Kembar Genius Milik Ceo Galak

Kembar Genius Milik Ceo Galak
Hadiah untuk Dokter Aryan


__ADS_3

"Dia bilang, El manis." Terang Azalea.


Elouise tersenyum, dia menarik tangannya dan mengelus pipi Ariana. "Ante tantik duga, bahasa ingglisna apa mama? Ehm .. butipul! Iya, butipul!" Seru Elouise membuat semuanya terkekeh.


Ariana mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya, sebuah gelang yang terukir nama Alessio. Dia menunjukkan gelang itu pada Elouise.


"Can you wear it for me?" Tanya Ariana.


Alan dan Azalea saling tatap, tak lama mereka kembali menatap Elouise yang tengah memperhatikan gelang itu.


Dokter Aryan ikut berjongkok, dia menatap Elouise sembari tangannya merangkul sang istri.


"El, istri saya bertanya. Bisakah kamu memakai gelang ini untuknya?" Tanya DOkter Aryan.


Kening Elouise mengerut, "Kalau tante tantikna jadi nda cedih lagi, El mau pake." Ujar Elouise dengan kata berkaca-kaca. Dia tidak bisa berhadapan dengan seorang wanita yang tengah bersedih.


Dokter Aryan tersenyum, dia menatap istrinya dan mengatakan apa yang Elouise katakan barusan.


"Thank you." Ujar Ariana sembari memakai kan gelang itu pada tangan kanan Elouise.


Air mata Ariana kembali jatuh, dia beralih memeluk suaminya dengan erat. Dokter Aryan pun tak sanggup, matanya kini berkaca-kaca menahan air mata.


"Napa nanis lagi? Gelangna kan udah El pake hiks ... mama ...,"


Ariana melepaskan pelukannya pada sang suami, dia bergegas menghapus air matanya dan kembali menatap Elouise.


"Can call me mom?" Tanya Ariana.


"El, bisakah kamu memanggil kami mommy dan daddy?" Tanya Dokter Aryan dengan bahasa indonesia.


Elouise menatap Alexix yang duduk di sofa sembari memantaunya.


"Lekci boleh juga? Kan kita kembal?"


Arian menoleh, matanya menatap terkejut kearah Alexix. Lalu, tatapannya beralih menatap Elouise.


"Honey, why didn't you tell me they were twins? very similar," ujar Ariana dengan heboh.


Dokter Aryan tersenyum, "Bahkan, niatnya mau ku bawa pulang satu,"


"NDA BOLEEEEHH!! ITU ADEKNA LEKCI!!"


Tawa Dokter Aryan meledak, begitu pun dengan Alan. Kedua pria itu sama-sama terkekeh dengan teriakan Alexix.


"Sini Lexi, kenalan dulu sama istri Dokter." Seru Azalea.


Alexix mendekat, tatapannya memantau tak bersahabat pada Dokter Aryan. Dia berdiri di samping Elouise, lalu tatapannya beralih menatap Ariana.


"Ayo Lekci, panggil tante tantik mommy." Pinta Elouise.


Alexix terdiam, nampaknya anak itu masih malu-malu. Berbeda dengan Elouise yang mudah sekali akrab dengan orang.


"Mommy, telimakacih gelangna." Ujar Elouise sembari menunjukkan gelangnya.

__ADS_1


Ariana tersenyum, dia menoleh menatap suaminya.


"His voice even resembled Alessio before he could say the R." Bisik Ariana.


(Suaranya bahkan mirip dengan Alessio sebelum dia bisa mengucapkan huruf R.)


"Ya," Balas Dokter Aryan.


Dokter Aryan beranjak berdiri, dia mengulurkan tangannya pada Alan. Kedua pria itu berjabat tangan.


"Hati-hati di jalan," ujar Dokter Aryan.


Alan mengangguk sembari melepaskan jabatan tangan mereka. Lalu, Alan memberikan sebuah map beserta kuncinya yang sedari tadi dia pegang.


"Ini, Villa dan kuncinya beserta sertifikatnya. Untukmu dan istrimu," ujar Alan membuat Dokter Aryan menggelengkan kepalanya tak percaya.


"Tuan ini ...,"


"Dokter Aryan, aku tidak tau membalasmu dengan apa. Aku hanya bisa memberikan ini, tolong di terima. Villanya berada di indonesia, kau bisa menepatinya jika kau ingin mengunjungi putraku. Apa kau tidak ingin lagi menemui putraku?"


Dokter Aryan menerima map itu beserta kuncinya, dia melihat isi dalam map itu. Betapa terkejut nya dia saat melihat Villa yang Alan berikan untuknya.


