
Akhirnya, Alan sudah bisa kembali pulang setelah di dokter menyatakan jika tak ada hal yang serius pada kepalanya. Tentu saja, Alan sangat senang. Tak hanya itu saja, Arumi dan anak-anaknya turut serta mengantar Alan pulang.
Mereka semua sudah di jalan, Alan dan Azalea tentu saja berada dalam satu mobil bersama putri kecil mereka. Sedangkan yang lain, ada di mobil belakang. Airin, wanita itu ikut di mobil Reagan setelah Reagan memaksanya.
"Bagaimana dengan jawabanmu? Apa kamu mau menikah denganku?" Tanya Reagan setelah dian membisu setelah beberapa saat.
"Jangan konyol, aku baru saja bercerai. Menikah lagi belum ada di tujuan hidupku," ujar Airin dengan ketus.
"Memangnya kau tidak mau anak?" Tanya Reagan.
"Mau lah! Siapa yang tidak mau anak?!" Sewot Airin.
"Aku bisa memberimu anak,"
Perkataan Reagan justru membuat AIrin kesal, dia memukul lengan pria itu dengan keras. Matanya menatap tajam Reagan yang tengah menyetir itu.
"Apa lau tidak malu berkata itu pada wanita huh?"
"Kenapa malu? Dari pada aku keduluan dari orang lain. Lebih baik sekarang kan? AKu gak masalah kamu siapnya kapan, tapi kalau bisa ... jangan lama-lama hehe,"
Entahlah, Airin tidak tahu Reagan orang yang seperti apa. Pria itu sering mengajaknya bercanda dan selalu membuatnya kesal. Namun, Airin akui. Pria itu mampu membuatnya terhibur.
Mobil Reagan memasuki mansion Alan. Airin melihat keadaan sekitar, dia terpukau dengan keindahan mansion itu.
"Besar sekali rumahnya." Gumam Airin.
"Tentu lah, namanya juga adikku menikah dengan CEO muda yang sukses. Kalau kau mau mansion seperti ini, tunggu aku pensiun." Ujar Reagan dengan tawa renyah.
Tak terasa, kedua sudut bibir Airin terangkat. Dia merasa lucu dengan perkataan Reagan. Mobil pun terhenti di belakang mobil Alan, Reagan langsung melepas sabuk pengamannya.
Tok! Tok!!
Reagan dan Airin sama-sama menoleh, keduanya terkejut saat melihat anak kembar yang tengah mengintip di jendela mobil. Reagan pun memutuskan untuk membuka jendela.
"Ada apa?" Tanya Reagan pada si kembar.
"Antar kita om, ada pelatihan karate," ujar Elouise dengan berbisik.
"Minta antarkan dengan bodyguard saja, om sibuk." Bisik Reagan.
Elouise dan Alexix melirik ke arah Airin, tatapan ketiganya terlihat sangat canggung. Hal itu, tentu membuat Reagan memutuskan tatapan keduanya.
"Udah yah, sana pergi sendiri." Ujar Reagan dan berniat untuk menaikkan jendela.
"EEEHHH!! BENTAR-BENTAAAAAR!!" Teriak Elouise.
Reagan tak jadi menaikkan jendelanya, keningnya mengerut kala melihat tatapan Alexix.
"Om antar kita aja, sekalian jalan-jalan sama tante cantik. Gimana?" Ide Elouise.
Kening Reagan semakin mengerut dalam, dia menimbang-nimbang ide dari keponakannya itu.
__ADS_1
"Benar! Ini lagi sore-sore, suasana hati lagi saling terbuka." Sahut Alexix.
"Oke! Naiklah!" Putus Reagan.
"YESS!!" Pekik keduanya dan buru-buru naik di kursi belakang.
Sementara Airin, dia masih syok dengan keduanya. Apalagi, wajah identik keduanya.
"Kita antar mereka dulu." Putus Reagan.
"Eh! aku mau turun saja!" Pekik Airin. Namun sayangnya, mobil sudah melaju meninggalkan mansion.
"Nda bisa turun tante cantik, turunnya nanti saja. Antar kita dulu. Om Reagan baik kok, cuman kurang ganteng aja." Celetuk Elouise.
"HEH!! KAMUU!! AWAS SAJA YAH!!"
.
.
.
Alan masih berada di ruang keluarga bersama dengan Arumi beserta yang lain. Sementara Azalea, dia memutuskan untuk pergi ke kamar karena Caramel yang ingin menyusu padanya.
Sembari menyusui Caramel di ranjang, Azalea berpikir tentang apa yang Reagan katakan tadi.
