
Elouise tidak mau berangkat sekolah, dia malu dengan giginya yang ompong. Padahal, giginya hanya copot satu. Bahkan, dia tidak mau berbicara. Alexix pun turut tidak masuk sekolah, dia berusaha meminta maaf pada Elouise karena telah meledeknya.
"Enggak papa El, gigi susunya El copot. Nanti di ganti sama gigi baru. Alexix juga giginya bakalan copot kok nanti," ujar Azalea membujuk putranya itu.
Elouise tetap diam, dia malu menunjukkan giginya. Sementara dagunya, sudah terlihat lebam. Alan sebelumnya, sudah meminta dokter untuk mengobatinya.
"El, maaf yah. Aku gak gitu lagi kok, kamu tetep ganteng kok. Cuman berkurang satu persen aja." Ujar Alexix yang menatapnya dengan sendu.
Bukannya merasa terharu, Elouise justru mendelik sebal. "Kan hiks ... satu persen hilang gantengnya El. Mau pasang gigi palsu aja pokoknya hiks ... El nda mau sekolah sampai di pasang gigi palsu hiks ...,"
Alan yang berdiri tak jauh dari mereka pun menghela nafas pelan, dan tangannya bertengger manis di pinggangnya. Pria itu menatap putranya yang sedang menangis, meratapi nasib giginya.
"Mas, bagaimana?" Tanya Azalea dengan menatap suaminya itu.
Alan pun tidak tahu, apakah boleh Elouise memasang gigi palsu. Lagian, anaknya itu aneh sekali. Tak lama lagi, pasti giginya akan tumbuh kembali.
"Yaudah yuk, kita ke dokter gigi aja. Tapi kalau gusinya di bor, jangan nangis yah." Ujar Alan, memberi peringatan.
"Kok di bor?!" Sewot Elouise.
"Kalau di tempel, copot lagi nanti," ujar Alan yang mana membuat Elouise memegang bibirnya.
"Hiks ... jangan di booorrr hiks ... nda mau buat jalan di tol di gigi na El. Kenapa di booorr hiks ...,"
Azalea dan Alan saling tatap, keduanya menghela nafas pelan. Sementara Alexix, dia menahan tawa saat melihat Elouise yang menangis histeris. Menyadari Alexix yang menertawainya, tangisan Elouise pun terhenti. Matanya menatap tajam kembarannya itu.
"NAPA TAWA-TAWA HAH?! NANTI LEXI POKOKNYA HARUS SAMA KAYAK EL!" Seru Elouise.
"Syutt, nanti Calandra bangun. Kecilkan suaranya." Pinta Azalea, dia sempat melirok pada Calandra yang tertidur pulas di brankar. Sementara Caramel, bocah itu sedang asik berjalan kemari dengan lincah.
"Dih, kan kamu yang ompong. Kenapa kita harus sama? Walau kita kembar satu rahim, tapi ... Nasib beda bos!" Sewot Alexix sembari menyisir rambutnya ke belakang.
Mendengar itu, Elouise mengambil bantal sofa. Dia bersiap akan melemparnya pada Alexix. Sebelum itu terjadi, Alexix pun berlari untuk menghindari lemparan Elouise. Mata Alexix terbelalak saat mendapati Caramel sedang duduk di lantai, persis di depan kakinya. Bocah itu pun langsung mengerem langkahnya secara mendadak agar tak menabrak adiknya itu.
BRUGH!!
"ARGH!!"
__ADS_1
Karena menghindari terlalu jauh, wajah Alexix menabrak pintu. Azalea dan Alan segera membantu putranya itu, wajah mereka terlihat sangat panik.
"Lexi gak papa sayang?" Tanya Azalea dengan panik.
Alexix memegang mulutnya, matanya menatap Azalea dengan tatapan berkaca-kaca. Dia melepas tangannya yang menutup mulutnya saat Azalea menariknya. Hingga, Azalea bisa mengecek kondisi mulut putranya. Khawatir akan ada luka, karena Alexix menabrak pintu lumayan kencang.
"Eh ...." Betapa terkejutnya Azalea saat melihat gigi depan Alexix patah. Bukan copot, melainkan patah sisa setengah.
Hal itu, tentu membuat Alan memegang kepalanya. Bukan hanya kembar identik, bahkan kejadian serupa keduanya alami. Karema perkara gigi, kini ruangan penuh dengan drama.
"Patah giginya mas." Ujar Azalea dengan tatapan panik.
"Eheee!! Giginya Lexi, giginya Lexi pataaaaahhh huaa!!" Pekik Alexix saat dirinya mendapati patahan giginya.
Sedangkan Elouise, matanya mengerjap pelan. Dia mendekati saudara kembarnya itu dan duduk di hadapannya. Tangisan Alexix terhenti, keduanya saling menatap dan memerkan bentuk gigi baru mereka. Tawa keduanya pun pecah saat melihat kondisi gigi mereka.
