Kembar Genius Milik Ceo Galak

Kembar Genius Milik Ceo Galak
Pria misterius


__ADS_3

Mendengar ada suara keributan, seorang wanita yang sedang hamil besar beranjak keluar. Matanya menyipit saat melihat sosok anak kecil yang tengah mengomeli pria dewasa. Wanita itu tak lain dan tak bukan adalah Airin.


"Mas."


Reagan menoleh, dia langsung bergegas mendekati istrinya dengan raut wajah yang panik.


"Kamu ngapain sih keluar! Udah di dalam saja! Perutmu itu sudah besar, aku takut meletus!"


Airin di kabar hamil, kini kandungan nya sudah berusia tujuah bulan. Sebentar lagi, Reagan dan Airin akan memiliki anak. Tentu saja, keduanya tampak bahagia. dua tahun lebih mereka menunggu, akhirnya Airin dapat hamil juga. Namun, hal itu tentu tak mengurangi sayang mereka pada Calandra.


"Ngarang kamu! Mana ada meletus!" Pekik Airin dengan kesal.


Tatapan Airin beralih pada Caramel, dia tersenyum lembut pada sosok bocah gembul itu. Tangannya melambai, memanggil Caramel untuk mendekat.


"Kemarilah sayang." Panggil Airin.


"Onty tantik, mana Cala? Kata mama Cala cekolah na baleng Calamel. Belangkat baleng boleh yah?" Ujar Caramel dengan manis.


Mendengar itu, seketika Reagan mendelik. "Kecil-kecil udah pinter modus." Sindir Reagan.


Caramel tentu tak terima, dia ingin mengigit Reagan. Namun, tatapannya justru jatuh pada sosok bocah yang keluar rumah sembari memegang bukunya.


"CALAAA!!" Pekik Caramel.


Calandra tumbuh menjadi anak yang tampan dan pintar, wajah kebuleannya semakin terlihat sangat jelas. Walau begitu, dia sedikit pendiam. Tapi selalu cerewet ketika bersama dengan keluarganya. Namun, Calandra memiliki sisi dingin dan datar di situasi tertentu.


"Calamel dicini?" Heran Calandra dengan kening mengerut.


"Cala, ini ada bekal dali mama. Kata mama culuh di makanna baleng Calamel." Caramel mengeluarkan bekal dari dalam tasnya, lalu memberikannya pada Calandra.


Calandra mengambil bekal itu, bibirnya tersenyum tipis. Matanya menatap Aiairn yang juga tengah tersenyum padanya.


"Azalea baik sekali, dia tahu kalau aku tidak sempat menyiapkan bekal Calandra." Ujar Airin pada suaminya.


"Aku tadi yang nyuruh." Jawab Reagan dengan entengnya.


Tentu, perkataan Reagan mengundang tatapan tajam Airin. Wanita itu menatap suaminya sembari sedikit menjauhkan tubuhnya.


"Benar-benar kamu yah! Aku nya jadi gak enak sama Azalea!" Kesal Airin.


"Orangnya juga mau kok." Pekik Reagan tak terima di salahkan.


"kamu tuh ...,"


"Onty yang tantik dan om yang kele, kita belangkat cekalang aja yah." Ujar Caramel menyela pertengkaran keduanya.

__ADS_1


mendengar Caramel mengatakan dirinya k3re, sontak Reagan mengulang kata-kata Caramel. "K3re? K3re katamu? Pasti bapakmu yang ngajarin kan?! Ngaku kamu!!" Pekik Reagan sembari berkacak pinggang.


"Papa bilang om K3le kok, nikah nda modal." Seru Caramel dengan yakin. Sepertinya, Alan menceritakan kisah Reagan pada putrinya itu.


Lalu, tatapan Caramel beralih menatap Calandra. "Cala, nanti nikahin Calamel yang modal yah, jangan kayak om Legan." Ujar Caramel yang membuat kedua orang dewasa itu tersentak.


"Heh! ana pungut! Belum SD aja udah mikir nikah-nikah. Emang situ tau arti nikah?!" Pekik Reagan tak terima.


Caramel mengerutkan keningnya, "Calamel cayang cama Cala, jadi halus nikah. Gitu kata papa. Papa nikah kalna cayang mama." Jawab Caramel dengan polosnya.


Reagan menepuk keningnya, begitu pun dengan Airin. Mereka tak menyangka, jika penjelasan Alan membuat Caramel salah paham tentang arti menikah. Bagaimana mereka harus menjelaskannya?


"Calamel adekna Cala, cama cepelti yang di pelut. Nda boleh nikah, kan Calamel adik Cala," ujar Calandra.


"Begitu yah?" Ujar Caramel sembari mengerjapkan katanya.


"Hais ... sudah-sudah! Pikirkan dulu sekolah kalian, ayo ayah antar." Seru Reagan, mengajak putranya dan Caramel memasuki mobilnya.


Sebelum pergi, Reagan berpamitan dengan istrinya dulu. Dia mengelus perut Airin dan mengajak calon bayinya untuk berbicara.


