Kembar Genius Milik Ceo Galak

Kembar Genius Milik Ceo Galak
Bisa kok! Bisa!


__ADS_3

Azalea menatap raut wajah terkejut Alan, pria itu tampak terdiam dengan mulut sedikit terbuka. Keningnya mengerut, dan matanya menatap Azalea dengan tatapan tak percaya.


"Iya, kalau kamu tidak setuju. Lebih baik aku tidur di kamar tamu saja, takut kalau kamu gak bisa ta ...,"


"Bisa! Bisa kok! Bisa ... kecil gitu doang mah. AKu juga selama lima tahun aja tahan. Aku akan mengikuti syarat darimu." Potong Alan dengan tersenyum paksa.


Azalea mendekat, matanya menatap Alan dengan tatapan lekat. Membuat ALan seketika mematung karena tatapan istrinya itu.


"Laki-laki yang di pegang itu adalah ucapannya. Jika kamu melanggar, aku tidak akan memberikanmu kesempatan lagi mas." Ujar Azalea dengan suara rendah.


Alan mengangguk pasti, "Pegang ucapan ku, aku tidak akan menyentuhmu hingga aku mencintaimu. Tunggu aku, tak lama lagi aku pasti mencintaimu." Yakin Alan.


kepalanya


Azalea tersenyum tipis sembari menganggukkan kepalanya. Alan meminta nya untuk tidur lebih dulu, sementara dirinya akan ke kamar mandi sebentar.


Cklek!


Alan memasuki kamar mandi dan langsung menutup pintu nya, dia menyandarkan tubuhnya di belakang pintu sembari mengacak-acak rambutnya.


"Mana tidurnya sebelahan, gimana mau tahan." Frustasi Alan.


Alan memejamkan matanya, dia mencoba mengatur nafasnya yang terasa berat.


"Oke Alan, tenanglah ... tenang. Cepat lah jatuh cinta, kamu gak akan tahan lama mengangguri yang halal. Apalagi haish ... sudah lama sekali aku puasa. Kenapa aku jadi seperti ini sih!"


Alan memutuskan untuk mandi di malam hari. Selain untuk menyegarkan badannya, dia juga harus menyegarkan pikirannya.


Sedangkan di ranjang, Azalea menaruh guling di tengah-tengah antara dirinya dan Alan. Dia bahkan memojokkan bantalnya agar tak dekat dengan pria itu. Setelah itu, Azalea merebahkan dirinya membelakangi tempat Alan.


"Dulu, aku sangat menginginkan ada di posisi saat ini. Di perjuangkan oleh mas Alan, tidur dengannya setiap saat. Bukan hanya ketika menyalurkan kebutuhan biologisnya saja dia memutuskan tidur denganku. Betapa dulu aku sangat menginginkan di keadaan sekarang.." Batin Azalea.


Azalea mengingat kisahnya dan Alan sebelum si kembar hadir. Kamar mereka terpisah, Alan akan datang ketika mas subur Azalea. Ketika wanita itu sudah hamil, Alan jarang menyentuhnya. Pria itu akan menyentuhnya di saat dirinya membutuhkan kebutuhan biologisnya.


Tak ada rasa sakit hati ataupun kecewa, dulu hati Azalea sangat lapang. Dia menerima kekurangan Alan dan sikap pria itu. DENGAN harapan, suatu saat nanti Alan akan merubah sikapnya pada dirinya. Namun, kenyataannya malah berbeda. Alan justru memintanya tetap pergi, membawa rasa sakit perjuangan yang selama ini Azalea rasakan.


Cklek!


Pintu kakar mandi terbuka, bergegas Azalea memejamkan matanya. Wanita itu berpura-pura tertidur ketika kasur bergerak.


Alan memandangi guling, lalu beralih menatap punggung Azalea. Pria itu menghela nafas pelan, setidaknya ada kemajuan dari hubungannya dengan Azalea. Walau ada pembatas seperti ini.

__ADS_1


Tatapan Alan mengarah pada langit-langit kamarnya, lalu beralih pada jam dinding. Masih sangat dini untuknya yang terbiasa tidur di atas jam satu pagi. Alan yang masih tidur terlentang, memutuskan untuk duduk. Dia meraih ponselnya yang berada di nakas dan memainkannya.


Merasakan ada pergerakan kembali, Azalea melirik sekilas. Keningnya mengerut kala melihat suaminya yang juga belum kunjung tertidur.


"Mas gak bisa tidur karena ada aku?" Tanya Azalea sembari merubah posisinya menjadi duduk.


"Ha? Enggak, aku lagi ngecek Email dari kantor aja." Seru Alan karena terkejut.


Alan yang biasanya berbicara dingin dan datar pada Azalea. Namun, kini dia telah berubah menjadi sosok berbeda. Dia mulai sedikit merendahkan nada suaranya, agar tak menyinggung oerasaan istrinya itu.


Azalea membulatkan mulutnya, dia kembali merebahkan tubuhnya. Sejenak, dia menatap Alan yang kembali pada ponselnya.


"Mas, kapan Alexix dan El mulai sekolah?" Tanya Azalea membuta pria itu seketika mengalihkan tatapannya pada sang istri.


