
Byurr!!
Alan mencuci wajahnya, dia menumpu tubuhnya dengan tangannya yang memegang kedua sisi wastafel. Matanya menatap pantulan wajahnya yang basah, dan menatap tajam pada dirinya.
Dia kembali teringat akan ucapan Azalea beberapa waktu lalu yang membuatnya merasa di bandingkan dengan pria baru dalam kehidupan wanita itu. Alan tak suka di bandingkan, dia benci di banding-badingkan seperti ini.
"Reagan lebih baik darimu mas, dia mengerti caranya menghargai seseorang. Tidak salah bukan jika aku memberinya kesempatan?"
Alan meremas sisi wastafel dengan kuat, matanya memerah dan berair. Urat-urat tangannya sangat terlihat sangking kuatnya remasannya pada sisi wastafel.
"Dia tidak lebih baik dariku Lea, dia hanya menginginkanmu. Bukan putra kita. Aku memang br3ngsek, tapi aku tidak pernah berniat mendatangkan wanita lain untuk menggantikan dirimu menjadi ibu untuk mereka." Lirih Alan.
Alan merasakan sesak di dadanya, emosinya tengah menggebu-gebu. Tak ada yang bisa memancing emosinya seperti ini, selain Azalea.
Alan melonggarkan dasinya, lalu dia mengambil sesuatu dari balik jas nya. Sebuah botol yang pernah ia ambil dari dashboard mobilnya. Kemudian, Alan mengeluarkan beberapa pil obat. Lalu, memakannya tanpa air.
Alan menenangkan dirinya, emosinya perlahan kembali stabil. Setelah di rasa dia baik-baik saja, Alan memutuskan untuk keluar dari kamar mandi.
Saat akan sampai di depan ruang operasi, langkah Alan terhenti saat mendengar suara tangis Azalea. Bukan hanya itu saja, dia terdiam mematung saat melihat beberapa suster keluar dengan wajah panik.
"PUTRA SAYA KENAPA?! ADA APA DENGANNYA?! Hiks ... Tolong, katakan sesuatu?!" Histeris Azalea.
Alan tersadar saat melihat suster yang berlari tadi kembali dengan tiga dokter yang turut menyusulnya. Dia pun mencegah salah satunya untuk bertanya.
"Apa yang terjadi pada putraku?!" Seru Alan dengan raut wajah paniknya.
"Pasien mengalami henti jantung, mohon untuk tidak menghalangi kami."
Alan mematung, mendadak wajahnya terlihat pucat. Suara tangisan Azalea, bahkan tak lagi dia dengar. Alan merasa, dunianya runtuh saat itu juga.
"Elouise. Tidak ... tidak ... dia sudah janji padaku. AKu sudah menepati janjiku, dia pasti menepati janjinya." Lirih Alan dengan suara bergetar.
Sementara di ujung lorong, Alexix tengah membawa sebuah paper bag makanan. Raut wajahnya terlihat sangat ceria, apalagi ada es krim di tangannya.
"Di cini nda ada telol gulung buat El, jadina Lekci belikan es klim. Celecai oplaci nanti, langcung makan es klim. Bial cepat cembuh El na." Celoteh Alexix.
Kendrick tersenyum, sehabis makan siang anak itu kekeuh ingin mencari jajan. Kendrick pikir, Alexix akan mencari jajan untuk dirinya sendiri. Namun, di luar dugaan Alexix malah membeli jajan dan es krim untuk Elouise.
"Tuan kecil, nanti es krimnya keburu cair," ujar Kendrick.
"Nanti kan langcung di makan El, jadina nda men ...."
Langkah Alexix dan Kendrick terhenti, tubuh keduanya mematung saat melihat Azalea yang menangis histeris di pelukan Alan.
"EL!! AKU MAU MELIHAT EL, HIKS ...EL!!"
__ADS_1
Pluk!!
Es krim yang Alexix pegang terjatuh, tubuhnya terasa lemas. Matanya berkaca-kaca, rasa takut menghinggapi relung hatinya.
"El, El kenapa? kenapa mama cama appa nanis?" Lirih Alexix.
Terlihat, Azalea dan Alan memasuki ruang operasi. Tanpa pikir panjang, Alexix melempar paper bag makanan ke sembarang arah dan langsung menyusul kedua orang tuanya.
"Tuan!!" Tersadar, Kendrick bergegas menyusul Alexix.
Tubuh Azalea dan Alan melemas saat melihat Dokter Aryan sedang melakukan CPR pada Elouise. Tangisan Azalea tak terbendung lagi, dia memeluk erat tubuh Alan.
"Elouise, hiks ...El ...,"
Tubuh Azalea melemah, Alan yang merasakan pelukan Azalea melemah dengan sigap memeluk pinggangnya. Dia yang syok dengan Elouise, bertambah syok dengan Azalea yang pingsan.
"Lea!! Lea!!" Seru Alan.
Beberapa suster membantu membawa Azalea keluar, mereka akan membawa Azalea ke ruang perawatan. Sementara Alan, dia masih berdiri di sana.
"Elouise." Lirih Alan.
