Kembar Genius Milik Ceo Galak

Kembar Genius Milik Ceo Galak
Memaafkan


__ADS_3

"Lea!" Seru Reagan, melihat adiknya sedang bersandar di kepala tanjang. Tatapan wanita itu terlihat sendu.


"Abang." Lirih Azalea.


Reagan memeluk adiknya itu, Azalea menangis terisak di d4danya. Membuat hati Reagan pun turut sakit mendengar isakannya.


"Lea mau pergi hiks ... Lea gak mau disini lagi." Isak Azalea.


"Iya, kita pergi yah." Sahut Reagan mendukung.


Tak lama, Alan datang dengan mata berkaca-kaca. Dia mendekat ke arah istrinya, lalu berlutut di sampingnya.


"Lea, tolong maafkan aku. Sungguh, aku tidak sadar. Aku benar-benar tidak sadar." Lirih Alan.


Azalea enggan menatap Alan, dia justru menyembunyikan wajahnya di d4da sang abang. Tangannya mer3mas kuat kaos yang Reagan kenakan, menyalurkan rasa takutnya.


"Lea, aku mengaku salah. Aku juga tidak sadar meneguk minuman itu. Aku marah, saat mengetahui kamu bersama Reagan. Tolong, maafkan aku." Ujar Alan sembari menatap sendu kearah Azalea.


Reagan yang melihat Alan yang seperti itu, entah mengapa dia menjadi tak tega. Namun, ketakutan adiknya membuat Reagan memilih untuk menuruti keinginan Azalea.


"Bawa aku pergi." Pinta Azalea.


"Enggak! Kamu gak noleh pergi dari sini!" Pekik ALan.


"Apa kamu lupa mas? Aku memberimu satu kali kesempatan, tapi kamu menyia-nyiakan kesempatan itu! Kamu hanya menganggap ku pencetak anakmu! Bukan cintamu! CIntamu hanya berhenti di cinta pertamamu itu. Sampai kapanpun kamu tidak akan pernah bisa mencintaiku!!"


"AKU MENCINTAIMU!! AKU MENCINTAIMU AZALEA!!"


keduanya saling menatap dalam, nafas mereka memburu. Dad4 mereka seperti ada sesuatu yang menghimpit.


"Bohong," ujar Azalea dengan suara bergetar.


Alan menggeleng, dia menarik tangan Azalea untuk menyentuh dad4nya. Matanya menatap lekat mata cantik berair wanita itu.


"Kamu bisa merasakannya Lea, bahwa aku mencintaimu. Apa kau perlu bukti? Akan ku buktikan. Kau ingin aku melakukan apa? Asalkan, kamu tidak meminta cerai." Tulus Alan.


Azalea menatap lekat mata sang suami, dia tak melihat adanya kebohongan. Di mata itu, hanya ada ketulusan. Namun, Azalea justru malah menarik tangannya.


"Lea ... mas mohon. Apa kamu tidak kasihan pada anak-anak kita?" Tanya Alan, tatapan matanya mengarah pada pintu. Dimana kedua putranya sedari tadi berdiri menatap ke arah mereka.


"Maa ... El nda mau picah-picah lagi hiks ... mama dicini aja, janan pelgi." Pinta Elouise.


"Kalau mama pelgi, Lekci ikut mama." Sahut Alexix membuat Elouise seketika mendelik kesal padanya.


"HEEE!! KOK GITU CIH! EL JUGA MAU IKUT MAMA LAH!" Sewot Elouise.


"Yang ikut papa siapa? Hayo, nda kacian cama papa." Tanya Alexix.

__ADS_1


Kening Elouise mengerut, dia tengah berpikir keras saat ini. "Mama!" Panggil Elouise, raut ajah sang mama kini tak dapat di deskripsikan lagi. Antara sedih, bingung, dan heran dengan tingkah putranya.


"Buat catu anak lagi lah, buat temenin papa." Ujar Elouise, seketika membuat mata Azalea melotot. Memangnya di kira, buatnya seperti membuat puding kesukaannya.


Alan tersenyum, dia menatap wanita yang tengah menatap kesal ke arah putra mereka.


"Apa?!" Sewot Azalea saat melihat tatapan Alan padanya.


"Aku berhasil menjalankan syarat darimu." Ujar Alan dengan senyum mengembang.


Kening Azalea mengerut tak paham, bebgitu pun dengan Reagan.


Alan mengambil tangan Azalea, lalu dia meng3cupnya pelan. "Sebenarnya, aku ingin membuat suprise padamu saat malam dimana kamu kamu pulang terlambat. Aku menunggumu, untuk mengatakan jika aku telah mencintaimu. Azalea, cinta pertamaku memang Selia. Namun, cinta terakhirku adalah kamu."


"Jadi ... Karena kejadian semalam, kamu tidak berhak membenciku."


Deghh!!


