
"Bagaimana mungkin?" Tanya Arley dengan mata berkaca-kaca.
Lucian mencengkram kuat kerah kemeja Arley, matanya menatap tajam Arley. Rahang pria itu mengetat, menahan amarah yang membara.
"Kau tidak perlu berpura-pura Arley! Kau menikahi adikku hanya untuk mendapati seorang penerus, sebab istrimu itu tak bisa memberikan anak padamu!!" Sentak Lucian.
"Apa?" Arley bingung dengan semuanya, dia tak mengerti dengan apa yang terjadi. Lucian semakin menyalahkan dirinya atas hal yang tidak dia ketahui.
Melihat tatapan bingung Arley, Alan seketika teringat akan ucapan Arley yang mengatakan jika pria itu pernah mengalami kecelakaan. Dia menarik lengan Lucian dengan perlahan, Lucian tentu berontak.
"Lepas kan! Pria ini telah menghancurkan masa depan adikku! Kali ini, dia dan istrinya bersek0ngkol untuk mengadu domba kita agar mereka bisa mendapatkan Calandra sebagai penerus!" Sentak Lucian.
"Lucian, sepertinya ada yang tidak beres dengan Arley. Apa kau tidak lihat tatapan matanya? Dia seperti orang yang bingung," ujar Alan dengan hati-hati.
Lucian mengamati mata Arley, dia tak mendapati kebohongan darinya. Dia hanya melihat, Arley menatap bingung ke arahnya.
"Aku tidak tahu apapun, aku tidak tahu siapa adikmu. Aku tidak tahu mengapa Calandra bisa menjadi putraku. Yang aku tahu, lima tahun lalu aku mengalami kecelakaan. Kecelakaan itu membuatku tak bisa lagi memiliki keturunan. Tolong, aku tidak mengerti dengan pembicaraan kalian semua." Lirih Arley.
Mendengar itu, Lucian melepas cengkraman nya. Pria berpangkat jendral itu menatap Arley dengan kening mengerut.
"Lima tahun lalu, kamu kecelakaan?" Tanya Lucia
Arley mengangguk, "Ya, aku kecelakaan di negara ini. Setelah itu, istriku membawaku kembali ke negara asal. Apa ada hal yang tidak aku ketahui, tentang adikmu?"
D4da Lucian bergerak naik turun, fakta yang mengejutkan kembali dia terima. Matanya beralih menatap Alan dan Reagan yang sama halnya dengannya.
"Nama adiknya adalah Sherly, bisakah anda mencoba mengingatnya?" Tanya Reagan dengan hati-hati.
"Sherly." Gumam Arley.
"Wanita pemilik senyum manis itu, ya! Tapi aku tidak tahu bagaimana wajahnya. AKu hanya terbayang akan suara dan senyum manisnya saja. Wajahnya, tak terlalu ku ingat jelas." Terang Arley.
"Lupakan soal ingatanmu! Sekarang, telpon istrimu dan tanyakan dimana keberadaannya!" Titah Lucian langsung pada intinya.
Arley tak mengeti, mengapa istrinya juga ikut terseret dalam kasus hilangnya Calandra. Dan lagi, dirinya belum tahu jelas mengapa Calandra bisa menjadi anaknya.
__ADS_1
"Sebentar, kalian belum menjelaskan. Bagaiman bisa Calandra menjadi putraku?" Tanya Arley dengan bingung.
"TUTUP MULUTMU DAN CEPAT TELPON ISTRIMU ITU! KAU AKAN MENEMUKAN JAWABANNYA, DARI MULUT WANITA ITU!" Teriak Lucian yang sudah sangat emosi.
Dengan ragu, Arley segera menelpon istrinya. Tak lama, sambungannya terangkat. "Kau dimana?" Tanya Arley ketika sambungan itu terangkat.
"Maaf? Saya menemukan ponsel ini di bandara, sepertinya punya warga asing tadi. Apa anda suaminya?" Tanya seorang pria yang memegang ponsel Jessica.
seketika, semua orang mematung. Raut wajah Lucian kian mendadak pucat. D4danya terasa bergemuruh hebat, dia sedikit menggelengkan kepalanya perlahan.
"LIAM! HUBUNGI PIHAK BANDARA! TUTUP SEMUA PENERBANGAN HARI INII!!" teriak Lucian. Lalu, pria itu berlari cepat keluar menuju parkiran.
Alan dan Reagan pun turut ikut, tak terkecuali Arley. Mereka langsung bergegas menuju bandara dengan menggunakan mobil mereka masing-masing. Reagan, tentu saja cemas. Sedari tadi, pria itu melihat dompetnya. Yang diaman, berisikan fotonya bersama Calandra dan juga Airin.
"Jangan takut jagoan, ayah akan menyelamatkanmu. Kita akan kembali bersama tanpa mereka. Sehingga, tak ada lagi bahaya yang mengincarmu." Lirih Reagan.
Alan melirik ke arah iparnya, dia turut sedih atas apa yang menimpa Calandra. Alan tidak bisa membayangkan ada di posisi Reagan. Jika Caramel di culik, Alan bisa menggila nantinya.
