Kembar Genius Milik Ceo Galak

Kembar Genius Milik Ceo Galak
Ego kedua ibu


__ADS_3

Calandra dan Caramel asik memakan puding yang di belikan oleh si kembar, kedua anak kembar itu baru saja pulang sekolah. Mereka langsung datang ke rumah sakit setelah mendengar kabar jika sang mama tengah di rawat karena pend4rahan. Keduanya langsung bersikap posesif, mereka tak memperbolehkan Azalea bergerak sama sekali.


Seperti saat ini, Azalea ingin mengambil gelas. Namun, Elouise buru-buru ambilkan. Bahkan, anak itu membantu sang mama untuk minum. Hal itu, tentu membuat Azalea heran dengan kelakuan putranya.


"El, mama bisa sendiri." Tolak Azalea saat Elouise akan membantunya minum.


"Nda boleh. Kata papa, Mama harus istirahat total. Gerak dikit, dedeknya bisa keluar nanti." Terang Elouise yang mana membuat Azalea menghela nafas pelan.


Sementara Alexix, dia tengah mengipas buah jeruk. Lalu, dia menyodorkan jeruk itu di depan mulut Azalea.


"Lexi, Mama baru saja makan apel. Nanti lagi yah." Ujar Azalea dengan wajah memelas.


"Enggak! Sudah setengah jam yang lalu mama memakan apel, pasti adek bayi akan lapar. Cepat makan, manti papa marah." Ujar Alexix dengan tatapan datarnya.


Azalea melirik ke arah Alan yang tengah duduk di sofa, pria itu tampak sibuk dengan laptopnya dan tidak menghiraukannya.


"Lexi, mama kenyang sayang." Ujar Azalea kembali menatap putranya.


Saat Alexix ingin membuka suara, tiba-tiba suara Alan mengejutkan mereka.


"Makan atau aku yang paksa, hm?"


"Eh?!" Azalea pikir, Alan tak mendengarkan perdebatan dia dan putranya. Ternyata, pria itu sedari tadi memasang telinganya untuk menyaksikan drama ibu dan anak itu.


Senyum Alexix mengembang, dia menyuapkan jeruk itu pada sang mama. Azalea terpaksa mengunyah jeruk itu dengan keadaan hati yang kesal.


"Cala di culikna dimana?" Tanya Caramel sembari memakan pudingnya.


"Nda tau, tempat na k0tol. Jolok kali, punya na nenek lampil." Jawab Calandra dengan ekspresi yang menakutkan.


"Ih, celam kali. Cepelti lapunjel, di culik nenek lampil. Pantecan Cala nda bica kabul, olang nda ada lambutna." Sahut Caramel.


Keduanya kembali asik makan, hingga mereka mendengar suara pintu yang terbuka. Tatapan semuanya beralih menatap pintu, dimana seorang pria masuk sembari mendorong kursi roda seorang wanita yang berwajah pucat.


"Kau?" Alan langsung bangkit berdiri, dia meletakkan laptopnya ke meja. Matanya menatap tajam pria itu, dan berjalan mendekatinya.


"Ngapain kamu kesini, Lucian?" Tanya ALan dengan dingin.


"Aku kesini ingin bertemu dengan keponakanku, adikku masih berhak bertemu dengan putranya." Ujar pria yang tak lain adalah Lucian.

__ADS_1


"Mas." Azalea memanggil Alan, wajahnya terlihat tegang. Dia sudah tahu asal usul Calandra, tentu sama halnya dengan Airin. Azalea sangat syok di buatnya.


"Bisalah kau mencari waktu lain? Istriku sedang tidak dalam keadaan baik, aku berusaha mat1-mat1an untuk membuatnya tenang. Tapi kau, kenapa kau datang hah?!"


"Sudah ku bilang, aku ingin bertemu dengan keponakanku! Adikku masih memiliki hak atas putranya!" Sentak Lucian.


Tatapan Calandra beralih pada Sherly, jantung nya berdebar tak karuan. Entah dorongan dari mana, Calandra mendekati Sherly yang duduk di kursi rodanya. Air mata Sherly jatuh, bibir pucatnya bergetar hebat.


"Anakku." Lirih Sherly yang mana membuat perdebatan Alan dan Lucian terhenti.


Tatapan semua orang mengarah pada Calandra, anak itu berjalan pelan mendekati Sherly. Seakan tersihir oleh tatapan Sherly, Calandra terhenti tepat di hadapan Sherly.


"Cala." Lirih Azalea dengan air mata yang mengalir di pipinya.


Calandra menatap Sherly, tangan gembulnya terangkat menyentuh pipi kurus Sherly untuk menghapus air matanya.


