
Sudah tiga hari sejak Elouise operasi, keadaan bocah itu semakin lama semakin membaik. Dia mendapat perhatian penuh dari Alan dan Azalea, bahkan kerap kali dia meminta di manjakan secara langsung oleh sang papa.
"Lekci, bagi dikit es klimna." Pinta Elouise pada Alexix yang asik memakan Es krim coklat di sofa.
"Nda boleeeehh, ini punya Lekci. Beli cana!" Titah Alexix.
Elouise merengut sebal, dia beralih menatap sang mama yang sedang mengupas buah untuknya. Namun, Azalea seperti tengah memikirkan sesuatu. Tatapan wanita itu terlihat kosong.
"Ma." Panggil Elouise. Namun, tak ada jawaban dari Azalea.
"Mama!!" Sentak Elouise membuat Azalea gelagapan.
"Eh iya?! Kenapa? El mau ke kamar mandi?" Tanya Azalea.
Kening Elouise mengerut, "Mama pikilin apa? Pikilin El? Atau papa galak cama mama yah?" Tanya Elouise, yang seperti nya peka dengan keanehan Azalea.
Mendengar itu sontak membuat Alexix mengalihkan pandangannya. Karena penasaran, dia berjalan mendekat. Matanya menatap lekat Azalea yang tersenyum pada Elouise.
"Papa galak cama mama? Bilang apa papa cama mama? Papa ngucil mama lagi?!" Pekik Alexix membuat Elouise beralih menatap kembarannya.
"Papa ngucil mama?" Tanya Elouise.
"Enggak! Papa gak ngusir mama kok, tadi mama cuman kepikiran. Kapan Elouise pulang, mama sudah gak betah di negara orang." Sahut Azalea dengan cepat.
Jujur saja, beberapa hari ini Alan tak membuat masalah dengannya. Pria itu bahkan menunjukkan perilaku baik, dan sering memperdulikan tentangnya. Azalea juga heran, mengapa Alan bisa bersikap hangat padanya. Ataukah karena adanya Elouise? Bisa jadi.
"Mama ... ke kamar mandi dulu." Pamit Azalea.
Saat Azalea akan pergi, Alexix menangkap gerak tangan Azalea yang meraih ponselnya yang berada di nakas. Sang mama yang membawa ponselnya masuk ke kamar mandi, menyita perhatian Alexix.
Cklek!
"Papa!" Seru Elouise.
Alan tersenyum, dia kembali membawa paperbag. Sepertinya dia baru saja berbelanja, entah apa yang Alan belanjakan kali ini.
"Papa bawa apa?" Tanya Elouise.
"Papa beli baju untuk El, kan besok El sudah boleh pulang." Jawab Alan membuat senyum Elouise merekah.
"Betulan? Pulang kita Lekci!!" Seru Elouise dengan hati gembira.
Namun , Alexix hanya diam. Dia mendongak, menatap sang papa yang sibuk dengan paper bag itu.
"Papa, kalau olang dewaca bawa poncel ke kamal mandi. Dia lagi ngapain?" Tanya Alexix.
Alan menghentikan kegiatannya sejenak, otaknya berpikir tentang jawaban yang tepat untuk putranya.
"Bisa saja dia ingin menjawab telepon penting, dan tak ingin yang lain dengar," ujar Alan.
Alan menaruh paper bag itu di lemari nakas, lalu dia melihat ke sekeliling ruangan karena merasa ada yang kurang. Yah, dia tidak menemukan keberadaan istrinya itu.
__ADS_1
"Mama mana?" Tanya Alan pada keduanya.
"Mama di kamal mandi." Jawab Elouise.
"Tapi ... mama bawa poncel na." Sambung Alexix membuat Elouise dan Alan menatap dirinya dengan ekspresi bingung.
"Bawa ponsel? Dia ingin menghubungi siapa?" Gumam Alan.
Seketika, Alan langsung teringat dengan Reagan. Tanpa berpikir panjang, Alan langsung bergerak mendekati pintu kamar mandi. Dan saat dia akan mengetuknya, pintu tersebut terbuka lebih dulu dari dalam.
Cklek!
"Habis ngapain kamu?" Tanya Alan dengan tatapan tak bersahabat.
"Habis buang air, kenapa? Mau tanya juga warnanya apa?" Kesal Azalea.
"Bawa ponsel?"
Azalea memegang perutnya, dia menyembunyikan poselnya di bawah bajunya. Dia khawatir Alan mengetahui jika tadi dia baru saja membawa ponselnya.
"Ngapain bawa ponsel? Mau nonton di kamar mandi? Kenapa gak nonton di luar aja?" Tanya Alan dengan alisnya yang bertautan.
"Kok bisa tau yah?" Batin Azalea.
Azalea hanya diam, menjawab pun dia bingung ingin menjawab apa. Yang dia pikirkan, bisa-bisanya Alan mengetahui jika dia membawa ponsel.
"Mana sini ponselnya! Kamu telpon Reagan kan?!" Seru ALan berusaha mencari ponsel di tangan Azalea.
"Kamu masukin dalam baju kan?" Seru Alan.
