Kembar Genius Milik Ceo Galak

Kembar Genius Milik Ceo Galak
Cala cayang bunda


__ADS_3

Mobil Reagan terhenti di depan kediaman Xaver, sebab sang istri masih berada di sana. Airin tak mau pulang pagi tadi, terpaksa Reagan pulang kembali ke rumah orang tuanya. Calandra tak keberatan, dia juga sangat senang di rumah oma opa nya di bandingkan dengan rumahnya sendiri.


"Masuklah dulu, ayah akan menelpon klien ayah sebentar." Pinta Reagan.


Mendengar itu, Calandra melirik tajam. "Kenapa halus di cini? Kenapa nda di dalam? Ayah ada main cama ciapa?" Curiga Calandra.


Mata Reagan membulat sempurna, bisa-bisanya sang putra berpikir demikian. Padahal, dirinya menelpon di luar agar lebih terdengar. Jika di dalam, dia tidak akan lebih leluasa.


"Ayolah nak, ayahmu bukan seperti om mu," ujar Reagan.


"Kalian cama-cama cuami, bedana dimana huh?"


Reagan menggaruk kepalanya yang tak gatal, dia membenarkan perkataan putranya. Tapi tetap, tuduhan Calandra salah. Bermain belakang bagaimana? Dia hanya mencintai istrinya saja.


"Nak, dengar. Tidak ada wanita yang lebih menarik dari ibumu. Punya istri satu saja sudah membuat ayah kewalahan, apalagi dua. Bisa sakit jiwa." Ujar Reagan dengan yakin.


Namun, tatapan Calandra masih mencurigai Reagan. "Benalkah? Cekalang ngomong gitu, nda tau nanti-nanti. Benel kata gula, laki-laki cama aja." Ujar Calandra, seakan lupa jika dirinya laki-laki.


"Kau ... kau berbicara seolah kau bukan laki-laki?!" Pekik Reagan dengan tatapan tak percaya.


Bukannya membenarkan, Calandra justru bersedekap d4da. "Cala belbeda, kata gula. Cala catu-catuna yang telbaik." Ujar Calandra dengan penuh rasa percaya diri.


"Apa?!" Reagan seketika melongo mendengarnya.


"Cudahlah, Cala mau macuk. Nanti janan macam-macam! Kalau macam-macam, bial di cunat lagi cama bunda. Bial tau laca." Ancam Calandra sebelum akhirnya di turun dari mobil sang ayah.


Reagan menggeleng tak percaya, dia hanya bisa menghela nafas pelan karena kelakuan putranya yang aneh. Calandra menang anak pendiam, tapi sewaktu-waktu anak itu akan menjadi anak cerewet.


"Sunat, seharusnya dialah yang di sunat. Masih tumpul juga punya nya." Gerutu Reagan.


Sementara Calandra, dia langsung masuk ke dalam kamarnya. Raut wajahnya yang lucu tadi, berubah menjadi datar. Setelah menutup pintu, Calandra berjalan menuju jendela kamarnya. Dia mengintip arah gerbang dari ke jendela kamarnya.


Mata Calandra menyipit saat mendapati mobil hitam yang terhenti di sebrang pagar rumahnya. Calandra ingat betul, jika mobil hitam tadi berada di sekolahnya.


"Mobil itu ... mengikuti Cala?" Gumam Calandra.


Tak lama, mobil itu pun pergi. Calandra kembali menutup gorden kamarnya. Tiba-tiba saja, pintu kamarnya di buka oleh seseorang.


"Cala sudah pulang sayang? Kok gak cari bunda."


Cala menoleh, bibirnya menyunggingkan senyum tipis. Dia menghampiri sang bunda yang juga berjalan ke arahnya. Calandra sangat menyayangi Airin, wanita itu benar-benar membesarkannya dengan penuh kelembutan.


"Solly bunda, Cala mau ganti baju cekolah dulu." Ujar Calandra.

__ADS_1


Airin tersenyum, dia mengusap rambut putranya. Lalu, Airin duduk di tepi ranjang. Meminta Calandra untuk berdiri di hadapannya.


"Bagaimana sekolahnya? Calandra betah tidak?" Tanya Airin.


"Biaca aja, nda ada yang kelen. Cuman belajal aja."


Airin tersenyum kecil, dia mengusap pipi bulat Calandra. Bayi yang dulunya kurus, kini berisi. Walau tak seberisi Caramel. Memang, bocah perempuan itu lebih banyak makan ketimbang Calandra.


"Namanya juga sekolah, ya belajar adanya. Kalau mall, tempatnya belanja. Kalau lapangan, tempatnya bermain. JAdi, Calandra mau ada di mana hm?"


Calandra cemberut, dia menyentuh perut besar Airin dengan jari telunjuknya. Perut sang bunda sudah besar, sebentar lagi dirinya akan memiliki adik.


"Bunda." Ujar Calandra sembari menatap Airin.


"Ya?" Sahut Airin.


"Cala sayang bunda." Ujar Calandra sembari tersenyum tipis.


Walau bingung dengan perkataan sang anak, Airin tetap menyahutinya. Dia meraih tangan Calandra, dan menggenggamnya.


"Bunda juga sayang Cala, sayang banget. Cala adalah nafas bunda, kamu segalanya bagi bunda." Ujar Airin dengan tersenyum tipis.


