Kembar Genius Milik Ceo Galak

Kembar Genius Milik Ceo Galak
Pertemuan pertama Lucian dan Calandra


__ADS_3

"CALAAA!!"


Calandra yang baru saja turun dari mobil, seketika terkejut mendengar suara lengkingan. Siapa lagi kalau bukan Caramel. Anak menggemaskan itu menghampiri Cala dengan tawa riangnya.


"Eh si gula, napa cari anak om gul?" Tanya Reagan yang berdiri di belakang Calandra.


Senyum Caramel luntur, seketika dia menatap Reagan dengan mendelik sinis. Melihat tatapan Caramel, bukannya kesal Reagan justru terkekeh.


"Gul gul gul di kila anggul kali! Calamel ... Calameeeelll!! Ngeltina nda cih?! Gula, ciapa itu gula hah?!" Omel Caramel.


"Ada apa gula?" Tanya Calandra yang mana membuat tatapan sinis Caramel menjadi tatapan berbinar.


Melihat ekspresi Caramel yang berubah, membuat Reagan mencibir pelan. "Katanya gak boleh panggil gula. Giliran Cala yang manggil gula, gak keberatan dia."


"Cala tau nda, Calamel mau punya adek loh!" Seru Caramel.


"Hah?! Punya adek?! Gimana ceritanya?!" Pekik Reagan dengan tatapan terkejut, dia beralih mencari Alan. Rupanya adik iparnya itu tengah berjalan ke arah mereka.


"Gimana celitana, kan ada bapakna!" Seru Caramel dengan kesal.


"Ish! Nyambung aja nih bocil." Kesal Reagan.


Reagan menghampiri Alan, dia menepuk bahu oria itu dengan keras. Hal itu, tentu membuat Alan meringis kesakitan. Pukulan Reagan tak main-main, dia amat merasakan perih di bahunya.


"Halah, jil4t lud4h sendiri. Katanya gak mau nambah, tapi itu nambah. Bilang aja, takut kalah saing kan." Ujar Reagan dengan membanggakan dirinya.


"Enak aja! Justru aku juga gak tahu kalau Azalea lepas KB." Alan yang kekesalannya baru mereda, di buat kesal lagi oleh Reagan.


"Oh ya?! Terus kamu marah sama adikku?" Tanya Reagan sembari berkacak pinggang.


"Gimana mau marah, ngeliatnya nangis aja udah gak tega," ujar Alan dengan helaan nafas pasrah.


Reagan mengangguk pelan, lagi-lagi dia memukul bahu Alan hingga membuat pria itu menatapnya dengan tajam.


"Ya gimana lagi, itu kan hasil kerja kerasmu setiap malam Hahahaha!!"


Wajah Alan tambah masam, Reagan memang senang meledeknya. Karena kesal, akhirnya Alan memutuskan untuk kembali memasuki mobilnya. Lalu menjalankannya pergi dari sana.


"Yah ngambek. Emang tukang ngambek tuh orang, lakik kok suka ngambek." Cibir Reagan


Reagan beralih menatap Calandra dan Caramel yang berjalan memasuki sekolah mereka dengan bergandengan tangan. Lalu, tatapan Reagan tak sengaja menatap seorang pria berpakaian hitam yang tengah menatap Calandra dan Caramel dari balik pohon.


"Orang itu mengawasi ... putraku atau Caramel." Gumam Reagan.


Reagan berjalan menghampiri pria itu. Melihat Reagan yang menyadari kehadirannya, seketika pria itu pun pergi. Teagan ingin mengejarnya, tetapi ponselnya justru berdering.

__ADS_1


"Aish!! Siapa sih yang nelpon." Gerutu Reagan.


Melihat siapa yang nelpon membuat Reagan menghela nafas pelan. Dia pun mengangkat dengan segera.


"Apa sayang?" Tanya Reagan setelah mengangkat panggilan istrinya itu.


"Aku mau ke rumah Azalea. Aku mau jenguk dia, boleh yah," ujar Airin.


Sepertinya Airin sudah tahu Azalea sedang hamil, sehingga istrinya itu meminta izin untuk pergi.


"Iya, boleh. Tapi di antar supir yah. Jangan sendiri, nanti siang aku jemput. Aku ada sidang habis ini." Ujar Reagan.


Mata Reagan mencari keberadaan pria tadi, tapi dia tak menemukannya.


"Aku harus bicarakan Alan soal ini. Terlihat sepele, tapi kita tidak tahu siapa yang menjadi incarannya." Batin Reagan.


.


.


.


Waktu pulang telah tiba, Caramel dan Calandra berjalan bersama menuju gerbang. Keduanya tampak bercanda karena Caramel menceritakan hal yang lucu.


"Cala udah di jemput belum?" Tanya Caramel.