Dokter Aryan menyudahi kegiatannya, nafasnya terdengar memburu. Dia beralih menatap Alan, lalu menganggukkan kepalanya. Melihat anggukan dokter Aryan, seketika Alan menghela nafas lega.
"Dia hanya henti jantung sementara, semuanya sudah kembali normal." Terang Dokter Aryan.
"Terima kasih, terima kasih karena kau telah bertahan sayang. Papa yakin, kau pasti alan menepati janjimu" Lirih Alan. Kemudian, pria itu mengecup kening putranya dengan cukup lama.
"EEEELL!! LEPACIN OM!! LEKCI MAU LIAT EL HIKS ... EEELLL!!"
Alan terperangah, dia menegakkan kembali tubuhnya. Tatapannya kini beralih pada dokter Aryan yang tengah mengecek kondisi Elouise.
"Dok ...,"
Dokter Aryan tersenyum, "Putramu itu merasakan jika kembarannya tak baik-baik saja, keluarlah dan tenangkan dia. Bilang padanya, jika kembarannya kembali bertahan."
Alan tak bisa berkata apapun lagi, Dokter Aryan sudah banyak membantunya. Dia bingung, apa yang harus dia berikan pada Dokter Aryan karena telah menyelamatkan putranya.
"AKu tidak tahu lagi harus membalas mu dengan apa, aku tidak akan melupakan kebaikanmu dokter." Lirih Alan dan berlalu pergi keluar.
Dokter Aryan tersenyum, tangannya menggenggam tangan Elouise. Selepas kepergian ALan, dokter Aryan beralih menatap Elouise.
"Aku tahu kau anak yang hebat, terima kasih karena kau sudah menepati janjimu." Lirih Dokter Aryan.
.
__ADS_1
.
.
"EL!!" Azalea terbangun dari pingsannya, nafasnya terdengar memburu. Dia menatap ke sekeliling ruangan, ternyata dirinya berada di kamar perawatan.
"Elouise." Gumam Azalea seraya berusaha beranjak dari brankar. Dia melihat tangannya yang tertancap infus, dan berniat ingin menarik infus itu. Namun, niatnya terhenti setelah mendengar suara pintu yang terbuka.
Cklek!
"Nona, beristirahatlah dulu!" Seru seorang suster dengan panik.
Azalea menghiraukannya, dia mencabut selang infus itu membuat darah menetes dari tangannya. Lalu, dia berniat ingin pergi. Akan tetapi, suster itu malah menahannya.
"Aku ingin bertemu dengan putraku! Lepaskan aku! Dia butuh aku!" Pekik Azalea.
Suster tadi berusaha menahan, dia bahkan memanggil temannya yang lain. Namun, di saat Azalea terus memberontak. Suara berat seseorang membuat dirinya tak lagi memberontak.
"Biarkan saja sus,"
Azalea menatapnya, air matanya tak mampu dia bendung lagi saat melihat pria yang datang menghampiri nya.
"Alan, El ... Elouise." Lirih Azalea dengan suara bergetar.
Suster melepaskan pegangannya pada tubuh Azalea, membuat wanita itu segera menghampiri Alan dam menabrakkan tubuhnya. Tangannya memeluk erat pria itu, dia tak segan menangis di d4da Alan.
Brugh!!
"Hiks ... Elouise, katakan padaku jika dia baik-baik saja. Tolong, jangan katakan hal buruk. Bilang padaku jika Elouise baik-baik saja hiks ...,"
Alan hanya diam, dia tidak membalas pelukan Azalea padanya. Dia hanya fokus pada darah yang mengalir dari punggung tangan wanita itu. Hingga mengotori kemeja biru nya.
"Sus, saya minta kain kasa." Pinta Alan pada suster yang masih berada di sana.
Suster tersebut langsung mengambil kain kasa yang berada di lemari nakas. Lalu, dia menyerahkannya pada Alan.
Alan menerimanya, dia meraih tangan Azalea dan melilitkan kasa itu padanya. Tanpa banyak bicara, Alan fokus dengan kegiatannya. Membuat Azalea menarik kasa tersebut dengan kasar, matanya menatap tajam pada Alan yang terlihat santai dengan perlakuannya.
"KAU BELUM MENJELASKAN PADAKU TENTANG KABAR PUTRAKU!! AKU MAU BERTEMU DENGAN PUTRAKU!! KATAKAN SESUATU TENTANGNYA!!" Bentak Azalea.
Alan menatap lekat mata wanita itu, membuat Azalea terkunci dengan tatapan Alan. Melihat keterdiaman Azalea, Alan kembali meraih tangan Azalea dan kembali melilitkan kasa itu.
"Aku akan membawamu pada Elouise." Ujar Alan setelah dia menyelesaikan tugasnya.
"Kau akan membawaku ke ruang rawatnya kan, bukan ruang lain kan? Iya kan? Katakan sesuatu hiks ... aku sangat takut." Isak Azalea.
__ADS_1
Melihat ketakutan wanita itu, membuat Alan tersenyum tipis. Tangannya terangkat, mengelus lembut pelipis wanita yang sampai kini masih berstatus sebagai istrinya.
"Elouise, dia ada di tempat istirahat nya,"