"Abang suka dengan Airin. Wah! Harus kasih tahu mommy ini." Pekik Azalea.
Azalea meraih ponselnya, dia menghubungi sang mommy. Tak lama, terdengar sahutan dari Diandra.
"Mom, mommy tahu abang lagi suka sama seorang wanita?" Tanya Azalea dengan antusias.
"Iya kah? Mommy gak tahu, tahu sendiri abangmu lebih memilih jomblo sampai sekarang," ujar Diandra.
"Enggak mom, abang lagi ngincer wanita. Dia adik tiri suamiku," ujar Azalea.
"YANG BENER KAMU?! BENTAR-BENTAR! MOMMY TELPON ANAK ANAK NAKAL ITU!"
Tuutt!!
"Eh? Di matikan telfonnya?" Gumam Azalea.
Tatapan Azalea beralih ke putrinya, ternyata Caramel sudah melepas nutrisinya. Itu artinya, bayi gembul itu sudah kenyang.
"Sudah?" Tanya Azalea.
"Dah!" Seru Caramel sembari tersenyum lebar.
.
.
__ADS_1
.
"Dah om!" Seru Elouise setelah keduanya sampai do tempat les mereka.
Reagan melambaikan tangannya pada si kembar sebelum dirinya pergi dari sana. Setelah keduanya berbalik memasuki tempat les mereka, Reagan pun berniat ingin melanjutkan perjalanan nya.
"Sudah kan? Ayo pulang." Ajak Airin.
Reagan melirik ke arah wanita itu. Seketika, ide jail terlintas di benaknya. Sebelah sudut bibirnya terangkat, dia kembali menjalankan mobilnya.
Setelah beberapa lama perjalanan, Airin merasa ada yang aneh dengan jalan yang mereka lalui. Walau dia baru pertama kali ke rumah Alan, dirinya sudah sedikit ingat dengan jalan menuju rumah Alan. Tapi jalan yang Reagan lalui kali ini, bukanlah jalan menuju rumah Alan.
"Kau!! Kau mau membawaku kemana hah?!" Seru Airin.
"Kua, kenapa?" Jawab Reagan yang mana membuat Airin seketika melototkan matanya.
"Jangan bercandaaa!!" Pekik Airin.
"Siapa yang bercanda? Aku serius, aku ingin mengajakmu ke KUA," ujar Reagan.
"Kau!! Astaga, siapa namamu? Reagan! Kau pria konyol yang pernah aku temui!! Pulangkan aku sekarang juga!!" Bentak Airin.
Reagan justru malah menambah kecepatan mobilnya, membuat Airin yang ketakutan itu pun segera memejamkan matanya.
Ckiiitt!!
Nafas Airin terdengar memburu, dia kembali membuka matanya secara perlahan. Matanya terbelalak saat dirinya tersadar jika Reagan tengah memarkirkan mobilnya di parkiran mall.
"Reagan! Kita ngapain kesini?!" Pekik Airin.
"Temani aku, aku harus bertemu dengan klienku." Ajak Reagan sembari melepas sabuk pengamannya.
Reagan lalu keluar, di ikuti oleh Airin. Wanita itu bingung mengapa Reagan bertemu klien dengan membawa dirinya. Setiap perkataannya selalu Reagan hiraukan, membuat Airin akhirnya diam menurut.
"Kita mau kemana sih?!" Tanya Airin setelah mereka memasuki mall.
Reagan tak menjawab, dia justru menarik tangan Airin memasuki sebuah kafe. Langkah Reagan terhenti, begitu pun dengan Airin.
"Reagan kita mau ...,"
"Selamat sore tuan Farel."
Degh!!
Mata Airin terbelalak lebar saat mendapati mantan suaminya beserta istri barunya ada di hadapannya. Bukan hanya Airin, bahkan Farel dan Sindi pun terlihat terkejut dengan kedatangan Reagan yang membawa Airin datang menghampiri meja mereka.
"Kalian ..." Tatapan Farel jatuh pada genggaman Reagan pada tangan Airin. Mendadak, tatapan Farel menajam.
"Bukankah anda yang mengajak saya makan-makan tuan? Saya telah datang, tapi maaf. Saya membawa calon istri saya." Reagan melepaskan tangannya yang menggenggam tangan Airin. Lalu, dia meraih pinggang Airin mendekat padanya.
"Apa?!" Pekik Farel.
__ADS_1
"Kenapa anda terkejut? Tidak salahkan, jika saya memungut kembali berlian yang telah anda buang? Tuan Farel yang terhormat,"
Deghh!!