
Masih di hari yang sama, malamnya. Alan mengajak kedua anak kembarnya pulang, tetapi keduanya tampak asik bermain dengan Erlangga. Keduanya mendengarkan cerita sang opa, yang begitu asik di dengar.
"El, Lexi ayo pulang!" Ajak Alan yang sudah siap untuk pulang.
"Cebental papa, ini kancilna belum tau menang apa kalah." Sahut Elouise tanpa melihat pada sang papa.
Alan berdecak sebal, dia menatap Alexix yang juga tampaknya masih asik melihat Erlangga.
"Sudahlah, kalian pulang saja. Biarkan si kembar disini." Tegur Diandra, yang tak tega dengan sang cucu.
"Mom, anak kecil gak boleh lama-lama di rumah sakit. Apalagi Elouise, dia baru saja sembuh." Ujar Azalea dengan perasaan tak enak.
"Oh iya, mommy lupa." Sahut Diandra. Azalea sudah menceritakan tentang Elouise, tentu saja Diandra turut prihatin dengan keadaan cucunya. Namun, sampai detik ini Azalea menutup rapat masalah rumah tangganya, karena baginya itu sudah masa lalu. Tak perlu lagi dia ungkit.
"Yasudah, biar mama bujuk mereka." Ujar Diandra.
Hanya hitungan menit saja waktu yang Diandra butuhkan untuk membujuk cucunya agar menurut pada Alan.
"Dad, Lea pulang dulu." Pamit Azalea.
"Hati-hati yah nak." Erlangga memeluk singkat putrinya, dia juga menyempatkan diri untuk meng3cup kening sang putri.
Alan pun begitu, dia memeluk Erlangga. Namun, dia tidak di beri k3cupan. Hal itu, justru membuat Elouise mengangkat suara.
"Opa! Kenapa papa nda di beli k3cupan juga. Cama cepelti mama?" Seru Elouise.
"Eh?" Erlangga menatap Alan, begitu pun sebalik. Sontak, keduanya meneguk kasar ludahnya.
"Iya, nda boleh pilih kacih. Kan papa juga anak opa, iya kan oma?" Seru Alexix meminta pendapat sang oma.
"Betul itu!" Seru Diandra menahan tawanya.
Alan menatap istrinya seakan meminta bantuan, sedangkan Azalea hanya bisa menutup mulutnya. Begitu pun dengan Reagan, dia hampir tertawa lepas melihat kejahilan kedua bocah kembar itu.
"Ayo opa! Kebulu kemaleman ini!!" Pekik Alexix.
Erlangga menghela nafas pelan, dia meraih kepala Alan. Dengan memejamkan matanya, Erlangga mendaratkan sebuah k3cupan di kening menantunya itu. Seketika, Elouise dan Alexix tersenyum puas.
"Ayo mama, kita pulang." Ajak Elouise sembari menggandeng tangan mama nya untuk pergi.
"Iy sayang. Sebentar." Azalea beralih memeluk sang mama, dan juga sang abang. Reagan memeluk erat adiknya itu.
"Lea, abang sekalian pamit yah."
Pernyataan Reagan, membuat Azalea melepas pelukannya. Dia menatap Reagan dengan kening mengerut.
__ADS_1
"Pamit kemana?" Tanya Azalea dengan bingung.
"Abang keterima kerja di Jerman, lusa abang akan berangkat."
Jujur saja, Azalea sedih mendengarnya. Baru kali ini dia kerasa punya abang. Sungguh, Azalea seakan tak rela abangnya itu jauh darinya.
"Kenapa harus di sana? Disini kan banyak pekerjaan yang akan menerima abang." Ujar Azalea dengan suara bergetar.
Reagan tersenyum dia mengusap kepala adiknya dengan sayang. Dia juga tidak mau jauh dari Azalea, hanya saja dirinya harus melalukan hal itu.
"Abang akan sering-sering memberi kabar padamu," ujar Reagan.
"Nanti mommy sama daddy gimana?" Tanya Azalea dengan suara bergetar.
"Nah, itu ... kalau bisa kamu seringlah menginap di rumah mommy dan daddy. Biar mereka ada temannya," ujar Reagan.
"Apa gak bisa disini aja? Mas Alan bisa carikan kantor yang baik buat abang." Kekeuh Azalea.
Reagan beralih menatap Alan, begitu pun dengan Alan. Tatapan mereka seperti tengah memberi isyarat. Mengerti arti tatapan Reagan, Alan pun mendekat pada istrinya. Dia merangkul bahu Azalea, dan mengelusnya.
