Kembar Genius Milik Ceo Galak

Kembar Genius Milik Ceo Galak
Calandra Abrisham


__ADS_3

"Untuk satu itu, mas enggak izinkan sayang." Ujar Alan dengan tegas.


Azalea menunduk sedih, dia beralih menatap bayi yang tengah menatap Caramel. Ada rasa iba dalam hati Azalea, tetapi dirinya tak bisa berbuat apapun.


Cklek!


Reagan keluar dari kamar mandi, Alan buru-buru mengambil kain penutup untuk menutupi sang istri yang tengah menyusui putrinya.


"Kenapa? Kok pada tegang gitu mukanya?" Tanya Reagan sembari menatap adik iparnya itu.


"Udah sono balik! Ngapain masih disini," ujar Alan dengan ketus.


Mata Reagan melotot, "Habis manis sepah di buang. Tega kali kalau ngomong!" Seru Reagan tak terima.


Alan menarik Reagan keluar, dia mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya. Reagan yang tadinya ingin mengomel pun seketika terdiam. Matanya jadi berbinar terang.


"Sering-sering kek ngasih abang iparmu ini money," ujar Reagan.


"Pakailah, setelah itu kembalikan! Jaga dulu putra kembarku," ujar Alan setelah mereka di liar.


"Beres itu mah," ujar Reagan. Lalu, dia meng3cup kartu yang Alan berikan dengan sayang.


"Bisa ajak ayang belanja ini mah." Batin Reagan dengan tersenyum senang.


Alan pun kembali masuk, meninggalkan Reagan yang senyum-senyum karena membayangkan dirinya pergi dengan Airin. Dia berjalan menghampiri Azalea, terlihat sekali istrinya selalu menatap bayi yang ia temukan.


"Sudahlah, dia juga sudah minum susu. Lihat, dia senang meminum susu buatanku," ujar Alan sembari mengelus kepala istrinya. Matanya menatap bayi yang sedang meminum susu itu.


"Mas, dia tidak tahu siapa namanya. Kita harus memanggilnya apa?" Tanya Azalea.


Alan menunda jawabannya, dia duduk di tepi brankar. Matanya menatap dalam bayi yang semalam ia temukan. Lalu, tangannya meraih kepala bayi itu dan mengelusnya perlahan.


"Identitas sebelumnya kita hapus, dan mas akan meminta Kendrick mengurus data dirinya. Hari ini, detik ini ... bayi ini akan mas namai Calandra Abrisham."


"Calandra Abrisham?" Tanya Azalea dengan kening mengerut.


Alan mengangguk, dia menarik tangannya dari kepala bayi tersebut. Lalu, menatap istrinya dengan tatapan lembut.


"Saat kamu hamil Caramel, mas pikir kamu hamil bayi laki-laki lagi. Jadi, mas menyiapkan nama bayi laki-laki untuknya. Sayangnya, pas kamu melakukan USG ternyata Caramel lah yang ada di rahimmu. Tidak masalah bukan, jika mas yang menamainya?"


Azalea mengangguk penuh haru, dia beralih menatap bayi yang bernama Calandra Abrisham itu. Tangan terukur menyentuh pipi Calandra, senyuman lembut terukir manis di bibirnya.


"Cala, mama akan memanggilmu Cala." Lirih Azalea.


"Mama?" Sejenak, Alan terdiam kala istrinya yang menyebut dirinya mama pada Calandra.

__ADS_1


Azalea menatap Alan, tatapan itu penuh harap. Hatinya tertarik untuk mengadopsi Calandra, dia ingin bayi itu menjadi anaknya. Entah mengapa, hati Azalea tertarik untuk menjadi kan bayi itu anaknya.


"AKu ingin adopsi dia mas, aku sudah memikirkannya sejak malam tadi. Aku mau dia jadi anakku." Kekeuh Azalea.


Terdengar, helaan nafas berat dari Alan. Pria itu bimbang dengan keputusan istrinya. Dia menatap Calandra dengan tatapan lekat. Bayi itu, menatapnya dengan mata bulatnya yang berbinar. Seketika, hati Alan ters3ntil. Dia seperti melihat gambaran dirinya sendiri pada bayi itu.


"Panti asuhan bukanlah tempat yang baik untuknya, tempat itu sangat menakutkan bagi seorang anak." Batin Alan. D4danya terasa sesak saat dirinya kembali mengingat kisahnya saat kecil. DIrinya yang di buang oleh ibu yang sebelumnya dia anggap sebagai ibu kandungnya.


"Baiklah, kita akan adopsi dia. Mas akan mengurus surat-surat identitasnya. Tapi, maaf. Mas gak bisa bawa dia masuk ke dalam marga kita."


