
Bagaimana Airin tak bahagia setelah mendengar perkataan Azalea. Dia sudah membayangkan mengasuh Calandra, akan membuat dirinya bahagia. Secara mengejutkan, Azalea justru menyerahkan hak asuh Calandra padanya.
Tepat hari itu, Calandra sudah di perbolehkan pulang. Azalea melepas kepergian bayi itu bersama dengan Airin. Air mata Azalea luruh saat dirinya memeluk Calandra sebelum menyerahkannya pada Airin.
"Tolong, jaga dia dengan baik." Ujar Azalea sembari menyerahkan Calandra pada Airin.
Di gendongan Airin, Calandra menatap Azalea dengan mata beningnya. Matanya mengerjap pelan, dia bingung mengapa Azalea menangis di hadapannya. Tangannya terulur, dan meraih pipi Azalea. Mungkin, bayi itu berniat ingin menghapus air mata wanita yang telah menolongnya itu.
"Rawat dia seperti anakmu sendiri, berikan dia cinta yang mungkin sebelumnya tidak dia dapatkan. Aku titipkan dia padamu Airin, aku percaya kamu bisa menjadi ibu yang baik." ujar Azalea sembari meraih tangan Calandra dan meng3cupnya pelan.
Airin mengangguk dengan mata yang berkaca-kaca, "Hem, pasti." Seru Airin dengan yakin.
"Ayo sayang." Ajak Reagan pada Airin.
Reagan beralih menatap Azalea, dia mengelus kepala adiknya itu dengan sayang. "Jangan menangis, nanti minta Alan buatkan lagi yang baru," ujar Reagan dengan jail.
Alan yang berada di sofa sedang memangku Caramel pun, seketika melotot mendengarnya. Dia langsung menatap tajam Reagan yang menatapnya dengan jail.
"Enak aja! Belum ngerasain kamu jantung pindah ke perut yah?! Nanti saat istrimu melahirkan, baru ngerasain!" Ketus Alan.
"Emang bisa jantung pindah ke perut?" Tanya Reagan sembari beralih menatap Azalea.
Azalea hanya tersenyum simpul, suaminya trauma saat melihat dirinya melahirkan. Alan bahkan berkali-kali menangis saat Azalea menjerit kesakitan. Pria itu bahkan sempat berkata, jika dia tidak mau anaknya. Dia hanya mau Azalea tetap berada di sampingnya. Syukurnya, semuanya selamat.
"Udah sana pulang! Kita juga mau pulang!" Ketus Alan.
"Ish, iya! iya!" Reagan pun mengajak istrinya pergi dengan membawa Calandra.
Setelah kepergian Reagan, Azalea menangis. Alan dengan sigap memeluk istrinya itu. Hati Azalea terlalu lembut, dan Alan mengerti akan hal itu.
"Sudahlah, kapan-kapan kita jenguk Cala," ujar Alan.
"Kamu gak tahu sih pas di tinggal lagi sayang-sayangnya." Isak Azalea.
Alan menggaruk tengkuknya yang tak gatal, "Pernah kok, emang sakit. Sakit banget." Batin Alan.
.
.
__ADS_1
.
Airin dan Reagan sudah sampai di kediaman Arumi, keduanya masuk ke dalam sembari membawa Calandra di gendongan Reagan. Bayi itu tertidur sepanjang jalan, mungkin perjalanan membuatnya lelap.
"Eh kalian, sudah pulang." Sambut Arumi yang tengah menyiram tanamannya.
Arumi segera menghampiri memantu dan anaknya, senyumnya mengembang saat melihat mereka berdua. Namun, senyum Arumi luntur saat melihat bayi yang berada di gendongan Reagan. Tatapannya langsung beralih menatap Airin sembari tangannya menunjuk bayi yang ada di dalam gendongan pria itu.
"Ai, jangan bilang sama mama kalau ternyata Reagan itu punya anak dengan wanita lain?!" Pekik Arumi.
Airin dan Reagan terkejut, keduanya akan membantah ucapan Arumi. Namun, suara berat seseorang membuat keduanya bertambah terkejut.
"APA?!"
Reagan meneguk kasar ludahnya saat dia melihat Liam yang berjalan ke arahnya dengan tatapan tajam. Pria itu mengenakan seragam kepolisian, sehingga membuat auranya jauh lebih kuat.
"Bang, ini bukan ...,"
"Gak usah bela dia! Seharusnya dari awal kamu gak usah percaya dengan pria ini Airin! Lihat! Dia tak jauh beda dengan Farel!" Pekik Liam sembari menunjuk Reagan.
Bukannya takut, Reagan malah tertawa. Tawanya, membuat Liam dan Arumi bingung dengannya. Bukan hanya keduanya, Airin pun sama bingungnya.
Seketika, Airin tertunduk malu. Pipinya memerah, apalagi saat di tatap oleh Arumi dan Liam. Tangannya menggapai pinggang Reagan dan mencubitnya dengan kuat.
