Kembar Genius Milik Ceo Galak

Kembar Genius Milik Ceo Galak
Keadaan sang bayi


__ADS_3

Cklek!


"Bagaimana keadaannya dok?" Tanya Azalea setelah melihat seorang dokter yang keluar setelah memeriksa bayi yang ia bawa.


"Apa anda ibunya? Bagaimana anda bisa menyakiti seorang bayi seperti itu?" Ujar Dokter dengan tatapan marah.


Mendengar istrinya di marahi, Alan tak tinggal diam. Dia maju mendekat, sembari menatap tajam dokter yang sudah berani memarahi istrinya.


"Seharusnya anda dengar dulu jawaban istri saya. Dengar ini, bayi itu bukanlah ...,"


"Maaf dok, saya lalai karena telah menitipkannya pada seorang pengasuh. Maafkan saya dok. Bisa beritahu bagaimana keadaannya?" Sela Azalea.


Alan menganga setelah mendengar apa yang istrinya katakan. Pria itu tak habis pikir dengan jalan pikir istrinya. Sedari tadi, Alan mencoba bersabar dengan apa yang Azalea lakukan. Namun, satu hal ini lah yang membuat Alan semakin terkejut.


"Kondisi bayi itu sangat buruk. Dia mengalami cedera pada rusuk kanannya, seperti baru saja terhantam sesuatu yang keras. Banyak lebam di tubuhnya. Saya mohon dengan sangat kepada anda, tolong perhatikan anak anda. Dia masih terlaku kecil untuk lepas dari pengawasan, apalagi menitipkannya pada orang lain."


Azalea dan Alan sungguh terkejut bukan main saat mendengar penjelasan dari dokter. Mereka tak menyangka, jika luka yang bayi itu terima sangatlah parah. Terlebih, banyaknya luka lebam yang Azalea tak mengerti dari mana luka itu.


"Dok, lakukan yang terbaik untuknya. Berapapun biayanya, saya akan bayar. Tapi tolong, sembuhkan dia. Berikan dia obat apapun, semahal apapun itu pasti akan saya bayar." Ujar Azalea dengan suara bergetar.


Dokter itu menghela nafas pelan, dia juga merasa kasihan dengan Azalea yang tengah menahan tangisnya.


"Kami akan terus pantau kondisinya. PAsien akan kami pindahkan ke ruang rawat anak. Pastikan, kalian selalu berada di sampingnya. Efek lebamnya membuatnya demam, kamis udah menginfusnya dan menyuntikkan obat penurun demam." Terang sang dokter mengenai kondisi bayi itu.


"Berikan kelas VVIP dok," ujar Azalea.


"Baik, kalau begitu saya permisi dulu." Pamit dokter.


Setelah kepergian dokter yang menangani bayi itu, Alan menarik lengan istrinya dengan cukup kuat. Matanya menatap tajam Azalea yang juga tengah menatapnya.


"Apa kamu hilang akal?!" Pekik Alan.


"Kamu tahu kan apa yang baru saja kamu bicarakan pada dokter itu? Dia bukan bayi kita! Kenapa kamu tidak jujur saja!" Sentak Alan.


"Kalau aku jujur, dokter akan memprosesnya sampai ke kantor polisi mas," ujar Azalea.

__ADS_1


"Lalu? Bukankah bagus! Dia sudah berada di tangan yang tepat. Kita tidak perlu ikut campur," ujar Alan dengan pemikirannya.


Mendengar itu, hati Azalea teriris. Dia melepaskan paksa tangan Alan yang mencengkram tangannya. Mata merah berairnya menatap Alan dengan tajam.


"Bagaimana kalau Caramel yang ada di posisi bayi itu? Aku melihat bayi itu seperti melihat putriku! Aku melihatnya dengan hati seorang ibu! Kamu mana paham mas! Jika kita membiarkan dia di urus oleh kepolisian, bagaimana jika orang yang membuatnya seperti ini kembali mendatanginya?"


"Terus, kanu maunya gimana sekarang? Adopsi anak itu?" Tanya Alan dengan tatapan dinginnya.


Mendengar hal itu, Azalea terdiam. Dia tidak tahu apakah dirinya akan mengadopsi anak itu atau tidak. Dia hanya berniat melindunginya, belum terpikirkan ingin mengadopsinya atau tidak.


"Atau menaruhnya di panti asuhan? Bukankah sama saja?" Lanjut Alan.