Azalea tersenyum haru, dia menggelengkan kepalanya perlahan. "Enggak papa mas, Abrisham akan menjadi marga sendiri untuknya." Ujar Azalea.


Azalea dan Alan menatap Calandra yang menatap mereka berdua dengan tatapan polosnya. Bayi laki-laki itu seakan tahu dia di terima baik oleh keluarga di hadapannya, senyuman lembutnya tercetak di bibir mungilnya.


"Kak ... kakak." Panggil Caramel pada Calandra.


"Ya, kakak. Kakak Cala, kakak Caramel." Azalea mendekatkan Caramel pada Calandra, kedua bayi itu saling menatap dan tersenyum.


.


.


.


"Om, ikut yah." Bujuk Elouise.


"Enggak! Om mau kencan kok!" Tolak Reagan.


"Please om, kita gak ganggu kok. Cuman mau ikut aja." Sahut Alexix.


"Enggak ya enggak! Bukannya kencan malah ngurus kalian berdua. Udah, di rumah aja! Apa kalian mau balik ke rumah sakit huh?" Ancam Reagan.


Alexix dan Elouise pun merengut sebal, keduanya menyingkir ketika Reagan memutuskan untuk pergi. Belum saja Reagan memegang pintu mobilnya, teriakan Elouise membuat Reagan panik.


"OMAAAA!!! OM REAGAN MAU KE HOTEL SAMA CE ... HMPP!!"


Reagan buru-buru menutup mulut ponakannya itu. Dia menatap takut ke sekitar, khawatir sang mommy mendengar teriakan Elouise yang sangat melengking.


"Diamlah! Oke! kalian boleh ikut!" Kesal Reagan sembari melepaskan tangannya dari mulut Elouise.


"Nah, gitu kek. Ayo Alexix." Ajak Elouise, dengan entengnya dia memasuki mobil.


Sebelum masuk, Elouise menatap Reagan yang tengah mengacak-ngacak rambutnya.


"Om tadi bu4ng air lupa cuci tangan yah? Bau kali tangannya." Seru Elouise dan langsung buru-buru memasuki mobil. Menghindari amukan Reagan.

__ADS_1


"Keponakan gak ada 4khlak! Gue tuker tambah juga lo sama mobil baru! Lumayan kan, bisa jadi mahar buat nikahin si ayang beb." Gerutu Reagan.


Reagan dan si kembar pun akhirnya pergi menuju rumah Airin. Si kembar sudah tidak asing lagi dengan rumah Airin, apalagi setelah mereka tahu jika teman mereka adalah sepupu mereka.


Setelah sampai, si kembar langsung berlari masuk. Sementara Reagan, sebagai calon menantu yang baik DIrinya menunggu Arumi mempersilahkannya masuk.


"Loh, nak Reagan yah? Mau ketemu Airin?" Tanya Arumi ketika dirinya menyadari kedatangan Reagan.


"Iya tante, saya mau ajak Airin jalan," ujar Reagan dengan malu-mali.


Arumi memperhatikan raut wajah Reagan, keningnya mengerut saat melihat Reagan yang sepertinya terlihat gugup.


"Tante, kalau saya nyalon jadi menantu tante. Kira-kira di terima gak yah?" Tanya Reagan.


"Sama siapa nih? Priska atau Airin?" Tanya Arumi dengan kening mengerut.


Reagan menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal, "Airin tante," ujar Reagan dengan malu-malu.


Arumi terkejut mendengarnya, dirinya pikir Reagan dan Airin hanya sebatas teman saja. Dia tak menyangka, jika Reagan akan menyukai Airin.


"Nak Reagan tahu kalau Airin itu ...,"


"Tahu tante, kan saya yang rebut dia dari suaminya."


"Heh? Apa maksudmu?" Pekik Arumi.


"Saya kan pengacaranya mantan suami Airin. Ngelihat mbak Airin nya cantik, ya saya tambah semangat buat bantu mereka cerai. Saya baik kan tante?"


Arumi memegangi d4danya, dia terkejut dengan penuturan Reagan yang membuatnya tak bisa berkata-kata lagi. Dirinya bahkan tak tahu haru berbicara apa pada pria di hadapannya itu.


"Reagan!!" Pekik Airin yang mendengar pembicaraan keduanya.


"Apa sayang?" Sahut Reagan dengan senyum mengembang.


"Sayang?" Pekik Arumi.


Reagan menatap Arumi yang melotot ke arahnya dan Airin. "Iya, kan kami udah tunangan. Mana sayang cincinnya, tunjukin sama mama mertua,"


"APAAA?!"


Brugh!!


"MAMA!!!"


"TANTE!"

__ADS_1


__ADS_2