
Hari ini adalah hari dimana sidang di langsungkan, Reagan tengah bimbang. Airin belum di perbolehkan pulang dari rumah sakit karena keadaannya yang masih lemah. Tapi, hari ini Reagan harus menghadiri sidang itu. Terpaksa, Reagan datang seorang diri dengan Alan yang menemaninya. Sementara di rumah sakit, Airin di jaga oleh Diandra dan Erlangga. Calandra masih menetap di mansion Alan, mereka tak membawanya ke pengadilan.
"Alan, kau yakin cara ini akan berhasil? Bagaimana jika hakim memihak pada Lucian? Secara, Lucian adalah seorang jendral. Tentu, backingan dia kuat." Ujar Reagan dengan gelisah. Keduanya baru saja sampai di parkiran pengadilan, dan belum berniat untuk turun.
"Pasrahkan segalanya, aku sudah meminta bantuan temanku. Hakin yang menangani kasus ini, adalah teman nya. Dia bilang, jika Lucian tidak akan bisa mendapat hak asuh Calandra. Kecuali, jika orang tua Calandra sendiri yang mengajukan banding." Terang Alan sembari menepuk bahu Reagan.
Reagan menghela nafas panjang, tangannya terasa dingin. Padahal, dia sudah sering datang ke pengadilan. Namun, kali ini. Dia lah yang menjadi peserta dari panggilan itu.
"Ya, kau benar. Lucian tidak akan bisa mendapat hak asuh Cala. Dia bilang, jika adiknya menghilang kan? Itu artinya, kita akan menang mendapat hak asuh Cala." Bisik Reagan pada dirinya sendiri.
"Yasudah, ayo. Temanku akan datang menyusul nanti." Ajak Alan.
Sementara itu, Lucian baru saja menghubungi pengacaranya. Dia menjemput pengacaranya yang sedang berada di parkiran. Ponsel nya tertempel apik di telinganya.
"Ya, anda membawa semua berkas yang saya perlukan bukan? Jangan sampai tertinggal, saya tidak ingin kalah dalam aju banding ini." Ujar Lucian sambil berjalan menuju parkiran.
Karena tak hati-hati, Lucian menabrak seseorang. Ponselnya terjatuh dan mungkin rusak. Pria itu berdecak sebal, dan beralih menatap pria yang tak sengaja dirinya tabrak.
"Bisakah kau jalan dengan ...." Perkataan Lucian terhenti saat dirinya melihat orang yang dirinya tabrak. Matanya terbelalak lebar, lidahnya kelu untuk berbicara.
"Maaf? Anda sendiri yang menabrak saya," ujar pria itu.
"Arley?" Lirih Lucian.
Pria yang Lucian tabrak yang tak lain adalah Arley. Pertemuan mereka, membuat Lucian terkejut bukan main. Jantungnya berdegup kencang, tangannya terkepal kuat di sisi tubuhnya.
"Anda mengenal saya?" Tanya Arley.
Kepalan tangan Lucian melemah, keningnya mengerut bingung. Dia menatap lekat Arley yang seperti tak mengenalnya.
"Maaf, saya buru-buru. Lain kali, jalan hati-hati. Kau akan mencelakai orang jika seperti tadi." Ujar Arley sebelum dirinya melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda.
Lucian mengamati kepergian Arley dengan tatapan bertanya-tanya. Tatapan Arley padanya, seperti seorang asing yang baru saja melihat dirinya.
"Dia tidak mengenalku?" Bingung Lucian.
.
.
Persidangan di mulai, hakim telah memasuki ruangan persidangan. Semuanya memberi hormat padanya. Konflik permasalahan pun di buka. Reagan di beri pertanyaan oleh hakim, begitu pun dengan Lucian. Keduanya menjawab seadanya, tak terkecuali Lucian .
__ADS_1
"Yang mulia, keponakan klien saya telah di culik oleh seseorang. Dan di temukan oleh Tuan Reagan Xaver. Beliau mengangkatnya menjadi anak yang sah secara hukum. Tapi yang mulia, bukankah klien saya lebih berhak mengasuh keponakannya atas nama Calandra? Sebab, beliau ini adalah pamannya. Sedangkan Tuan Reagan Xaver, hanyalah orang tua angkat saja." Tetang Pengacara Lucian.
"KEBERATAN YANG MULIA!" Sentak Pengacara Reagan yang langsung berdiri sembari mengangkat tangannya.
"Keberatan di terima." Ujar hakim.
Pengacara Reagan mulai angkat suara, tak hanya satu pengacara yang Reagan bawa. Bahkan lima pengacara berada di dalam sidang itu. Dan semuanya, pengacara terbaik yang Alan bawakan untuknya.
"Klien saya telah mendapatkan hak asuh Ananda Calandra secara hukum yang sah di negara ini! Tuan Lucian memang paman dari Ananda Calandra, dia berhak jika ... Sudah ada bukti surat kem4tian atas meninggalnya kedua orang tua kandung Ananda Calandra. Barulah, hak asuh Calandra akan jatuh ke tangan pamannya. Bukankah begitu yang mulia?"
Lucian mengepalkan tangannya, bagaimana dia bisa menunjukkan surat kem4tian adiknya. Sementara dia tidak tahu, apakah adiknya masih hidup ataukah sudah meninggal. Tatapan Lucian mengarah pada Arley yang sepertinya santai dengan permasalahan yang ada.
"Masukan di terima!"
Tok! Tok! Tok!
