Kembar Genius Milik Ceo Galak

Kembar Genius Milik Ceo Galak
Isi hati Alexix


__ADS_3

Ruang rawat Calandra tengah ramai oleh tangis Caramel dan Calandra. Entah mengapa, keduanya menangis. Mungkin karena lelah, atau karena merasa tak nyaman. Azalea tengah menenangkan Calandra, dia sengaja membuat bayi itu tertidur. Sementara Alan, dia membawa Caramel ke balkon ruangan.


Tangis Caramel terhenti, sepertinya bayi itu kegerahan di dalam. Padahal AC full, tapi bayi itu seakan mencari udara segar. Dengan sabar, Alan menimang putrinya itu. Ternyata repot mengurus dua bayi, dia seakan mengulang saat dirinya mengurus Alexix.


Sejenak, Alan terdiam. Dia mengingat bagaimana Alexix kecil. Dia yang baru saja pulang kantor, terpaksa harus menenangkan Alexix yang rewel karena sakit. Kini, bayi yang dia rawat dulu sudah tumbuh menjadi anak yang cerdas.


Tatapan Alan beralih ke dalam, dimana dia melihat Alexix yang tengah membaca buku. Sementara Elouise, anak itu sudah tidur sejak tadi.


"Haaahh ...." Alan menghela nafas panjang. Matanya melirik sejenak ke arah putrinya yang sudah menatapnya dengan sayu.


"Tidurlah, sudah malam. Kamu pasti lelah princess," ujar Alan.


Tak butuh waktu lama, Caramel tertidur. Sementara, Alan mendudukkan dirinya di sofa balkon. Dia menyelimuti tubuh Caramel dengan selimut bayi milik anak itu. Tangannya menepuk paha Caramel agar bayinya itu semakin lelap tertidur.


"Papa."


Alan menoleh, dia mendapati Alexix yang berjalan ke arah nya dengan memegang sebuah buku. Senyum Alan tercetak jelas, dia mengayunkan tangannya. Meminta Alexix untuk duduk di sampingnya.


"Papa, Lexi mau bertanya." Ujar Alexix sembari menyodorkan bukunya.


Melihat buku sang putra, mata Alan terbelalak lebar. Buku tersebut adalah buku tentang jurusan kedokteran. Dimana macam-macam sel dan juga organ dalam tubuh dan jenis penyakit.


"Kamu dapat buku ini dari mana Lexi?" Tanya Alan dengan tatapan tak percaya.


"Aku membelinya dengan uangku sendiri Papa. Coba Papa jelaskan tentang ginjal ini, kenapa bisa ginjal menjadi rusak? Aku ingat, Elouise sempat mengalami gagal ginjal yang mengharuskan dia mengganti ginjalnya. Kenapa itu bisa terjadi?" Tanya Alexix dengan penasaran.


Alan menggaruk pelipisnya yang tak gatal, materi pertanyaan putranya tak ia kuasai. Jelas saja, jika Alexix bertanya tentang bisnis. Mungkin dia akan paham. Tapi jika tentang dunia medis, Alan tak terlalu paham tentang hal itu.


"Lexi, sebaiknya kau bertanya saja dengan kakek Hervan. Dia seorang dokter, jangan pada Papa." Ujar Alan.


"Begitu ya." Gumam Alexix.


"Apa kau tertarik dengan dunia kedokteran?" Tanya Alan sembari mengelus bahu putranya.

__ADS_1


Alexix mengangguk dengan semangat, dia menatap Alan dengan tatapan berbinar terang. "Hem, Lexi mau sekolah kedokteran." Seru Alexix.


"Bagaimana dengan bisnis Papa? Siapa yang akan membantu bisnis Papa? Semua perusahaan Papa, akan jatuh ke tangan anak-anak Papa. Kalau kamu menjadi dokter, bagaimana dengan perusahaan yang papa bangun?" Tanya Alan, dia ingin tahu apa jawaban putranya.


Alexix menatap lurus ke depan, dan menghela nafas pelan. "Biarlah Elouise yang mewarisi perusahaan papa. Aku tidak mau. Karena saat besar nanti, hubungan persaudaraan kita akan menjadi sebuah permusuhan. Lexi perhatikan, banyak sekali yang rela membunuh saudaranya hanya demi harta. Lexi sayang Elouise, menyakitinya sama saja seperti menyakiti Lexi."


Degh!!


Alan tak pernah menyangka, jika pemikiran putra pertama nya bisa sedewasa ini. Alexix yang dulu suka membangkang, suka membuatnya marah dan kesal. Kini, tumbuh menjadi anak yang berpikiran sangat dewasa.


"Lexi, jangan berpikiran seperti itu. Kamu masih kecil, belum seharusnya kanu memikirkan hal tersebut. Kamu dan Elouise, sudah Papa berikan bagian. Sehingga, saat besar nanti. Kalian tidak akan berebut satu sama lain." Terang Alan dengan menatap lekat putranya.


