
Di rumah sakit, Elouise sedang terbaring di brankar. Dokter Hervan sedang mengganti perbannya. Dia juga mengecek keadaan ginjal Elouise, dan juga kondisi tubuhnya.
Azalea dan Alan, keduanya memperhatikan dengan detail apa yang Hervan lakukan pada Elouise dengan serius. Keduanya tak ingin melewatkan apapun yang Hervan katakan pada keduanya.
Sedangkan Alexix, jangan di tanya lagi. Bocah itu berada di luar sedang di temani oleh bodyguard sambil memakan cilor yang sempat dia beli sebelum masuk rumah sakit.
"Nah, sudah. Lukanya juga sudah mulai kering, tinggal penyembuhan aja. Kondisi ginjalnya baik. Apa ... ada suatu hal yang membuat Elouise merasa terganggu?" Tanya Dokter Hervan.
Azalea dan Alan kompak menggeleng, putranya tak ada mengeluh apapun. Namun, Alan terdiam ketika menyadari satu hal.
"Ehm begini dok, tengah malam Elouise sering merasa tidurnya gelisah. Apa itu karena pengaruh pada kondisi ginjalnya?" Tanya Alan dengan tatapan serius.
Alan selalu mengecek keadaan putranya setiap tengah malam. Dimana, dia mendapati Elouise yang entah menangis ataupun ketakutan. Alan tidak tahu, apa yang putranya itu mimpikan. Hanya saja, ALan khawatir terjadi sesuatu pada putranya itu.
Mendengar pertanyaan suaminya, seketika Azalea menatap wajah Alan. Dia tak tahu tentang hal itu, bagaimana suaminya bisa tahu?
"Ehm ... kalau tidak ada keluhan soal perut. Mungkin bisa di tanyakan langsung pada Elouise mengapa dia gelisah." Saran DOkter Hervan.
Seketika, Alan menatap Elouise. Bocah itu justru menatap Alan dengan kening mengerut. "Apa? El nda tau. El nda cadal, kan papa yang cadal." Sahut Elouise tak terima.
Dokter Hervan terkekeh, mungkin Elouise pasiennya yang paling membuatnya sering tertawa. Setelah selesai memeriksa Elouise, Dokter Hervan mencatat beberapa catatan obat yang harus Elouise konsumsi nantinya.
"Mama, El mau kelual. Ada balon matahali dekat lumah cakit tadi loohh." Rengek Elouise pada Azalea.
"Nanti pulangnya aja yah." Bujuk Azalea pada Elouise yang masih duduk di pangkuan Alan.
"Tadi El liat cica catu, nanti kebulu habis ama olang. Ayolah mama, kebulu habis nanti. J4lang ada hiks ... ayo ...." Azalea bingung, semenjak dia dan Eloise tinggal di mansion Alan. Anaknya Itu jadi mudah merengek. Entah karena Alan yang selalu menuruti keinginannya hingga berpengaruh pada putranya itu.
Alan menatap Azalea, "Belikan saja, gak mahal kok. Kasihan, dari pada nangis." Begitulah perkataan Alan yang membuat Azalea kesal.
"Enggak ya, El. Nanti kita mau pergi ke taman hiburan, kalau kamu ingin susu. Ayo, mama belikan." Azalea memberi pilihan lain agar putranya tak merasa kalau dia menangis. Maka, keinginannya akan terpenuhi.
Elouise terdiam, tak lama dia pun mengangguk. Azalea yang melihat itu segera membawa putranya keluar untuk membeli susu. Meninggalkan Alan yang masih stay di ruangan itu untuk mendengar penjelasan dokter lebih lanjutan.
"Sudah rujuk kembali atau gimana? Dia ibu anak-anakmu kan? Jujur saja, om kaget kalau ternyata kamu punya anak kembar. Pantas saja kamu gak percaya tentang pemeriksaan yang kamu kira Alexix saat itu."
__ADS_1
Alan tersenyum tipis, dia juga sangat terkejut. Tapi, dia merasa beruntung memiliki dua penerus sekaligus. Kini, Azalea juga mau menunggu cintanya hadir untuk istrinya itu.
Melihat senyuman Alan, membuat Hervan paham. Dia turut bahagia, akhirnya pria itu kembali membuka hatinya. Bagaimana pun, dia sudah menganggap Alan seperti anak nya sendiri.
"Bagus, pertahankan rumah tanggamu. Jangan sampai dia pergi lagi, om senang kalau kamu sudah bisa keluar dari trauma yang kamu alami. Apa kamu masih rutin ke dokter psikiater?"
Senyum Alan seketika luntur, raut wajahnya berubah datar. Sejenak, dia tertunduk. Lalu, dia kembali menatap Hervan yang tengah menantikan jawabannya.
"Masih om, aku belum bisa merima apa yang terjadi di masa kecil ku. Begitu sakit, sulit untuk menghilangkan memori kelam itu. Aku tidak sanggup. Ketika aku ingin melupakan nya, mimpi itu selalu datang ... aku selalu bermimpi. Bagaimana semua orang menatapku dengan tatapan rendah, hanya karena aku tidak memiliki uang."
