
"Sayang, sudah pulang?" Sambut Alan ketika melihat kedatangan istrinya bersama putri cantik mereka.
"Papa!" Seru Caramel sembari merentangkan tangannya pada sang papa.
Alan menyambut putrinya, dia mengecup pipi bulat kemerahan sang putri dengan sayang. Lalu, tatapannya beralih pada istrinya yang sedari tadi diam.
"Sayang, ada apa?" Tanya Alan sembari menyentuh bahu Azalea.
Tersadar, Azalea segera memegang kepalanya. "Maaf mas, tadi kamu tanya apa!" Seru Azalea.
Kening Alan mengerut bingung, "Kamu kenapa sih?" Heran Alan.
Azalea menggelengkan kepalanya, dia menepuk d4da Alan dengan pelan. "Aku buat puding untuk si kembar dulu." Pamit Azalea begitu saja.
Sementara Alan, dia merasa ada yang janggal dengan keadaan istrinya. Tak biasanya istrinya seperti tadi, seperti ada sesuatu yang aneh.
"Papa, tokat." Seru Caramel sembari menunjukkan biskuit coklat yang tadi dirinya beli.
"Caramel suka yah, hm?" Respon Alan dengan cerita putrinya.
Caramel mengangguk, dia menyodorkan biskuit yang masih terbungkus kemasan itu pada Alan.
"Kak! Ukak!" Pinta Caramel.
"Ngomongnya, papa tolong bukain gitu. Jangan Kak! Kak! Burung kaka tua lah iya!" Celetuk Alan, walau begitu dia tetap membukakan cemilan untuk putrinya.
Sementara di dapur, Azalea menaruh belanjaannya di atas meja. Raut wajahnya terlihat tegang, dia meraih gelas dan menuangkan air ke dalamnya. Lalu, Azalea meminum airnya hingga habis tak tersisa. Dia kembali mengingat, kejadian saat dirinya bertemu dengan Arumi.
"Seberapa banyak anda tahu tentang suami saya?" Tanya Azalea dengan sorot mata yang tajam.
Arumi tersenyum, dia menatap ekspresi yang serius dari wanita di hadapannya.
"Saya hanya menebak saja, karena itu semua makanan kesukaan putra saya. Mungkin, selera mereka sama." Ujar Arumi dengan tersenyum tipis.
Azalea menggaruk kepalanya dengan sedikit kasar, tangan kanannya dia letakkan di pinggangnya. Sembari mendengus kasar, Azalea berkata, "Kok aku curiga sama jawabannya yah. Secara aneh gitu, kok dia seakan-akan tahu tentang mas Alan. Atau jangan ... jangan. ...,"
"Jangan-jangan apa sayang?"
Azalea tersentak kaget, dia menoleh dan mendapati Alan berjalan ke arahnya tanpa Caramel.
"Mas, Caramel mana?!" Seru Azalea, dia sedikit khawatir karena putrinya tidak ada di suaminya.
"Ada sama si kembar. Jangan alihkan pertanyaan, jangan-jangan apa maksudmu?" Seru Alan dengan sorot mata yang serius.
Azalea menghela nafas pelan, dia meraih kotak susu milik Caramel dari kantung belanjaannya dan membukanya.
"Enggak, jadi tadi ada ibu-ibu."
__ADS_1
"Terus?" Sahut Alan sembari meletakkan tangannya di meja untuk menahan tubuhnya yang berhadapan dengan Azalea.
"Dia tuh aneh tau, masa tahu segalanya tentang kamu. Tahu kebiasaan kamu, tahu makanan kamu. Salah gak sih, kalau aku curiga kamu selingkuh sama dia?"
"APA?!" Rahang Alan terjatuh, mulutnya menganga lebar. Bisa-bisanya istrinya itu berpikiran hal seperti itu tentangnya.
Alan menegakkan tubuhnya, dia berdehem untuk menormalkan ekspresinya.
"Sayang, aku kalau mau selingkuh juga lihat-lihat. Masa ibu-ibu yang jadi selingkuhan aku, gak lucu," ujar Alan dengan meringis.
"Ya mana aku tahu, kali aja seleramu berubah mas. Mungkin di mata kamu aku udah gak cantik," ujar Azalea dengan ketus.
Alan menatap tak percaya, justru yang dia khawatirkan adalah istrinya. Istrinya iti semakin berumur semakin cantik, banyak yang menyukai Azalea sebelum tahu jika wanita itu sudah menikah.
"Sayang, mungkin aja ibu itu melihat aku dari kebiasaan anaknya. Kan bisa jadi," ujar Alan.
