
"Maksudnya gimana bu? Kenapa anak saya di suruh keluar dari sini? Memangnya, anak saya salah apa?" Tanya Azalea tak terima.
Kepala sekolah itu tersenyum, dia menatap istri dari seorang CEO muda yang menutup rapat tentang kehidupannya yang sebenarnya. Siapa yang menyangka, jika di balik itu semua Ceo muda ini memiliki istri yang cantik serta anak kembar yang sangat menggemaskan.
"Nyonya, sebelumnya. Saya mohon maaf, suatu kehormatan bagi saya jika sekolah saya ini di percayakan untuk di titipkan penerus Tuan Alan. Namun, sepertinya kami tidak bisa mengajarkannya lagi,"
"Apa anak saya tidak bisa mengikuti pelajaran?" Tanya Azalea.
"Bukan, kedua putra kalian ... maaf sekali. Terlalu genius."
Azalea dan Alan saling tatapan, keduanya terbengong dengan penjelasan kepala sekolah itu. Lalu, tatapan mereka beralih menatap kedua putranya yang tengah menatap dirinya.
"Bukankah itu bagus? Pitra saya anak yang genius, kenapa dia di suruh keluar?" Heran Alan. Kali ini, dia angkat suara.
"Mohon maaf tuan, semua murid disini kami ajarkan sesuai pembelajaran yang berlaku untuk anak seusianya. Namun, jika kedua anak anda ikut belajar disini. Akan percuma, semua pelajaran yang sudah ia kuasai. Bahkan, pelajaran anak sekolah dasar pun mereka bisa. Dari pada anda menaruh mereka bersekolah disini, lebih baik anda menyekolahkan mereka secara khusus di sekolahan khusus anak genius."
"Begini bu, kami menyekolahkan mereka bukan untuk memaksa mereka mempelajari lebih dalam tentang kemampuan mereka. Namun, kami menyekolahkan mereka agar mereka bisa bersosialisasi dengan anak lainnya. Mereka masih kecil, belum waktunya untuk memikirkan hal-hal yang berat." Ujar Azalea, dia keberatan dengan pernyataan guru itu.
Jika si kembar di sekolahkan di sekolah anak genius, sudah pasti keduanya akan di sibukkan dengan belajar. Sementara, Azalea ingin kedua anaknya puas dengan masa kecilnya. Belum waktunya keduanya menyibukkan diri dengan belajar, Azalea khawatir keduanya akan stress nantinya.
"Saya memahami perasaan nyonya, saya ada rekomendasi sekolah anak genius khusus untuk si kembar. Di sana, bukan hanya belajar, mereka juga akan mengasah ide cemerlang mereka. Seperti, menciptakan mainan mereka sendiri. Hal itu, sangat menarik bagi anak-anak."
Azalea menatap Alan, dia masih ragu untuk menerimanya. Sementara Alan, dia berpikir keras.
"Tuan, nyonya. Sayang sekali jika kesempatan ini di lewatkan, kedua putra kalian sangat pintar." Seru kepala sekolah.
Alan menatap kedua putranya, terlihat keduanya paham pembahasan mereka.
"Lexi, El. Bagaimana? Kalian mau pindah di sekolahan anak genius?" Tanya Alan. Bagaimana pun, dia harus meminta pendapat kedua putranya.
"El nda bica, nanti El paling nda bica di cana." Cicit Elouise.
"Lekci ... nda cuka. Nanti nda belajal telus. Nda mau." Seru Alexix.
Alan menghela nafas pelan, jangankan bersekolah di sama. Home schooling saja anak itu sering kabur karena lelah belajar. Namun, Alan akui. Jika putranya cepat menangkap hal yang baru di ajarkan padanya.
"Baiklah bu, saya akan menarik anak saya dari sekolah ini." Putus Alan.
__ADS_1
Kepala sekolah itu tersenyum, dia mengambil sebuah kartu dan memberikannya pada Alan.
"Ini nama sekolah anak genius di kota ini, anda bisa mengunju ...,"
"Tidak perlu, saya berencana akan membuat sekolah sendiri."
"Apa?!"
.
.
.
Di mobil, Azalea masih terbengong. Dia tak percaya dengan apa yang suaminya katakan saat di ruangan kepala sekolah. Menyadari keterdiaman sang istri, Alan yang sedang menyetir pun menyempatkan untuk menoleh.
