
Reagan kembali pulang dengan keadaan yang lesu, rambutnya berantakan. Bahkan kemeja yang ia kenakan pun sudah sangat kusut dan berantakan. Saat dia membuka pintu, terlihat Airin berjalan menghampirinya dengan raut wajah yang cemas.
"Mas, sudah pulang? Tumben kamu pulang larut malam? Kenapa tidak memberiku kabar?" Tanya Airin tanpa jeda.
Reagan hanya diam, dia mengamati wajah cantik istrinya tercintanya itu. Mata Reagan memerah berkaca-kaca, hatinya terasa sesak.
"Bagaimana ku bisa memberitahumu tentang semua ini, sayang. Sungguh, aku tidak sanggup melihat air matamu." Batin Reagan.
Reagan kembali mengingat percakapannya tadi dengan Lucian. Kondisi yang tidak kondusif, membuat Reagan tersulut emosi karena permintaan Lucian.
"Sekalinya tidak akan tetap tidak! Calandra tetap putraku! Selamanya akan menjadi putraku! Kau, tidak memiliki hak! Tak peduli dengan keadaan adikmu dimana! Yang jelas, Calandra sudah bahagia hidup tanpa keluarganya saat ini!" Sentak Reagan.
"Bagaimana jika Calandra tahu mengenai statusnya yang sebenarnya?" Tanya Lucian sembari menyeringai.
Deghh!!
Jantung Reagan berdegup kencang, dia tak bisa membayangkan bagaimana jika Calandra tahu tentang statusnya yang sebenarnya.
"Cepat atau lambat, Calandra pasti akan pergi meninggalkanmu dan istrimu. Tak peduli, seberapa baik kalian merawatnya. Calandra pasti akan tetap, kembali pada keluarganya yang sebenarnya." Ujar Lucian dengan penuh penekanan.
"KAU!!" Reagan akan menyerang Lucian, tetapi Alan mencegahnya. Mata Alan menatap Lucian dengan tatapan datar.
"Lakukanlah! Rebut kembali hak asuh Calandra. Itu pun, kalau kau bisa tuan Lucian yang terhormat." Ujar Alan dengan dingin
"Oke, baiklah. Kita bertemu di persidangan." Ujar Lucian, sebelumnya akhirnya pria itu memutuskan untuk pergi.
Reagan menatap tajam ke arah Alan, dia mendorong tubuh Alan dengan kasar hingga membuat punggung Alan menabrak tembok dengan cukup kuat.
"KENAPA KAMU BERKATA SEPERTI ITU PADANYA HAH?! APA KAMU SUDAH GIL4?!" Sentak Reagan dengan emosi yang meluap.
"Tenanglah dulu, biar aku jelaskan," ujar Alan berusaha tenang.
"APA?! KAU TIDAK MERAWAT CALANDRA DARI KECIL! KAU TIDAK AKAN PERNAH TAHU BAGAIMANA RASANYA MELEPASKAN PUTRAMU PADA ORANG LAIN! BAGAIMANA KALAU SEANDAINYA POSISI CARAMEL ADA DI POSISI PUTRAKU HAH?!"
"Tenanglah dulu! Hak asuh Calandra akan tetap menjadi milikmu!" Tekan Alan.
Raut wajah Reagan berubah bingung, nafasnya masih terdengar memburu. Matanya menatap Alan dengan sorot mata yang sendu.
"Maksudmu?" Tanya Reagan.
Alan menghela nafas pelan, "Dengan uang, semua pun bisa. Aku akan berusaha untuk membuat Calandra tetap menjadi putramu. Kau tenang saja, aku memiliki teman yang memiliki pengaruh yang kuat. Dia akan membantu kita." Jelas Alan, yang mana membuat Reagan terdiam.
"Mas, ada apa? Kenapa kamu melamun?" Pertanyaan Airin membuat Reagan membuyarkan lamunannya.
"Enggak sayang, mas hanya lelah saja. Ayo kita masuk." Ajak Reagan.
__ADS_1
Airin terlihat bingung, dirinya hanya pasrah saat Reagan mengajaknya masuk. Saat di kamar, pria itu langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sementara Airin, dia membereskan kemeja Reagan yang sebelumnya telah di lepas.
"Mas kebiasaan deh! taruh bajunya pasti di tempat tidur, kenapa gak sekalian di keranjang kotor sih!" Gerutu Airin
Saat Airin akan mengambil kemeja milik Reagan, matanya malah menangkap ponsel Reagan. Terdengar, suara notifikasi pesan dari ponsel pria itu.
"Alan, tumben dia chat jam segini." Gumam Airin saat melihat notifikasi di layar utama.
Airin melirik ke arah kamar mandi, matanya kembali beralih menatap konsep milik suaminya.
"Liat aja deh, biasanya juga mas Reagan gak marah." Gumam Airin.
