Kembar Genius Milik Ceo Galak

Kembar Genius Milik Ceo Galak
Arley


__ADS_3

Caramel memasuki rumah Reagan dengan plastik sempol di tangan kirinya, sedangkan tangannya memegang setusuk sempol yang ia suapkan ke mulutnya.


"Cenangna dalam hati, puna jajan cempol. Beluntungna diliku hali ini, lagi lulus otakna papa hali ini." Seru Caramel dengan senang.


"CALAAA!! CAYANGMU BAWA CEMPOL INI!!" Seru Caramel sembari berlari ke arah kamar Calandra.


Alan yang mendengar teriakan putrinya, dia langsung menatap datar pada Reagan. Reagan yang tak tahu apa-apa hanya bisa menatapnya dengan bingung.


"Apa? Aku tidak tahu apa hubungan mereka," ujar Reagan dengan polosnya.


"Putramu telah memonopoli putriku!" Kesal Alan.


"Huh? Putrimu yang centil, kenapa putraku yang salah." Seru Reagan tak terima.


"Apa kau bilang hah?!" Seru Alan tak terima. Kedua bapak itu tak terima anak mereka menjadi tersangka. Bahkan, keduanya sudah mengambil ancang-ancang untuk saling bertengkar.


"Mas, kamu kesini?"


Alan dan Reagan menormalkan ketika melihat Azalea yang datang berjalan ke arah Alan. Raut wajah dingin Alan berubah, dia tersenyum ramah pada istrinya itu.


"Kan sayangnya Mas bilang kalau lagi di rumah Airin. Jadi, Mas pengen jemput. Ayo pulang " Ajak Alan dengan romantis.


Mendengar itu, Reagan melirik tajam pada Alan. "Udah sana pulang! Bikin suasana rumah panas aja." Ketus Reagan.


"Ini juga mau pulang kok! Siapa yang betah di rumah sempit." Sahut ALan tak kalah kesal.


Mendengar itu, ingin rasanya Reagan mencak-mencak saat ini juga. Tak sadarkah Alan, jika dia adalah abangnya Azalea.


"Lea, dengar suamimu bilang apa?" Seru Reagan meminta pembelaan.


"Emang rumah abang kecil kan? Daddy sudah bilang suruh pindah ke rumah yang lebih besar, tapi abang gak mau." Ujar Azalea dengan lugu nya.


mendengar itu, seketika tawa keras Alan mengudara. Sedangkan Reagan, raut wajahnya tak bisa di deskripsikan lagi. Bukan dia tak mau pindah, hanya saja Airin tidak mau. Rumah mereka tidak kecil, tapi tidak juga sebesar Alan.


"Terserah kalian, udah sana pulang!" Ketus Reagan.


"Iya, ini juga mau pulang. Ayo sayang." Ajak Alan, dia segera merangkul pinggang istrinya dan mengajaknya pergi.


Setelah kepergian keduanya, Reagan menghela nafas pelan. Keadaan hatinya tengah memburuk akibat adik iparnya itu.


"Bisa ganti adik ipar gak si?" Gumam Reagan.


BRAAAKK!!


"OM LEGAAAANNN!!!"

__ADS_1


Reagan terkesiap, dia berbalik dan mendapati keponakannya tengah berlari kearahnya dengan raut wajah yang panik. Seakan bocah itu baru saja melihat hantu.


"Apa?" Tanya Reagan dengan kening mengerut.


"Itu, palana Cala belah." Ujar Caramel dengan raut wajah ketakutannya.


"HA?! BELAH GIMANA?!" Sungguh, Reagan sudah panik. Dia segera berlari ke kamar putranya.


Saat hampir sampai di kamar putranya, Reagan berpapasan dengan istrinya yang sepertinya akan ke kamar Calandra juga.


"Kenapa kamu panik gitu Mas?" Tanya Airin dengan kening mengerut.


"Tante, palana Cala belah!" Pekik Caramel.


"APA?!" Airin buru-buru berlari ke arah kamar putranya, tampa menghiraukan perutnya yang kini besar.


Cklek!


"CALA!! CALA!!" teriak Airin panik.


Cala muncul dari kamar mandi, anak itu sehat. Tak ada luka seperti yang Caramel katakan tadi. Bergegas, Airin mengecek keadaan putranya itu. Melihat Calandra baik-baik saja, Reagan langsung menatap tajam ke arah keponakannya.


"Heh anak pungut! Tadi bilangnya belah! Mana belahnyaaaa!!" Greget Reagan.


Airin menyingkap poni Calandra, dia bisa melihat luka goresan lurus di sana. Seketika, dia menghela nafas lega. Dirinya pikir, belah yang Caramel maksud adalah luka yang berat.


"Heh! But0 ijo! Itu namanya kegores! Bukan kebelah!!" Greget Reagan.


