Kembar Genius Milik Ceo Galak

Kembar Genius Milik Ceo Galak
kakak ipar


__ADS_3

Alan terbangun dari tidurnya, dia mengerjapkan matanya untuk menyesuaikan cahaya yang masuk. Lalu, pria itu mendudukkan tubuhnya. Tiba-tiba, kepalanya terasa sangat pusing. Dia pun memegang kepalanya sembari meringis pelan.


"Shhh."


Alan menggelengkan sedikit kepalanya untuk mengusir rasa pusing yang menderanya.


"Kenapa kepalaku sakit sekali." Gumam Alan.


Alan berniat ingin turun dari ranjang, akan tetapi. Saat akan keluar dari selimut, dirinya baru tersadar jika saat ini dia tidak memakai kain apapun.


"ASTAGA!"


Alan terdiam, dia mengingat-ingat apa yang terjadi semalam. Bayangan dirinya yang memaksa Azalea, terputar di memorinya.


"Azalea." Gumam Alan.


Alan menoleh, dia mendapati istrinya berada di sebelahnya. Ruat wajah istrinya itu sangat pucat, membuat Alan seketika panik.


"Lea!! Lea!!" Lekik Alan.


Alan bergegas memakai pakaiannya, lalu dia mencoba untuk mengecek keadaan istrinya. Ternyata, Azalea pingsan. Alan menjambak kuat rambutnya, dia merasa bersalah pada istrinya itu.


"Maafkan aku." Lirih Alan.


Bergegas, Alan mengambil ponsel milik Azalea. Dia bergegas, menelpon Dokter Hervan. Beruntung, dia hafal dengan nomor dokter itu.


"Halo, Alan."


"Om, bisa kesini dengan istrimu? Tolong, istriku pingsan." Panik Alan.


"Ya, kami akan segera ke sana." Putus DOkter Hervan.


Alan melempar ponsel Azalea ke ranjang, dia mengusap kasar wajahnya melihat tubuh lekas istrinya itu.


"Kenapa aku bod0h sekali." Lirih Alan.


Alan merapihkan keadaan istrinya, dia mengambil baju hangat dan memakaikan padanya. Lalu, Alan mengangkat tubuh Azalea. Dia berencana ingin memindahkan Azalea ke kamar tamu karena kamarnya yang begitu berantakan.


"Mama!! Maaaa!!"


Elouise yang baru saja keluar dari kamarnya itu, melihat sang papa yang menggendong tubuh lemas sang mama membuat dirinya terkejut. Dia bergegas berlari menyusul Alan yang sudah masuk ke kamar tamu.


"Maa!! Papa apain mama lagi!! Hiks ... mama!!" Isak Elouise.


Alan hanya fokus pada Azalea, dia menyelimuti istrinya itu. Tangan Alan menggenggam tangan dingin Azalea.


"Ku mohon, bertahanlah." Lirih Alan.


"Mama hiks ... mama. Mama kenapa? Papa, mama kenapa?" Isak Elouise.

__ADS_1


"El, tolong jangan ganggu mama dulu saat ini. Berangkat sekolah sama supir yah, papa gak bisa antar." Bujuk Alan sembari mengelus kepala putranya itu.


Elouise menggeleng, "Nda!! El mau cama mama! El mau cama mama! Hiks ... mama." Isak Elouise.


KArena putranya tak kunjung menurut, akhirnya Alan memanggil Bi Sari.


"BI!! BI SARIII!!" Teriak ALan.


Tak lama, Bi Sari datang dengan terburu-buru. "Ya tuan," ujar Bi Sari.


"Bawa Elouise ke kamarnya." Pinta Alan.


"ENGGAAAKK!! EL MAU CAMA MAMA!! PAPA AJA CANA YANG KE KAMAAAL!!" Pekik Elouise.


"El, turuti perkataan papa sekarang!" Tegas Alan.


Akhirnya, Elouise mau menurut. Bi Sari mengantarnya ke kamarnya, sementara Alan menjaga Azalea.


Tak lama, dokter Hervan datang. Dia datang bersama dengan istrinya, yang juga seorang dokter. Istri dokter Hervan langsung memeriksa keadaan Azalea.


"Tak sadar dari kapan?" Tanya wanita berkaca mata itu.


"Enggak tau tan, tadi pagi saat aku bangun. Istriku sudah pingsan." Ujar Alan dengan panik.


"Alma, coba kamu periksa bagian perutnya. Mungkin ada benturan, mas keluar dulu." Pamit Dokter Hervan.


Alan tetap di sana, dia melihat apa yang istri Dokter Hervan lakukan. Wanita itu membuka piyama Azalea, dia memeriksa keadaan perut. Namun, ada satu hal yang membuat dirinya janggal. Beberapa di bagian tubuh Azalea terlihat memar, apalagi di bagian pergelangan tangan.


