Kembar Genius Milik Ceo Galak

Kembar Genius Milik Ceo Galak
Kehilangan?


__ADS_3

DOR!!


"AAAA!!!"


Teriakan histeris memenuhi gedung itu, semua orang tampak berlari mencari tempat berlindung. Sedangkan Alan, dia berlari ke tempat asal suara temb4kan untuk melihat keadaan putranya.


"PAAAAA!!"


Langkah Alan terhenti, jantung nya seperti berhenti berdetak saat melihat Alexix di sandra oleh pria berpakaian hitam itu. Kepala Alexix, di todongkan senj4ta. Hingga membuat anak itu ketakutan.


"Papa." Lirih Alexix.


Melihat tatapan ketakutan putranya, Alan memberanikan diri untuk berbicara pada sang pelaku.


"Karel? Apa kau karel?" Tanya Alan.


Tampak, sang pelaku menurun kan maskernya. Tebakan Alan benar, pria itu adalah Karel. Mantan pegawainya yang ia pecat karena korupsi yang di lakukannya.


"Karel, tolong lepaskan putraku. Aku akan memberikan apapun padamu, tapi jangan sakiti putraku." Pinta Alan, tangannya mengisyaratkan agar Karel menurunkan senj4tanya.


Sementara Azalea, dia sudah histeris melihat putranya yang akan di temb4k itu. Dia ingin mendekat, tetapi Brandon menahannya.


"Jangan Lea! Fokus Alan akan buyar karenamu nantinya!!" Pekik Brandon.


"Tapi Alexix! Alexix!!" Histeris Azalea.


Sama hal nya dengan Alan, Erlangga pun berusaha untuk menolong Alexix. Dia menghubungi aparat kepolisian, sementara Diandra mengamankan Elouise yang berhasil kabur.


"Turunkan senj4tamu, aku akan mengabulkan apapun yang kamu minta." Ujar Alan sekali lagi.


"Apapun yang aku minta hm? Tuan Alan, ingatkah dulu. Aku mengemis padamu, agar kamu tidak memecatku. Aku terpaksa melakukan korupsi, untuk putraku yang sakit gagal ginjal. Aku butuh uang untuk pengobatannya. Dia harus keluar masuk rumah sakit, bahkan aku harus membawanya ke luar negri untuk berobat. AKu sudah menjelaskan padamu tentang mengapa aku melakukan kesalahan itu. Namun, kau seakan tuli dengan penjelasan ku."


Alan terdiam, dia kembali mengingat kejadian dimana dirinya memecat pria tersebut.


"Tuan, apa kamu tidak memiliki perasaan? Aku sudah mengajukan peminjaman pada uang kantor, tapi kau tidak lagi mengizinkanku untuk meminjamnya. Aku sudah lampirkan alasan mengapa aku meminjam uang pada kantor. Tapi, kau ... kau malah menolaknya!!"


"Apa kau tahu, apa yang lebih membuatku dendam padamu hm?" Pria itu mengarahkan pistolnya pada perut Alexix, membuat Alan semakin melangkah maju.


"Di dalam sini, ada ginjal yang seharusnya untuk putraku. Apa karena aku miskin sekarang, kalian orang kaya bisa seenaknya padaku hah?! PUTRAKU MENINGGAL!! ITU SEMUA KARENAMU!! KARENAMU!!"


Alan terkesiap, begitu pun yang lain. Sementara Elouise, dia baru menyadari sesuatu. Tangannya menarik dress yang Diandra kenakan.


"Oma, olangna calah tangkap nda cih? Kan El yang di oplaci, kenapa Lekci yang di tangkap?" Tanya Elouise dengan tatapan bingung.


"El, hus!" Tegur Diandra, dia khawatir pria itu justru mengetahui keberadaan Elouise. Bukan hanya Alexix saja yang terancam, Elouise juga akan terancam nantinya.


Karel, kembali menaruh pistolnya pada kepala Alexix. Alan kembali memundurkan langkahnya, khawatir Karel akan menarik pelatuknya jika ia mendekat.


"Putramu harus mati. Kau juga harus merasakan apa yang aku rasakan." Lirihnya, menatap Alexix yang tengah ketakutan itu.

__ADS_1


Alexix memejamkan matanya, dia berusaha untuk berpikir. Apa yang harus dirinya lakukan. Tiba-tiba, dirinya teringat dengan kucing milik Elouise ketika tersangkut di cantolan hak angin jendela.


"Calana, pukul cedikit." Batin Alexix, bersiap akan strateginya.


Terlihat, sikut Alexix terangkat ke depan. Dan, Selang beberapa detik saja sikut itu terdorong kebelakang.


DUGH!!!


"ARGHH!!"


Pegangannya pada tubuh Alexix terlepas. Melihat adanya kesempatan, Alexix berlari ke arah sang papa. Dia merentangkan tangannya, begitu pun dengan Alan. Keduanya tidak menyadari, jika Karel mengangkat senj4ta dan mengarahkannya pada Alexix.


"ALEXIIIXXX!! AWAAAS!!" Histeris Azalea.


Mendengar teriakan istrinya, Alan tersadar dengan bidikan Karel. Dia menangkap putranya dan membalikkan tubuhnya.


DORRR!!


Alexix yang berada di pelukan Alan terdiam, mend4dak suasana menjadi hening. Lalu, tatapan Alexix terangkat. Menatap rahang tegas sang papa.