Entah mengapa, ungkapan hati Alan membuat perasaan Azalea menghangat. Benarkah pria itu mencintainya? Jika iya, apakah Azalea harus berdamai dengan masalahnya.


"Bagaimana Lea? Dia sudah mencintaimu, tapi ... jika kamu masih ingin pergi. ABang akan membawamu pulang," ujar Reagan. Dia tidak akan meminta adiknya untuk berpisah, bagaimana pun dia juga tahu. Jika putra Azalea masihlah sangat kecil. Keduanya butuh keluarga yang lengkap.


Azalea mengarahkan tatapannya pada kedua putranya, mata putranya itu berbinar dengan tatapan penuh permohonan.


"Telima cajalah." Ujar Elouise dengan berbisik, hanya Alexix yang mendnegarnya.


Keduanya belum tahu, jika Reagam adalah omnya. Bagaimana jika keduanya sudah tahu? Pasti akan heboh nantinya.


Tatapan Azalea kembali menatap Alan, dalam hatinya dia pun berkata, "Jika memang mas Alan sudah mencintaiku, tidak ada alasanku untuk marah dengan apa yang dia lakukan padaku saat malam tadi. Hanya saja, aku kecewa atas pemaksaannya."


"Aku kesal padamu, aku marah padamu, aku ingin membencimu, tapi. ... aku tidak bisa. Kau pria yang pertama untukku, dan kau pria pertama yang aku cintai."


"Jadi, itu artinya ... kau mau memaafkan ku?!" Seru Alan dengan raut wajah senang.


Azalea mengangguk, seketika Alan ingin memeluknya. Namun, Reagan malah mendorong bahu pria itu.


"E-eh! mau ngapain? Gak liat adek saya sakit hah?! Masih mau di peluk." Tegur Reagan.


Seketika, raut wajah Alan terlihat datar. Dia menatap pria yang pernah mengatakan cinta pada istrinya itu dengan tatapan kesal.


"Ekhem, permisi. Alan, bolehkah kami pulang?"


Ketiganya mengalihkan tatapannya pada Hervan dan juga istrinya. Keduanya menatap canggung pada ketiganya.


.


.

__ADS_1


.


Karena Azalea sakit, Reagan pun tak bisa membawanya ke rumah sakit untuk menengok keadaan sang daddy. Sehingga, pria itu memilih untuk kembali ke rumah sakit di sore hari.


Setelah kepergian Reagan, Alan benar-benar tak mau jauh dari Azalea. Dalam beberapa jam, pria itu menjelma menjadi pria yang manis. Bagaimana tidak? Sejak tadi Alan memijat kaki Azalea. Bertanya, apakah wanita itu butuh sesuatu? Bahkan, Alan lah yang menyuapi Azalea makan.


"Kamu ingin apa lagi? Mau buah? Mau cemilan? Atau. ...,"


"Tidak, aku ingin mas keluar."


Seketika, raut wajah Alan berubah memelas. "Jangan dong, kamu kan sakit. AKu gak bisa. ...,"


"Mas belum mandi dari pagi! Bauu tau!" Lekok Azalea dengan kesal.


Seketika, raut wajah ALan berubah pias, dia menc1um aroma tubuhnya sendiri. Seketika, senyumnya melebar. "Kamu juga kan belum mandi, gimana kalau ...."


BUFH!!


"PIKIRANNYA COBA!!" Pekik Azalea.


"Awss mas cuman mau ngomong, gimana kalau kamu di lap aja badannya. Nanti aku minta bantuan Bi Sari." Ringis Alan.


Azalea menutup wajahnya, dia pikir Alan ingin mengajaknya. Ternyata, oria itu ingin meminta bi Sari membantunya.


Sedangkan si kembar, keduanya sedang berada di depan mansion. Mereka melihat beberapa anak kucing yang mampir ke mansion nya.


"Kulus kali, mana mamakna yah? Nda di kacih makan anakna, tega kali." Gumam Elouise, sembari mengelus kucing itu.


"Kau lah jadi mamakna." Seru Alexix, entah mengapa. Dia tak terlalu menyukai kucing jalanan.


"Benal juga! Nanti El mau lawat lah," ujar Elouise dengan senyum mengembang.


"Lekci, namain kucingna ciapa yah?" Tanya Elouise.


Alex beranjak dari jongkoknya, dia menepuk belakang celananya seakan ada debu di sana.


"Lempeyek aja, kan walnana kuning."


"Ihh, El jadi mau lempeyek. Becok minta uang papa lah, buat beli lempeyek." Ujar Elouise, lalu dia membawa kucing otu gendongannya. Dan kemudian, membawanya masuk. Meninggalkan Alexix dengan tatapan melongo tak percaya.


"Sehalusna cangkuliang aja cekalian." Gumam Alexix.


____


Seneng gak nih, konflik udah mereda. Lucu lucunya udah muncul😆


Terima kasih atas support kalian, dan juga sarannya🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2