"Terima kasih, yang mulia." Pengacara Reagan kembali duduk, kelimanya tersenyum puas.
"Baik, berdasarkan apa yang di katakan oleh klien Tuan Reagan tadi. Apakah anda, memiliki surat kem4tian adik anda sendiri tuan Lucian?" Tanya hakim pada Lucian yang masih memandang ke arah Arley.
Alan mengamati pandangan Lucian, dia mengarah pada apa yang Lucian tatap. Keningnya mengerut kala mengetahui yang Lucian tatap sedari tadi adalah Arley.
"Tuan Lucian! Apa anda mendengar saya?" Seru hakim.
Lucian kembali menatap hakim, dia menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. "Saya tidak tahu, apakah adik saya saat ini masih hidup. Ataukah sudah tiada." Jawab Lucian sembari menundukkan kepalanya.
"Lalu, dimana suami dari adik anda?" Tanya hakim.
"Dia ...." Lucian melirik ke arah Arley yang juga tengah menatapnya.
"Yang mulia! Tuan Lucian tak bisa memberi keterangan yang jelas! Bukankah hal ini sudah cukup membuktikan, jika hak asuh Calandra lebih tepat berada di tangan orang tua angkatnya? Lagi pula, selama ini Ananda Calandra bahagia dengan kehidupannya bersama dengan orang tua angkatnya. Mohon untuk yang mulia pertimbangkan!" Pengacara Reagan, benar-benar mengambil kesempatan di kala pihak Lucian tak mamou memberikan keterangan.
Hakim pun menatap mereka, dia berbisik dengan hakim lainnya untuk memberikan pendapat mereka masing-masing. Alan menatap Reagan, pria itu mengedipkan kedua matanya. Mengisyaratkan, bahwa mereka berdua akan menang.
"Baik, kami sudah memutuskan. Jika hak asuh Calandra ....."
Semuanya mendadak tegang, Reagan memejamkan matanya. Tangannya saling menggenggam untuk menyalurkan rasa gugupnya.
"Tetap berada di pihak Tuan Reagan Xaver."
Tok! Tok! Tok!
__ADS_1
Deghh!!
Reagan membuka matanya, air matanya seketika luruh. Dia beralih menatap Alan, keduanya saling menatap dengan penuh kebahagiaan. Reagan langsung berjabat tangan pada kelima pengacaranya, dia begitu senang karena masalah ini di menangkan olehnya.
Sedangkan Lucian, dia yang tadinya percaya jika persidangan ini akan di menangkan olehnya. Kini harapannya di patahkan oleh keputusan hakim. Hatinya sangat hancur, dia sangat berharap Calandra kembali bersamanya. Jika adiknya tak kembali, maka dia masih memiliki Calandra sebagai putra dari adik satu-satunya.
BRAK!!
Semua orang yang masih ada di ruang sidang terkejut mendengar suara gebrakan pintu. Mata mereka langsung menatap ke arah seorang pria yang berlari menghampiri Reagan.
"REAGAN! CALANDRA DI CULIK!" Teriak oria yang tak lain adalah Liam.
"Apa? Apa maksudnya bang? Cala sedang ada di Mansion Annovra. Mana mungkin dia di culik." Ujar Reagan dengan jantung yang berdebar kencang.
Tatapan Reagan beralih pada Lucian yang seperti tak mendengar percakapan mereka. Pria itu bahkan hampir beranjak pulang. Sebelum Lucian sampai di pintu, Reagan memanggil namanya.
"LUCIAAAANN!!" Reagan berlari dan menerjang tubuh Lucian. Dia memukul Lucian dengan emosi yang membara. Lucian hanya bisa menahan serangan Reagan tanpa tahu apapun masalahnya.
"Kau ... kau tahu kalau kau akan kalah dalam persidangan ini. Sehingga, kau membuat rencana B untuk menculik Calandra kan!!" Sentak Reagan dengan amarah yang menggebu.
"Menculik? Calandra di culik?" Tanya Lucian dengan mata membulat sempurna.
Lucian mendorong kasar tubuh Reagan yang menahan tubuhnya, pria itu segera bangkit dam mendekat pada Arley yang memandang perkelahian mereka.
"Seharusnya, kalian tanya padanya!" Sentak Lucian sembari menunjuk wajah Arley dengan wajah memerah.
Alan dan Reagan saling pandang, keduanya tak mengerti mengapa Lucian justru menunjuk ke arah Arley. Sedangkan Arley sendiri bingung, dia tidak tahu apapun.
"Jangan melempar kesalahan mu Lucian!" Seru Alan tak terima.
Lucian Menoleh, dia menatap Alan dan Reagan dengan tatapan tajam.
"Kalian mau tahu? Laki-laki pengecut yang menjadi kan adikku hanya sebagai pencetak keturunannya?" Lucian beralih kembali menatap Arley dengan kilatan penuh amarah.
"DIA ... PRIA INI ADALAH AYAH KANDUNG DARI CALANDRA!! PRIA YANG SUDAH MEMBUAT HIDUP ADIKKU HANCUR!! DIA PRIA EGOIS YANG MENIPU ADIKKU AGAR DIA BISA MEMILIKI SEORANG PENERUS!!"
Deghh!!
"A-apa?" Arley memandang Lucian dengan mata memerah menahan tangis, jantungnya berdegup sangat kencang. Telinganya bahkan berdenging cukup keras.
"Calandra, putraku?" Tanya Arley dengan suara lirih, menatap Lucian dengan mata bergetar menahan tangis.
__ADS_1