
Arley tampak gelisah dalam tidurnya, keringat dingin bercucuran di pelipisnya. Padahal, kamarnya full AC. Di tambah, dirinya yang tak mengenakan baju. Namun, pria itu masih kepanasan.
Tampak dalam mimpinya, Arley tengah mengejar seorang wanita. Dia berusaha menggapai tangan wanita itu, tetapi berkali-kali wanita itu menepis tangannya.
"Dengarkan aku! Aku mencintaimu! Aku akan mengurus semuanya, aku akan menyelesaikan masalahku. Tapi please, jangan tinggalkan aku." Ujar Arley pada wanita itu.
Wanita itu memunggungi Arley, sehingga Arley tak melihat jelas bagaimana wajah wanita itu.
"Cukup Arley, kamu milik orang lain. Kembalilah padanya, cukup cinta kita sampai disini. Aku akan membawa bayi kita pergi."
"Enggak! Sherly!! Aku mencintaimu! Jangan tinggalkan aku!!"
Arley bangun dengan nafas memburu, raut wajahnya terlihat pucat pasi. Dia buru-buru mengambil segelas air putih dari atas nakas, dan meminumnya hingga habis.
"Sherly, dia lagi?" Gumam Arley.
Arley mengingat perkataan Sherly yang menyebut kata bayi. Seketika, Arley termangu. "Bayi? Apa aku memiliki anak?" Lirih Arley.
DERTT!!
DERTT!!
Ponsel Arley berdering, dia mengambil ponselnya yang ada di atas nakas. Tertera, nama lovely pada kontak yang menelponnya. Yang tak lain adalah Jessica. Bergegas, Arley mengangkatnya.
"Halo sayang, kapan kau kembali?" Tanya Jessica dari sana.
"Belum tahu, aku akan membantu temanku disini." Ujar Arley dengan nafas terputus-putus.
"Hei, ada apa dengan suaramu?" Tanya Jessica dengan bingung.
"Tak apa, hanya mimpi buru saja. Ada apa? Kenapa kamu menelponku jam segini?" Tanya Arley, menghindar dari pertanyaan jessica.
"Besok Lusa Natasya ada acara di sekolahnya, orang tua di undang datang. Apa kau bisa pulang besok?"
Arley terdiam, dia tidak bisa pulang besok karena harus membantu Alan mengurus masalahnya. Jika tidak, Arley tak akan bisa kembali begitu mudah ke indonesia ketika dia kembali ke negaranya. Pastinya, dia sudah di sibukkan dengan kerjaannya yang menumpuk.
"Sepertinya tidak bisa, aku masih harus membantu temanku. Dia sedang terkena masalah." Ujar Arley.
"Begitu kah? Memang apa masalahnya, sampai dia lebih penting dari putrimu sendiri?" Ujar Jessica dengan nada suara yang kesal
Arley menghela nafas pelan, "Alan Annovra, dia meminta tolong padaku untuk membantu kakaknya. Kakaknya telah lama mengasuh anak angkat, dan kini anak itu ingin di ambil kembali oleh paman kandungnya." Terang Arley.
"Alan punya kuasa yang kuat, biarkan saja dia sendiri yang mengatasinya. Kenapa harus meminta bantuan padamu!" Arley menghela nafas pelan, mengapa Jessica tak mengerti keinginan dirinya.
"Karena yang mereka lawan seorang jendral. Paman dari anak yang di adopsi kakak Alan adalah seorang jendral. Maka dari itu, mereka mengalami kesulitan. Aku punya beberapa koneksi kuat di negara ini. Aku yakin, bisa membantu mereka," ujar Arley memberi pengertian.
mendengar penyebutan seorang jendral, membuat Jessica membulatkan matanya.
"Je-jendral katamu? Siapa namanya?" Seru Jessica.
__ADS_1
"Aku lupa bertanya, tapi aku hafal nama adik dari jendral itu." Jawab Arley sembari memijat keningnya.
"Y-ya! siapa nama adiknya?" Tanya Jessica dengan semangat.
kening Arley mengerut, tak biasanya istrinya ingin tahu lebih dalam tentang masalahnya. Karena tak kunjung mendapat jawaban, akhirnya Jessica kembali membuka suara.
"Em maksudku ... aku bisa membantumu bukan? Jadi, siapa namanya? AKu juga memiliki teman seorang jendral di indonesia." Terang Jessica.
"Oh, begitu. Namanya Sherly, dia adik dari seorang Jendral. Dan kau tahu? AKu pernah bertemu dengan keponakan Alan itu, dia sangat mirip denganku. Saat kau melihatnya, kau pasti akan berkata hal yang sama."
"A-pa?!"
Arley menatap jam dinding yang sudah menunjuk pukul empat pagi. "Sudah yah, aku ingin ke kamar mandi dulu. Nanti aku telpon kamu lagi, bye."
