Kembar Genius Milik Ceo Galak

Kembar Genius Milik Ceo Galak
Perdebatan ayah dan anak


__ADS_3

Alexix membawa Azalea duduk di kursi, meja makan sudah banyak menghidangkan makan siang. Bi Sari yang melihat Azalea duduk bersama Alexix seketika tersenyum senang.


"Bi, Lekci mau makan. Cama mama," ujar Alexix pada Bi Sari.


"Oh ya, baik den. Bibi siapkan," Tanpa menunggu lama lagi, Bi sari langsung menyiapkan makanan. Dengan keadaan hati senang, dia mendekatkan tempat nasi pada Azalea.


"Makan Nya, setelah itu istirahat." Pinta Bi sari.


Azalea mengangguk, dia mengambil nasi dan lauk untuk putranya. Banyak sekali lauk, bahkan semuanya ada di meja. Membuat Azalea sedikit tersentil, selama ini dia memberikan makan untuk putranya hanya sekedar telor, tempe dan tahu. Ayam, sangat jarang sekali. Tubuh Alexix dan Eloise bisa di lihat dari perbedaan asupan gizi mereka.


"Lexi mau lauk apa?" Tanya Azalea dengan tersenyum lembut.


Alexix menatap semua lauk yang ada di sana, dirinya bingung ingin makan apa. Bi Sari yang tahu kesukaan Alexix pun membuka suara.


"Den Lexi suka udang asam manis Nya, biasanya lahap kalau makan sama itu," ujar Bi Sari.


Azalea tersenyum tipis, kesukaan putranya pun dia tak tahu. Selama Alexix tinggal bersamanya, putranya itu tak banyak menuntut. Makan apa yang dia sediakan, tanpa protes sama sekali.


"Lekci cuka cemua yang di ambil mama." Seru Alexix.


Azalea merasa terharu dengan kata manis putranya, dia bergegas mengambil apa yang Bi Sari katakan tadi mengenai kesukaan putranya. Dia juga mengambil sayur agar gizi putranya terpenuhi.


"Nih, makan sampai habis yah." Pinta Azalea sembari menyerahkan piring itu pada Alexix.


Senyum Alexix seketika surut, dia menatap Azalea dengan kening mengerut.


"Mama nda mau cuapin Lekci?" Tanya Alexix dengan tatapan sendu.


"Eh?!" Apakah putranya ingin dia menyuapi nya?


"Ehm, kalau gitu mama suapin yah." Azalea meraih piring dan juga sendok. Dia menyendokkan nasi beserta lauk dan mengarahkannya pada mulut Alexix. Namun, bukannya membuka mulutnya Alexix malah menjauhkan kepalanya.


"Lekci mau dali tangan mama, nda mau pake cendok."


Azalea menatap sendok dan tangannya, apa berbeda antara makan dengan tangan dan sendok? Jika di rumahnya, itu adalah hal yang biasa. Tapi, di mansion milik Alan. Apakah dirinya tak akan di pandang aneh oleh para pelayan jika melihatnya?


"Lexi, makan pake sendok aja yah sayang," ujar Azalea.

__ADS_1


Bibir Alexix melengkungkan ke bawah, bersiap untuk menangis. Melihat Alexix yang seperti itu, tentu saja Azalea kelabakan.


"Biacana di lumah mamah cuapin Lekci pake tangan, kok cekalang nda mau." Seru Alexix dengan suara bergetar.


"Iya-iya, mama pake tangan. Mama cuci tangan dulu sebentar yah." Pamit Azalea.


Di saat Azalea pamit cuci tangan, Alan menyusul ke meja makan. Dia duduk di kursi yang biasa dia duduki, menatap Alexix yang tengah mengayunkan kakinya.


"Alexix, jangan manja!" Tegur Alan.


Alexix mendelik, "Cama mama cendili kok ya! Kalau papa ili, minta di cuapi duga. Gitu aja pake malah-malah," ujar Alexix.


Seketika, mata Alan melotot kesal. Saat dia akan memarahi Alexix kembali, Azalea sudah keburu datang setelah mencuci tangannya.


"Ayo sini." Seru Azalea dan belum menyadari kehadiran Alan di sana.


Saat Azalea menarik piring, di saat itu pula dia menyadari kehadiran Alan di sana. Seketika tubuhnya menegang, dia takut Alan akan kembali marah.


"Nda ucah di ladenin mama, cuman nimblung aja papa." Sahut Alexix yang mengerti tentang ketakutan Azalea.