"HAHAHAH OMPONG!"
"LEXI JADI PEROSOTAN GIGINYA HAHAHA!!"
"Eheee!! Ama gigi na." Ujar Caramel, yang mana membuat semuanya tertawa.
.
.
.
Sore hari, Reagan dan Airin datang ke rumah sakit. Keduanya tampak berjalan dengan mesra, dimana Airin merangkul lengan Reagan. Aura mereka terpancar, senyum manis mengembang di bibir mereka.
"Pulang nanti aku mau bakso," ujar Airin.
"Iya, apapun untuk mu ayang beb." Ujar Reagan dengan gombalannya.
"Kok ayang beb si! Geli aku dengernya!" Pekik Airin.
"Terus apa? Cintaku?" Tanya Reagan dengan kening mengerut.
__ADS_1
"Nah, itu lebih baik. Kalau ayang beb, kesannya kita menikah dini. Sangat tidak masuk sekali denganku," ujar Airin.
Reagan menghentikan langkahnya saat matanya menangkap ruangan poli kandungan. Berhentinya Reagan, membuat Airin pun turut berhenti sambil menatap apa yang suaminya itu tatap.
"Cintaku, gimana kalau kita ikut program hamil?" Usul Reagan.
"Ehm ... apa kamu sudah kepengen sekali punya anak?" Tanya Airin dengan nada lirih.
Mendengar itu, Reagan menatap Airin. "Bukan itu, tak ada salahnya kita berusaha kan? Jika dulu mantanmu hanya mengandalkan dirimu, kali ini aku ingin mengandalkan diriku juga. Bukan hanya kamu saja yang berjuang, tapi juga aku. Mungkin, kita bisa tahu makanan apa saja yang sehat buat program hamil nantinya. Agar benihku bisa berkembang." Terang Reagan.
Airin terdiam, benar juga. Tak ada salahnya keduanya ikut program hamil. Tapi, ada ketakutan dalam diri Airin. Dia takut, Reagan akan berharap lebih. Padahal, kenyataan membuat keduanya sakit
"Aku takut kamu berharap lebih, bagaimana jika hasilnya tak sesuai harapan kita?" Tanya Airin sembari menatap lekat suaminya.
Reagan melepaskan tangan Airin yang merangkul tangannya. Lalu, tangannya terangkat dan menangkup wajah Airin. Matanya menatap dalam mata cantik istrinya itu.
"Cintaku, sayangku. Dengar, kita ini berusaha. Tentang apa hasilnya nanti, itu urusan nanti. Yang penting, saat ini kita berusaha. Kalaupun gagal, aku tak masalah. Bukankah aku sudah bilang padamu hm? Aku tidak masalah hidup berdua denganmu. Tapi, umur kita masih terbilang muda. Kita masih banyak kesempatan untuk memiliki anak, kamu juga memimpikan seorang anak bukan?"
Airin mengangguk, matanya menatap sang suami dengan mata berkaca-kaca. Airin sangat menginginkan anak. Tapi sampai saat ini, dia belum juga kunjung memilikinya. Dulu, bukan Airin menyerah. Tapi, dia lelah hanya berjuang sendiri. Mertua dan suaminya, terus menekannya untuk hamil. Tapi suaminya yang kali ini, dengan senang hati menarik tangannya untuk berjuang bersama.
"Maaf kalau nantinya yak sesuai dengan harapan mu. Tapi, aku mohon. Jangan madu aku. Lebih baik kau mencerai ...."
Reagan menarik Airin dalam pelukannya, pria itu meng3cup puncak kepala sang istri dengan penuh cinta. Tak peduli bagaimana tatapan orang sekitar terhadap mereka berdua.
"Jangan samakan aku dengan mantanmu. Waktu tiga bulan ku rasa cukup membuktikan jika aku menikahi mu karena cinta. Bukan karena anak. Apa kamu mengerti sampai sini hm? Kalau aku menikah denganmu karena anak, bukankah lebih baik aku menikahi janda yang sudah memiliki anak?" Ujar Reagan. Lalu, pria itu menarik turunkan alisnya. Meledek sang kekasih.
mendengar itu, Airin cemberut sebal. Bukannya kesal dengan Airin, Reagan justru merasa gemas dengan istrinya itu. Apalagi bibir istrinya yang di majukan saat ini.
"Jangan memajukan bibirmu, jika kamu tidak ingin aku menci ...,"
Puk!
Airin memukul bibir Reagan dengan tatapan kesal, "Tahu tempat kang gombal!" Ketus Airin dan berlalu pergi. Meninggalkan Reagan yang memegang bibirnya sembari tersenyum.
"Istriku yang manis." Batin Reagan.
___
__ADS_1