Tuutt!!
Sedangkan di lain tempat, terlihat Jessica tengah meremas ponselnya dengan kuat. Raut wajahnya terlihat gelisah dan ketakutan. Dia mondar mandir di tangannya sembari terus bergumam.
"Apakah Sherly yang sama? Jadi, anak itu masih hidup? Ku pikir, dia akan mati terlindas mobil." Gumam Jessica.
"Jika Jendral Lucian sudah tahu siapa anak Sherly, dia pasti sudah tahu siapa dalang dari hilangnya Sherly."
"Tidak, aku harus bertindak. Arley tidak boleh tahu tentang Sherly, jika wanita berhasil melahirkan keturunannya. Tidak! Anak itu harus tiada." Ujar Jessica dengan suara rendah, matanya menyorot tajam ke depan.
.
.
.
"Sudah mas, kenyang." Tolak Airin saat Reagan kembali menyodorkan suapan kelima pada istrinya itu.
"Baru lima suap sayang, satu lagi yah." Bujuk Reagan.
Airin menggeleng, dia malah mengambil jus alpukat dan meminumnya. Reagan yang melihat itu seketika menghela nafas pelan.
"Baiklah, tapi jam sepuluh makan lagi yah." Pinta Reagan.
"Hem." Jawab Airin sekenanya.
Reagan membersihkan bibir Airin dengan tisu, tak lupa dia membereskan piring yang sudah di pakai oleh istrinya.
"Mas, aku mau pulang." Ujar Airkn yang mama membuat kegiatan Reagan terhenti.
"Sabar yah, nanti setelah HB kamu di nyatakan stabil. Kalau belum, terpaksa kamu harus melakukan transfusi darah," ujar Reagan.
Airin cemberut, dia tidak betah di rumah sakit. Dia ingin pulang dan bertemu putranya. "Aku mau ketemu Cala, aku rindu pada Cala." Lirih Airin.
Reagan menghela nafas berat, belum ada sehari. Tapi istrinya sudah merindukan putra mereka.
__ADS_1
"Pas aku dinas ke luar kota, kamu gak ada rindu aku." Kesal Reagan.
"Kan beda mas. Kamu kerja, kalau Cala kan enggak." Seru Airin.
"Bedanya apa coba? Sama-sama jauh kan? Aku cemburu loh kamu lebih rindu Cala dari pada aku."
Airin melotot tak percaya, masa suaminya itu cemburu dengan putra mereka sendiri? Bagaimana kalau bayinya lahir nanti? Tambahan saingan Reagan.
"Kamu lagi, hamil anak laki-laki. Tambah saingan aku, kenapa gak perempuan aja sih." Gerutu Reagan.
"Ya habis gimana? Jadinya laki-laki," ujar Airin sembari menggaruk pelipisnya pelan.
"Salah resep kali yah." Gumam Reagan sembari berpikir keras.
mendengar gumaman suaminya, membuat Airin mendelik kesal. Memang aneh suaminya, padahal Reagan adalah pengacara yang handal. Tapi, tentang anak. Ilmu Reagan sangat kurang kalau soal itu.
Cklek!
Keduanya menoleh pada pintu, senyum Airin langsung terukir saat melihat siapa yang datang ke kamarnya.
"Cala!" Seru AIrin.
"BUNDAAA!!" Pekik Calandra, dia buru-buru berlari ke arah ranjang. Belum saja Calandra sampai di pelukan Airin, tiba-tiba suara Caramel memekik keras.
"CALAAA!! BATAGOLNA KETINDALAAAANN!!"
Karena tak hati-hati, saat di ambang pintu kaki Caramel tersandung hingga membuat dirinya terjatuh.
BRUGHH!!
"HIKS HUAAAA!!"
Alan hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan putrinya, dia bergegas meraih putrinya dan menggendongnya.
"Sakit?" Tanya Alan mengusap lutut putrinya yang memerah.
"Cakit huaa!!"
"Lan, kayaknya kamu salah ngambil anak deh. Ganti anak aja deh Lan, beban terus dia mah." Sahut Reagan yang menatap membuat tangisan Caramel berhenti. Mata bulat bocah itu menyipit, dan mendelik pada Reagan.
"BEBAN GINI HALTANA BANAK! EMANG CITU, KELE." Pekik Caramel dengan kesal.
"Caramel." Tegur Azalea.
"Om delek duluan." Cicit Caramel ketika sang bunda menegurnya.
"Gak papa Lea, geser sedikit otaknya. Gak ngaruh." Sahut Reagan yang mana membuat Caramel kembali kesal.
"CEMBALANGAN!! CALA! GANTI BAPAK CAJA! CALAH KAU PILIH BAPAK!" Teriak Caramel yang mana membuat semua orang tertawa lepas di buatnya.
__ADS_1