"ARGHH!! SAKITT!!" TEriak Reagan hingga membuat Calandra bangun dari tidurnya.
"EKHEE! EKHEE!! hiks ... huaaa!!"
"Syuttt kan! Bangun! Kamu sih!" Omel Reagan pada Airin.
Calandra menghentikan tangisnya, dia menatap Reagan dengan kening mengerut. Lalu, tatapannya beralih pada Airin. Kemudian kembali menatap Reagan, dan beralih lagi menatap Airin. Bibirnya melengkung, dia masih merasa belum dekat dengan Reagan.
"HUAAAA!!"
"E-eh ini Bunda sayang, sini sama Bunda." Airin meraih tubuh Calandra, dia memeluk bayi itu dengan sayang dalam gendongannya.
Sementara Reagan, dia masih mengerjapkan matanya. Lalu, dia mengeluarkan ponselnya untuk membuka aplikasi kamera. Dirinya ingin lihat, apa yang aneh dari wajahnya hingga membuat bayi itu takut.
"Masih ganteng kok, Calandra kenapa takut yah?" Gumam Reagan.
__ADS_1
Liam yang sedari tadi memperhatikan hal itu pun menjadi mengerti, "Oh, kamu bukan bapaknya ternyata." Desis Liam.
"Bukanlah Bang! Aneh aja Abang ini. Gimana caranya aku buat anak kalau gak ada ladangnya," ujar Reagan dengan kesal.
Arumi hanya bisa menggelengkan kepalanya, saat melihat tingkah dua pria itu. "Jadi, dia anak siapa?" Tanya Arumi yang sudah penasaran.
Reagan pun akhirnya menjelaskan tentang Calandra. Arumi dan Liam menyimaknya dengan baik-baik. Mereka turut sedih atas apa yang menimpa Calandra. Bayi malang itu, harus merasakan hal yang menyakitkan.
"Kasihan sekali, Mama setuju kalau kalian ingin mengadopsinya. Mungkin, dengan begitu Airin akan lebih mudah hamil nantinya," ujar Arumi dengan senyum mengembang.
Arumi mengajak Reagan dan Airin masuk dan beristirahat. Sementara Liam, dia harus kembali ke kantor. Saat berada di kamar, Airin menyerahkan Calandra pada Reagan. Dia akan membuat susu untuk Calandra. Walau pada akhirnya, bayi itu menjerit keras saat Airin memberikannya pada Reagan.
"Hei, berhentilah menangis. Aku bapakmu loh ini. Kamu terpilih jadi anakku, ya jangan nangis. Bapakmu orang kaya, seharusnya kamu bangga." Bukannya berhenti, tangisan Calandra semakin menjadi.
"Kenapa? Kamu kecewa bapakmu bukan kongl0merat si Alan itu?" Reagan berbicara pada Calandra yang menangis histeris. Tentu nya bayi itu tak paham dengan apa yang Reagan katakan.
"Bapakmu ini juga kaya nak, setelah pembagian warisan tapi. Hahaha!!"
Calandra menghentikan tangisannya setelah mendengar tawa Reagan. Tapi, tak lama Calandra kembali menangis. Namun, jauh lebih keras.
"HUAAAA!!!"
"Ini bunda dateng sayang, sini sini ...,"
Airin mengambil Calandra dari Reagan, dia langsung menidurkan bayi itu di ranjang bersamaan dengan dirinya. Calandra menyusu dari botol susu yang Airin pegang. Terlihat sekali, Airin begitu bahagia karena bisa mengurus Calandra.
Melihat senyuman istrinya, Reagan terenyuh. Dia turut merebahkan dirinya di samping Airin. Matanya menatap kedua orang yang saat ini menjadi prioritasnya.
"Kamu bahagia?" Tanya Reagan dengan senyuman tipis.
Airin mengangguk, dia meraih pipi Reagan dan mengelusnya pelan. Matanya menatap Reagan dengan tatapan penuh sayang dan cinta. Begitu pun dengan Reagan.
"Sangat, terima kasih Reagan. Kamu mewujudkan impianku sejak dulu." Ujar Airin. Saat bersama Farel, pria itu menuntut nya untuk memiliki anak sendiri. Tapi dengan Reagan, Airin merasa dirinya bisa mendapatkan hal yang sebelumnya Farel larang untuk dirinya.
"Berbahagialah sayang, aku yakin. ... suatu sata. Kamu pasti akan melahirkan keturunan. Lewat Calandra, aku bisa melihat mu bahagia. Dia adalah cahaya keluarga kita, Calandra Abrisham Xaver." Ujar Reagan dengan tulus, menatap bayi yang saat ini tengah menatapnya.
"Anak kita." Lirih keduanya dengan tersenyum bahagia menatap bayi kecil yang menjadi anak mereka.
____
__ADS_1