
Cklek!
Arley memasuki kamar putrinya, hari ini dia kembali hanya untuk membawa sang putri pergi. Dia tak mungkin meninggalkan putrinya sendiri, walaupun Natasya hanyalah putri angkatnya.
"Daddy!" Natasya berlari, dia menerjang tubuh Arley dengan pelukannya
Arley berlutut, dia membawa putrinya ke dalam pelukan hangatnya. Arley mengecup lembut pipi putrinya.
"Kau baik-baik saja sayang, hm?" Ujar Arley sembari menangkup wajah kecil putrinya.
"Ya, dimana mommy daddy? Sudah beberapa hari aku tidak melihatnya," ujar Natasya.
Arley menunduk, dia meriah kedua tangan putrinya. Sejenak, Arley menghela nafas pelan. Dia mengumpulkan keberaniannya untuk berkata hal, yang mungkin akan mengejutkan putrinya.
"Princess, daddy dan mommy ... sudah tidak bisa bersama lagi." Ujar Arley sembari menatap lekat mata putrinya.
Natasya mengerjap pelan, matanya berkaca-kaca. "Maksudnya daddy apa? Enggak bisa bersama lagi bagaimana? Daddy dan mommy ingin membawa Natasya ke Jepang kan? Berpisah yang bagaimana maksud Daddy?"
Arley memejamkan matanya, tak mungkin putrinya tak paham. Natasya hanya mencoba mengelak, berharap apa yang daddynya bicarakan adalah sebuah kesalahan.
"Natasya, daddy dan mommy memutuskan untuk bercerai."
Natasya menggeleng ribut, air matanya jatuh membasahi pipi mulusnya. Isakan kecil terdengar, hatinya begitu sakit.
"Natasya ikut siapa? Natasya mau tinggal sama mommy dan daddy. Kalau Natasya minta kalian tetap bersama, daddy akan mengabulkannya bukan? Daddy gak lupa janji daddy kan? Bahwa apapun yang Natasya inginkan, daddy pasti akan mengabulkannya. Daddy ingat kan janji daddy?!" Natasya menyentak tangannya yang ada di dalam genggaman sang daddy.
"Nata, bukan semua hal. Ini berbeda sayang, mommy dan daddy tidak bisa bersama lagi. Besar nanti, kamu pasti paham mengapa kami tak bisa mempertahankan pernikahan kami." Ujar Arley.
"Enggak! Mommy selama ini selalu jadi ibu yang baik untuk Natasya. Dia juga selalu mencintai daddy, dia selalu menunggu daddy pulang kerja. Perhatian sama daddy, tapi Daddy selalu mengabaikan mommy. Mommy sering nangis, tapi setiap di tanya mommy selalu bilang gak papa. Kenapa daddy sakitin mommy?!" Sentak Natasya dengan tatapan tajam.
"Nata, semuanya tidak sesederhana yang kamu lihat." Ujar Arley.
Natasya menghindar ketika Arley ingin menyentuhnya, "Natasya gak mau ikut daddy! Natasya mau ikut mommy!" Sentak Natasya.
Arly menghela nafas kasar, dia kemudian beranjak berdiri. Arley sudah menyiapkan diri, jika putrinya akan membencinya atas perceraian yang Arley lakukan sepihak.
"Mommy ada di dalam penjara." Perkataan Arley membuat Natasya terdiam. Air matanya luruh, dia diam bak patung. Tentu, Arley di buat panik.
"Sayang, bicara sesuatu." Ujat Arley sembari mengguncang bahu putrinya.
Mata Natasya bergerak menatap Arley, air matanya masih tetap luruh. "Kenapa mommy bisa di penjara?" Tanya Natasya dengan suara bergetar.
"Mommy telah melakukan tindak kejahatan, daddy ingin menjemputmu. Kita ke indonesia sekarang yah, kau pasti ingin melihat mommy kan?" ujar Arley
"Mommy gak mungkin melalukan itu Daddy, mommy wanita yang baik. Dia tidak mungkin melakukannya." Lirih Natasya.
__ADS_1
Arley membawa putrinya ke pelukannya, Natasya yang tak tahan lagi langsung menumpahkan tangisnya di bahu sang daddy. Tangan mungil itu mengeratkan pelukannya di leher Arley.
"Syutt, daddy selalu ada bersamamu." Bisik Arley di telinga putrinya.
.
.
Sedangkan di rumah sakit, suasana masih terlihat tegang. Calandra mendekati Sherly, mata bulatnya mengerjap pelan. Melihat putranya datang mendekatinya, Sherly segera berlutut. Bibirnya melengkungkan senyuman haru, matanya menatap sosok yang ia rindukan dengan mata berkaca-kaca.
"Putra mommy." Ujar Sherly dengan suara bergetar, perlahan tangannya meraih kedua pundak Calandra dan menyentuhnya.
"Tante yang melahilkan Cala?" Tanya Calandra dengan tatapan polosnya.
Sherly mengangguk, tangannya bergerak menangkup pipi Calandra. Putranya tumbuh dengan sehat, dia bahagia atas hal itu. Sherly sempat berpikir, jika dirinya tak bisa lagi bertemu dengannya. Berkali-kali dia berusaha mengakhiri nyawanya, dia putus asa. Namun, saat Calandra datang. Sherly langsung tahu jika anak itu adalah putranya. Tak mungkin Jessica mengurung anak orang lain selain anak Sherly dan Arley.
"Mommy, panggil saya Mommy." Pinta Sherly.
Calandra mengerjapkan matanya perlahan, "Mommy."