"Janan nanis, nenek lampil itu nda cakitin ante lagi. Janan cedih yah," ujar Calandra.


Sherly meraih kedua tangan Calandra, dia meng3cup kedua tangan itu dengan air mata yang terus mengalir. Calandra bingung dengan keadaannya saat ini, dia beralih menatap Alan untuk meminta penjelasan.


"Nak, dia ibu kandungmu." Ujar Lucian menjawab kebingungan Calandra.


"BUKAN!!"


Semua orang tersentak kaget saat mendengar suara teriakan itu, Calandra beralih menatap ke arah belakang Lucian. Netranya membulat saat melihat Airin yang berdiri di ambang pintu dengan tatapan marah.


"Bunda." Lirih Calandra.


Airin mendekati Calandra, dia menarik tangan Calandra menjauh dari Sherly. Pegangan Calandra dan Sherly terlepas, keduanya sama-sama terkejut atas perbuatan Airin.


"Airin!" Reagan datang menyusul istrinya itu, dia sungguh syok karena istrinya yang tiba-tiba berlari menuju ruang rawat Azalea.


"Cala putraku! Selamanya akan tetap menjadi putraku!! Kalian tidak berhak atasnya!" Sentak Airin dengan mata memerah.


"Bunda." Lirih Calandra dengan takut.


Caramel berlari ke arah Elouise, dia takut dengan situasi tegang itu. Dengan peka, Elouise membawa adiknya ke gendongannya. Dia memilih menjauh ke pojok ruangan agar adiknya aman bersamanya.


"Napa pada belantem? Kulang minum ail putih yah? Makana keling otakna." Lirih Caramel dengan menatap Elouise.

__ADS_1


"Hais, diam. Nanti kau yang kena." Balas Elouise membuat Caramel menutup rapat bibirnya.


Sherly mengangkat kepalanya, dia menatap Airin. Kedua tatapan mereka bertemu, air mata keduanya sama-sama luruh.


"Arion adalah putraku. Jangan ambil putraku." Ujar Sherly dengan suara bergetar.


"Dia Calandra! Bukan Arion, Calandra bukan putramu!" Sentaj Aorin


"Dia Arion! Dia putraku!! Dia putra yang aku lahirkan!! Kau tidak berhak atasnya!!" Sentak Sherly dengan tatapan tajam.


"Sudah ku bilang, dia Calandra! Arion mu sudah mat1!" Sahut Airin tak mau kalah.


Reagan berdiri di samping istrinya, dia memegang lengan wanita itu dengan lembut. "Airin, kasihan Calandra. Jangan seperti ini," ujar Reagan.


"Aku hanya mempertahankan putraku, apa aku salah?!" Seru Airin sembari menatap tajam suaminya.


"Aku mengerti, tapi tolong. Calandra juga berhak memilih, biar dia yang menentukan. Jangan egois seperti ini sayang, mana Airin yang aku kenal?" Bisik Reagan sembari mengusap lengan istrinya.


Airin menepis tangan Reagan, matanya menatap tajam suaminya dengan mata memerah menahan tangis. Air matanya luruh, dan nafasnya memburu.


"Kamu mau bilang aku egois terserah! Asalkan, putraku tetap ada di sampingku! Calandra adalah putraku, selama nya akan menjadi putraku! Wanita itu ...." Airin menunjuk ke arah Sherly.


"Dia tidak berhak atas Calandra! Salahkan dia, mengapa dia mau menjadi istri simpanan!" Sentak Airin, tanpa sadar melukai perasaan Sherly.


Sherly berdiri dengan lemas, Lucian membantu adiknya itu untuk berdiri tegak.


"Airin, namamu bukan?" Ujar Sherly dengan suara rendah


Airin menoleh, tatapan keduanya kembali bertemu. Ego keduanya masih tinggi, bahkan saling menatap tajam.


"Ku berikan putraku dengan sukarela padamu. Tapi, bisakah kamu memberikan bayi yang ada di dalam kadunganmu untukku?"


Degh!!


Tangan Airin menyentuh perut besarnya, "Bayi ini adalah anakku!! Bagaimana bisa menjadi anakmu!!" Sentak Airin dengan wajah memerah menahan amarah.


"Lalu, bagaimana denganku? Aku yang melahirkan dengan bertaruh nyawa, bagaimana putraku bisa menjadi putramu? Kau ... sama sekali tidak berhak atasnya. Airin." Ujar Sherly dengan tegas. Walau keadaannya lemah, Sherly bisa dengan tegar membalas perkataan Airin.


Calandra menyentuh tangan Airin, dia menggenggam tangan sang bunda hingga membuat Airin sontak menunduk menatap Calandra.

__ADS_1


"Janan belantem, Cala nda cuka hiks ...."


__ADS_2