
Alan dan Reagan sampai di kantor polisi, dimana sang pelaku di tahanan. Saat mereka akan keluar dari mobil, ponsel Alan berdering. Pria itu menatap ponselnya untuk melihat siapa yang menelponnya.
"Reagan, masuklah dulu. Aku angkat telpon dari bodyguard si kembar." Izin Alan.
Reagan mengangguk, "Baiklah, kalau sudah selesai. Nyusul saja." Sahut Reagan dan beranjak dari dalam mobil.
Reagan memasuki kantor polisi, dirinya sudah di sambut oleh beberapa polisi yang sudah menunggu kedatangannya.
"Dimana orang itu?" Tanya Reagan dengan ekspresi yang datar.
"Di dalam sel tuan, dia terus memberontak. Anda bisa datang melihatnya, mari ... saya antar."
Reagan mengikuti seorang kepala polisi yang menunjukkan sel tahanan sang pelaku. Belum masuk saja, Reagan sudah mendengar teriakan. Pelaku itu, terus saja berteriak meminta di bebaskan.
"LEPASKAN AKU!! AKU TIDAK SALAH!! ORANG ITU YANG TIBA-TIBA MENYEBRANG, KENAPA AKU YANG DI SALAHKAN!!"
Reagan menghentikan langkahnya saat dirinya sampai di depan sel, dia bisa melihat dengan jelas pelaku yang sudah menabrak sang daddy.
"Pertama, kau menerobos lampu merah. Kedua, kau menabrak seseorang. Ketiga, kau kabur dari tanggung jawab. Ke empat, kau berbohong. Kau akan terkenal pasal berlapis,"
Pelaku itu terdiam, dia menatap Reagan dengan tatapan lekat. Dia memandang Reagan dari atas hingga bawah. Matanya menelisik, siapakah Reagan ini.
"Kenalkan, saya Reagan. Saya disini, sebagai pengacara, sekaligus anak dari korban yang kamu tabrak."
"Apa?!" Pekik sang pelaku. Mata pria itu membulat sempurna, dia menatap takut ke arah Reagan yang menatapnya datar.
Brugh!!
Tiba-tiba saja pria itu berlutut, dia menangkupkan tangannya pada Reagan. Reagan yang di perlakukan seperti itu segera menyingkir, dia tidak suka ada orang yang berlutut padanya.
"Tuan, tolong. Maafkan saya, saya bersalah. Saya tidak sengaja, saya mengantuk saat itu. Tolong, jangan bawa kasus ini ke polisi, istri saya sakit. Anak saya hilang tanpa kabar, jika saya di penjara. Bagaimana keadaan istri saya?"
Reagan hanya diam, dia menatap pria itu dengan tatapan yang tak biasa.
"Dia benar Tuan, dia hanya tinggal dengan istrinya yang sakit keras. Saat kami membawanya kesini, istrinya sempat pingsan beberapa kali. Tapi, untungnya ada tetangga mereka yang membawanya ke rumah sakit," ujar salah satu polisi.
Reagan mengangguk mengerti, dia kembali menatap pria paruh naya itu yang masih betah dengan posisinya.
__ADS_1
"Hukum akan terus berjalan, mengenai istrimu. Masih ada panti sosial yang akan menampungnya," ujar Reagan membuat pria itu menangis.
"Jangan tuan, kasihan istri saya." Isaknya.
Saat Reagan akan kembali berkata, tiba-tiba Alan memanggilnya.
"Reagan, apa masih lama? Azalea minta di jemput." Seru Alan.
Mendengar suara yang tak asing, pria paruh baya itu menoleh. Matanya melebar kala melihat sosok Alan yang berdiri di sebelah Reagan.
"TUAN ALAN!!" Seru pria itu.
Alan tersentak kaget, netranya membulat setelah tahu siapa yang memanggilnya. Tangan pria itu terkepal kuat, rahangnya mengeras. Matanya, menatap tajam pria yang menatapnya dengan senyuman lebar.
"Paman Tio." Ujar Alan dengan suara rendah.
"Tuan Alan, bantu saya. Dia ingin memenjarakan saya, tolong bebaskan saya." Seru pria itu. DIa beranjak berdiri, dan berusaha menggapai tangan Alan.
Alan memundurkan langkahnya. Melihat respon Alan, membuat Reagan mengerutkan keningnya.
"Kau mengenalnya?" Tanya Reagan.
"Maksudmu?" Tanya Reagan.
"Adikmu, pria ini hampir menjualnya pada seorang pria tua untuk menjadi istri sekian sebelum aku menikahinya! Aku menebus adikmu yang akan di nikahkan pada pria tua itu!"