"Aku tidak ingin menyekolahkan mereka di luar, biarkan saja homeschooling." Sahut Alan membuat Azalea tak terima.


"Mereka butuh sosialisasi dan memiliki teman. Lagian, mereka gak ada halangan untuk sekolah umum kan?"


Alan tak menjawab, dia justru menatap istrinya dengan tatapan lekat. Membuat Azalea salting di buatnya.


"Mas!!" Pekik Azalea dengan kesal.


"Kamu masih cinta aku yah?" Pertanyaan Alan membuat mulut Azalea menganga kebar.


"AAWWW!!!" Pekik Alan ketika Azalea memukul perutnya.


"Yang di tanya apa yang di jawab apa!" Kesal Azalea.


.


.


.


Seminggu berjalan, hubungan Alan dan Azalea sedikit ada perkembangan. Pria itu mulai memperhatikan Azalea, dari hal-hal kecil. Semisal pagi ini, Azalea tengah repot dengan Elouise. Anak itu ingin mandi, tapi takut airnya terkena lukanya yang baru saja lumayan kering.


"Nanti cakit." Ringis Elouise saat Azalea akan menaruhnya di bathtub.


"Terus mandinya gimana? Mau di belah badannya atau gimana?" Ujar Azalea yang mulai frustasi akibat tingkah anaknya itu.


"Ya nda juga! Gimana lepacinna, olang nempel gini kok." Cetus Elouise.

__ADS_1


"Belicik kali! mandi doang pake libut! Cebulin aja mama! Dali pada nda kelal-kelal mandina." Sahut Alexix yang baru saja masuk bersama dengan Alan.


"HEH!! CEMBELONO KALII!!" Pelik Elouise tak terima.


Alan mendekati Azalea, dia menatap wajah lelah wanita itu. Selama seminggu ini, Alan tengah berusaha untuk peduli dengan wanita itu. Bahkan, dia lebih banyak meluangkan waktu untuk istri dan anak-anaknya. Biasanya dia yang pulang dari kantor sampai tengah malam. Kini, sebelum jam lima dia sudah sampai di mansion.


"Biar sama aku aja." Pinta Alan.


Akhirnya, Azalea mengalah. Dia memilih untuk mengajak Alexix keluar. Membiarkan Alan mengatasi Elouise yang sulit mandi.


Selang beberapa lama, Alan keluar dengan Elouise yang berada di gendongan nya. Bocah itu sudah memakai handuknya, raut wajahnya terlihat sangat ceria.


"Yasudah, mas. Kamu dan Alexix duluan saja ke ruang makan, aku pakaikan baju Elouise dulu." Pinta Azalea setelah Alan menurunkan Elouise di ranjang.


Mendengar perkataan sang mama, tanpa di suruh dua kali Alexix langsung keluar. Sementara Alan, dia masih diam di sana menatap Azalea tanpa ekspresi.


"Ada apa?" Bingung Azalea.


"Sekarang Weekend." Jelas Alan.


"Terus?" Tanya Azalea, suaminya menjawab secara tak jelas. Membuat dirinya semakin bingung.


"Jadwal pemeriksaan Elouise, om Hervan sudah menjadwalkannya jam delapan nanti." Azalea membulatkan mulutnya, dia tak lupa tentang pemeriksaan Elouise. Tiga hari yang lalu, Alan mendatangkan dokter lain untuk memeriksa keadaan Elouise. Karena Hervan sedang ke luar kota dan tak bisa menangani Elouise.


"Ya, aku ingat." Sahut Azalea dan kembali fokus memakaikan baju pada Elouise.


Alan masih diam, pria kaku itu hendak membicarakan sesuatu yang lain. Namun, entah mengapa bibirnya sulit mengucapkannya.


"Masih ada lagi?" Tanya Azalea dengan bingung.


Alan menghembuskan nafas perlahan, dia berusaha menormalkan ekspresi tegangnya dengan memasukkan tangan kanannya ke dalam saku celananya.


"Beberapa hari ini aku sudah pikirkan, aku memutuskan untuk mengikuti saranmu. Aku juga sudah mendaftarkan Elouise dan Alexix di sekolah TK Elit yang dekat dengan mansion." Terang Alan membuat senyum Azalea dan Elouise mengembang.


"Benalkah?! El boleh cekolah?!" Pekik Elouise.


Alan mengangguk seraya tersenyum tipis, sembari matanya menatap ke arah Azalea. "Iya, jadi mereka sudah bisa masuk senin nanti. Dan juga ... aku ingin mengajak mereka membeli peralatan sekolah untuk besok."


"Oh, baguslah. Pendidikan itu penting, biar pun aku bisa mengajarinya. Tapi, jika di sekolah mereka akan lebih serius belajar." Sahut Azalea.


Alan menggigit lidahnya, dia ingin mengatakan satu hal kembali. Tapi kenapa rasanya susah sekali.

__ADS_1


"Sama ... aku ingin mengajak kalian taman hiburan. Karena, itu adalah harapan Alexix ketiga dia berumur 3 tahun. Yang sampai saat ini, aku belum mengabulkannya." Terang Alan, membuat Azalea seketika menghentikan kegiatannya.


__ADS_2