Kembar Genius Milik Ceo Galak

Kembar Genius Milik Ceo Galak
Putraku


__ADS_3

"Maksudnya?" Tanya Azalea dengan kening mengerut. Dia menegakkan tubuhnya, dan sedikit mendekat pada Arumi.


"Tolong jelaskan maksud anda, saya tidak paham." Pinta Azalea.


Arumi menghela nafas pelan, tangannya saling meremas dengan kuat. Padahal, ruangan itu ber-AC. Tapi entah mengapa, Arumi merasa gerah.


"Saya takut, suamimu akan membenci saya." Lirih Arumi.


"Enggak, tolong jelaskan dulu duduk permasalahannya. Bagaimana saya bisa tahu, jika anda menutupinya." Desak Azalea.


Arumi tertunduk sejenak, sebelum dirinya kembali berkata.


"Aku dan ayah Alan, dulunya adalah sepasang suami istri. Namun, keluarga kami tidak merestui. Sehingga, terpaksa saya dan ayah Alan bercerai. Tanpa membawa Alan, saya kembali pada kedua orang tua saya."


Deghh!!


Mata Azalea berkaca-kaca, d4danya terasa sesak. Satu hal yang dia pikirkan, bagaimana jika suaminya mengetahui hal ini?


"Lalu, saya melanjutkan studi ke Malaysia. Di sana, saya bukan hanya melanjutkan pendidikan. Tapi juga, menikah dan memiliki keluarga baru. Setelah lima belas tahun saya di sana, barulah saya memutuskan kembali ke indonesia. Saya mencari keberadaan suami saya, yang ternyata ... sudah meninggal. Lalu, saya mencari keberadaan putra saya. Ternyata, istri ayah Alan membawanya pergi entah kemana."


Tatapan Arumi beralih menatap Azalea, dia meraih tangan Azalea dengan menggenggamnya erat.


"Jujur, di saat itu saya merasa bersalah pada Alan. Saya mencari keberadaan putra saya itu, tapi tidak saya temukan. Hingga akhirnya, saya kembali bertemu dengan Rena satu tahun yang lalu. Saat itu, saya bertemu dengannya di rumah sakit. Kondisinya sangat kritis karena penyakit hati yang dia derita. Hingga akhirnya, dia mengungkapkan keberadaan Alan yang sebenarnya. Dari situ, saya mecari Alan."


"Jadi mas Alan. .. belum tahu kalau sebenarnya bu Rena itu, bukan ibu kandungnya?" Lirih Azalea.


.


.


.


Alan sudah sadar, luka di keningnya sudah di jahit kembali. Namun, saat ini dirinya tengah kesal. Sebab, saat dia bangun. Azalea tak berada di dekatnya. Justru, Kendrick lah yang menunggunya sejak tadi.


"Kenapa kau yang disini?! mana istriku?!" Pekik Alan dengan tatapan kesal.


Kendrick meringis, "Kok jadi saya yang salah? Kan nona yang gak disini. Masih untung, saya jagain tuan." Lawan Kendrick.


"Berani melawan kamu rupanya? Mau bonus kamu aku potong huh?" Ancam Alan.


"Memang, bulan ini ada bonus?" Tanya Kendrick, sembari mengerjapkan matanya.


"Eh iya ya, bulan ini kamu gak ada bonus." Gumam Alan, dia baru sadar akan hal itu.


"Tapi gak papa deh tuan kalau setengahnya aja." Ujar Kendrick dengan tersenyum riang.

__ADS_1


"Enak aja! Enggak ada!" Omel Alan.


Cklek!


Alan melihat istrinya masuk ke dalam ruangannya. Melihat hal itu, Alan sontak menarik selimut dan menutupi seluruh tubuhnya. Lalu, dia berbalik memunggungi Azalea.


"Kenapa dia?" Tanya Azalea pada Kendrick.


"Ngambek, nona sih datengnya lama." Terang Kendrick.


Azalea membulatkan mulutnya, dia menaruh tasnya di atas nakas dan duduk di tepi ranjang. Sejenak, Azalea menatap Caramel yang berada di sofa, putrinya ternyata sudah tertidur pulas. Tangan Azalea pun menyentuh bahu Alan, tetapi pria itu justru malah menggerakkan bahunya.


"Kendrick, kamu balik ke kantor aja gak papa." Usir Azalea.


"Kalau pulang boleh?" Tanya Kendrick dengan tersenyum riang.


"Boleh, lagian udah sore juga." Jawab Azalea.


"YESS!! NONA TERBAIIKK!! Seru Kendrick, dengan riangnya dia keluar dari ruangan Alan.


Setelah kepergian Kendrick, Azalea kembali menatap suaminya yang masih merajuk. Dia memegang kembali bahu Alan, tetapi pria itu malah kembali menepis tangannya.


