyak kesempatan, selama wanita itu masih memiliki rahim. Jika mungkin, kamu belum bisa menghamilinya dan ternyata Airin sehat. Itu bukan salahnya, tapi salahmu yang tidak becus." Ujar Reagan merendahkan.


"Kau!!" Farel mengepalkan tangannya, hatinya tercubit saat melihat Reagan yang begitu posesif mengecup pelipis AIrin.


Farel kembali mengingat kebersamaan nya dengan Airin, dia benar-benar mencintai wanita itu. Mungkin, sampai saat ini. Walaupun dia masih bersama Sindi. Namun, Tak dapat Farel pungkiri. Airin, istrinya yang sangat baik.


"Ayo kita pulang sayang." Ajak Reagan sembari melirik Farel. Dia ingin melihat bagaimana ekspresi pria itu.


Airin mengangguk, keduanya melangkah pergi. Namun, saat berpapasan dengan Farel. Reagan berbisik tepat di samping telinga pria itu.


"Jangan-jangan ... Kualitas milikmu rendah. Tuan, kau harus berhati-hati. Mana tau, anak itu ... bukan anak mu. Wanita bisa lebih jahat dari pria." Reagan terkekeh kecil, dia melanjutkan langkahnya bersama Airin.


Tangan Farel terkepal kuat, urat-urat di tangannya sangat nampak jelas. Matanya memerah menahan amarah yang menggebu di hatinya. Berbeda dengan Reagan yang tampak tersenyum puas.


.


.


.


BRAK!!


Farel membuka pintu dengan keras, dia membawa masuk Ryan dengan raut wajah yang tegang. Terlihat, Sindi keluar dari kakar dengan raut wajah yang terkejut.


"Mas? Ada apa? Kenapa kamu membuka pintu kasar seperti itu?!" Pekik Sindi.


Farel tak banyak bicara, dia menyerahkan Ryan yang sedari tadi menangis ketakutan. Sindi langsung menerima putranya, dia masih memperhatikan Farel yang terlihat marah.


"Mas, ada apa denganmu? Kenapa kamu kasar dengan Ryan hah?! Bukanlah kamu ingin mengajaknya berbelanja?!" Pekik Sindi dengan kesal.


"Jujur padaku, siapa ayah kandung Ryan?!" Sentak Farel.

__ADS_1


Degh!!


Mata Sindi terbelalak lebar, jantungnya berdegup kencang. Matanya menatap Farel dengan mata berkaca-kaca. "Apa maksudmu mas? Ryan anak kamu lah! Kamu yang tahu persis tentang kesucianku!" Pekik Sindi.


BRAK!!


Farel menendang meja sofa dengan kuat, wajahnya memerah. Emosinya sudah sampai di ubun-ubunnya. Jawaban Sindi, tak membuatnya tenang.


"Kau lupa? Aku bukan pria pertama untukmu, Kau lupa dengan hal itu hah?! Jangan berlagak sok suci, aku tahu bagaimana kebiasaanmu dengan mantan-mantanmu." Sentak Farel.


"Mas! Ryan anakmu! Setelah kita menikah, Ryan baru hadir di rahimku! Kenapa kamu memfitnahku seperti itu!" Seru Sindi dengan suara bergetar.


Sindi menurunkan Ryan di sofa, anak kecil itu terus menangis menatap kedua orang tuanya yang bertengkar. Dia tak bisa apapun selain menangis ketakutan.


"Hal itu tak menjamin dia anakku kan?! Lihat, Airin bisa hamil dengan suaminya saat ini!" Bentak Farel.


"Airin? Jadi kamu habis bertemu dengan mantan istrimu lagi hah?! Pantes saja kamu mencurigaiku! Ngomong apa dia sama kamu hah?! Kamu percaya dengan omongan wanita licik itu?!" Pekik Sindi yang juga tersulut emosi setelah mendengar nama Airin.


Farel menunjuk Sindi, "Dengar! Yang wanita licik itu kamu, bukan Airin! Sahabat yang merebut suami sahabatnya, bukanlah wanita baik. Dan kamu, termasuk predikat pelakor berkedok sahabat. Apa kamu tidak paham bagaimana level diri kamu sendiri hah?! Jangan lagi kamu menjelekkan Airin!"


Air mata Sindi luruh, perkataan Farel sungguh menyakiti hatinya. Tangannya terkepal kuat di sisi tubuhnya, menahan emosi yang siap meledak kapan saja.


"ITU KARENA KAMU YANG MENGGODAKU! KAMU YANG MENGGODAKU SI4LAN!!"


Degh!!