"Apa?!" Pekik Reagan, menatap pria paruh baya itu yang kini berwajah pucat.
"Tidak usah tanggung-tanggung, biat di di penjara seumur hidupnya." Tekan Alan, setelah mengatakan itu. Alan bergegas pergi, meninggalkan Reagan yang terdiam di tempat.
Reagan melangkah maju, melihat itu Tio langsung menjauh. Apalagi, saat melihat tatapan tajam Reagan yang seakan menusuk dirinya.
"Kalau tidak ada sel ini yang menghalangi, sudah ku patahkan lehermu!" Sentak Reagan.
"Berani sekali kau menjual adikku, siapa kamu hah?!" Lanjutnya, membuat Tio seketika terlihat bingung.
"Adik?" Beo Tio.
__ADS_1
"YA! Azalea adikku! Adik kandungku!"
Raut wajah Tio berubah, dia menatap Reagan dengan senyuman sinis.
"Heh, seharusnya kau berterima kasih padaku karena aku lah yang menyelamatkan adikmu. Kalau tidak, dia sudah mati terbawa arus itu."
Kening Reagan mengerti, dia menatap pria yang tadinya ketakutan. Tio Berdiri sembari menatap tajam dirinya.
"Aku yang menolong adikmu, bukankah kau harus membayarnya?"
"BOHONG!"
Reagan dan Tio terkesiap, keduanya sama-sama mendapati Alan yang datang kembali dengan seorang wanita di sebelahnya. Wanita paruh baya yang terlihat sedang tidak sehat, raut wajahnya terlihat sangat pucat.
"Dia bohong, dia tidak menolong adikmu. Kakak perempuan dia lah yang menemukan adikmu di bibir sungai saat sedang mencuci pakaian. Adikmu saat itu bahkan tengah sekarat, tubuhnya membiru. Kakaknya meminta sedikit uang padanya untuk membawanya ke rumah sakit. Tapi apa katanya? Dia tidak punya uang, dan menyuruh kakaknya untuk kembali membuang bayi itu!"
Reagan tertunduk, matanya berkaca-kaca. SUngguh, dia merasakan perih di hatinya saat tahu apa yang terjadi pada adiknya.
"Setelah kakaknya meninggal, kami merawat Azalea. Suami saya orang yang keras, saya tidak boleh memberikan makan untuk nya. Anak yang belum remaja, dari mana dia mendapatkan makan?"
Tubuh lemah wanita itu bergetar, dia menatap suaminya dengan kilatan penuh amarah. Sedangkan Tio yang sudah tak mampu menolong dirinya, dan hanya bisa ketakutan.
"Tanpa sepengetahuannya, saya sering memberinya sisa makanan kami. Saya sisihkan untuknya, agar dia bisa makan. Maaf tuan, saya orang tak mampu. Sehingga saya tidak bisa memberikan kehidupan yang layak bagi adik anda." Ujar wanita itu sembari menangkupkan tangannya.
Reagan menghela nafas pelan, dia menurunkan tangkupan tangan istri Tio. Matanya memerah, menahan tangis.
"Terima kasih karena kau sudah membocorkan hal ini, bu. Saya akan membawa kasus ini ke ranah hukum. Bukan hanya kasus kecelakaan yang ia buat, tapi penjualan adik saya dengan ibu sebagai saksi. Apa ibu bersedia?"
Wanita itu mengangguk dengan kata berkaca-kaca, "Saya bersedia, saya juga ingin menebus rasa bersalah saya pada Azalea. Saya juga bukan orang yang memperlakukannya dengan baik. Tapi, saya masih memiliki hati nurani untuk membuatnya bertahan hidup. Makanya, saat tuan Alan yang menikahinya. Saya sangat senang, saya berharap Azalea dapat kembali bahagia. Tak di sangka, dia kembali bertemu dengan keluarga kandungnya." Ujar wanita itu dengan terharu.
"GIA!! APA-APAAN KAMU! BUKANNYA KAMU MENOLONG SUAMIMU! KAU MALAH MEMBUATKU SEMAKIN TERKENA MASALAH!!" Bentak Tio.
Gia, istri Tio itu melangkah maju. Dia menatap tajam suaminya dengan tangan yang terkepal kuat di sisi tubuhnya.
"Inilah balasanku, karena kamu sudah menjual putri kita pada rentenir serakah itu! Kemana uangnya hah? Kau pake buat judi?! Dasar manusia tamak!"
Reagan dan Alan saling pandang, keduanya menggelengkan kepalanya. Jangankan Azalea, orang yang tak memiliki darah dengannya. Anak. kandungnya sendiri pun dia jual demi uang.
__ADS_1
____
Maaf yah, ketiduran akuðŸ˜ðŸ˜ jadi telat up.