Alan menatap ke depan dengan sorot mata yang tajam. Dirinya mengingat masa remajanya saat itu. Setelah lulus SMA, dia memutuskan untuk keluar dari panti dan memilih hidup sendiri. Dia sering melamar pekerjaan, tetapi belum juga sebulan bekerja. dia selalu di pecat. Bukan hanya itu, bahkan untuk sesuap nasi pun. Alan harus bekerja seharian penuh, dengan menjajakan kerupuk yang ia ambil dari orang untuk dirinya jual.
Masa remaja Alan tak seindah remaja yang lain, dia harus berjuang keras. Banting tulang agar bertahan hidup. Melihat anak-anak sebayanya yang berkuliah tanpa memperdulikan biaya. Membuat Alan begitu iri. Karena itulah, Alan marah saat Azalea membawa putranya untuk hidup susah. Dia tidak ingin Elouise merasakan hal yang sama dengan dirinya.
Alan sempat hampir menangis saat mengingat kembali kisah kelamnya. Buru-buru dia mendongak, untuk menghalau air mata yang akan luruh.
"Segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupanmu, pasti ada hadiah terindahnya. Kini, kamu sudah menjadi orang sukses. Mempunyai dua penerus sekaligus. Jangan lupa kan juga, kamu memiliki istri sebaik dia. Pertahankan apa yang kamu miliki saat ini Alan, kamu yang tahu bagaimana proses mendapatkan nya. Tidak mudah bukan?"
Alan mengangguk, pelan. Memang tak mudah baginya untuk sampai di titik saat ini.
"Om merasa, jika Azalea tulus padamu. Apa kamu yakin, jika kamu sama sekali belum pernah mencintainya? Jangan tutup hatimu dengan rasa kecewa Alan,"
Deghh!!
"HOLEEE!! MAU MAIN ITU!! ITU JUGAAA ... ITU JUGAAA ... EH KETINDALAN KUDA JUGAA!!"
Alexix tengah heboh, Bagaimana tidak? Taman hiburan merupakan tempat yang ingin dia kunjungi. Sebelumnya, dia hanya bisa melihat di televisi. Namun kini, dia bisa merasakannya. dia berjalan dengan riang sembari menggandeng tangan Azalea. Sedangkan Elouise, berada di gendongan Alan. Bocah itu tak ingin berjalan, dia akan merasa lelah katanya.
Azalea tak menyangka jika Alan benar-benar akan datang ke taman hiburan seperti ini. Bukan hanya itu, bahkan taman hiburan bermain ini sepi. Ya, Azalea baru menyadari nya. Kemana orang-orang?
"Mas, jangan bilang kamu menyewa taman hiburan ini?" Tanya Azalea. Sontak, ALan menghentikan langkahnya. Dengan entengnya, dia mengangguk pelan.
"Mas!! Pemborosan!!" Pekik Azalea.
Alan menaikkan bahunya acuh, "Apapun akan ku lakukan agar putraku merasa aman dan nyaman. Tak perlu antri, tinggal naik apapun wahana yang mereka inginkan." Cuek Alan dan berlalu begitu saja dari hadapan Azalea.
__ADS_1
Alexix meminta untuk menaiki patung kuda yang berputar, yang biasa di sebut komidi putar. Alan menurutinya. Elouise pun menginginkannya, sehingga Alan menaruhnya di depan Alexix.
"Pegang adiknya." Pinta Alan.
Alexix memeluk Elouise, wahana itu pun. berputar perlahan. Senyum keduanya mengembang, tak lama terdengar tawa mereka.
"WAAAHH PUTAL PUTAL LEKCI!!" Seru Elouise.
"Pegangan! Nanti kau datuh, ganti adek balu lah aku!" Pekik Alexix.
Azalea tersenyum, inilah yang ia nantikan. kebersamaan Elouise dan Alexix, kembar yang terpisahkan karena waktu dan jarak. Kini, dia bisa melihat keduanya sama-sama tumbuh.
"Kamu senang?" Tanya Alan saat melihat tatapan bahagia wanita itu.
Azalea mengangguk, "Iya, jarang-jarang Elouise tertawa sekencang itu. Dulu dia tertawa karena aku mengajaknya menaiki delman pasar. Dia sangat menyukainya." Terang Azalea.
Raut wajah bahagia Azalea surut saat tangannya merasakan sebuah tangan menggenggam tangannya. Seketika, Azalea menatap tangannya. Lalu, tatapannya beralih menatap Alan yang masih melihat ke arah anak mereka. Jantung Azalea berdegup tak karuan, padahal hanya tangan yang pria itu sentuh.
"Biarkan anak-anak bodyguard yang menjaga, mari kita habiskan waktu berdua. Aku dan kamu,"
Deghh!!
Azalea merasa tersetrum kala Alan menatapnya dengan tatapan teduhnya. Rahang tegas pria itu dan bibir tipisnya, mampu membuat Azalea merasa terpana.
"Gak mau?"
"MAU!"
"Eh?!" Azalea menutup mulutnya, dengan malu dia tertunduk. Sementara Alan, dia tertawa kecil melihat tingkah istrinya itu. Entahlah, hati Alan terasa sangat bahagia saat ini.
_
Dua hari up satu terus🥲
Kita crazy up hari ini yah🥳🥳🥳🥳
__ADS_1