Mendengar Calandra memanggil sebutan ibu pada wanita lain, membuat Airin memalingkan wajahnya. Dia langsung memeluk Reagan dan membenamkan wajahnya itu pada dada bidang suaminya.
"Iya, Mommy. Mommy nya Arion, Mommy merindukanmu nak." Sherly memeluk putranya dengan erat, hatinya melembut. Ini adalah momen yang dia rindukan. Putra yang dulunya masih dia gendong, kini sudah berdiri di hadapannya.
Airin mencengkram kuat belakang kemeja Reagan, hatinya sangat sakit. Ketakutannya adakah Calandra lebih memilih Sherly di bandingkan dengan dirinya. Airin tak sanggup kehilangan putranya.
"Aku gak sanggup hiks ..." Lirih Airin
Hati Reagan juga ikut sakit, dia harus bisa menerima keinginan Calandra. Jika memang nantinya Calandra akan memilih ikut dengan Sherly, mungkin dia akan merelakannya.
Calandra melepas pelukan Sherly, tangan mungilnya terangkat dan menyentuh pipi tirus ibu kandungnya. Tatapan Calandra beralih, dia menatap Airin yang tengah menatapnya dengan derai air mata.
"Bunda." Panggil Calandra.
Airin menghentikan tangisannya, dia menatap Reagan seakan bertanya. Reagan mengerti maksud Calandra, dia menganggukkan pelan kepalanya. Perlahan, Airin melangkah mendekat. Dengan di bantu Reagan, dia berlutut di hadapan putranya agar bisa mensejajarkan tubuh mereka. Tangan Calandra yang lain meraih pipi Airin.
"Kalian cama-cama ibu Cala, kenapa belantem? Cala nda cuka. Cala cayang kalian, bicakah kalian ulus Cala baleng-baleng?"
Deghh!!
Airin menatap Sherly, begitu pun sebaliknya. "Mommy." Panggil Cala yang mana membuat Sherly menatap putranya itu.
"Cala nda mau tinggalin bunda, Cala cayang cama bunda dan ayah. Cala nda bica tinggalin meleka. Ada adik bayi yang nantinya akan belmain dengan Cala."
Deghh!!
__ADS_1
Dada Sherly seperti terhantam sebuah batu besar setelah putranya menolak, dan memilih untuk tidak meninggalkan orang tua angkatnya.
"Cala tetap cayang Mommy, tapi Cala nda mau tinggalin bunda dan ayah."
Air mata Airin luruh, sebegitu sayang nya Calandra dengan dirinya. Dengan mata kepalanya sendiri, dia melihat Cala melepaskan tangannya dari pipi Sherly. Anak itu beralih memeluk dirinya yang mana membuat Air mata Airin terus turun.
"Cala macih ingat janji Cala, Cala nda akan tinggalin bunda." Lirih Calandra.
Reagan mengangguk, dia menghapus air matanya yang berada di sudut mata. Lalu, tatapannya beralih pada Lucian.
"Sebelumnya, saya menahan istri saya karena ingin memberikan Calandra kesempatan untuk memilih. Setelah mendengar pilihannya, saya berhak untuk menahannya disini. Tuan Lucian yang terhormat, Calandra sudah menentukan pilihannya. Dia tetap ingin, bersama ayah dan bundanya." Ujar Reagan dengan tegas.
Lucian membantu Sherly untuk kembali ke kursi roda, tampaknya wanita itu sungguh syok dengan jawaban Calandra.
"Baiklah, jika itu adalah pilihan Calandra. Saya tidak akan memaksanya lagi." Ujar Lucian dengan perasaan kecewa.
Lucian ingin berbalik pergi, membawa adiknya pergi dari sana. Namun, perkataan Airin membuat langkahnya terhenti.
"Kau bisa bertemu dengan Calandra kapanpun kamu mau, Sherly."
Deghh!!
Lucian mengarahkan kursi roda Sherly kembali menghadap Airin, terlihat jelas raut wajah keterkejutan keduanya.
"Airin." Lirih Sherly.
"Calandra tetap putranya, bagaimana pun di dalam darahnya mengalir darahmu dan juga suamimu. Sekeras apapun aku mengubahnya, dia tetap putramu. Temuilah kapanpun yang kamu inginkan, tapi biarkan Calandra tetap berada di keluarga kami." Ujar Airin dengan senyuman lembut nya.
Reagan dan semuanya turut tersenyum, rasa damai menghangatkan relung hati mereka.
Suasana yang tadinya tegang, menjadi menghangat. Calandra, dia bisa tersenyum lepas saat ini.
"Cala punya ibu tiga dan ayah tiga jadina." Pekik Calandra dengan tersenyum riang.
Mendengar itu, sontak Caramel menatap Calandra dengan tatapan melotot.
"ADA TIGA BAPAKMU LUPANA?! BICANAAA!! Pekik Caramel.
Tatapan Caramel beralih pada Azalea, " Mama, calilah bapak balu buat Calamel. Nda mau kalah Calamel cama Cala. Cali lima cekalian, bial catu-catu bapakna cama abang. Ada adek balu juga, maca nda ada bapak balu."
Wajah Alan sudah sedatar jalan tol, apalagi Reagan meledeknya.
"Hayooo, bapak baruuuu. Di pesen online aja Mel. Tok! tok paket! Asyiaapp!!
___
__ADS_1
kemarin up dikit kali yah, sorry yah kawan. Author nya lagi banyak acara kemarin, banyak undangan nikah😅 Hari ini triple up yah. Untuk find me daddy, malam ini up lagi kok tenang aja🥳