"Begitu yah." Gumam Azalea.
Azalea menaikkan kedua bahunya, dia tak peduli lagi terhadap perkataan Arumi tadi. Dia bergegas membuat puding.
Tatapan Alan beralih pada buah anggur yang ada di kantong belanjaan Azalea. Seketika, rait wajahnya berubah dingin.
"Kamu beli anggur?" Tanya Alan.
Merasakan nada suara Alan yang terkesan tak suka, Azalea bergegas mendekatinya.
Alan meraih anggur itu, dan membawanya menuju tempat sampah. Hal itu, tentu membuat Azalea bergegas menahannya.
"Mas!! Kamu mau ngapain sih?!" Pekik Azalea.
Alan hanya diam, dia membuka tutup sampah. Sebentar kagi, dirinya akan membuangnya. Namun, Azalea berhasil mengambil anggur itu.
"Kembalikan!!" Sentak Alan.
"Enggak! AKu beli pake uang yah! Di kira anggur seharga tomat kali!" Pekik Azalea.
"Ck, aku ganti sepuluh kali lipat. Tapi buang anggur itu!" Sentak Alan, berusaha menggapai anggur yang ada di pelukan istrinya.
"Anakmu suka anggur!! Caramel suka anggur! Kalau dia nangis pas tau anggurnya hilang gimana? Mau kamu dia demam lagi hah?!" Ancam Azalea.
Ancaman Azalea membuat Alan tak dapat bertindak, raut wajahnya terlihat tegang. Jujur saja, Azalea takut nihat suaminya saat ini.
"Mas, mau kemana?!" Seru Azalea ketika melihat Alan pergi.
Alan memilih memasuki kamarnya, dia mengunci pintu dan merosotkan tubuhnya ke lantai. Tangannya mencengkram kuat kepalanya yang terasa sakit.
"Ma, Alan mau anggur."
__ADS_1
"Ayo, kita beli anggur kesukaan Alan."
Dengan senang hati, Alan kecil pergi bersama mamanya untuk membeli Anggur. Namun naas nya, bukannya membeli anggur. Sang mama justru mengantarkannya ke panti asuhan.
"Mama, kenapa kita kesini? Katanya mama mau belikan Alan anggur."
Bugh!! Bugh! Bugh!!
Alan memukul-mukul kepalanya, traumanya kembali kambuh. Dia bergegas bangkit dan mendekati nakas. Lalu, tangannya menarik laci nakas dan meraih botol obat miliknya.
Selama dua tahun ini, Alam belum lepas dari obat itu. Walaupun, sudah sangat jarang sekali dia minum. Tapi tetap, Alan harus melakukan kontrol keadaan mentalnya.
Tok!
Tok!!
"Mas!!"
Alan mengerjapkan matanya, tak sadar dia ketiduran setelah meminum obatnya. Bergegas, dia beranjak dari tidurnya.
Cklek!
Azalea menatap wajah kusut Alan, rambut suaminya itu terlihat sangat berantakan. Jelas sekali, jika Alan baru saja bangun dari tidurnya.
"Tumben kamu tidur siang, aku ketok-ketok kamu gak dengar dari tadi." Celetuk Azalea.
Alan hanya diam, membuat Azalea menggeser tubuh sang suami agar dirinya bisa masuk. Langkah Azalea terhenti saat kakinya menabrak sebotol obat yang sangat familiar di matanya.
Azalea bergegas berjongkok, dia meraih botol itu dengan mata membulat. Dia tentu hafal, obat yang suaminya konsumsi ketika traumanya kambuh.
"Mas, jangan bilang kalau kamu habis minum ini?!" Seru Azalea sembari mendekati suaminya itu.
Alan hanya dian, dia merutuki dirinya yang lupa untuk mengembalikan botol itu.
"Kenapa? Kenapa kamu minum obat ini lagi?" Tanya Azalea dengan suara bergetar.
Azalea terdiam, dia kembali mengingat sebelum Alan pergi untuk tidur. Keduanya sempat berebutan anggur, apakah ada sesuatu di balik buah itu?
Alan meraih tangan Azalea, dia menatap mata sang istrinya dengan tatapan teduh.
"Sebelum mas di bawa ke panti asuhan, ibu mas menjanjikan akan membeli buah anggur. Dan buah itu, adalah buah kesukaan mas. Sampai saat ini, mas tidak suka dengan buah itu."
Deghh!!
"Mungkin ayahnya juga seperti itu,"
Perkataan Arumi, jelas terngiang jelas di pikirannya.
__ADS_1
"Mas, apakah nama ibu kamu ... adalah Arumi?"