
Cklek!
Alan membawa masuk Elouise, tangisan anak itu bahkan sampai di dengar oleh Diandra dan juga Reagan. Keduanya terkejut dengan kedatangan Alan beserta istri dan anak-anaknya.
"Eehhh, kalian datang?!" Pekik Diandra yang sudah heboh. Apalagi, saat melihat sosok menggemaskan yang berada di gendongan Alan. Raut wajah bocah itu sembab, dengan hidungnya yang memerah menambahkan kesan gemas padanya.
Azalea pun menyusul masuk dengan Alexix, sedari tadi bocah itu memegang tangan Azalea dengan erat. Apalagi saat melihat orang asing yang belum ia kenal sama sekali.
"Cucu omaaa!! Sini sayang?" Seru Diandra.
Alexix langsung bersembunyi di belakang Azalea, dia merasa tak mengenali Diandra.
"Ih, kok malah malu. Ayo sini, sama oma." Ajak Diandra.
Alexix menggeleng, lalu tatapannya beralih ke belakang Diandra. Matanya membulat saat melihat ada Reagan di sana.
"OM LEGAL?!" pekik Alexix.
Reagan menoleh, dia melambaikan tangannya pada bocah itu.
"Eh, kok Legal? Reagan sayang," ujar Diandra.
"Maaf mom, cadel memang." Ujar Azalea dengan meringis.
"Oh, masih cadel." Angguk Diandra.
Tatapan Azalea beralih pada sang daddy yang sepertinya sedang tertidur. Namun, karena suara yang ramai membuat pria setengah baya itu terusik.
"Ada siapa mom?" Tanya Erlangga tanpa membuka matanya.
"Dad! ada si kembar!" Seru Diandra, buru-buru dia menghampiri brankar suaminya.
"Upin ipin? Ngapain kesini? Siapa yang ngundang?" Seperti nya Erlangga masih dalam mode mengantuk, pria itu sama sekali belum mau membuka matanya.
"Osh! Cucu kita loh!!" Pekik Diandra.
Mendengar kata cucunya, Erlangga langsung membuka matanya. Dia mendudukkan dirinya. Matanya langsung menyorot pada kedua cucunya yang tengah menatapnya dengan mata membulat lucu.
"Eeh, cucu opa. Sini sayang, sini sapa opa." Seru Erlangga. Alexix dan Elouise, menatap Erlangga dengan tatapan tak bisa di artikan.
"Kenapa?" Tanya Alan, ketika Elouise mendekatkan bibirnya pada telinga sang papa.
"Milip mummy." Bisik Elouise.
"Heh! Itu kakeknya!" Seru ALan.
Alan mendekat pada Erlangga, dia menurunkan Elouise di tepi brankar sang mertua. Tubuh Elouise menegang, apalagi saat Erlangga mengusap rambutnya.
"Papa." Cicit Elouise. Tubuhnya serasa sulit di gerakkan, dia hanya bisa mencuri lirikan pada Erlangga.
Sementara Alexix, dia panik saat Diandra menarik tangannya.
"Hiks ... mama." Rengek Alexix.
"Gak papa, sini sama oma. Oma punya coklat, kamu mau?"
__ADS_1
Rengekan Alexix terhenti, matanya mengikuti kemana tangan Diandra bergerak. Wanita itu mengeluarkan sebatang coklat dari laci nakas, dan memberikannya pada Alexix.
"Kok catu? Catuna lagi mana?" Tanya Alexix, membuat wanita setengah baya itu bingung.
"Loh, itu kan besar. Cukup buat Lexi," ujar Diandra dengan bingung.
"Ini buat Lekci, buat El mana?"
Diandra menutup mulutnya, dia terharu dengan permintaan cucunya itu. Lalu, tangannya beralih mengelus rambut tebal Alexix.
"Oke, Oma ambil lagi yah buat adeknya." Ujar Diandra.
Diandra kembali membuka laci nakas, dia mengambil satu batang coklat dan memberikannya pada Alexix. Karena dia pikir, Alexix sendiri yang akan memberikannya.
Elouise menatap Alexix, begitu pun sebaliknya. Alexix berjalan menuju kembarannya, dengan menyodorkan coklat itu. Namun, belum sampai di hadapan Elouise. Alexix sudah menghentikan langkahnya, dia mematahkan coklat itu di hadapan Elouise. Membuat Elouise seketika melototkan matanya.
Tak!
"Nyah, dikit aja. Janan banak-banak, lucak nanti gigimu." Seru Alexix, sembari menyodorkan coklat itu pada adiknya.
