
Lucian di bawa ke kantor polisi, karena Alan yang melaporkannya. Tak ada tembak menembak, Lucian meminta anak buahnya untuk menurunkan senjata. Alan dan Reagan pun mengikuti mereka yang membawa Lucian ke kantor polisi.
"Papa, pulang cajalah. Cetles Calamel. Nda liat lambut Calamel dah cepelti cinga." Ujar Caramel. Memang benar, penampilan anak itu sungguh berantakan. Rambut pendeknya berantakan, bahkan bandonya yang sudah miring.
"Nanti Papa minta opa Erlangga menjemputmu," ujar Alan.
Sesampainya di kantor polisi, Alan dan Reagan segera turun dari mobil mereka. Bersamaan dengan sebuh mobil lain, yang Alan tahu jika mobil itu adalah milik mertuanya.
"Caramel, Cala. Kalian pulanglah dulu, kami masih ada urusan," ujar Reagan memberi pengertian pada keduanya.
"Yacudah, ayo Cala kita pulang." Ajak Caramel sembari menarik lengan Calandra.
Calandra sepertinya ragu, dia memandang sejenak Reagan. Anak itu ingin tetap di sana, hatinya seakan menahannya untuk berada tetap di sana.
"Pergilah, kasihan bunda jika mencarimu nanti," ujar Reagan dengan lembut.
"Heum ... janan belantem ya ayah, kacian bunda nanti," ujar Calandra memberi perhatian.
Reagan mengangguk, dia menunduk dan meng3cup kepala putranya dengan sayang. "Enggak akan, jaga bunda dan adik yah." Pinta Reagan.
Erlangga keluar dari mobil, dia membukakan pintu untuk Caramel. Setelah itu, dia menunggu Calandra yang berjalan menuju mobil. Matanya beralih menatap Alan dan Reagan yang menatap Calandra.
"Kalian bereskan dulu masalah ini. Kalau ada apa-apa, telpon Daddy." Titah Erlangga.
"Terima kasih dad, jangan beritahukan pada Azalea tentang ini. Dia tidak boleh stress, nanti aku sendiri yang akan menjelaskan perlahan padanya," ujar Alan pada mertuanya itu.
"Tentu, bukan hanya Azalea. Sebaiknya Airin jangan di beritahu dulu," Jawab Erlangga.
Alan dan Reagan mengangguk, keduanya memutuskan untuk masuk ke dalam kantor kepolisian agar masalah ini cepat selesai.
Interogasi kepolisian di mulai, Lucian duduk di hadapan polisi. Sementara Reagan dan Alan berada di ruang ruangan, mereka melihat Lucian dari balik kaca.
"Tuan Lucian, mengapa anda menguntit anak-anak?" Tanya polisi itu.
"Saya bukan penguntit." Ujar Lucian dengan datar.
"Lalu, mengapa anda memantau anak dari tuan Alan dan Reagan?" Tanya polisi.
Lucian mengetuk meja, dia seakan enggan untuk menjawab. Matanya menatap polisi di hadapannya dengan datar. Lalu, matanya beralih menatap pangkat polisi itu. Dengan lambang pangkat empat balok panah perak.
__ADS_1
"Masih pangkatan Brigadir ternyata." Gumam Lucian.
"Apa? Anda bilang apa tadi?" Tanya polisi itu.
"Panggil atasanmu." Titah Lucian.
Kening Reagan dan Alan mengerut, dia heran dengan sikap Lucian yang seperti tak takut apapun. Reagan pun menyikut lengan Alan,
"Pasien rumah sakit jiwa kali yah?" Bisik Reagan.
"Diamlah!" Kesal ALan.
Keduanya kembali menatap Lucian, sampai akhirnya bahu ALan di tepuk oleh seseoramg. Alan pun menolehkan kepalanya, "Abang." Sapa Alan.
Ya, dia melihat Liam. Pria itu datang setelah Alan memberitahu permasalahannya. Tentu, sebagai abang Liam akan turun tangan. Dia yang seorang kepala polisi, tentu mudah meminta anak buahnya turun membantu Alan.
"Bagaimana?" Tanya Liam pada Alan.
"Dia menginginkan pemimpin langsung yang turun." Bukan Alan yang menjawab, melainkan polisi lain yang berada di sana.
Liam yang sebagai pangkat Brigadir jendral polisi, tentu dia terkejut akan hal itu. Biasanya, orang akan takut berhadapan dengannya. Tapi, mengapa pria ini berani. Liam mengamati Lucian, sayangnya Lucian yang membelakangi jendela tak membuatnya dapat melihat wajah Lucian.
"Biar saya masuk." Putus Liam.