Azalea memaksa senyumnya saat menatap Alexix, dia mulai menyuapi putranya itu dengan tangannya. Alexix makan dengan sangat lahap, membuat Alan pun terheran-heran. Karena biasanya Alexix makan satu jam sendiri.


"Kamu mau suapin aku juga?" Tanya Alan dengan polosnya membuat Azalea mematung.


Mendengar perkataan Alan, seketika mata Alexix menatap kesal pada sang papa. "Janan ikut-ikutan! Makan cendili! udah becal, janan manja." Imel Alexix.


"Lexi, gak boleh seperti itu." Tegur Azalea.


Alexix mengunci mulutnya kembali, dia mengunyah makanan dalam keadaan kesal. Sementara Azalea, dia menghiraukan pertanyaan Alan tadi.


"Mama makan juga!" Pinta Alexix.


"Mama tadi udah makan," ujar Azalea dengan senyuman lembutnya.


"Kapan? Dali tadi mama belum makan," ujar Alexix dengan bingung.


"Tadi mama sempat ...,"

__ADS_1


"Makanlah! Aku pusing mendengar suara cempreng anak itu jika keinginannya tidak ia dapat." Sahu Alan.


Azalea canggung, ada Alan disini. Jika tidak, Azalea akan biasa saja mengambil makanan untuk dirinya. Seperti peka dengan keadaan sang mama, Alexix pun menatap Alan.


"Papa mau makan juga nda?" Tanya Alexix.


Alan mengangguk, "Sehabis kamu nakan, papa makan," ujar Alan.


"Janan minta di cuapi mama loh! Tangan mama ini, cuman kususna cuapin Lekci." Kata Alexix.


Alan seketika melotot, dia tak terima dengan perkataan putranya yang seperti ingin memonopoli Azalea. Entah mengapa, hatinya terasa kesal. Namun, Alan hanya bisa memendam nya saja. Dia malu untuk mengungkapkannya.


"Aku kembali ke kantor dulu." Pamit Alan dan bergegas beranjak pergi kembali ke kantornya.


Setelah kepergian Alan, Azalea kembali mengambil nasi dan lauk untuk dirinya. Sembari menyuapi Alexix, dia juga menyuapi dirinya. Saat di kantor polisi, dia hanya makan sedikit karena sudah tidak nafsu makan karena kepikiran dengan putranya itu.


"Mama, apa papa culuh nama oelgi? Papa cudah tau El kan?" Tanya Alexix dengan tatapan sendunya.


"Ya papa tau, tapi papa minta mama disini. Alexix tenang aja yah, jangan marah-marah sama papa. Kasihan papa, dia sudah lelah bekerja," ujar Azalea sembari mengelus rambut putranya dengan tangannya yang bersih.


Seketika raut wajah Alexix berbinar terang, dia menatap Azalea dengan raut wajah bahagianya.


"Itu altina, mama cama papa kembali tinggal baleng-baleng?! Balik lagi jadi cuami ictli kan?! Mama nda bakal nikah cama om Legal kan?!" Pekik Alexix dengan senang.


Azalea tersentak kaget mendengar perkataan putranya itu. Dia disini hanya sebagai ibu untuk putranya, tidak untuk kembali pada Alan. Sudah cukup selama setahun dia menjadi istri Alan dan selalu di kecewakan oleh pria itu. Ketulusannya tak pernah Alan anggap, bahkan kehadirannya pun hanya sebagai mesin pencetak anak.


"Mama disini buat Alexix sama El, bukan buat papa," ujar Azalea membuat kening Alexix mengerut.


"Loh, telus mama mau nikah cana om Legal?!" Pekik Alexix.


"Kamu masih kecil, mana mengerti tentang orang dewasa. Saat besar, kamu mengerti. Ketika menikah, kita butuh rasa nyaman. Bukan hanya sekedar hadir tanpa di anggap," ujar Azalea.


Alexix terdiam, dia tak lagi berbicara. Pikirannya tengah meresap apa yang Azalea katakan.


"Belalti, mama nda nyaman cama papa. Nyaman na cama om Legal, iiiiihhh!!! nda bica gitu dong! Nanti mama nikah cama om Legal, punya anak lagi. Mama nda cayang Lekci lagi. Iihhh nda bica! nda bica! Mama halus balik lagi cama papa. Bial nda ada pelempuan yang deketin papa dan mama nda nikah cama om Legal. Lekci halus buat lencana." Batin Alexix.


___

__ADS_1


Lunas yah empat😍 ampe lewat jam 12 malem buatnya🤭 maaf yah, authornya belum bisa up pagi karena kerjaan. Kalau libur, di usahakan up pagi🤧


Find me daddy, hari ini double up yah🤭


__ADS_2