Azalea dan ALan, menepuk kening mereka. Sedangkan yang lainnya, hanya bisa melongo menatap tingkah keduanya.
"Cepat ambil! Nanti aku makan cemuana!" Seru Alexix, saat Elouise tak kunjung mengambilnya.
d4da Elouise kembang kempis, wajah putih nya memerah. Bersiap akan menumpahkan kekesalannya.
"KAU!! KAU KILA GIGIMU DALI CULA BADAK HAH?!"
.
.
.
"Opa, opa puna kucing nda?" Tanya Elouise yang kini duduk bersandar pada sang opa.
"Punya, kucingnya mirip macan tutul. Nanti, opa tunjukkan." Seru Erlangga membuat Elouise menarik dirinya dan menatap sang opa dengan mata yang melotot lebar.
"BENELAN??" Pekik Elouise.
"Beneran, emang nya ... Elouise punya kucing?" Tanya Erlangga.
Elouise mengangguk, dia kembali menyandarkan tubuhnya pada d4da sang opa. Tak jauh beda dengan d4da sang papa, d4da sang opa pun sangat nyaman untuknya bersandar.
"Ada, El puna kucing," ujar Elouise.
"Kucingnya jenis apa?" Tanya Erlangga, menyahuti cerita sang cucu.
"Jenis na El nda tau, tapi kata Lekci milip lempeyek."
"Ha?!"
Erlangga menganga, tatapannya beralih pada Azalea yang tengah mengupas buah jeruk untuk suaminya. Menyadari tatapan sang papa, Azalea pun tersenyum.
"Kucingnya ras lokal dad, warna jingga tapi lebih muda sedikit. Mirip rempeyek katanya," ujar Azalea.
__ADS_1
"Ooo, begitu. Laki-laki atau perempuan kucingnya?" Tanya kembali Erlangga pada Elouise.
"Nda tau, tapi ada bijina."
"PFTTT!!" Reagan menahan tawanya. Menyadari jika dirinya di tertawakan, Elouise langsung melirik sinis.
"APA? TENAPA KETAWA?" Sewot Elouise.
Reagan menetralkan wajahnya, dia menatap Elouise. Sungguh, kini dia ingin sekali tertawa.
"Heh! dengerin yah, kalau ada bijinya itu berarti laki-laki." Ujar Reagan.
"Kalau perempuan, nda ada bijina?" Sahut Alexix yang sedari tadi mendengarkan percakapan mereka.
"Kalau perempuan ada di aa ... hmpp!! Yaaangg!!" Azalea memasukkan jeruk pada mulut suaminya yang hampir mengucapkan kata kramat.
"Untuk gak aku sumpelin keset!" Ketus Azalea.
Alan mengunyah jeruk itu dengan tatapan kesal, walau begitu dia tak marah pada istrinya.
"Kalau pelempuan dimana?" Tanya Alexix yang merasa pertanyaannya belum terjawab.
"Kalau perempuan ada susunya, buat nyusuin anaknya." Terang Diandra mewakili putranya.
Alexix dan Elouise menganggukkan kepalanya mengerti. Tak lama, mereka pun bertanya kembali.
"Emangna kucing punya cucu?" Tanya Elouise pada Erlangga.
"Punya lah, buat nyusuin anaknya," ujar Erlangga dengan kepala yang mulai pening karena banyak pertanyaan aneh dari kedua cucunya.
"Kalau punya, kenapa nda di jual cucu kucing? Banakna di jual cucu capi cama kambing,"
"Eh?!" Pertanyaan Alexix, sontak membuat mereka bingung. Benar juga, kenapa tidak ada susu kucing.
"Karena stoknya sedikit! Anaknya banyak! Masa mau di jual! Kalau sapi badannya gede, anaknya cuman satu." Sahut Reagan.
Alexix dan Eloise mengangguk mengerti, keduanya kembali terdiam. Namun, keterdiaman mereka tak berlangsung lama. Sebelum akhirnya Elouise meminta susu kotak pada sang papa.
"Papa, El haus. Mau cucu." Pinta Elouise.
Alan mengambil susu kotak dari tas Elouise, lalu dia memberikannya pada putranya itu. Alexix memperhatikan apa yang sang pala dam kembarannya lakukan dengan kening mengerut.
"Cucu kotak dali cucu apa?" Tanya Alexix.
"Susu sapi lah." Seru Alan.
"Ooo, belalti El anak capi."
BYURR!!
"UHUK!! UHUK!! CEMBALANGAN KAU MALKONAAAHH!!"
___
Jangan lupa like dan komennya
__ADS_1