"Anak ayah jangan rewel yah, nanti pulang ayah bawakan seblak kesukaan adek hm." Bisik Reagan.


"Seblak lagi?!" Seru Airin dengan tatapan tak percaya.


"Tau lah! Gak peka banget jadi suami! Seblak terus! lama-lama anak kamu jadi seblak!" Ketus Airin.


"Terus kamu maunya apa? Biar Aku belikan? Sate? Mi ayam? atau ...,"


"Kapal pesiar!" Seru Airin.


Mendengar itu, Reagan terkekeh. Dia menggaruk pelipisnya yang tak gatal, sembari menghela nafas pelan.


"Gak makan bertahun-tahun nanti kita sayang. Kalau kapal kretek yang di jual di pasar, aku mampu belikan kamu. Sepuluh pun jadi." Ujar Reagan dengan candaannya.


"Udah sana berangkat!!" Kesal Airin.


"Iya! iya! Kenapa cewek berisik banget si." Gerutu Reagan sembari memasuki mobilnya.


Airin menatap kepergian mobil Reagan, sembari tangannya mengelus perut besarnya. Setelah mobil Reagan pergi dari pandangannya, Airin beralih menatap perutnya.


"Ayahmu tuh aneh yah dek," ujar Airin pada bayi yang ada di dalam kandungannya.


.


.

__ADS_1


.


Mobil Reagan terhenti di depan sekolah, dia langsung turun untuk membukakan pintu kedua bocah yang berada di kursi belakang. Caramel lebih dulu turun, baru di susul oleh Calandra.


"Ayo, ayah antar." Ajak Reagan pada putranya.


Reagan meraih tangan Calandra dan juga Caramel, dia menaiki tangga menuju gerbang sekolah. Terlihat, Caramel menatap sekelilingnya dengan kata berbinar, berbeda dengan Calandra yang hanya menatap datar tanpa ekspresi.


"Becal kali cekolahna, kalau di jual belapa halgana ini." Ujar Caramel yang di dengar oleh Reagan.


"Seharga ginjal, jual lah ginjal kamu gula. Biar bisa beli sekolah ini." Ujar Reagan dengan nada bercanda.


Caramel langsung mendelik, "Enak aja! Calamel mahal tau! Papa cuma puna catu anak pelempuan, ya Calamel doang ini." Seru Caramel.


"Tinggal ganti yang baru, apa susahnya."


"HEH!! CEMBALANGAN!! NANTI CALAMEL CULUH ONTY BUAT CALI CUAMI BALU! BALU TAU LACA!" Pekik Caramel dengan kesal.


"Calah apa aku lupana. Kecal kali lacana." Gerutu Caramel sembari mengusap d4danya.


Calandra menghiraukan pertengkaran ayah dan sepupunya. Dia hanya fokus berjalan, dan baru menyadari jika tali sepatunya terlepas.


"Yah, cebental." Ujar Calandra sembari menarik tangannya.


Calandra berjongkok, dia membenarkan tali sepatunya dengan mandiri. Sementara Reagan dan Caramel, menunggu bocah itu memasang kembali tali sepatunya. Caramel dan Reagan masih sibuk berbincang, semua hal mereka ributkan.


Sesudah memasang tali sepatunya, Calandra akan segera bangkit. Namun, ekor matanya justru menatap sesuatu yang janggal dari balik pohon. Dia langsung menoleh ke arah pohon, tapi sayangnya tak ada siapapun di sana.


"Cala, ayo." Ajak Reagan.


Calandra mengangguk, dia kembali menggandeng tangan Reagan. Sesekali, Calandra menengok kembali ke arah pohon tadi. Entah mengapa, Calandra merasa ada yang tengah memata-matai mereka. Ketiganya pun memasuki gerbang sekolahan.


Dugaan Calandra benar, ada seseorang di balik pohon yang mengintai mereka. Seorang pria bermasker hitam, keluar dari balik pohon yang menjadi tempat persembunyiannya. Lalu, pria itu berlari menuju mobil yang terparkir di sebrang jalan.


Di dalam mobil itu, terlihat seorang pria berusia 45 tahun. Tubuhnya terlihat kekar, dengan pakaian jas hitam yang melekat di tubuhnya. Aura yang pria itu keluarkan, sangat kuat. Terlihat jelas, jika pria itu bukanlah orang sembarangan.


"Tuan."


"Bagaimana?" Tanya pria itu ketika pria bermasker tadi memasuki mobilnya.


"Sepertinya dia sempat menyadari kehadiran saya tuan." Tanya pria bermasker itu yang merupakan bawahan dari pria berkaca mata hitam tersebut.


Pria berkaca mata hitam itu, beralih menatap jendela. Matanya menatap sekolah yang menjadi tempat intaian mereka. Jari telunjuknya mengetuk pahanya dengan pelan.


"Hem ... rupanya, anak itu memiliki insting yang kuat." Gumamnya.

__ADS_1


__ADS_2