"Cama, Calamel juga. Duduk di cana aja yuk." Ajak Caramel.


Caramel mengajak Calandra duduk di anakan tangga. Teman-teman mereka sudah banyak yang di jemput, mereka berdua masih harus menunggu.


"Dia ...,"


Lagi-lagi, Calandra melihat pria berpakaian hitam yang sebelumnya dia lihat. Pria itu, terlihat sedang mengawasinya. Calandra beranjak berdiri, dia mendekat pada pria yang tengah mengawasinya itu.


"Cala! Mau kemana?!" Tanya Caramel.


Calandra tidak menjawab, dia berlari menghampiri orang berpakaian hitam itu. Anehnya, orang itu tak berlari tak juga bersembunyi. Kali ini, dia berdiam diri. Menantikan Calandra yang datang menghampirinya.


"Om ciapa? Om mau apa? Kenapa liatin Cala telus?" Tanya Calandra dengan tatapan tajam.


Pria itu adalah Lucian. Kali ini, dia sendiri yang mengawasi Calandra. Pria itu sedikit merunduk, dan menatap Calandra yang menatapnya tajam.


"Arion Edmonia, itu namamu." Ujar Lucian dengan nada rendah.


"Heh! Enak kali ganti nama olang! Citu ciapa cih?!" Sentak Caramel yang tiba-tiba berada di belakang Calandra.

__ADS_1


Lucian menegakkan tubuhnya, dia menatap Caramel yang menatap tajam padanya. Melihat tatapan anak itu, kedua sudut bibir Lucian terangkat.


"Arion, lihatlah dia. Ibumu, dulu sama sepertinya. Sangat pemberani." Ujar pria itu.


Caramel melipat tangannya di depan d4da, laku matanya menatap Lucian dari ujung kaki. Hingga ujung kepala, dengan tatapan tak biasa.


"Pake maskel, pake kaca mata, pake baju hitam. Om na mau ngelayat yah? Calah alamat ini. Ini cekolahan, bukan kubulan. Nda liat ada nama cekolahna Calamel huh?"


Mendengar itu, Lucian tersenyum tipis. Dia kembali merunduk dan mengelus kepala Caramel.


"Om menyukai anak kecil pemberani seperti mu." Bisiknya.


Calandra menarik Caramel menjauh, dia menyembunyikan Caramel di belakang tubuhnya. Matanya menatap tajam Lucian yang tersenyum misterius pada keduanya.


"Om mau apa? Kenapa om ganggu kami? Nanti Cala adukan pada ayah." Seru Calandra.


"Adukan saja. Setelah itu, kamu akan ikut denganku."


"TIDAK MAU!" Pekik Calandra.


Caramel geran dengan Lucian, dia menarik kerah belakang baju Calandra agar anak itu mundur. Barulah Caramel maju dan menatap Lucian dengan tajam.


"Om mau apa? Uang? Cebutin mau belapa. Nanti Calamel bilang cama papa. Kalau mau minta, bilang. Kecel kali lacana, apa calahku lupana." Omel Caramel.


Mendengar itu, Lucian kembali menegakkan tubuhnya. Dia melirik arlojinya yang melingkar, sebelum kembali menatap mereka.


"Sayang sekali, sebentar lagi ada yang menjemput kalian. Haish ... om masih ingin berbincang banyak dengan kalian. Terutama padamu, anak manis." Ujarnya pada Caramel.


Caranya berbisik tepat di telinga Calandra, "Dia walas nda cih? Janan-janan, pacien lumah cakit jiwa, tapi kabul. Tepon lumah cakitna, mumpung olangna macih dicini. Nanti ganggu olang lain." Bisik Caramel.


Lucian, tentu mendengarnya. Dia tertarik dengan Caramel. Anak itu, sangat berani padanya. Padahal, pakaian Lucian sudah tampak seperti penculik anak.


Tatapan Lucina beralih pada mobil mercy putih yang sedang menuju ke arah mereka. Melihat itu, Lucian buru-buru pergi dari sana.


"Kan! Lali dia!" Pekik Caramel. Dia akan mengejarnya, tapi Calandra melarangnya.


"Jangan di kejal, nanti di culik. Uangna tebucanna mahal, lumayan buat beli makan ci gemblot di lumah." Larang Calandra.


"Benel juga." Pekik Caramel membenarkan.


Reagan datang menghampiri mereka, senyum terhias di bibir pria itu.


"Ayo pulang." Ajak Reagan pada keduanya.


Calandra berbalik, dia menatap Reagan dengan kening mengerut. "Ayah, tadi ada olang yang liatin Cala. Dia bilang, namana Cala Alion Edmonia."

__ADS_1


Deghh!!


"Apa?!"


__ADS_2