"Kenapa? Kau masih kepikiran dengan kata-kataku tadi?" Tanya Alan.
Azalea mengangguk, dia mencondongkan badannya pada Alan. Lalu, menatap lekat pria itu.
"Beneran, mas sebenarnya sudah pikirkan ini dari lama. Berhubung kepala sekolah itu membahasnya, jadi mas katakan saja." Jawab Alan.
"Mas! Gak usah berlebihan! Lebih haik, mereka di sekolahkan di sekolah lain saja," ujar Azalea keberatan.
Alan menghela nafas pelan, "Percuma, sekolah lain akan memberikan saran yang sama. Mereka akan menggunakan kesempatan ini untuk mengumpulkan anak genius dalam satu tempat. Karena, anak genius merupakan aset negara. Sebab, di masa yang akan datang. Anak-anak ini lah yang nantinya akan mengubah negara."
Azalea melihat sekilas ke arah kedua putra kembarnya yang tengah bermain ipad milik mereka masing-masing.
"Apa kau tahu Lea? Ada satu hal yang masih aku sembunyikan darimu," ujar Alan. Membuat Azalea mengerutkan keningnya.
"Apa?" Tanya Azalea.
"Game yang Alexix dam Elouise mainkan, itu di buat sendiri oleh Alexix."
"APA?!" PEkik Azalea dengan tatapan tak percaya.
Tiba-tiba, Azalea merebut ipad milik Elouise hingga membuat anak itu merengek. Azalea mengecek game yang Alan maksud. Hanya game sederhana, dimana game pemburu yang sedang mengejar buruannya dengan panah. Namun, jika di lihat siapa pembuatnya. Sungguh mengejutkan bukan?
__ADS_1
"Mama ekheee!! Ipad El." Rengek Elouise.
Azalea mengembalikan ipad milik Elouise, lalu dirinya kembali menatap Alan. Raut wajahnya masih terlihat kaget
"Serius mas? Hebat sekali," ujar Azalea.
"Aku yakin, kemampuan Elouise pun sama. Hanya saja, dia belum di beri fasilitas. Tunggu saja, kita lihat apa kemampuannya," ujar Alan dengan senyum mengembang.
Azalea merasa, ini sebuah mimpi baginya. Dirinya tak pernah bermimpi, akan memiliki anak genius. Memiliki anak yang sehat dan normal saja sudah termasuk hal yang patut di syukuri baginya.
Mobil Alan terhenti di parkiran rumah sakit, dia melepaskan sabuk pengamannya dan mengajak keluarganya keluar.
"Mama, napain kecini? El kan udah keling lukana." Elouise sudah panik, dia tak ingin lagi masuk rumah sakit.
"Yuk, ada yang mau ketemu El." Seru Azalea sembari menarik tangan putranya turun.
"Ekheee!! Nda mau! Nda mau! El dah cembuh! Kemalen makan telol gulungna dua doang. Nda banak kok ya!" Pekik Elouise.
Mendengar itu, Alan yang gregetan pun langsung menggendong Elouise. Seketika, tangisan anak itu pecah.
"Hiks ... nda mau! nda mau! Bocen kali ke.lumah cakit telus. Papa tau nda cih alti bocen? Nda tau apa? Papa nda lulus cekolahna yah!!"
Alan menghiraukannya, dia tetap membawa Elouise masuk. Sementara Alexix, dengan santai dia menggandeng tangan sang mama. Bodyguard Alan menjaga mereka, dari para orang nakal yang mengambil gambar. Beruntungnya, keadaan rumah sakit tengah sepi. Sehingga, mereka tak perlu merasakan khawatir.
"Jangan jauh-jauh sayang." Pinta Alan.
"Nanti ada awak media gimana." Cicit Azalea, merasakan ketakutan di sekitar.
"Ya gak papa, tinggal buat klarifikasi aja kalau kamu istri aku. Lagian, aku bawa bodyguard bukan takut mereka tau kamu istriku. AKu hanya takut, mereka menyebarkan berita buruk tentangmu." Ujar Alan sembari menatap lekat istrinya itu.
Alan mengambil tangan Azalea yang terbebas, dia menggandengnya. Kedua sudut bibirnya terangkat ke atas, menciptakan sebuah senyuman.
"Tunggu yah, nanti kita publish hubungan kita. Dunia harus tahu, kalau kamu istri aku."
Deghh!!
____
__ADS_1