"Kenapa Cala yang halus jadi napas bunda? Nanti kalau Cala nda ada, bunda juga nda ada," ujar Calandra dengan polosnya.


Entah mengapa, d4da Airin terasa sesak mendengarnya. Padahal, itu hanyalah ucapan seorang anak kecil yang hanya bertanya. Bukan ucapan seorang dewasa yang berbicara dengan pikiran mereka.


"Heum! Cemical Cala bukan anakna bunda, Cala juga tetep cayang bunda. Tapi, untungna Cala anak bunda. Iya kan bunda?"


Degh!!


Bagaimana panah yang menghujam jantungnya, perkataan Calandra membuat dunianya serasa terhenti. Dirinya tak bisa membayangkan, bagaimana jika akhirnya Calandra tahu kalau dirinya bukanlah anak kandung mereka.


Airin memeluk Calandra, pria kecil itu juga memeluk dirinya. Di saat berpelukan itu, air mata Airin turun. Calandra akan tetap menjadi putranya, Airin tak akan pernah membiarkan orang lain mengambil Calandra darinya.


Tak di sangka, Reagan mendengar semua percakapan mereka. Pria itu mengintip dari pintu, raut wajahnya pun terlihat tegang. Perkataan polos Calandra, membuatnya sedikit merasa khawatir.


"Calandra tidak boleh tahu tentang jati dirinya yang sebenarnya. Aku tidak mau mengambil resiko nantinya." Lirih Reagan.


.


.


.

__ADS_1


Caramel tengah memainkan kucingnya, bikan hanya kucingnya saja. Kucing Elouise pun ada bersamanya. Kedua kucing itu sudah ingin kabur, tetapi Caramel lagi-lagi mengambilnya.


"HEH! CINI DULU! JANAN CALI KUCING BU LIK! ANEH KALI KAMU JADI KUCING!" Omel Caramel pada kucingnya.


"Ini, liat ini ci Olen, tantik. Nda cepelti janda cebelah. Nda ucah liatin yang cana telus, ini depan matamu tantik." Seru Caramel.


Caramel menempatkan kucingnya di atas kucing Elouise. Tentunya, membuat kedua kucing itu mengeong keras.


"APA CIH! BIAL NANTI CI OLEN NA HAMIL, JADI BANAK KUCING NANTI!!" Pekik Caramel, uang berusaha mendekatkan keduanya.


mendengar ada suara keributan dari kamar Caramel, Elouise yang sedang belajar pun menghampiri kamar adiknya. Betapa terkejutnya dia saat melihat Caramel yang memaksa kucingnya untuk duduk di atas si gembul.


"CARAMEL! KAMU NGAPAIN!!" Pekik Elouise dan bergegas menghampiri adiknya


Caramel menoleh sekilas, lalu kembali melanjutkan kegiatannya.


"Katana ci doel, kalau mau kucingna hamil. Halus nikah dulu. Nikahna cepelti ini, bial ci gembul nanti puna anak cama ci gemblot."


"Apa?!"


Elouise meremas rambutnya, penjelasan adiknya membuatnya hilang kesabaran. Ingin sekali Elouise mencak-mencak saat ini juga. Apalagi melihat tatapan adiknya itu.


"Carameeeelll!!! Si gembul itu lakik! Kucingmu Lakik! Gimana caranya si gembul hamil." Seru Elouise dengan wajah kesalnya.


"Hah? Ci gembul tantik, maca lakik?" Gumam Caramel.


mendengar itu, Elouise meraih kucingnya. Dia membalikkan tubuh gembul hingga nampak sesuatu yang membedakan.


"Kamu lihat?! Ini apa?" Tanya Elouise menunjuk dua bola milik kucing nya.


"Itu bijina, kan cama kayak ci gemblot juga ada." Ujar Caramel dengan polosnya.


"Hiks ... itu berarti mereka samaaa Carameeell!!! punya adek b0doh apa lugu sih. Heran." Pekik Elouise dengan raut wajah sedih menahan kesal.


Mendengar Elouise mengatainya b0doh, Caramel tak terima. Dia berdiri dan berkacak pinggang. Matanya menatap tajam Elouise dengan mata bulatnya.


"CEMBALANGAN KALAU NGOMONG! MANA CALAMEL TAU DIA LAKI-LAKI! OLANG CAMA AJA! BUNTUTNA CAMA, KAKINA CAMA, KEPALANA CAMA! LUBANG BELAKNA JUGA CAMA! APA CALAHNA AKU LUPANA?!"


"Astaga." Elouise menepuk keningnya. Entahlah, perempuan akan selalu benar.


___


Up malam, jangan sampai ketawa😭😭 nanti di kiranya stress😭😭😭

__ADS_1


Malam ini satu yah, karena besok author mau crazy up🥳🥳🥳 Terima kasih atas dukungan kalian, kaget banget ngeliat komenan di part sebelumnya tembus sampe 80 lebih😭😭 mau crazy up sekarang. Tapi waktunya kurang karena tadi juga author ada acara😅. Berhubung besok aku jam kerjanya dikit, jadi bisa Crazy up🤗🤗


Mau langsung? Atau selesai buat langsung up?🤔


__ADS_2