Kembar Genius Milik Ceo Galak

Kembar Genius Milik Ceo Galak
Titik terang


__ADS_3

Caramel tengah bermain bersama kucing dan ayamnya, keduanya tampak bermain di taman belakang mansion. Karena Caramel fokus dengan ayam-ayamnya, dia tak tahu jika kucingnya tengah memainkan sesuatu.


"Ayamna tantik kali, kalau gede ikut pecencow lah. Pasti jadi juala peltama. Memang telbaik Calame. Belcukul kalian, ganti mamak kalian dengan Calamel. Makan enak, nda ucah cucah cucah cali makan." Celoteh Caramel sembari mengusap kepala ayamnya.


Tatapan Caramel beralih pada kucingnya, kening mengerut dalam saat melihat apa yang kucingnya tengah mainkan.


"Itu Tawon atau lebah?" Caramel masih loading.


"GEMBLOOITTT!! JANAN MAININ ITUUU!!" Pekik Caramel.


Karena terkejut, kucing itu tak sengaja membuat tawon itu terinjak. Sehingga, tawon tersebut pun akhirnya menusukkan jarumnya pada kaki si kucing.


"MEONG!!" Teriak kucing saat kakinya tersengat.


"Lacakan! Bandel cih!!" Omel Caramel.


Caramel memeriksa kaki kucingnya. Benar saja, tak lama kaki itu sangat besar karena bengkak akibat sengatan tawon itu. Melihat kucingnya yang kesakitan, Caramel pun tak tega. Bahkan, matanya kini berkaca-kaca.


"Hiks ... kenapa kau injak tadi tawon na. Jadi becal kakimu kan hiks ... nanti kalau nda balik lagi gimana? Miling telus lah kau jalan hiks ..." Caramel membawa si kucing ke gendongannya, lalu dia masuk ke dalam mansion.


Melihat adiknya yang terlihat sedih, Elouise pun datang menghampirinya.


"Kenapa kucingnya?" Tanya Elouise.


"Abang hiks ... ci gemblot kecengat tawon becal. Kakina liat, jadi becal hiks...." Ujar Caramel dengan isakan lirih.


bukannya membantu, Elouise justru malah ingin menjaili adiknya. Dia memegang kaki si gembrot, dan menekannya pelan.


"MEONG!!" Teriak si kucing merasa kesakitan.


"Aduh! Harus oprasi ini mah. Udah gak ketolong lagi ini."


"Hiks ... nda ketolong lagi makcudna ... nanti kakina ci gemblot ilang catu?" Tanya Caramel dengan suara bergetar.


"Iya, jadi hilang satu kakinya. Kasian, lagian kok gak di perhatikan kucingnya. Salahmu lah itu." Ujar Elouise. Dia tak peduli, jika saat ini bibir Caramel sudah melengkung ke bawah bersiap untuk menangis keras.


"Nanti ... nanti jadi kucingna kakinya tiga, cepelti bajai di pelempatan." Ujar Caramel dengan suara bergetar.


"Iya, nanti gurunya tanya. Hewan berkaki empat apa aja? Nah, kucingmu gak bisa masuk hewan berkaki empat. Tapi masuk golongan bajai."


"Hiks HUAAAA!!! NDA MAU! NDA MAU. CI GEMBLOOTTT HIKS ... KACIAN KALI DILIMU. CALAHKU INI LUPANAA."

__ADS_1


Elouise menutup mulutnya, dia tengah menahan tawa karena kelolosan adiknya itu. "Bajai roda, kucing kaki. Samanya dari mana? Dasar lola." Batin Elouise.


.


.


Lucian, Liam, Reagan dan Alan kini duduk berempat dalam satu meja. Suasana tegang menyelimuti mereka, tak ada yang berbicara sampai Lucian membuka suara. Terlihat, Lucian tengah menikmati kopi yang di sajikan di sana.


"Saya akui, jika kasih sayangmu dan istrimu selama ini sangat tulus untuknya. Tapi, bukankah seharusnya Arion kembali dalam pangkuan keluarganya?" Ujar Lucian memecah keheningan.


"Calandra! Calandra Abrisham Xaver! Bukan Arion! Siapa itu Arion." Ketus Reagan.


"Sama saja, Calandra pemberian namamu. Sedangkan Arion, pemberian adikku." Ujar Lucian dengan penuh penekanan.


Reagan memutar bola matanya malas, ingin rasanya dia memukul wajah Lucian yang terlewat sombong. Namun, dia tak bisa pergi begitu saja sampai Lucian tak lagi menganggu putranya.


"Calandra akan tetap bersama keluarga kami, kamu tak berhak mengambilnya! Lihat, adikmu saja tak memperjuangkannya. Malah justru anda yang datang kesini untuk mengambilnya." Sahut Alan dengan tatapan tajam.


"Jika adikku berada disini, dia pasti akan langsung menjemput putranya." Lirih Lucian dengan tatapan sendu.


Alan dan Reagan saling pandang, keduanya bingung dengan perkataan Lucian. Tatapan mereka beralih pada Liam yang seakan tahu maksud perkataan Lucian. Melihat tatapan keduanya, Liam pun menghela nafas pelan.


