Kembar Genius Milik Ceo Galak

Kembar Genius Milik Ceo Galak
Pertemuan pertama Airin dan Calandra


__ADS_3

Cklek!


"Selamat Sore semuanya!!" Seru Reagan saat memasuki ruang rawat Calandra.


Alan dan si kembar terkejut dengan kedatangan Reagan dan Airin. Alan langsung beranjak berdiri, dan menghampiri Reagan yang masih berdiri di ambang pintu bersama dengan Airin.


"Ngapain?" Tanya Alan.


"Mau lihat Azalea sama Calandra, mana mereka?" Tanya Reagan saat tak mendapati keberadaan Azalea dan Calandra.


"Di kamar mandi." Jawab Alan dengan singkat.


Cklek!


Terlihat, Azalea keluar sembari menggendong Calandra dan Caramel. Tampak keduanya masih memakai handuk karena baru saha selesai mandi. Infus Calandra sudah di lepas sedari siang. Keadaan bayi itu sudah sangat membaik.


"Eh ada Abang sama Kak Airin, kenapa berdiri? Ayo masuk dan duduklah." Pinta Azalea dengan senyum mengembang.


Tatapan Airin jatuh lada sosok bayi laki-laki yang sedang di turunkan di atas brankar. Hatinya tergerak, dia melangkahkan kakinya mendekati brankar dan mengamati bayi itu.


Calandra belum menyadari kehadiran Airin, dia masih fokus dengan Azalea yang tengah memakaikan minyak telon pada perutnya. Sementara Caramel, bayi itu tengah bermain dengan botol bedak sembari menunggu gilirannya.


"Caramel, jangan di tuang bedaknya sayang." Panik Azalea saat Caramel menuangkan bedak itu ke atas kasur.


Azalea buru-buru mengambil bedak itu, dan menaruhnya di atas nakas. Hal itu, membuat Caramel menangis karena mainannya di ambil. Azalea menjadi repot dengan Caramel yang menangis. Sementara Calandra, dia menatap bayi seumurannya tengah menangis dengan keras dengan tatapan bingung. Tapi, tiba-tiba saja Calandra merasakan dingin di punggungnya. Dia pun menengok ke arah belakang.


"Hai." Ujar Airin menyapa bayi itu.


Calandra mengerjapkan matanya, dia tak menolak saat Airin menyentuh lengannya. Matanya menatap lekat wanita yang saat ini tersenyum manis ke arahnya.


"Mbak, biar aku yang pakaikan anak ini baju." Isul Airin.


Azalea menoleh sejenak pada Airin, "Aduh, aku jadi gak enak. Maaf yah, Caramel kalau di larang tantrum begini. Itu di sana bajunya Calandra, di pakaikannya hati-hati yah." Pinta Azalea.


Airin mengangguk antusias, dia mengambil baju Calandra dan berniat ingin memakaikannya. Namun, luka lebam di tubuh Calandra membuat Airin salah fokus. Tangannya terangkat dan menyentuh luka itu dengan mata berkaca-kaca.


Melihat keterdiaman Airin, Reagan menghampiri istrinya itu. Dia merangkul bahu Airin sembari menatap Calandra yang tengah menatap mereka.

__ADS_1


"Dia mendapat kekerasan fisik dari orang yang tak di kenal. Azalea dan Alan menemukannya di jalan dalam keadaan yang kritis. Sehingga, Calandra harus di rawat disini," ujar Reagan.


"Kasihan sekali, kau lihat? Dia kurus sekali." Ujar Airin dengan suara bergetar.


Dengan lembut, Airin memakaikan pakaian Calandra. Bayi itu tak menolak, dia justru merasa aman pada Airin. Namun dengan Reagan, bayi itu tak mau di sentuh. Mungkin dia masih takut dengan pria itu.


"Caramel sama papa dulu yah, mama mau buat susu Cala," ujar Azalea sembari menyerahkan Caramel pada Alan.


Bukannya menurut, Caramel justru menggeleng ribut. Dia tidak mau di gendongan sang ayah, tangannya terbentang karena ingin kembali ke pelukan sang mama.


"EKHEEE!! NDA MAAAUU!! NDA MAAUU!! MAMAMAMA!!"


"Sebentar sayang, kasihan Cala nya," ujar Azalea dengan lelah.


Melihat kerepotan itu, Alan pun mengembalikan Caramel pada sang istri. Alan menawarkan diri untuk dia saja yang membuat susu Calandra. Tapi, belum juga dia membuatnya, Airin pun menyela.


"Biar aku saja, dimana susunya?" Tanya Airin yang mena membuat Reagan menatap istrinya dengan tatapan rumit.


"Maaf yah kakak ipar, kamu jadi repot," ujar Azalea dengan tatapan bersalah.


"Tidak papa, aku mengerti. Mengurus bayi tidak lah mudah. Jadi, dimana susunya?" Tanya kembali Airin.