"MAAASSS!!!" Tersadar dengan keterkejutannya, Azalea langsung berlari dengan derai air mata yang membasahi pipinya. Brandon tak lagi menahannya, dia sungguh terkejut dengan apa yang terjadi.


Brugh!!


Alan jatuh berlutut, Alexix pun turut terjatuh. Karena Alan yang reflek terjatuh, sontak Alexix memegang d4da sang papa. Tangannya bergetar saat menyadari jika d4da sang papa berdarah.


"Papa hiks ... papa hiks ...,"


Alan tersenyum pada istrinya yang datang menghampirinya. Dia akan mengucap sesuatu, tetapi sebelum itu. Kegelapan merenggut kesadarannya.


.


.


.


Suara sirine ambulans terdengar di rumah sakit besar, tampak sebuah brankar turun dari mobil. Brankar itu di dorong, oleh para tenaga medis, dan juga seorang wanita yang sedari tadi menggenggam tangan suaminya. Yah, Azalea. Tak henti-hentinya dia menagisi Alan yang sudah tak sadarkan diri.


"Mas, mas ... aku mohon. Bangunlah hiks ... mas." ISak Azalea.


Brankar Alan memasuki ruang UGD, sehingga Azalea tidak di perbolehkan masuk. Tubuh Azalea luruh, ketika pintu ruangan UGD itu tertutup rapat.


"Azalea, nak!" Seru Diandra, yang baru saja datang menyusul dengan mobil lain.


"Mom, suamiku hiks ... dia ...." Azalea memeluk Diandra, tangisnya semakin pecah. Sementara Erlangga, dia masih berada di lokasi karena mengurus Karel dengan aparat kepolisian.


Si kembar, mereka berdiri bersama dengan Brandon yang turut ikut untuk melihat keadaan sahabatnya itu.


"Om Blandon, papa nda papa kan?" Tanya Alexix dengan suara bergetar.

__ADS_1


Brandon terdiam, dia juga tidak tau bagaimana keadaan Alan. Peluru itu, menembus d4da sebelah kanan. Brandon khawatir, jika peluru itu mengenai paru-parunya.


"Doakan saja papa kalian gak papa yah, ok juga gak tau. Om kan bukan dokter, ya kan?"


"Iya cih, tapi seendakna om pintal." Seru Elouise, membuat Brandon melotot.


Mereka menunggu Aland di tangani, hingga beberapa jam ke depan. Azalea masih setia menunggu, raut wajahnya sudah kusut.


"Lea, minum dulu." Ujar Diandra, menyodorkan sebotol air yang baru saja dirinya beli.


Azalea menerima botol itu, dia juga haus. Namun, belum sempat meminumnya. Erlangga datang dengan raut wajah yang cemas.


"Bagaimana? Sudah selesai di tangani?" Tanya Erlangga.


"Belum." Sahut Azalea dengan suara bergetar.


Erlangga duduk di samping putrinya, lalu dia memeluk putrinya untuk memberikan kekuatan padanya. Azalea menangis di pelukan sang daddy, tangisannya sangat menyayat hati.


"Dad suami ku. Aku tidak mau kehilangan suamiku." Isak Azalea.


"Syuttt, Alan pasti tidak apa-apa. Daddy yakin,dia akan selamat." Ujar Erlangga menenangkan.


Cklek!


Pintu ruang UGD terbuka, sontak Azalea langsung berdiri dan mendekat pada dokter yang baru saja keluar.


"Dok, bagaimana keadaan suami saya?" Tanya Azalea.


Dokter itu, menatap Azalea dengan menghela nafas berat.


"Peluru itu menembus d4danya, hingga melukai paru-parunya. Maaf, kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Tembakan itu, membuat pasien mengalami koma."


"A-apa? Enggak!!" Pekik Azalea.


Azalea menerobos masuk, dia mendekat pada brankar Alan. Banyak sekali alat yang menempel pada tubuh sang suami, membuat Azalea semakin histeris di buatnya.


"MAS!! BANGUN!! JANGAN SEPERTI INI!!"


Azalea meraih tangan Alan yang tidak terinfus, lalu dia tempelkan pada perutnya. Tatapannya menyorot wajah Alan dengan linangan air mata. Sementara bibirnya, melengkungkan sebuah senyuman.


"Kamu ingin aku hamil lagi kan? Aku sedang hamil sekarang mas. Aku hamil. Sebenarnya, berita kehamilan ini untuk hadiah ulang tahunmu malam besok. Tapi kenapa ... kenapa ini menjadi berita di saat kamu mengalami koma hiks ... Mas!! Bangunlaah!!"


TIIIIITTTT!!!


Azalea terdiam, dia menatap layar EKG yang menunjukkan garis lurus. Kepala Azalea menggeleng pelan, tubuhnya seakan lemas semakin tak bertenaga.


"Eng-enggak, mas!! AKu sudah memberikanmu kabar bahagia!! Kenapa kamu malah menyerah!!! MASSS!! Tolong, ingatlah anak-anak kita. Bagaimana mereka tumbuh tanpa kamu hiks ...."


Dokter memeriksa keadaan denyut jantung Alan, sementara Azalea di suruh menyingkir dulu. Berbagai upaya dokter lakukan, agar detak jantung Alan kembali. Namun, garis lurus itu belum berubah juga. Dengan pasrah, dokter menatap jam tangannya.

__ADS_1


"Kematian, pukul ...,"


__ADS_2