Akhirnya, Alan menceritakan apa yang terjadi. Dia tak sadar melakukan hal itu pada Azalea, dia sangat khawatir saat ini.


Terdengar, helaan nafas dari Alma. Matanya menatap lekat mata Alan yang kini berkaca-kaca.


"Sepertinya istrimu mengalami syok, tante akan menginfusnya dan menyuntikkan vitamin padanya. Jika tidak ada perubahan, kita bawa ke rumah sakit." Ujarnya.


Alan mengangguk, dia menatap istrinya itu dengan tatapan bersalah. Apalagi, Azalea harus tumbang karena dirinya.


Di saat dirinya fokus pada sang istri, dirinya di kejutkan oleh kehadiran Bi Sari dengan raut wajah panik.


"Permisi, tuan. Ada yang mencari nyonya Azalea."


"Siapa?" Tanya Alan dengan kening mengerut.


"Pria yang kemarin bawa nyonya pergi." Terang Bi Sari dengan takut.


"Reagan." Satu nama dalam pikiran Alan.


Tanpa berlama-lama, pria itu bergegas menemui Reagan. Raut wajahnya penuh emosi, tangannya terkepal kuat di sisi tubuh nya.


Di ambang pintu utama, Alan sudah bisa melihat keberadaan Reagan. Dengan santainya, Reagan menatap Alan yang tengah menatapnya penuh emosi.

__ADS_1


"Ngapain kamu kesini? Belum puas sudah berusaha menghancurkan rumah tangga saya?!" Sentak Alan.


"Ngehancurin gimana yah? Perasaan, saya gak ada niat untuk nadi pebinor." Ucap Reagan dengan santai.


"Gara-gara kamu, Azalea meminta cerai dari saya! Karena dia ingin bersamamu, dia bahkan rela meninggalkan kedua putranya!" Bentak Alan.


"Apa maksudmu?!" Seru Reagan tak terima.


"Untuk apa kamu membawa pergi istri ku kemarin? Bahkan kamu memeluk dan menc1umnya. Apakah sopan seperti itu pada istri orang?" Marah Alan.


Mendengar hal itu, sontak Reagan tertawa. Mendengar pertanyaan Alan yang membuat Reagan merasa geli.


"Apakah sopan membentak kakak iparmu hm?"


"Hah? Jangan menghalu di siang bolong. Lihat, matahari sudah meninggi dan anda masih berhalu." Unjuk Alan pada langit.


Reagan berdehem, dia menepuk bahu ALan. Seketika, Alan melotot di buatnya. Dia menepis tangan Reagan dari pundaknya.


"Apaan sih! Jangan sok akrab!" Kesal Alan.


Reagan menarik kembali tangannya, dia mengambil sebuah kertas dari dalam jaketnya. Lalu, dia menyerahkannya pada Alan.


"Bacalah, biar kamu mengerti." Pinta Reagan.


Dengan rasa penasaran yang tinggi, Alan pun membukanya. Saat dia melihat isi di dalam kertas itu, seketika matanya melotot. Sekaan, bola matanya hendak keluar dari tempatnya.


"Azalea adalah adikku yang sebelumnya sempat di nyatakan tiada. Aku pun tidak tahu kalau sebenarnya aku memiliki adik. Sebab, setelah Azalea di nyatakan tiada. Orang tuaku memilih untuk menutup semua informasi tentangnya. Bahkan, aku mengira jija daddyku memiliki anak dengan wanita lain." Tetang Reagan.


Rait wajah Akan berubah pias, dia merutuki dirinya sendiri yang sudah salah paham dengan Azalea. Wanita itu tidak mengkhianatinya, Alan sudah salah paham kepadanya.


"Oh ya, dimana adikku? AKu ingin bertemu dengannya. Daddy memintaku untuk membawanya ke rumah sakit, tidak masalah kan aku membawa istrimu?"


Deghh!!


Seketika, raut wajah Alan pucat. Entah bagaiman reaksi Reagan, saat tahu adiknya tak sadarkan diri karena ulahnya.


"Hei! Kenapa bengong?! Dimana dia?" Seru Reagan dengan kesal.


"Alan! Azalea sudah sadar!!"


Reagan dan Alan menoleh pada Dokter Hervan yang berjalan cepat ke arah mereka. LAngkah dokter Hervan terhenti saat mendapati pria yang ia temui di rumah sakit.


"Kamu ...,"


"Alan, ada apa dengan adikku?!" Sentak Reagan dengan tatapan marah.


KArena tak kunjung mendapat jawaban Alan, Reagan memilih untuk menerobos masuk ke dalam mansion pria itu. Tak peduli jika nantinya Alan akan memarahinya,. Dia hanya perduli, dengan keadaan Azalea saat ini.


"Dia kakak istrimu?" Tanya Dokter Hervan dengan raut wajah terkejut.

__ADS_1


"Aku juga baru tahu om." Lirih Alan.


__ADS_2