Kembar Genius Milik Ceo Galak

Kembar Genius Milik Ceo Galak
Kesabaran Reagan


__ADS_3

Reagan berjalan menghampiri Diandra yang berdiri mematung menatap kedatangan putranya. Wajah Reagan terlihat datar, dia yakin saat ini putranya tengah marah padanya .


"Mommy ngapain nemuin Azalea?" Tanya Reagan dengan nada dingin.


"Mommy hanya ingin tahu, kenapa dia menolakmu. Reagan! Mommy ini ibu kandungmu, perasaanmu terluka. Mommy juga ikut terluka!" Seru Diandra dengan tatapan berkaca-kaca.


"Mom, Reagan hargai keputusan Azalea. Memang Reagannya saja yang tidak tahu diri, Azalea sudah menyuruh Reagan berhenti. Tapi, Reagan tetap kekeuh ingin mendekatinya." Sahut Reagan dengan nada lirih.


Air mata Diandra luruh, dia tidak tahu harus berkata apalagi. Menatap tatapan sendu putranya, dia sudah tidak sanggup.


"Reagan, berhenti menjadi orang yang terlalu baik. Kamu berhak bahagia, dia sudah mempermainkan kamu. Asal kamu tahu satu hal ... Mama yakin, jika kamu mendengarnya. Kamu pasti akan membencinya." Seru Diandra dengan sorot mata menajam.


Kening Reagan mengerut, dia mendapati sorot kemarahan Diandra. Ibunya bukan tipikal wanita yang mudah marah, jika wanita itu marah. Pasti ada suatu hal yang sudah sangat keterlaluan.


"Azalea dan Alan, belum bercerai! Mereka masih sah sebagai sepasang suami istri!" Tekan Diandra dengan matanya yang memerah menatap tepat ke arah mata sang putra.


"Apa?!" Bola mata Reagan melebar, begitu pun dengan Erlangga. Sungguh, keduanya terkejut dengan penuturan Diandra.


"Mommy salah dengar kali, Azalea sendiri yang bilang padaku jika dia sudah bercerai. Alan menikahinya hanya untuk melahirkan anaknya, setelah itu mereka bercerai." Ujar Reagan sembari memaksakan senyumnya.


Diandra memijat keningnya, dia tidak tahu mengapa putranya masih bisa berpikir seperti itu.


"Reagan, untuk kali ini. Egoislah, Reagan! Kenapa kamu selalu mengalah!! Kenapa kamu selalu ...,"


"Mommy ingin Reagan bagaimana?" Sela Reagan membuat Diandra terdiam seketika. Matanya bisa menangkap, air mata putranya yang masih menggenang di pelupuk matanya. Reagan kecewa dengan fakta yang baru dia dengar, tapi dia pun tak bisa berbuat apapun.


"Mommy mau Reagan bun*h suami Azalea? Atau perk0sa Azalea agar dia tetap bertahan disisi Reagan? Mommy ingin Reagan di penjara? Begitu?"


Diandra menggeleng, dia tidak bermaksud seperti itu. Hanya saja, dia merasa putranya terlalu baik. Bahkan, pria itu tak meluapkan segala emosinya.


"Mom, mungkin Azalea bukan jodoh Reagan. Pria seperti ku ini, tidak bisa melawan ayah dari anak-anaknya. Alan, dia memang gagal menjadi suami. Tapi aku yakin, dia tidak gagal menjadi seorang ayah. Jika aku merebut Azalea, dia akan berpisah dari putranya. Aku tanya, apakah mommy rela berpisah dariku?"


"Enggak, mommy gak rela. Kamu harus tetap sama mommy." Isak Diandra.


Reagan tersenyum tipis, "Begitu pun dengan Azalea. Jika dia ingin bersamaku, dia harus merelakan putranya bersama Alan. Aku bisa membantunya untuk memperebutkan hak asuh putranya dari suaminya. Tapi, jika kekuasaan sudah bermain. Kita akan tetap kalah."


Diandra memeluk putranya, anak tunggalnya yang selalu baik pada siapapun. Tak mengenal dia orang besar atau orang kecil, Reagan tetap berbuat baik padanya.


"Kenapa kamu tidak meluapkan emosimu, sesekali marahlah. Biar mommy bisa melihat apa yang kamu rasakan saat ini." Lirih Diandra.


Reagan menatap Erlangga, tatapan sang daddy sangat lekat. Pria paruh baya itu tahu, jika kekecewaan putranya berada di level tertinggi.


"Bukan aku tidak ingin meluapkannya mom, hanya saja ... aku sudah terlalu kecewa dengan keadaan saat ini." Batin Reagan.


.

__ADS_1


.


.


Malam hari, setelah Alan memastikan Elouise tidur. Dia keluar kamar, untuk mencari putranya yang lain. Baru saja melangkah keluar pintu, tawa Alexix terdengar dari ruangan bermainnya. Seketika, Alan mendekati asal suara dengan penasaran.


"Tau nda mama, papa pelnah bawa pelempuan ke lumah,"


"Oh ya? Siapa?" Tanya Azalea penasaran.