Airin mengangguk, dia mulai membuatkan susu untuk Calandra. Setelah jadi, dia segera mendekati brankar untuk memberikannya pada bayi itu.


Calandra yang mengerti itu susu miliknya, bergegas duduk dengan tegak. Dia berusaha menggapai susu yang Airin pegang. Melihat itu, Airin pun memutuskan untuk duduk di tepi brankar. Tapi, siapa sangka jika Calandra justru beralih duduk ke pangkuannya. Hal itu, membuat hati Airin tersentuh.


"Minumnya pelan-pelan sayang," ujar Airin pada bayi menggemaskan itu.


Calandra meminumnya dengan rakus, mungkin bayi itu sangat kehausan. Tak sadar, Calandra bersandar pada d4da Airin. Airin pun turut memeluk nazi itu dalam pelukannya. Kegiatan yang Airin lakukan, tak lepas dari pengamatan Reagan.


"Istrimu sudah cocok menggendong bayi, kenapa kalian tidak program saja agar cepat jadi. Memiliki anak itu sangat menyenangkan, asal kamu tahu saja." Celetuk Alan yang berdiri di samping Reagan.


Reagan tak menjawab, justru dia menatap istrinya dengan tatapan yang tak bisa di deskripsikan.


.


.

__ADS_1


.


Sudah pukul sembilan malam, Airin dan Reagan berada di ruang rawat Calandra. Airin terlihat sangat senang berada di sana. Karena sedari tadi, dia yang mengajak Calandra bercanda dan bermain. Sedangkan Caramel, bayi itu sangat aktif. Dia selalu berjalan ke sana kemari untuk menemukan hal-hal baru.


Sementara si kembar, sejak Reagan datang. Mereka tak membuka suara sama sekali. Hal itu, tentu menjadi pertanyaan untuk Reagan. Ketiganya berada di balkon, sementara Alan berada di dalam ruangan bersama putrinya.


"Heh, lidah kalian copot apa gimana? Tumben banget gak nyerocos macam terompet lampu merah " Celetuk Reagan sembari mencolek bahu Elouise yang duduk di sebelahnya.


Elouise menggeser duduknya, dia belum juga membuka suara. Sementara Alexix, dia memilih membaca buku. Mungkin jika Alexix, Reagan tak terlalu heran. Sebab, anak itu memang pendiam sejak masuk usia enam tahun. Tapi Elouise, biasanya anak itu selalu berbincang dengannya.


"Eh, apa kamu memiliki hutang pada om? Jadi kamu tidak mau bicara karena takut di tagih?" Tanya Reagan dengan penasaran.


Mendengar pertanyaan itu, Elouise mendelik sebal. Dia menatap kesal ke arah Reagan yang menatapnya dengan tatapan meledek. Apakah dirinya perlu berhutang? Sepertinya im nya itu perlu di sadarkan, jika papa nya lebih kaya dari pria pria itu.


"Atau sariawan? Makan telur gulung mulu sih! Rasakan! Jadi saria ...,"


"Bisa diam nda siihhh!! Cerewet kali loh, lebih-lebih ibu komplek rumah." Pekik Elouise yang sudah tidak tahan dengan ocehan Reagan.


Reagan tertegun sejenak saat mendapati Elouise yang ompong, seketika tawanya pecah. "HAHAHAH!! KEMANA TUH GIGI?! DI AMBIL COPET? UDAH DAPET GANTINYA BELUM HAHAHA!!"


"Hiks ... huaaa!!! papaaaa!!"


Tak lama, Alan datang. Raut wajahnya terlihat bingung, dia langsung menatap Riwayat yang tengah tertawa sembari memegangi perutnya. Sementara putranya, menangis sembari memegangi bibirnya.


"Lan, kok gak ngasih tau kalau si El ompong sih?! Kan gemes jadinya" Pekik Reagan.


"Bukan El doang, noh yang lagi baca buku. Bukan ompong lagi, patah malah. Udah kayak perosotan pasar jadinya," ujar Alan melirik pada Alexix.


Bukannya di bela, justru keduanya mendapat ledekan dari sang papa. Membuat si kembar akhirnya berlari masuk mencari sang mama untuk meminta pembelaan.


"Ngadulah itu ke mamanya." Kekeh Reagan.


"Biasa, nanti juga diam." Sahut Alan.


Reagan beralih menatap Alan yang tengah melihat ke dalam ruangan sembari tersenyum tipis. Dia tengah memperhatikan si kembar yang sedang mengadu pada Azalea. Alan juga memperhatikan, bagaimana wanita itu menenangkan kedua anak mereka.


"Lan." Panggil Reagan.

__ADS_1


"Hm." Alan menyahut tanpa mengalihkan pandangannya pada pria itu.


"Apa kamu bisa memberikan hak asuh Calandra padaku?" Tanya Reagan, yang mana membuat Alan menatapnya dengan terkejut.


__ADS_2