"Sayang, abangmu butuh koneksi lebih jauh lagi. Mungkin di Jerman nanti dia bisa bertemu jodohnya." Jail Alan, mencairkan suasana.
"Benar, siapa tahu selaka ini abang menjomblo. EH, ternyata jodohnya orang sana." Canda Reagan.
Reagan tersenyum, dia mengacak rambut Azalea. Sama seperti seorang abang yang tengah bercanda dengan adiknya.
"Yaudah, kita pulang dulu." Pamit Alan.
Alan merangkul Azalea keluar dari ruang rawat itu, di ikuti oleh si kembar yang berjalan di belakang mereka.
Sementara Reagan, dia memandang kepergian keluarga kecil adiknya dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Reagan, kami gak papa nak?" Tanya Diandra, sembari mengelus bahu putranya.
"I'm okay mom, hanya sedikit sakit saja." Lirih Reagan.
"Sabar yah, kamu akan menemukan kebahagiaan sayang," ujar Diandra memberi kekuatan untuk putranya.
Reagan mengangguk, dia yakin. Pasti, jodohnya sedang menunggu kedatangan dirinya. Mungkin dengan ke Jerman, dia bisa menemukan wanita sang belahan jiwa di sana.
.
.
.
__ADS_1
Di perjalanan pulang, Azalea hanya menatap luar jendela. Keadaan jalanan sedikit gerimis, hingga membuat kaca mobil basah karena air hujan.
"Masih sedih?" Pertanyaan Alan membuyarkan lamunan Azalea.
"Oh, enggak. Aku cuman kepikiran aja, apakah abang pergi ke luar negri untuk menghindari kita?"
"Maksudnya?" Bingung ALan.
"Ya, kamu tahu sendiri mas bagaimana perasaan abang padaku. Perasaan cinta, gak akan pudar semudah itu. Walaupun dia tahu, jika aku adiknya. Dia mencintaiku sebagai wanita, dan dia harus melupakan ku sebagai adiknya. Kamu tahu maksudku kan mas?"
Mendengar hal itu, Alan terdiam. Benar, dia mengerti apa yang Reagan rasakan. Merelakan satu hal yang sangat berat untuk di lakukan. Bukan hanya karena status Reagan harus merelakan Azalea, tetapi juga karena hubungan darah yang sangat-sangat tidak mungkin dirinya bisa bersatu dalam pernikahan dengan wanita itu.
"Aku merasa bersalah pada abang." Lirih Azalea.
"Syutt, jangan begitu. Reagan, dia pria yang baik. Aku yakin dia pasti mendapatkan wanita yang baik juga untuknya. Sudah yah, lebih baik kita belanja dulu sebentar. Stok susu si kembar habis," ujar Alan. Lalu, menghentikan mobilnya di sebuah mini market.
Azalea mengangguk, dia melihat ke belakang. Ternyata, kedua putranya sudah tertidur.
"Mas, si kembar tidur." Bisik Azalea.
Alan menoleh, "Yasudah, biar bodyguard yang jaga mereka. Kita masuk saja, ayo."
Alan keluar dari mobil, dia menghampiri kedua bodyguard nya yang juga datang menghampirinya.
"Kalian, jaga si kembar. Saya ingin berbelanja sebentar." Titah Alan.
"Baik tuan."
Setelah memberi perintah, Alan dan Azalea masuk ke dalam minimarket itu dengan bergandengan tangan. Saat akan mengambil troli, Alan baru ingat sesutau.
"Sebentar sayang, dompetku ketinggalan!" Seru Alan, dia buru-buru kembali ke dalam mobil.
"Dasar, kebiasaan!" Kesal Azalea.
Azalea akan mengambil trolinya, tetapi dirinya di kejutkan dengan kehadiran anak kecil. Namun, ada yang berbeda dari anak kecil itu. Azalea bisa menyadari, jika anak itu adalah anak down sindrom.
"Hai, adik manis. Kemana orang tuamu? Kenapa berjalan sendiri hm?" Tanya Azalea, sabri berjongkok di hadapan gadis kecil itu.
Azalea mengelus pipinya, walau down sindrom. gadis kecil itu terlihat sangat lucu dan manis. Kulitnya putih bersih, dan juga pipinya yang gembul.
"TRISA!!"
Azalea tersentak kaget, dia langsung berdiri ketika ada seorang wanita yang datang dan langsung menarik anak itu.
___
__ADS_1