"Sekeltalisna, Lekci nda cuka. Lekci keljain dia, eh langcung minta pulang. Lekci pintal kan mama?!" Seru Alexix.


Alan terdiam di depan pintu yang terbuka sedikit, dia bisa melihat Azalea dan Alexix yang tengah tersenyum lebar.


"Lekci nda mau punya ibu tili, makana mama cama papa telus yah."


Alan menantikan jawaban Azalea, tetapi wanita itu tak juga kunjung menjawabnya. Membuat Alan semakin penasaran dengan apa yang Azalea sedang Azalea pikirkan saat ini.


"Mama, kok mama nda jawab?" Tanya Alexix dengan kening mengerut.


"Mama ...." Tatapan Azalea teralihkan pada pintu. Matanya membulat saat melihat kepala Alan yang terlihat di cela pintu.


"Mas, kamu ngapain disitu?"


Alan mematung, dia sudah tertangkap basah menguping pembicaraan keduanya. Seketika, Alan berdehem untuk menormalkan degup jantungnya.


"Sudah malam, tidur." Tegur Alan.


Azalea dan Alexix mengangguk, keduanya bangkit dan beranjak pergi. Keduanya bahkan melewati Alan begitu saja, membuat pria itu memekik kesal.


Alexix sudah sampai di kamarnya, dia berbaring di sebelah Elouise yang sudah terlelap. Matanya mengerjap kala dirinya menyadari satu hal.


"Mama tidul dimana?" Tanya Alexix.


Mata Azalea mengarah ke ranjang, dia tidak akan muat tidur di kasur Alexix. Khawatir, Elouise juga akan merasa kesempitan. Takut, jika bekas luka jahitannya akan tersenggol oleh nya ataupun Elouise.


"Mama tidur di ...."


Mata Alexix menangkap sosok sang papa yang masuk ke dalam kamarnya dengan tatapan datar.


"Bobo cama papa aja?!" Sery Alexix membuat Azalea seketika mematung.


Alan pun demikian, dia menghentikan langkahnya sembari menatap ekspresi terkejut dari sang istri. Mereka masih suami istri, tetapi seperti pengantin baru. Masih malu-malu untuk berdekatan.


"Enggak deh, mama bisa tidur di sofa itu." Unjuk Azalea pada sofa milik Alexix.

__ADS_1


"Jangaaann!! Itu copa buat duduk, bukan tidul. Mama tidul cama papa, kalau dicini nda muat. Lagian papa tidul cendili, mama temanin lah." Tolak Alexix dengan tatapan tajam yang berkesan lucu.


Azalea beralih menatap Alan, keduanya sempat terlihat kontak mata sebelum Azalea memutuskannya lebih dulu.


"Ayo " Ajak Alan.


Azalea menggeleng, "Aku tidur di karpet aja," ujar Azalea.


"Maaaa ... Lekci nda mau tidul lah kalau mama tidul di cana. Kan mama macih ictli papa atau bukan?" Pekik Alexix dengan kesal.


"Ayo, benar kata Alexix. Kita masih suami istri, bukankah kamu telah memberiku kesempatan untuk berubah? Anggap saja ini awalan baik untuk hubungan kita." Bujuk Alan.


Azalea menghela nafas kasar, dia akhirnya memutuskan untuk menuruti permintaan putranya dan juga sang suami. Dia tak ada pilihan lain, apalagi ini sudah malam.


"Ya sudah, mama tidur di kamar Papa dulu yah. Selamat tidur sayang." Azalea menyempatkan meng3cup kening Alexix dan juga Elouise.


Melihat kepergian Azalea bersama Alan, membuat senyum Alexix mengembang.


"Bial mama cama papa nda malahan lagi." Gumam Alexix.


Alan memasuki kamarnya lebih dulu, di belakangnya terlihat Azalea yang berjalan mengikuti langkahnya.


"Kamu bisa tidur duluan, aku ingin mandi dulu." Titah Alan dan berniat beranjak. Namun, sebelum Alan beranjak Azalea kembali memanggilnya.


"Mas, tunggu." Seru Azalea membuat Alan kembali menatapnya.


"Ada apa?" Tanya Alan.


Azalea tertunduk, tangannya saling menggenggam satu sama lain. Menetralkan rasa gugup yang memasuki relung hatinya.


"Bolehkah aku mengajukan syarat?" Tanya Azalea dengan suara sedikit pelan.


Sebelah alis Alan terangkat, dia memasukkan satu tangannya ke dalam kantong celana pendek nya.


"Syarat?" Tanya Alan.


Azalea mengangkat wajahnya, raut wajahnya berubah serius. Walau degup jantungnya saat ini tak berdebar normal seperti biasanya.


"Selama kamu belum bisa mencintaiku, aku tidak mau di sentuh."


"Apa?"


___


Sempatkan Like dan komen😘😘

__ADS_1


Terima kasih yang sudah beri dukungan, semoga sehat selalu🥰🥰


__ADS_2