"Sherly, namanya. Dia adalah seorang penjinak bom. Dia jatuh cinta dengan seorang pria yang berasal dari Amerika. Keduanya memutuskan untuk menikah. Namun, baru saja pernikahan mereka berjalan tiga bulan. Terkuak sebuah kabar, jika sebenarnya pria itu sudah memiliki istri. Sherly benar-benar tidak tahu, jika pria itu telah menikah. Pria itu pun pergi dengan istri pertamanya dan tak kembali lagi. meninggalkan adik Jendral yang saat itu tengah hamil anak dari pria tersebut."


Lucian memejamkan matanya, dia mengingat kisah pahit yang di alami sang adik.


Terlihat, seorang wanita cantik tengah menggendong anaknya yang masih bayi. Dia duduk di kursi taman sembari menyusui putranya itu.


Wanita itu yang tak lain adalah Sherly, adik dari Lucian. Dia hanya tinggal dengan sang kakak, setelah suaminya pergi meninggalkan dia. Saat ini, Lucian sedang berada di perbatasan karena tugasnya. Jadilah Sherly berada di rumah sendirian.


"Anak mama, minum yang banyak yah sayang. Biar cepat besar. Biar Arion bisa jadi penjaga mama, hm?"


Bayi itu yang tak lain adalah Calandra kecil. Tampak Calandra tengah menatap ibunya dengan mata mengerjap pelan. Bayi kecil itu seakan mengerti apa yang di maksud oleh sang ibu.


BRAK!!


Sherly terkejut dengan suara pintu yang terbuka keras. Dia segera memperbaiki pakaiannya, tak peduli jika Calandra menangis karena merasa belum puas menyusu.


"Kak! Kakak! Apa itu kamu?!" Teriak Sherly, dia pikir mungkin Lucian telah kembali dari tugasnya.


Saat Sherly akan kembali masuk ke rumahnya, betapa terkejutnya dia saat melihat banyak pria berpakaian hitam yang menodongkan senjata padanya.

__ADS_1


"MAU APA KALIAN?!" Pekik Sherly.


"Diam, dan ikutlah!" Titah dari mereka.


Sherly akan berlari, tetapi para pria itu tentu berhasil mengejarnya. Mereka menyeretnya keluar dan memasukkannya ke dalam mobil. Sherly berteriak histeris, tak hanya itu juga. Calandra juga menangis keras di pelukan ibunya.


"Jangan menangis sayang, om pasti akan menyelamatkan kita." Bisik Sherly pada bayinya.


Air mata Lucian mengalir, dia hanya mendapat bukti rekaman CCTV di rumahnya saja. Setelah itu, pencarian terhadap adiknya buntu. Dia tak menemukan keberadaan adiknya lagi sampai sekarang.


"Aku turut sedih atas masalah yang menimpamu. Tapi tuan, Calandra sudah menjadi hak asuh kami. AKu tidak akan melarang mu untuk bertemu dengan Calandra. AKu akan mengizinkanmu untuk sering bertemu dengannya. Asalkan, jangan bawa Calandra bersamamu. Jangan buat hati keluargaku hancur." Ujar Reagan dengan nada memohon.


Lucian berbalik menatap Reagan, dia mengakui ketulusan Reagan. Namun, ada alasan mengapa dirinya ingin kembali mengambil Calandra.


"Saya butuh Calandra." Ujar Lucian.


"Maksudnya?" Tanya Alan yang masih bingung dengan perkataan Lucian.


"Saya butuh Calandra untuk mencari keberadaan adik saya."


Deghh!!


Alan langsung menatap Reagan, dia mengamati ekspresi iparnya itu. Alan yakin, jika Reagan tak akan mengizinkan Lucian untuk membawa Calandra. Benar saja, Reagan beranjak dari duduknya. Matanya menatap tajam Lucian.


"Kenapa harus Calandra?! Dia hanya anak berumur empat tahun! Dia bahkan tak bisa membela dirinya sendiri! Jika kau butuh bantuan, telpon anak buahmu! Kenapa harus putraku! Apa kau telah kehilangan akal?!" Kesabaran Reagan telah habis, dirinya benar-benar kesal dengan keinginan Lucian.


"Reagan, sabarlah." Pinta Liam.


Reagan kembali duduk, emosinya belum stabil. Dadanya kembang kempis menahan amarah.


"Bagaimana aku bisa sabar. Putraku di taruhkan! Bagaimana bisa seorang anak kecil mencari orang yang telah lama hilang." Pekik Reagan dengan kesal.


"Saya mencurigai satu orang yang menjadi kunci dari segalanya." Ujar Lucian dengan menatap tajam ke arah tempat berbeda.


Kening ketiganya mengerut, tentu saja ketiganya penasaran dengan apa yang Lucian maksud.


"Siapa yang anda curigai Jendral?" Tanya Liam.


"Istri pertama suami adikku."


Sementara itu, di tempat yang berbeda. Terlihat, seorang wanita tengah memasuki ruangan tersembunyi. Ruangan itu sangat pengap, hanya ada satu lampu kecil yang menyinari tempat gelap itu.

__ADS_1


Langkah wanita itu terhenti di sebuah sel, matanya beralih menatap ke dalam sel. Dimana terlihat seseorang, lebih tepatnya seorang wanita tengah memeluk lututnya. Pakaiannya tampak sangat lusuh, bahkan tubuhnya sangat kotor.


"Apa kamu masih betah di dunia ini? Dengar, walaupun dia telah melupakanmu. Tapi, bayang-bayangmu masih menghantui kehidupan kami. Haruskah, aku melenyapkanmu dari dunia ini. Sherly," ujar wanita itu yang tak lain dan tak bukan adalah Jessica.


__ADS_2