Tak terasa, mereka sampai di bandara. Lucian segera berlari masuk, anak buah yang Lucian perintahkan turut turun memeriksa semua orang yang ada di sana. Suasana bandara semakin riuh, orang-orang ketakutan saat di periksa oleh para polisi itu.
"Kau menemukan apa?" Arley datang menghampiri Reagan yang sedang memperhatikan sebuah ponsel.
"Eh, ini milik istriku." Ujar Arley sembari mengambil ponsel yang telah rusak itu dari tangan Reagan.
"Milik istrimu?" Tanya Reagan dengan tatapan terkejut.
Arley mengangguk, keduanya belum paham akan situasi yang ada.
"Kalian menemukan sesuatu?" Lucian datang dengan senj4ta di tangannya.
"Ini, ponsel istriku sudah rusak. Apa orang tadi merusaknya? Tapi kenapa?" Ujar Arley sembari memberikan ponsel milik Jessica pada Lucian.
Lucian menerimanya, otaknya berpikir keras untuk memecah masalah yang ada. Beberapa detik kemudian, bola mata Lucian membulat sempurna. Dia segera melempar ponsel itu dan berlari memasuki mobil.
"KITA KE PELABUHAN! WANITA ITU MENGECOH KITA!!" Teriak Lucian.
__ADS_1
Semuanya berlari, termasuk Reagan, Arley dan Alan. Suara mobil sirine polisi terdengar nyaring di jalanan, mereka membelah jalan yang cukup ramai. Suasana semakin tegang, amarah, kebingungan, kesedihan bercampur menjadi satu. Reagan, memejamkan katanya. Dia berharap, putranya baik-baik saja.
"Calandra tak ada urusannya dengan meraka, putra ku masih terlalu kecil untuk menghadapi masalah ini. Dia tidak tahu apa-apa, bahkan dia tidak bisa melindungi dirinya sendiri." Lirih Reagan. Alan mendengar lirihan pria itu, hatinya ikut terenyuh dengan apaa yang Reagan katakan.
.
.
.
Sementara itu, di kamar si kembar. Caramel tengah berada di pangkuan Elouise, dia tengah menangis terisak. Anak menggemaskan itu mendapatkan luka goresan di kaki dan lengannya, hingga membuatnya menangis menahan perih. Alexix mengobatinya dengan hati-hati, dia dan Elouise bekerja sama untuk menenangkan adiknya. Karena Azalea, langsung drop saat mengetahui Calandra yang sedang di culik.
"Pelan pelaaaaann!! hiks ... kulit olang ini! Bukan kulit licooool!" Kesal Caramel.
"Syuutt diam. Caramel coba cerita, kenapa Calandra bisa di culik?" Tanya Elouise, mencoba untuk mengalihkan perhatian adiknya.
"Tadi, tadi Calamel ajak beli es d0gel. Tapi, tiba-tiba ada mobil. Cala di talik macuk, Calamel talik Cala. Eh mobilna Jalan, Calamel kec3let. Calamel nda kuat tahan Cala." Lirih Caramel, dia merasa bersalah karena telah mengajak Calandra keluar. Padahal, Azalea telah melarang mereka keluar dari mansion.
Saat tengah mengobati luka di tangan Caramel, Alexix baru menyadari. Di tangan adiknya, tak ada gelang yang biasanya adiknya itu pakai.
"Caramel, dimana gelang yang abang berikan? Abang kan sudah bilang, jangan melepas gelangmu, kenapa kamu melepasnya" Tanya Alexix dengan tatapan dingin.
Caramel mengusap tangannya, keningnya mengerut berusaha untuk mengingat.
"Tadi Calamel kacih Cala pakek, tapi Cala na di culik. Gelangna ikut juga." Cicit Caramel.
Mendengar itu, Alexix bergegas mengambil laptopnya yang berada di meja belajar. Dia bergegas membuka sebuah aplikasi yang ternyata itu adalah aplikasi gps. Terlihat, sebuah titik merah yang bergerak di suatu tempat.
"Elouise! Telpon papa!" Titah Alexix.
Elouise mengangguk, dia meraih ponselnya. Anak itu langsung menelpon Alan. Beruntung, Alan langsung mengangkatnya. Lalu, Elouise melempar ponselnya ke arah Alexix. Dengan baik, Alexix menangkap ponsel itu dan menjepit ponsel itu di antara telinga dan bahunya. Sementara jari-jarinya, bergerak lancar di atas keyboard.
"Halo, pa! Ke bandara sekarang!" Titah Alexix.
"Untuk apa?" Bingung Alan.
__ADS_1
"Calandra membawa gelang milik Caramel yang aku buatkan untuknya setahun lalu. Kau pasti mengingatnya bukan? Di dalam liontin gelang itu, aku sematkan GPS. Sekarang, lokasi gelang itu berada di Amer1ka. Tepat di kota B0ston. Cepat ke bandara sekarang!"