"Ini ... ini Villa Elit, harga nya pasti mahal. Saya ...,"


"Tidak semahal ginjal putramu. Sungguh, jika kamu menginginkan ginjalku sebagai ganti ginjal putramu aku akan rela. Kehidupan putraku, adalah segalanya bagiku."


Azalea seketika menatap Alan dengan tatapan tak percaya, dia terkejut mendengar penuturan pria itu. Dia tak menyangka, jika Alan bisa berkata seperti tadi.


.


.


.


Indonesia.


Alan dan yang lainnya sampaid i mamsion saat pukul satu tadi, oerjalana pesawat membuat Alexix dan Eloise langsung beristirahat di kamar. Sedangkan Alan, dia langsung menuju ruang kerjanya.


Azalea tengah berada di kamar Alexix. Untuk sementara Alexix dan Elouise akan tidur di kamar yang sama. Alexix pun mengizinkannya, sampai Alan membuat kamar Elouise tepat di sebelah kamarnya.


"Mama, El mau puding," ujar Elouise sembari menatap Azalea yang tengah mengecek keadaan bekas jahitan Elouise.


"Puding?" Tanya Azalea.


Elouise mengangguk, Azalea pun menatap jam dinding. Jam sudah menunjukkan pukul tiga sore, padahal mereka sampai di mansion pukul satu tadi.


"Ehm besok aja gimana?" Usul Azalea.


Elouise terdiam, dia ingin sekarang tapi dia tak ingin memaksa sang mama. Melihat keterdiaman Elouise, Azalea paham jika putranya tetap ingin Puding.


"Kebetulan, aku juga ingin menemui seseorang." Batin Azalea.


Tatapan Azalea beralih menatap Alexix yang tengah memainkan robot miliknya. "Alexix juga mau puding?" Tanya Azalea.

__ADS_1


Seketika, Alexix menganggukkan kepalanya, matanya berbinar. Dia ingin merasakan kembali puding enak buatan sang mama.


"Mau! mau! Yang coklat tobeli!" Seru Alexix.


"El duga!! El tobeli!!" Pekik Elouise.


Azalea tersenyum, lalu mengusap rambut kedua putranya. Apapun yang dirinya buat, kedua anak itu selalu antusias memakannya.


"Yasudah, mama beli bahannya dulu yah. Alexix, jaga adeknya yah. Kalau ada apa-apa, panggil Bi Sari kalau papa sibuk." Pinta Azalea.


"Ciap latu!" Seru Alexix sembari memeri hormat.


Azalea terkekeh sembari menggelengkan kepalanya, lekas itu Azalea pun beranjak dari tepi ranjang Alexix. Azalea berjalan menuju pintu, dan saat akan mencapai pintu. Tiba-tiba Alexix kembali bersuara.


"Mama!!" panggil Alexix membuat Azalea menoleh.


"Ya?" Sahut Azalea.


"Titip cilol juga yah," ujar Alexix dengan cengiran khas nya.


Azalea menghela nafas pelan sembari tersenyum lembut. Lalu, Azalea meletakkan jari telunjuknya depan bibirnya.


"Syuutt, jangan bilang-bilang papa." Bisik Azalea.


Senyum Alexix merekah, dia menganggukkan kepalanya dengan antusias. Elouise yang melihatnya seketika tak mau kalah, "El juga!! El mau ..."


"Kalau El, puding nya sudah. Telur gulung nya setelah El sembuh yah." Sela Azalea membuat Elouise memberengut sebal.


"Ya." Sahut Elouise dengan lesu.


Azalea tersenyum, dia pun melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda. Azalea mencari Alan di ruang kerjanya.


Sesampainya di depan pintu ruangan Alan, Azalea mengetuknya. Dia sedikit gugup saat ini, khawatir Alan tak mengizinkannya.


Tok!


Tok!


"Ya, masuk!" Seru Alan dari dalam.


Sejenak, Azalea membela nafas pelan. Dia menetralkan degup jantungnya.


Cklek!


Terlihat, Alan masih fokus pada laptopnya, sepertinya pekerjaan pria itu menumpuk. Akibat meliburkan dirinya untuk menemani Elouise operasi.


"Mas, boleh minta waktunya sebentar." Linta Azalea.


Gerakan jari Alan di atas keyboard seketika terhenti. Matanya langsung beralih menatap Azalea yang masih berdiri di ambang pintu.


"Kemarilah." Titah Alan.


_______

__ADS_1


__ADS_2