"Keluarlah, saya yang akan menanganinya." Titah Liam.
"Baik pak." Polisi itu keluar, tinggallah Liam dan Lucian yang berada di dalam.
Lucian tetap memandang lurus ke depan, keduanya masih diam hingga Lucian membuka suara.
"Bagaimana kabarmu, Liam?"
Liam langsung menoleh, matanya membulat saat melihat orang yang akan dia introgasi adalah Lucian. Seketika, Liam memberi hormat pada Lucian.
Ternyata, Lucian juga seorang polisi. Pangkat Lucian lebih tinggi dari Liam, karena dia seorang jendral. Tentu, hal itu membuat Lima terkejut karena mengetahui atasannya lah yang menjadi pelaku.
"Maaf jendral, saya tidak tahu kalau anda yang di interogasi oleh mereka. Mungkin ada kesalahan disini," ujar Liam. Liam merasa mungkin Alan salah duga, dia berniat keluar untuk menanyakan hal ini dengan Alan. Namun, belum dia sampai ke pintu, Lucian berkata hal yang membuat Liam berhenti.
"Saya memang memantau mereka, lebih tepatnya Calandra."
__ADS_1
Raut wajah Lucian berubah tegang, dia Langsung berbalik dan menatap Lucian dengan dengan mata terbuka lebar.
"Mengapa anda memantau mereka? Mereka adalah keponakan saya. Tak peduli tentang pangkat anda jendral, saya tetap akan membawa kasus ini ke meja hijau!" Tegas Liam.
Lucian tersenyum menyeringai, dia mengangkat kaki kanannya dan menumpunya pada kaki kirinya. Suasana semakin tegang, begitupun dengan Alan dan Reagan yang terkejut setelah mengetahui jika Lucian adalah atasan Liam.
"Silahkan, pengadilan pasti akan berpihak padaku." Ujar Lucian dengan santainya.
Alan mengepalkan tangannya, tanpa di perintah dia langsung masuk ke dalam ruangannya. Dirinya berjalan cepat menuju Lucian dan menarik kerah baju pria itu hingga membuat Lucian berdiri.
"Berani-beraninya kamu memantau putri dan keponakanku!! atas dasar apa kau memantau mereka? Siapa kau hah?! Apa hakmu memantau mereka?!" Pekik Alan.
"Alan!" Tegur Liam.
"DIAM BANG! ORANG INI HARUS DI BERI PELAJARAN! DIA GAK PANTAS MENJADI JENDRAL DENGAN MORAL YANG RENDAH!!" Teriak Alan.
Alan kembali menatap Lucian, pria itu terlihat sangat santai saat Alan menatap tajam padanya.
"Dengar! Kau tidak memiliki hak untuk ...,"
"Aku memiliki hak atas Calandra."
Perkataan Lucian, membuat semuanya terdiam, pandangan mereka langsung tertuju pada Lucian. Jantung Reagan berdegup sangat kencang, pikirannya mulai menebak siapakah Lucian.
Dengan perlahan, Reagan mendekat pada Alan dan Lucian. Dia menarik tangan Alan untuk mundur. Dengan rela, Alan melepas cengkeraman dari kerah baju Lucian. Lalu, dia memundurkan tubuhnya. Memberi ruang untuk Reagan berbicara pada Lucian.
"Siapa kamu?" Tanya Reagan langsung pada intinya.
"Apa kamu orang tua Calandra? Jika iya, kamu tidak bisa menemui putraku. Kamu telah membuangnya! Kamu membuangnya dengan begitu tega! Lalu, untuk apa sekarang kau mencarinya?" Seru Reagan dengan mata memerah menahan marah.
Lucian menatap Reagan dengan tatapan datar, "Saya tidak pernah membuangnya." Ujar Lucian dengan datar.
"Lalu?! Mengapa saat itu Calandra di temukan dalam kondisi yang tidak baik? Dimana kamu saat itu? Bagaimana kamu bisa menjadi orang tua yang ...,"
"Calandra adalah keponakan saya!" Tekan Lucian yang mama membuat Raut wajah Reagan berubah tegang.
"Ponakan?" Tanya Reagan
Lucian mengangguk, dia menatap ke arah yang berbeda. Sejenak, dia menghela nafas pelan.
__ADS_1
"Saya kembali, untuk mengambilnya." Ujar Lucian, yang mana membuat Reagan mengepalkan tangannya dengan kuat.
"Kau tidak bisa merebut putraku! Calandra Abrisham Xaver adalah putraku!! Kau hanya paman, sedangkan hak asuh Calandra jatuh di tanganku. Pengadilan, tak akan bisa memberikan hak asuh putraku padamu. Tuan Jendral yang terhormat!"