"Aku belum tahu mas, akan ku pikirkan nanti. Aku kasihan dengannya, aku tidak tega. Untuk saat ini, aku akan merawatnya dulu." Ujar Azalea.


Alan menghela nafas kasar, "Kau tahu, aku tidak bisa untuk tidak mengiyakan apapun keinginanmu." Pasrah Alan.


mendengar itu, senyum Azalea mengembang, "Terima kasih mas."


"Haahh baiklah, aku telpon Reagan untuk menjemput anak-anak. Kasihan mereka tidur di mobil," ujar Alan sembari mengusap rambut istrinya.


Azalea mengangguk, dia menatap kepergian suaminya dengan senyum yang lembut. Dirinya sangat beruntung menikah dengan Alan, pria yang selalu berusaha menurunkan egonya demi kebahagiaannya.


.


.


"Sayang, minum dulu." Ujar Alan yang kembali dengan jus buah kemasan di tangannya.


Azalea menerimanya, dia meminum jus itu karena memang haus. Sementara Alan, dia duduk di tepi brankar. Sambil mengamati bayi yang beberapa waktu lalu istri nya tolong.


"Wajahnya bukan seperti orang lokal, apa penglihatan ku yang salah?" Tanya Alan sembari beralih menatap istrinya.


"Iya kah?" Azalea mengamati wajah bayi itu. Kulitnya yang putih, rambutnya coklat terang, bulu matanya sangat lentik dan hidung yang mancung. Namun, di negaranya juga banyak dengan ciri persis seperti ini. Azalea tak bisa mengklaim begitu saja.


"Enggak lah mas, banyak orang lokal yang kayak gini juga siri-cirinya." Bantah Azalea.

__ADS_1


Saat keduanya asik berdebat mengenai bayi itu, keduanya tak sadar jika bayi itu mengerjapkan matanya dan menggosok matanya dengan tangan kurusnya.


"Iya tapi ... eh ... mas! mas!!" Pekik Azalea saat dirinya menyadari jika bayi itu akan terbangun.


Alan dan Azalea sama-sama menantikan bayi itu membuka matanya. Tak lama, bayi tersebut membuka matanya. Dia menatap Azalea dengan kening mengerut.


"Halo sayang," ujar Azalea.


Bayi itu diam, tak menangis. Justru, bayi tersebut menarik selimutnya dan menutupi seluruh tubuhnya. Hal itu, tentu membuat Azalea dan Alan saling pandang. Tak lama, terdengar isakan tangis di gundukan selimut yang terlihat bergetar itu.


Azalea mencoba menarik selimut itu. Tapi, bukan tertarik justru bayi itu semakin kencang memegangi selimutnya. Azalea khawatir, jika infusnya akan keluar darah jika terlalu banyak bergerak.


Tatapan Azalea beralih pada biskuit yang suaminya bawa yang berada di atas nakas. Seperti nya biskuit itu milik Caramel yang memang Alan bawa selalu di jasnya. Azalea pun mengambilnya, lalu membuka bungkusnya.


"Hai, tante punya biskuit. Kamu mau?" Tanya Azalea sembari menyodorkan biskuit itu di dekat gundukan tersebut.


Alan mengharapkan matanya saat selimut itu tersingkap sedikit. Keluarlah tangan mungil menggapai biskuit yang Azalea sodorkan. Dengan perlahan, dia mengambilnya dan membawanya masuk ke dalam selimut.


"Lucu banget." Pekik Azalea sembari mengigit bibirnya.


"Dia mengambilnya?" Tanya Alan dengan tatapan tak percaya.


Tak lama, tangan mungil itu keluar lagi. Seperti mencari biskuit itu kembali. Azalea pun menatap Alan, seakan meminta kembali biskuit itu.


"Aku cuman bawa satu," ujar Alan dengan polosnya.


Azalea kembali menatap bocah yang masih di dalam selimut itu. Perlahan, dia mendudukkan dirinya di tepi brankar. Tangannya mengelus gundukan itu.


"Dengar, tante punya banyak sekali di rumah. Maukah kamu membuka selimut ini hm? Setelah itu, tante akan membawakan kamu biskuit yang lainnya,"


Seakan mengerti, bayi itu menyingkap selimutnya. Matanya menatap takut ke arah Azalea yang tersenyum menatapnya.


"Akuutt." Lirih anak itu.


Deghh!!

__ADS_1


_____


Masih ada up lagi yah untuk hari ini🤗


__ADS_2