Mendengar dirinya di bilang but0 ijo, jelas Caramel tak terima. "CEMBALANGAN!! APA BEDANA HAH?! CAMA CAMA BELAH! PICAH ITU KULITNA!" Pekik Caramel tak terima.


"Sudah-sudah, kalian ini ribut saja. Mas, mending kamu keluar. Biarkan anak-anak main." Tegur Airin mengusir suaminya.


"Kamu usir aku?! Kan dia yang buat ulah!! Seharusnya dia yang ...,"


"Mas." Tekan Airin dengan mata menatap Reagan dengan tajam.


Reagan pasrah, dia keluar dari kamar Calandra. Setelah Airin mengobati luka di kening Calandra, dia pun menyusul suaminya.


"Lain kali, janan heboh gula. Kacian ayah dan bunda," ujar Calandra memperingati Caramel.


"Mana ada heboh. Nanti kalau Cala metong, jadi temanna kakek Calamel di tanah. Mau?" Seru Caramel tak terima.


"Terselahlah." Pasrah Calandra.


"Dih, olang nda calah kok aku lupana." Gumam Caramel.

__ADS_1


.


.


.


Malam hari, di negara lain. Tampak, Arley tengah memandang jalanan yang di padati oleh kendaraan dari jendela besar kamarnya. Saat ini, dia hanya memakai celana pendek tanpa baju. Di tangannya, terdapat kaleng soda yang sedang ia nikmati.


"Calandra." Gumam Arley, kembali menyebut nama anak itu.


"Apa benar dia mirip denganku? Rasanya lucu sekali. Aku tidak memiliki anak, tapi ada anak yang mirip denganku." Lirih Arley dengan mengangkat sebelah sudut bibirnya.


Cklek!


Pendengaran Arley menangkap suara pintu yang terbuka. Tanpa melihatnya, dia tahu siapa yang datang. Arley hanya diam, tanpa mengalihkan pandangannya dari keindahan kota di malam hari.


"Sayang." Arley merasakan pelukan hangat di perut kekarnya. Tapi, dia hanya diam, tak membalas pelukan itu sama sekali.


"Kenapa kamu tidak memberi kabar padaku, jika kamu pulang hari ini hm?" Tanya Wanita itu dengan manja.


"Aku sibuk, maaf." Ujar Arley dan kembali meminum sodanya.


Wanita itu melepaskan pelukannya pada perut Arley, dia berjalan ke hadapan Arley dan melilitkan tangannya di leher Arley.


"Kau tidak merindukanku yah? Aku sangat merindukanmu, kau tahu itu kan?" Ujar wanita itu dengan menatap sendu Arley


Arley menepis tangan wanita itu dari lehernya, dia membuang kaleng sodanya yang telah habis ke tempat sampah. Lalu, dia beranjak menuju ranjang untuk merebahkan dirinya.


"Arley! Apa aku ada salah? Katakan, jangan diam saja. Aku tidak bisa melihatmu marah," ujar wanita itu sembari menatap Arley dengan sendu.


"Diamlah Jessica! Aku mengantuk. Kita bahas besok." Ujat Arley sembari membalikkan tubuhnya membelakangi wanita cantik bernama Jessica itu.


"Arley! sebentar lagi pukul dua belas malam, apa kamu lupa? Sebentar lagi, hari pernikahan kita yang ke sepuluh. Tolong, untuk kali ini saja. Aku merindukanmu," Ujar Jessica dengan sendu.


mendengarnya, Arley tak tega. Istrinya yang sudah dia nikahi selama sepuluh tahun, dengan setia berada di sampingnya walau mereka tak memilki anak. Namun, konflik ketidaksuburan Arley membuat Arley menjadi pribadi yang dingin. Dia bahkan meminta Jessica untuk menceraikannya. Namun, wanita itu tetap kekeuh ingin bersama Arley.


"Jessica, menikahlah dengan yang lain. Kau juga butuh keturunan," ujar Arley dengan sendu.


"Tidak! Aku tidak mau! AKu tidak bisa tanpa mu Arley. Aku mohon, jangan tinggalkan aku." Seru Jessica sembari memegang bahu Arley.


Arley beranjak duduk, dia meraih tangan Jessica untuk menyuruhnya duduk di tepi ranjang. Matanya menangkap mata Jessica yang menatapnya dengan berkaca-kaca.


"Aku tidak tahu apa yang terjadi lima tahun lalu, kejadian itu merenggut impianku untuk mempunyai seorang putra. Tapi, terima kasih untuk usahamu selama ini. Kamu rela menemaniku hingga aku pulih dari kecelakaan itu. Aku hargai, ketulusan cintamu dalam merawatku selama ini. Tapi Jessica, mengapa aku merasa ... ada orang lain yang belum aku ingat?"


Deghh!!

__ADS_1


__ADS_2