"Mas marah? Maaf yah, aku cuman nemenin bu Arumi aja sampai keluarganya datang," ujar Azalea dengan lembut.


mendengar itu, Alan tersadar. Dia hampir melupakan Arumi. Pria itu pun beranjak duduk, dia menatap Azalea dengan kening mengerut.


Azalea tersenyum, "Enggak, beliau gak papa. Mas mau ketemu?" Tanya Azalea dengan lembut.


Alan mengangguk, dia ingin bertemu dengan Arumi. "Nanti yah mas, sebelum bu Arumi pulang. Mas gak mungkin ke sana, aku gak bawa gendongan Caramel. Kalau di tinggal sendiri kan kasihan," ujar Azalea.


Alan melihat sejenak putrinya yang tertidur menghadap ke arahnya, pipi gembul anak itu tertekan. Sehingga terlihat sangat menggemaskan.


"Pindahin kesini aja sayang, kasihan tidur di sofa." Pinta Alan sembari menepuk ruang di sebelahnya.


Azalea menurut, dia bergegas memindahkan putrinya ke sebelah sang suami dengan hati-hati. Sebab, Caramel anak yang mudah sekali terbangun.


"Syuutt ... syutt. ..." Azalea menepuk paha montok putrinya agar kembali tertidur.


Tangan Alan menggapai pipi gembil putrinya, dan mengelusnya pelan.


"Mas, aku mau tanya boleh?" Izin Azalea.


"Tanya aja." Jawab Alan tanpa menatap sang istri. Dirinya masih fokus untuk menatap putrinya yang tertidur. Rasanya, Alan gemas sekali dengan putrinya itu.


"Kalau semisal, kamu ketemu mama kamu lagi. Gimana?" Tanya Azalea dengan gugup.

__ADS_1


Seketika, Alan menatap istrinya. Raut wajahnya terlihat datar. "Kenapa kamu menanyakan tentang itu? Jawabanku masih sama, aku tidak ingin bertemu dengannya." Ketus Alan.


"Tapi, jika tenyata ibu kandungmu bukan mama Rena. Bagaimana?"


Mendengar itu, Alan bukannya marah. Justru, pria itu tertawa keras, hingga membuat Caramel terkejut.


"EKHEE! EKHEEE!!"


Azalea pun seketika panik, dia menepuk paha putrinya. Namum, Caramel terlanjur bangun dan rewel. Karena merasa tidurnya terganggu, sehingga menangis kencang.


"Mas sih!" KEsal Azalea.


Azalea memilih untuk menyusui putrinya agar Caramel kembali terlelap. Sementara Alan, dia menatap istrinya yang tengah menyusui putri mereka dengan senyum mengembang.


"Nanti habis ini aku yah." Ujar Alan dengan santainya.


Azalea segera berbalik memunggungi suaminya itu, dari pada panjang urusannya nanti.


"Gak usah aneh-aneh deh mas!! Lagi sakit juga!" Ketus Azalea.


Cklek!


Pintu kembali terbuka, terlihat Arumi datang dengan mengenai kursi roda. Azalea, buru-buru merapihkan pakaiannya. Dia Terpaksa menarik kembali nutrisi yang tengah Caramel isap dengan paksa. Hingga membuat putrinya berakhir menangis.


"Syuut, sebentar sayang." Ujar Azalea memenangkan putrinya.


"Ekhee!!! Hiks ... huaaa!!"


Azalea pun memilih berdiri, dia menghampiri Arumi yang datang dengan seorang wanita seumuran Azalea.


"Mas, aku tinggal keluar dulu." Pamit Azalea, dia sengaja membiarkan Arumi berbicara pada Alan


Alan mengangguk, dia paham akan kerewelan putrinya. Sesaat, dia menatap Arumi dengan tersenyum ramah. Berbeda dengan Arumi yang menatapnya dengan mata berkaca-kaca.


"Bagaimana keadaanmu?" Tanya Arumi.


"Saya baik bu, terima kasih atas pertolongannya." Ujar Alan dengan lembut.


"Sudah sepantasnya saya membantu kamu," ujar Arumi.


Tatapan Alan beralih pada kaki Arumi, dia merasa bersalah pada wanita itu. Karena kecerobohan dirinya, Arumi pun turut terluka.


"Saya minta maaf yah bu, gara-gara keteledoran saya. Anda juga ikut terluka. Seharusnya, anda biarkan saja saya tertabrak." Ujar Alan dengan perasaan bersalah.


"Bagaimana saya bisa membiarkan putra kandung saya terluka?" Tanya Arumi dengan air mata yang menetes di pipinya.

__ADS_1


"Apa?" Kaget Alan.


_____


__ADS_2