Alexix beralih menatap Alan, sama halnya dengan sang papa. Dia menatap Alan dengan tatapan lekat.


"Tak ada yang tahu bagaimana kedepannya. Orang akan menjadi jahat ketika dia haus kekuasaan. Lexi percaya, jika Elouise tidak akan berbuat hal seperti itu. Yang Lexi takutkan, adalah diri Lexi sendiri. Sikap cemburu Lexi pada Elouise, Lexi takut kalau Lexi tidak bisa menahan diri." Lirih Alexix.


"Lexi cemburu dengan Elouise, kenapa? Apa papa dan mama membedakanmu? Kami sayang pada kalian berdua, tidak ada yang kami beda kan," ujar Alan. Dia sedikit tersentil saat perkataan Alexix yang terakhir.


Alexix menggeleng, dia menatap Alan dengan tatapan berkaca-kaca. D4da Alexix terasa sesak, mulutnya ingin mengatakan sesuatu.


"Syutt, kata siapa hm? Kemarilah, biar Papa katakan suatu hal." Alan merangkul tubuh putranya, sehingga Alexix bersandar pada d4da sang papa. Alexix bisa merasakan detak jantung papa nya itu.


"Lexi, kamu dan Elouise memiliki sifat yang berbeda. Kamu lebih tertutup, sedangkan Elouise terbuka. Kalian memiliki sifat masing-masing. Tapi, bukan berarti orang-orang tak ada yang menyukaimu. Hanya saja, mereka belum tahu seperti apa dirimu. Banyak kok yang menyukai putra Papa ini, siapa yang tak suka dengan anak yang cerdas hm?"


Air mata Alexix luruh, isak tangis terdengar. Mengetahui anaknya menangis, bukannya panik Alan malah justru terkekeh. Sebab, baru kali ini Alexix menangis hanya karena masalah perbedaan dirinya dan Elouise. Mungkin, anak itu sudah memendamnya sejak lama. Tapi, baru di ungkapkan sekarang.


"Dengar, apapun yang orang lain katakan tentang Alexix. Yang paling mengerti Alexix hanyalah mama dan Papa. Jangan dengarkan kata orang. Menurut Papa dan mama, Alexix adalah anak yang baik. Walau terkadang keras. Tapi, semua itu tak membuat kasih sayang kami berkurang untukmu. Kami selalu ada bersama Alexix, Elouise, dan Caramel. Kalian semua anak-anak papa dan mama,"


Alexix menghapus air matanya, hatinya sedikit lebih tenang mendengar perkataan Alan. Walau dirinya masih sesenggukan, Alexix bisa meredakan kesedihannya.


"Lalu Calandra? Dia juga anak mama dan Papa kan?" Ujar Alexix.


Alan menundukkan, menatap Alexix dengan tatapan lembutnya.

__ADS_1


"Ya, apa kamu mau menerima Calandra sebagai adikmu?" Tanya Alan.


"Heum ... rasanya aneh. Tapi, Alexix akan coba menyayangi Calandra seperti Alexix menyayangi Caramel," ujar Alexix.


"Good job boy,"


Tak mereka sadari, jika sejak tadi Azalea mendengar perkataan mereka. Pipi wanita itu sudah basah karena air mata. Perkataan Alexix, membuat hatinya terenyuh. Sebegitu dewasanya putranya, padahal umur anak itu masih di bawah sepuluh tahun.


Azalea menghapus air matanya, dia mengatur ekspresinya agar Alan dan Alexix tak khawatir padanya. Lalu, Azalea berjalan menghampiri suami dan putranya itu.


"Lexi, ayo tidur sayang." Ajak Azalea sembari mengulurkan tangannya.


Alexix turun dari kursi, tak lupa dia membawa bukunya. Sebelum masuk, dia menatap Alan sejenak.


"Selamat malam papa," ujar Alexix.


"Selamat malam boy, tidur yang nyenyak." Sahut Alan sembari tersenyum.


Setelah Azalea dan Alexix masuk, Alan memudarkan senyumannya. Dia menunduk, menatap putrinya yang masih tertidur pulas. Tangan ALan terangkat, dan menyentuh kening putrinya. Lalu, mengelusnya dengan lembut.


"Jangan cepat dewasa seperti kedua kakakmu, hm. Papa masih ingin menikmati masa kecilmu. Bermanja pada papa, merengek, menangis, tertawa. Jangan seperti kedua kakakmu, papa sedih kalau kamu dewasa secepat mereka." Lirih Alan.


Dertt!


Dertt;!


Ponsel Alan berdering, dia mengambil ponselnya dari dalam kantong celananya. Lalu, keningnya mengerut saat melihat siapa yang menelponnya.


"Reagan." Gumam Alan. Tak butuh waktu lama, Alan mengangkat panggilan itu.


"Ha ...,"


"Halo, Lan. Adonan buat anak apaan aja? Cepat kasih tau gue, biar malem ini bikin. Biar besok anaknya bisa jadi."

__ADS_1


"Hah?!"


__ADS_2