Kembar Genius Milik Ceo Galak

Kembar Genius Milik Ceo Galak
Kamu adalah cahaya kami


__ADS_3

"Bagaimana keadaan istri saya dok?" Tanya Reagan pada dokter yang telah keluar dari ruang UGD.


Reagan begitu terkejut, saat mendapati istrinya tergeletak tak sadarkan diri setelah ia kembali ke rumah. Melihat putranya yang menangis sembari memangku kepala Airin, membuat jantung Reagan hampir lepas dari tempatnya. Dia langsung membawa istrinya ke rumah sakit, serta membawa ikut putranya.


"HB nya sangat rendah, itu yang menyebabkan dia pingsan. Kami sudah memberikan obat penambah darah padanya. Tapi, jika selama beberapa jam kedepan HB istri anda tdiak naik juga. Kaki akan melalukan transfusi darah secepatnya" Terang dokter itu.


Reagan mengangguk mengerti, Airin memang memiliki riwayat darah rendah. Wajar saja, jika istrinya pingsan. Pria itu belum mengetahui sebab mengapa istrinya pingsan. Dia hanya berpikir, Airin kelelahan saja.


"Jangan biarkan istri anda stres, kandungannya baru saja memasuki usia delapan bulan. Jangan sampai, istri anda mengalami persalinan dini. Banyak resiko yang terjadi saat istri anda melahirkan sebelum waktunya." Nasehat sang dokter, tentu di dengar oleh Reagan.


"Baik, terima kasih dok. Tolong, pindahkan istri saya ke ruang rawat VVIP. Saya akan segera mengurus biayanya." Ujar Reagan.


Dokter itu mengangguk, dia segera pergi dari sana untuk mengurus pemindahan Airin. Setelah kepergian sang dokter, Reagan berniat ingin mengurus biaya kamar rawat istrinya. Namun, dia merasa tangannya di pegang oleh seseorang.


"Ayah."


Reagan tertegun, dia hampir melupakan putranya. Bergegas, Reagan menunduk dan tersenyum pada putranya itu.


"Ayah urus pembayaran dulu yah, Cala disini aja. Mungkin bentar lagi brankar bunda akan keluar." Pinta Reagan sembari mengelus rambut putranya.


Calandra hanya diam, dia mengeluarkan kertas yang telah di lipat rapih dari dalam kantong celananya. Lalu, dia menyerahkan kertas itu pada Reagan. Reagan yang melihat kertas itu pun mengerutkan keningnya.


"Ini apa boy?" Tanya Reagan.


"Cala nda tau, habis baca ini. Bunda pingcan." Terang Calandra.


Reagan tertegun, dia segera mengambil kertas itu dan membuka lipatannya. Jantungnya berdegup kencang, urat-urat lehernya menonjol. Matanya memerah menahan emosi yang bergejolak di hatinya.


"Lucian si4lan!!" Geram Reagan.


Reagan berusaha mengatur emosinya, putranya pasti akan ketakutan melihat Reagan yang seperti itu. Reagan segera melipat kembali kertas itu dan memasukkannya ke dalam kantong jaketnya. Lalu, pria itu sedikit menunduk dan menatap putranya dengan tatapan lekat.


"Ayah mau tanya, apa kau membacanya?" Tanya Reagan.


Calandra menggeleng, "Nda, Cala nda baca. Tadi Cala langcung taluh kantong." Ujar Calandra dengan jujur. Mana sempat anak itu baca, dia sudah keburu panik dengan keadaan sang bunda.


Reagan menghela nafas lega, dia mengusap kedua bahu putranya dan mencengkeramnya dengan lembut.

__ADS_1


"Dengar Cala, bunda dan Ayah sayang Cala. Cala tau itu kan?" Ujar Reagan yang mana membuat Calandra menganggukkan kepalanya.


"Cala juga cayang cama bunda cama ayah." Lirih Calandra.


"Kalau begitu, jangan berpikir untuk meninggalkan kami. Karena kamu, adalah cahaya kami." Bisik Reagan sebelum dia akhirnya memeluk anak itu dengan erat.


Tanpa Reagan sadari, ada seseorang yang melihat mereka dari kejauhan. Orang itu yang tak lain dan tak bukan adalah Lucian. Dia tak sengaja melihat Reagan yang datang dengan membawa istrinya yang sedang pingsan.


"Kasih sayang kalian pada keponakanku sangat tulus. Tapi maaf, adikku pasti menginginkan putranya kembali. Setelah ini, kalian akan memiliki penggantinya, biarkan Calandra ikut bersama keluarga dia yang sesungguhnya." Batin Lucian.