Farel pergi begitu saja dari hadapan istrinya, dia memasuki kamar mereka dan menutup pintu. Lalu, membanting pintu dengan keras. Sindi terduduk lemas di sofa, air matanya terus berjatuhan.


"Airin Airin dan Airin! Mereka sudah bercerai, kenapa nama itu selalu menghantui rumah tanggaku!!" Geram Sindi sembari mengepalkan tangannya.


Sindi mengingat momen dimana Farel terus menyebut nama Airin. Dia yang sebagai istri Farel saat ini, begitu sakit saat mendengar nama itu. Dia teringat, saat dia memasakkan Farel sarapan. Pria itu langsung memakannya. Namun, baru kunyahan pertama. Farel sudah memuntahkannya.


"Kamu bisa masak gak si?!" Omel Farel.


"Maaf, aku baru belajar masak. Kamu kan tau, aku wanita karir. Setelah aku melahirkan anak kita, kamu menyuruhku untuk di rumah saja. Jadi, aku tidak berbakat dengan urusan dapur. Lagian, kenapa kamu gak cari pembantu aja sih!" ujar Sindi dengan sedikit kesal.

__ADS_1


Brak!


Farel menggebrak meja, matanya menatap nyalang ke arah Sindi. Apalagi, saat Sindi mulai berani menyuruhnya.


"Apa yang kamu bisa hah?! Airin saja bisa berkarir sambil mengerjakan pekerjaan rumah. Dia bisa mengurusku dengan baik! Dia memberiku pelayanan yang baik! Dia selalu tampil cantik walau dia sibuk. Sedang kan kamu ...,"


Farel menatap penampilan Sindi yang tak begitu menarik. Istrinya itu, memakai daster dengan rambut yang di cepol. Bahkan, wanita itu belum sempat membersihkan dirinya.


"Mengurus penampilan saja kamu tidak bisa." Ujar Farel dengan suara rendah.


Tentu saja, perkataan Farel yang menghina dirinya membuat Sindi sakit hati. Apalagi, dirinya baru saja melahirkan. Wajar saja jika dia kerepotan mengurus bayinya.


"MAS! AKU SEPERTI INI KARENA KAMU! KAMU YANG MAU ANAK KAN?! ADA KAMU BANTUIN AKU JAGA RYAN?! SEDANGKAN AIRIN?! DIA TIDAK MEMBERIMU ANAK!! MUNGKIN WANITA ITU TIDAK AKAN MERASAKAN, BAGAIMANA MENJADI SEORANG IBU SEKALIGUS ISTRI!!" Teriak Sindi.


"Tutup mulutmu! Airin, bahkan bisa lebih baik darimu jika dia menjadi seorang ibu. Seandainya aku tidak menikah dengamu, mungkin saat ini aku masih bersama istriku. Aku jadi berpikir, bahaa aku menyesal telah menikah denganmu."


Degh!!


Sindi mengusap air matanya, dia menghentikan memorinya saat Ryan berdiri sembari memegang bahunya. Anak itu menangis sembari menatap ibunya yang juga menangis. Dengan lembut, Airin memangku Ryan dan memeluk putranya itu.


"Maafkan mama sayang. Maafkan mama." Lirih Sindi.


Sementara itu, Reagan dan Airin baru saja sampai di kediaman Diandra. Keduanya sudah di sambut oleh Erlangga dan juga Diandra di depan rumah. Raut wajah mereka terlihat sangat bahagia.


"Sini, biar daddy yang bawa Cala masuk. Kalian langsung ke ruang tengah saja." Erlangga meraih Calandra yang masih tertidur di gendongan Reagan.


Erlangga sangat menyayangi Calandra, biar pun dia tahu jika Calandra bukanlah cucu kandungnya. Baginya, Calandra sama-sama seperti cucunya yang lain. Bahkan, sampai saat ini. Mereka masih menyembunyikan status Calandra yang sebenarnya dari anak itu sendiri.


"Reagan, ajak istrimu masuk. Kasihan, lagi hamil besar di suruh berdiri terus." Titah Diandra.


"Ayo sayang." Ajak Reagan.


Airin mengangguk, dia tersenyum senang saat bahunya di rangkul oleh Diandra. Mertuanya, selalu memperlakukannya dengan lembut. Bahkan, saat dirinya belum kunjung hamil. Diandra lah yang selalu mengajaknya ke dokter kandungan terbaik agar dia bisa hamil.


"Kesakitanku dulu, tidak ada apa-apanya di bandingkan dengab kehidupan bahagiaku sekarang." Batin Airin.

__ADS_1


___


Mau lagi gak? Siapa yang mau up lagi. Acungkan tangan kalian🥳🥳🥳🥳


__ADS_2