"Gak ada!! JANGAN GAK SOPAN KAMU MAS!!" Pekik Azalea saat Alan menarik bajunya ke atas.
Azalea berusaha mendorong Alan, membuat pria itu akhirnya tersandung karena kakinya sendiri. Saat merasa akan jatuh, Alan berusaha untuk bertahan. Namun, dia malah menarik pinggang Azalea. Hingga, membuat keduanya jatuh dengan saling tindih.
BRUGH!!
"Aaa!!" Ringis Azalea.
Alan memejamkan matanya, kepalanya terasa sangat sakit akibat terbentur langsung ke lantai. Apalagi, tubuhnya di tindih oleh Azalea.
Sedangkan kedua kembar, menatap mereka dengan tatapan melongo.
"El, kemalin papa yang tindih mama. Cekalang mama yang tindih papa," ujar Alexix dengan raut wajah pias.
"Tukelan belalti yah." Sahut Elouise.
Tersadar, Azalea berniat beranjak. Namun, Alan malah menahan pinggangnya, membuat Azalea tak kuasa beranjak.
"Mas!!" Pekik Azalea.
Tangan Alan mulai mencari keberadaan ponsel Azalea, dia tak akan membiarkan wanita itu bangkit sebelum dia menemukan ponselnya. Alan harus tahu, apakah Azalea kembali menghubungi Reagan ataukah tidak. Wanita itu, harus memegang janjinya.
__ADS_1
Cklek!
Dokter Aryan masuk dengan senyum mengembang, tetapi senyumnya seketika surut saat melihat kejadian aneh di depan matanya.
"Ehm maaf, mungkin di sekitaran sini ada hotel. Mau saya pesankan?"
Alan dan Azalea terkejut mendengar suara dokter Aryan, raut wajah mereka berubah panik. Alan pun melepaskan tangannya, sehingga Azalea bisa segera beranjak berdiri.
"Ehm maaf dok, tadi kami tidak sengaja terjatuh," ujar Azalea.
Dokter Aryan tersenyum, "Ya tidak papa, namanya juga suami istri, pasti ingin roman ...,"
"Bu-bukan! Bukan dok, mantan." Seru Azalea meralat perkataan dokter itu.
Alan menatap sinis pada Azalea, bisa-bisanya dia di bilang mantan oleh istrinya sendiri. Salahnya juga sih, belum memberitahu Azalea tentang status nya yang sebenarnya.
"O-oh maaf, ku pikir kalian masih suami istri." Seru DOkter Aryan yang di balas anggukan oleh Azalea.
Dokter Aryan beralih menatap Elouise, dia mendekati pasiennya itu untuk mengeceknya. Sepertinya, Elouise sangat bahagia saat ini. DOkter Aryan bisa melihatnya dari senyum yang mengembang tanpa beban itu.
"Bagaimana kabarmu?" Tanya Dokter Aryan.
"Cehat kali, katana El pulang becok?" Seru Elouise membuat Dokter Aryan mengerti mengapa anak itu bisa sebahagia ini hari ini.
"Ya, setelah malam ini ku pastikan jika kondisi ginjalmu baik." Terang Dokter Aryan sembari mengelus kepala Elouise.
Tatapan Dokter Aryan beralih pada Alexix, dia tersenyum menatap kembaran dari pasiennya itu. Keduanya benar-benar kembar, membuat Dokter Aryan bahkan belum bisa membedakannya jika bukan dari baju yang keduanya kenakan berbeda.
"Lexi, bolehkan om bawa adekmu pulang?" Tanya Dokter Aryan.
"Pulang kemana?" Tanya Alexix dengan tatapan tak suka.
"Pulang ke rumah om, jadi anaknya om. Istri om suka loh sama adeknya Lexi, jadi ... nanti Alexix jadi anak tunggal. Kan enak," ujar Dokter Aryan mengerjai anak itu.
Alexix seketika menatap tajam dokter Aryan, Azalea dan Alan hanya tersebut tipis. Sebab, mereka tahu jika Dokter Aryan hanya iseng dengan putra cueknya itu.
"Nda boleh! Ini adek na Lekci, doktel buat cendili cana!"
"Loh, tapi kata papa nya boleh kok," ujar Dokter Aryan membuat Alexix seketika beralih menatap Alan.
Alexix menatap Alan dengan bibirnya yang melengkung ke bawah, matanya berkaca-kaca bersiap menumpahkan tangisannya.
"Nda boleeehh hiks ... ini adekna Lekci. Nda boleh di bawaaaa hiks ... huaaa!!!"
"Eh, bercanda! bercanda!" Dokter Aryan pun seketika panik di buatnya.
Alan tertawa kecil, sedangkan Azalea. Wnaita itu justru diam-diam membuka ponselnya yang tersimpan di samping tubuhnya. Dia menonaktifkan daya ponselnya dan kembali menatap lurus ke arah putranya.
tanpa Azalea sadari, jika Alan tengah memperhatikan apa yang dirinya lakukan barusan.
"Apa yang dia sembunyikan? Kenapa dia takut sekali aku melihatnya." Batin Alan menatap Azalea dengan tatapan rumit.
__ADS_1