Airin pun membuka ponsel milik Reagan, dia membaca isi pesan dari Alan.
"Besok, jangan biarkan Calandra berangkat sekolah dulu. Jauhkan dia dari Lucian. Jangan sampai, Lucian memberitahu siapa identitasnya yang sebenarnya. Walau Lucian adalah pamannya dan menginginkan hak asuh Calandra kembali. Tapi tetap saja, kau yang lebih berhak."
Deghh!!
Airin merasakan jantung yang berdegup kencang, matanya bergerak gelisah. Dia membaca isi pesan Alan yang berada di ponsel suaminya.
Ckelk!
"Sayang, mana baju tidurku?" Tanya Reagan yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Airin berbalik, air matanya jatuh. DIa menyodorkan ponsel Reagan pada oria itu. Melihat ekspresi istrinya, jantung Reagan seketika berdegup kencang.
"Hal sebesar ini kamu sembunyikan dariku mas?"
Deghh!!
Berbeda dengan Alan, pria itu kini tengah tengkurap. Dia sedang merasakan pijatan sang istri di punggungnya yang terasa sangat sakit.
"Aw ... aw! Pelan-pelan sayang!" Pekik Alan.
"Lagian, kok bisa sampe begini sih mas? Ini juga biru-biru, kamu habis jatuh dimana?" Tanya Azalea dengan kesal.
"Gak jatuh sayang, di dorong sama Reagan." Cicit Alan
Mendengar itu Azalea memajukan bibirnya. "Kalian sudah besar, masih aja main dorong-dorongan." Sindir Azalea.
"Kalau belum besar, gimana caranya bisa dapet anak cintakuuu." Gemas Alan.
BUGH!!
"ARGHH!! SAKIT!" Pekik Alan saat Azalea memukul dengan kencang bahu suaminya.
__ADS_1
"Aneh aja kamu kalau ngomong!" Kesal Azalea.
CKLEK!
Azalea mengalihkan pandangannya, dia tersenyum saat melihat siapa yang masuk. Terlihat, Caramel memasuki kamar orang tuanya dengan selimut di pelukannya.
"Caramel mau apa nak?" Tanya Azalea.
"Mau bobo cama mama." Ujar Caramel dengan singkat.
"Yasudah, ayo sini." Ajak Azalea.
Caramel mengangguk, dia mendekat pada sang mama. Namun, saat tatapannya bersitatap dengan sang papa. Seketika, mata Caramel melotot, begitu pun dengan sang papa.
"Nda uca alacan buat adek, adekna udah jadi." Ketus Caramel yang mana membuat Azalea menatap Alan dengan kesal.
"Kan! Kamu sih! Jadi aneh-aneh kan dia ngomongnya!" Kesal Azalea.
"Ya habisnya, dia minta tidur terus sama kamu. Udah besar juga." Omel Alan.
Caramel menghiraukan perdebatan keduanya, dia hanya fokus mengambil tempat di tengah-tengah ranjang. Dan menyelimuti dirinya dengan selimut miliknya.
"Mama, katana Papa Calamel celing di cundul pas macih di dalem pelut. Iya kah kama?" Pertanyaan Caramel, membuat Azalea seketika mengeritkan keningnya.
"Di sundul?" Gumam Azalea, bingung dengan apa yang putrinya maksud kan.
Feeling Azalea sudah tidak enak, seketika dirinya menatap Alan. Benar saja, suaminya itu menghindari tatapannya.
"Bener-bener kamu yah mas." Gumam Azalea dengan kekesalan yang melanda.
"Caramel sayang, jangan dengerin apa yang Papa bilang tadi yah nak. Gak baik," ujar Azalea.
"Nyundul olang nda baik kan ma? Papa ngeyel ci. Nyundul olang itu nda baik!" Omel Caramel pada sang papa.
"Heh! Kalau papa gak nyundul, gimana mau mupuknya."
"MAAAASSS!!!" Azalea sudah sangat kesal, suaminya kalau ngomong selalu nyeplos. Apakah suaminya lupa, jika putri mereka sangatlah cerdas.
"Apa? Aku ngajarin anak supaya selalu jujur loh. Terus, salahku dimana?"
Azalea yang kesal pun mengambil dompet Alan, dia mengeluarkan kartu hitam dan berniat ingin mematahkannya. Melihat itu, Alan memekik histeris.
"EEEHHH!! IYA! IYA!! AKU SALAH! AKU SALAH!!" Pekik Alan dengan raut wajah meringis.
"Kamu memang selalu salah!" Ketus Azalea, san kembali menaruh kartu suaminya itu.
__ADS_1
seketika, Alan menghela nafas lega. "Huuuhh ... selamat." Gumam Alan.
"Celamat dali penyikcaan ictli." Lirih Caramel.