.


.


.


Alan tengah bertelponan dengan Reagan, iparnya itu sudah memberitahukan padanya tentang surat yang Lucian kirimkan. Alan meminta Reagan untuk tenang, mereka pasti Alan menemukan solusinya. Pria itu juga meminta pada Reagan untuk fokus terhadap kesembuhan Airin, biar masalah ini Alan akan tangani sementara waktu.


"Jaga Airin baik-baik. Aku akan meminta daddy untuk menjemput Calandra. Tak baik anak kecil terus berada di rumah sakit. Biar untuk sementara, Calandra menginap dulu di mansionku." Terang Alan.


Cklek!


Alan menatap ke arah ambang pintu, terlihat Kendrick masuk dengan terburu-buru.


"Tuan, Tuan Arley sudah datang. Dia ingin segera menemui anda." Terang Kendrick.


"Biarkan dia masuk." Titah Alan


Alan segera membereskan penampilannya, dia akan menyambut Arley. Senyum nya terukir saat Arley memasuki ruangannya. Keduanya saling berjabat tangan sebelum Alan mengajaknya duduk.


"Maaf, kau harus kembali kesini Arley." Ijar Alan tanpa bahasa formal.


"Tidak apa, aku suka sekali kesini." Ujar Arley.


"Bagaimana? Apa pekerjaanmu disini sidah selesai?" Tanya Alan.


"Sudah, tinggal mengurus masalah kita. Aku sudah meminta anak buahku yang dari Perancis, untuk mengirim kapal pesiar itu malam ini. Mungkin, akan memakan waktu beberapa hari." Terang Arley.

__ADS_1


Alan mengangguk, dua minggu lagi adalah hari spesial untuknya. Putrinya akan berumur lima tahun, dia akan menghadiahkan kapal pesiar untuk putrinya itu.


"Arley, kamu memiliki kedudukan yang kuat di berbagi negara. Bisakah aku meminta bantuanmu?" Tanya Alan dengan hati-hati.


"Of course, katakan. Aku akan membantumu, kita teman bukan?" Seru Arley dengan tersenyum senang.


"Saat pertemuan kita terakhir kali, kamu bertemu dengan anak laki-laki bernama Calandra bukan?" Tanya Alan dengan hati-hati.


Kening Arley mengerut, dia mengingat nama Calandra. Tentu saja, Calandra menjadi perhatiannya. Dia penasaran dengan bocah itu


"Ya, aku mengingatnya. Dia anak yang manis, walau wajahnya terlampau dingin." Ujar Arley dengan sedikit terkekeh.


"Benar, saat ini dia sedang dalam masalah. Sebenarnya, Calandra bukanlah anak kandung dari kakak ipar saya. Melainkan, dia anak yang saya temukan tiga tahun lalu. Saat itu ...."


Alan mulai menjelaskan secara detail kejadian dari Calandra di temukan hingga saat ini. Mendengar pernyataan itu, tentu Arley kaget mendengarnya. Dia semakin ingin tahu lebih dalam tentang Calandra.


"Saat ini, paman kandung dari Calandra datang untuk mengambil hak asuhnya. dia seorang Jendral, kami takut kalah dalam persidangan. Kamu pasti memiliki koneksi yang lebih banyak, bisakah kamu membantu kami? Aku tahu, segalanya bisa dengan uang, tapi pangkat paman Calandra tak bisa kita remehkan. Dia pasti akan menggunakan pangkatnya untuk memanipulasi keputusan jaksa." Kata Alan dengan penuh harap.


Arley mengangguk pelan, dia turut bersedih atas apa yang menimpa Calandra.


"Aku memiliki teman pengacara handal dalam masalah hak asuh, dan juga seorang jaksa. Aku akan meminta bantuan mereka. Kau tenang saja, aku akan membantumu." ujar Arley dengan menepuk pelan bahu Alan.


"Terima kasih." Ujar Alan dengan tersenyum tipis.


"Sama-sama. Oh ya, siapa ibu kandung Calandra? Biar temanku akan mencari datanya lebih lengkap. Mungkin saja, ibu kandungnya bisa di selidiki." Ujar Arley sembari mengambil secangkir kopi yang di sediakan di meja.


Kening Alan mengerut, dia mengingat nama yang pernah Liam sebutkan padanya.


"Kalau aku tidak salah ingat, nama ibu kandung Calandra ... Sherly. Ya! Sherly! Dia adik dari Jendral Lucian."


PRANG!!


___


Yang mau crazy up, siapa hayooo🥳🥳🥳


Jangan skip like dan komen kawan🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2